ARSEN

ARSEN
Jarak


__ADS_3

Happy ReadingšŸ‚


Arigatou ā™”


Yasmine duduk di depan teras rumah nya kali ini. Dari tadi malam Ia tidak berhenti menangis karena kejadian yang mengejutkan itu, Ia baru tahu jika selama ini Ia berpacaran dengan musuh Miller. Apa salah jika diri nya memiliki kekasih yang notabene nya adalah musuh dari Miller.


Pandangan nya lurus ke depan sambil melamun air mata nya turun tanpa permisi. Ia masih ingat jika Miller menyuruh nya untuk memutuskan hubungan nya dengan Arsen tapi sungguh Yasmine tak bisa melakukan hal itu.


Haris berdiri di sebalik pintu depan rumah nya Ia menatap miris pada Yasmine, "Apa gak terlalu keras dengan adik kamu Miller?" suara Haris terdengar berat.


Miller berdecak menanggapi pertanyaan Haris, "Miller lakuin ini karena gak mau Yasmine celaka Pa! Papa tahu kan posisi Miller itu siapa? Dia itu siapa?" suara Miller meninggi di hadapan Haris.


"Iya Papa tahu tapi ini terlalu berlebihan Miller!" Haris mulai naik pitam dengan jawaban Miller.


"Pa aku cuma mau yang terbaik buat adek aku Pa" Miller menghela nafas nya dengan kasar.


"Udah lah Pa Miller gak mau berdebat sama Papa! Miller mau berangkat" Miller berlalu menuju pintu luar.


Mata elang Miller menangkap wajah sendu Yasmine tatapan nya begitu kosong Ia juga tidak tega melihat adik nya seperti namun rasa permusuhan tidak bisa mengalahkan rasa egois nya, " Berhenti nangis! Buat apa kamu tangisin Arsen!" sarkas Miller.


Yasmine menghapus air mata nya Ia segera berdiri, "Y - yasmine gak m - mau putus" lirih nya bibir nya bergetar.


"Kamu gak mau putus? Kalo kamu gak mau putus abang bakal habisi dia sekarang juga!" bentak Miller tangan nya terkepal kuat karena menahan emosi.


"Cepet berangkat nanti kamu terlambat!" bentak Miller. Yasmine bergerak mengikuti Miller untuk berangkat sekolah.


Mereka berdua sampai di sekolah segera Yasmine turun dari motor sport Miller, "Nanti siang biar Rey yang jemput kamu abang ada urusan" ucap Miller. Yasmine hanya diam tanpa merespon ucapan Miller, Ia memilih masuk dan meninggalkan Miller.


Ia berjalan melewati koridor sekolah nya dengan menunduk rasa nya benar - benar kacau. Ketika sampai di depan pintu kelas mata Yasmine menatap ke seseorang yang berdiri sambil bersandar pada pintu kelas.


"A - arsen... " lirih nya Ia hendak menyentuh tangan Arsen namun segera Arsen menepis tangan Yasmine. Ia langsung pergi tanpa menoleh sedikit pun pada Yasmine. Jimmy dan Ervan terkejut dengan respon Arsen tidak biasa nya Ia seperti itu pada Yasmine.


"Yas maafin Arsen mungkin dia butuh waktu" ucap Jimmy sambil mengusap bahu Yasmine.


Yasmine hanya mengangguk kecil dan masuk ke dalam kelas. Di sana sudah ada Sandra dan Amel, "Yasmine.... " lirih Amel.


"Gue rasa Yasmine butuh waktu Mel" ucap Sandra, Amel mengangguk pelan pada Sandra.


Selama jam pelajaran di mulai pun Arsen hanya diam biasa nya Arsen akan mencuri - curi pandang pada Yasmine ketika belajar. Jika Yasmine kesulitan mengerjakan soal Yasmine akan bertanya pada Arsen namun sekarang Ia harus bertanya pada siapa? Arsen tidak mau menatap wajah nya sedikit pun.


Ketika jam istirahat pun Arsen masih diam dan memilih duduk di dalam kelas. Arsen berdiri dan pergi ke luar kelas segera Yasmine mengikuti kemana Arsen pergi. Begitu pun mereka, Jimmy dan yang lain nya juga mengikuti secara diam - diam.


"A - arsen tunggu... " Yasmine berusah mengejar Arsen.


Arsen berhenti dan membalikan badan nya, "Apa?" hanya tiga huruf itu yang keluar dari mulut Arsen.

__ADS_1


"M - maaf" lirih Yasmine sambil menunduk di depan nya. Arsen sempat terkejut dengan ucapan Yasmine.


"K - kamu kenapa diemin aku?" badan Yasmine bergetar ketakutan.


"Apa lo gak denger kemaren! Miller sendiri yang nyuruh kita buat putus" ketus Arsen.


"T - tapi... ".


"Mulai sekarang lo jangan pernah deketin gue lagi!" bentak Arsen, Ia langsung pergi meninggalkan Yasmine di belakang kelas dua belas.


Dari sebalik dinding Sandra dan Amel menghampiri Yasmine mereka menenangkan Yasmine yang semakin pecah tangisan nya karena ucapan Arsen, "Yasmine... " Amel memeluk Yasmine.


Jimmy dan yang lain nya menyusul Arsen dengan berlari dari belakang, "Arsen...!" teriak Ervan. Arsen berhenti mereka juga berhenti di depan Arsen, "Lo kenapa sih?" sarkas Ervan.


"Iya Sen lo kenapa sama Yasmine? Itu juga bukan salah dia atau pun lo?" sambung Jimmy.


