
"Melihat dirimu terluka sedikit saja membuat darahku berdesir dengan tajam untuk menghabisi orang yang menyakiti mu"
Arsen Atmanagera
Haris dan Miller tengah sarapan di meja makan. Mereka hanya makan berdua tanpa ada kehadiran Yasmine di meja makan itu. Biasanya Yasmine yang selalu mengajak mereka untuk sarapan bersama, kali ini Yasmine belum ada keluar dari kamarnya sama sekali.
"Miller adek kamu kemana kok belum turun juga? Coba kamu periksa ke kamarnya" Haris khawatir dengan Yasmine yang belum keluar dari kamarnya.
"Iya pa" Miller berjalan ke kamar Yasmine. Ia membuka pintu kamar adiknya itu. Sebuah selimut tebal berwarna putih itu menutupi tubuh Yasmine.
Miller berjalan ke arah samping ranjang Yasmine, "Dek kok masih tidur? Bangun ini udah jam 7" Miller menarik selimut yang menutupi tubuh Yasmine.
Yasmine mengerjapkan matanya, kepalanya terasa sangat berat dan pusing. Ia merasa kedinginan, Ia terlihat menggigil.
Miller memperhatikan keadaan Yasmine. Wajah pucat, dan badan yang bergetar membuat Miller khawatir dengan keadaan adiknya. Ia meletak kan telapak tangannya di dahi Yasmine.
"Adek sakit?" Miller masih meletak kan telapak tangannya di dahi Yasmine.
"Kaya nya iya bang, kemarin kan Yasmine kehujanan" Yasmine memejamkan matanya. Matanya terasa sangat berat untuk di buka.
"Kalau gitu gak usah sekolah dulu ya, biar abang izinin ke sekolah adek" Miller beranjak dari duduknya.
Yasmine menahan tangan Miller, "Gak usah bang Yasmine tetap sekolah hari ini ada ulangan" .
Miller berdecak kesal, "Kamu itu lagi sakit dek, bisa - bisanya mikirin ulangan".
"Gapapa bang ini cuma pusing biasa" Yasmine beranjak dari duduknya dan mengambil handuk.
Haris masuk ke dalam kamar Yasmine, Ia berjalan mendekati Yasmine, "Kalau sendainya gak kuat sekolah gak usah di paksa dek" Haris mengecek suhu Yasmine dengan termometer yang di masuk kan ke dalam mulut Yasmine.
Angka yang tertera di termometer itu adalah 38 derajat celcius, menandakan itu bukan pusing biasa melainkan sudah demam yang tinggi.
"Gapapa pa Yasmine gak mau ketinggalan ulangan".
Haris berdehem pelan, "Kalau rasanya kamu kuat yasudah gapapa kamu sekolah".
"Kalau gitu Yasmine mandi dulu pa" Yasmine berjalan masuk ke dalam kamar mandinya.
Setelah selesai mandi Yasmine turun ke bawah, Haris dan Miller sudah menunggu di depan pintu rumah.
"Kok belum berangkat?" Yasmine menatap Haris dan Miller.
"Papa nunggu adek, yaudah adek berangkat sama Pak Hadi ya" perintah Haris.
"Iya pa, Yasmine berangkat ya Asalamualaikum" Yasmine terlihat sangat pucat saat menyalami tangan Haris dan Miller.
"Walaikumsallam".
~
Yasmine keluar dari mobilnya, Ia berdiri di depan pintu gerbang yang sudah di tutup oleh satpam sekolah. Ia melihat jam tangan nya waktu menunjukan pukul tujuh lewat.
"Mau lewat mana kalo kaya gini?" Yasmine berjalan ke arah samping gerbang.
Yasmine mondar - mandir di depan gerbang sekolahnya, Ia membalik kan tubuhnya ke arah belakang. Ia melihat seorang laki - laki yang berdiri sambil membawa sebuah helm.
"Lo ngapain disini?" Arsen menaik kan sebelah alis matanya.
"Gue telat Sen, gue gak tahu mau lewat mana" Yasmine terlihat sangat gelisah.
"Tumben Lo telat?" Arsen menatap Yasmine, "Muka Lo pucet, Lo sakit?" Arsen menyentuh dahi Yasmine yang panas.
"Gue cuma pusing Sen" Yasmine mengalihkan pandangannya.
"Ikut gue" Arsen langsung menarik paksa tangan Yasmine untuk mengikuti dirinya.
__ADS_1
"Mau kemana Sen? Kalo bolos gue gak mau" Yasmine berusaha melepaskan tarikan tangan Arsen.
"Siapa juga yang mau ngajak Lo bolos! Kita lewat belakang" ajak Arsen.
Yasmine hanya mengangguki perintah Arsen, mereka berjalan ke arah belakang sekolah. Pagar besi yang terlihat tidak terlalu tinggi itu menjadi pilihan mereka untuk masuk ke dalam area sekolah.
"Kita lewat sini" Arsen berjalan di depan Yasmine. Yasmine membelalakan matanya kala mendengar jawaban Arsen.
"Manjat pagar?" Yasmine menatap pagar besi itu.
"Iya" Arsen melemparkah helm nya ke dalam area sekolah.
"Motor Lo kemana?" Yasmine langsung menaik kan suaranya.
Arsen berdecak kesal, "Motor gue aman, Lo buruan naik" Arsen mulai memanjat pagar besi itu. Arsen tidak kesulitan untuk memanjat pagar itu, karna tubunnya tinggi.
Arsen mendarat sempurna di atas tanah berumput hijau muda itu. Ia melihat Yasmine yang berdiri di hadapannya yang di batasi oleh pagar besi. Yasmine terlihat sangat pucat.
"Buruan naik, ntar Pak Bagus patroli" Arsen menatap wajah Yasmine yang kebingungan.
"Gue takut jatuh" Yasmine memejamkan matannya.
"Gue ada disini, Lo gak bakal jatuh" Arsen berusaha menenangkan Yasmine yang sudah ketakutan duluan.
Akhirnya Yasmine memutuskan memanjat pagar besi itu, Ia naik ke pagar