"Gue lakuin itu demi Yasmine" jawab Arsen.


"Lakuin apa Bos?" tanya Kevin kebingungan.


"Miller punya anak buah di sini dan dia selalu pantau pergerakan gue sama Yasmine" jawab Arsen dengan berat.


"Lo tahu dari siapa?" sungut Ervan.


"Yang mana sih orang nya?" tanya Ervan.


"Dia anak kelas 11, anak IPA 2 dia sekarang ada di belakang Yasmine" jelas Arsen.


"Jadi ini bukan kemauan lo?" tanya Jimmy sekali lagi.


"Gue sebenernya gak bisa jauhin Yasmine dari gue tapi ini demi dia untuk sekarang kaya gini tapi gue bakal perbaikin keadaan nya".


"*Lapor Bos Miller, Arsen sudah memutuskan hubungan nya dengan Yasmine" lapor seseorang.


"Pantau terus mereka berdua*" .


Jam pulang sekolah Yasmine sudah menunggu di depan gerbang sesuai janji nya Ia akan menunggu Rey. Arsen dan teman - teman nya keluar dengan motor sport mereka, tak lama Rey datang untuk menjemput Yasmine.


"Maaf gue telat Yas" ujap Rey sambil menyerahkan helm pada Yasmine. Arsen menatap tajam pada Yasmine dan Rey.


"Lo gak mau anter Yasmine Sen? Lihat tuh ada Rey" ujar Ervan.


"Untuk sekarang gue ikutin permainan si Miller" jawab Arsen sambil menurunkan kaca helm nya. Arsen langsung pergi meninggalkan mereka.


"Ayo Yas" ajak Rey.

__ADS_1


"Rey kaya nya gue gak bisa pulang sama lo gue mau ke toko buku dulu" Yasmine langsung memberhentikan sebuah angkot dan masuk ke dalam nya.


"Yasmine...!" teriak Rey.


"Arrgghhh gagal lagi gue" erang Rey dari seberang jalan Jimmy dan Ervan tertawa melihat kekeselan Rey.


Di sisi lain Diana tengah bediri di depan gerbang sekolah nya kemarin Miller berjanji untuk menjemputnya namun tiba - tiba saja Miller memberi tahu jika Ia sedang ada urusan mendadak sampai tidak bisa menjemput Diana.


"Gue ke toko buat ambil gitar gue" ucap Diana, langsung saja Diana memberhentikan sebuah angkot. Tak lama Diana berhenti di sebuah toko ala musik ketika hendak membuka pintu toko itu mata Diana menangkap sosok yang Ia kenal. Sosok yang sudah membantalkan janji dengan diri nya dengan alasan ada urusan mendadak namun laki - laki itu tidak sendirian Ia bersama seorang perempuan cantik yang mana perempuan itu menggenggam tangan Miller dengan mesra.


"G - gak mungkin Miller... " lirih nya air mata Diana ikut turun membasahi pipi mulus nya namun Ia segera berbalik badan untuk menghindari orang yang Ia kenal.


"Brugghh" Diana menabrak seseorang sampai terjatuh, "Kalo jalan lihat - lihat dong!" bentak orang itu namun Diana memilih untuk diam. Ketika Ia baru berdiri Miller sudah memperhatikan diri nya, "Diana.... " panggil Miller.


Diana memilih untuk pergi dari hadapan Miller, "Diana tunggu..." Miller menahan lengan Diana.


"Diana ini gak seperti..." .


"Kamu bohong sama aku Mill. Kamu bilang kamu ada urusan mendadak tapi... " Diana melengos tak percaya.


"Na dengerin aku dulu... " ucap Miller.


Diana menghapus air mata nya dengan kasar, "Bener kata Petra orang kaya kamu mana mungkin punya perasaan yang tulus. Bener kata Petra aku cuma mainan buat kamu" ujar Diana yang masih menangis.


"Itu gak bener Na".


"Na... " lirih Miller.


"Mulai besok kamu gak perlu jemput aku, jangan tunggu aku di Cafe lagi" Diana memilih pergi meninggalkan Miller dan perempuan itu.


"Diana... " panggil Miller.


Diana berhenti dan membalikan badan nya, Miller sempat tersenyum Ia pikir Diana akan memaafkan nya namun nyata nya tidak Diana malah mengucapkan hal lain "Seharus nya aku percaya sama omongan Petra" Diana langsung pergi menaiki angkot.


"Itu siapa sih Mill?" sungut perempuan itu dengan nada kesal.


"Lo diem! Ini semua gara - gara lo!" bentak Miller.


Diana turun dari angkot dan memilih pergi ke taman yang Ia datangi bersama Miller. Ia duduk di sebuah kursi panjang, "Gue gak nyangka Mill" isak Diana. Tak lama Yasmine juga turun dari angkot nya dan pergi ke sebuah kursi panjang. Ia berjalan pelan ke sebuah kursi.


"Apa ini yang lo mau Sen? Lo bilang sayang sama gue" isak Yasmine. Dan kini ada dua orang perempuan yang menangis karena seorang laki - laki yang mereka cintai.


Di harapkan agar tidak baper ya geng's hehe. Apakah Arsen akan kembali mengejar Yasmine atau malah Rey yang akan mendapatkan Yasmine? Btw si Miller juga bikin nangis anak orang nih :v Stay tune in ARSEN. See U in the next chapter. ā™”


Jangan lupa like, vote and comment's ya geng's

__ADS_1


__ADS_2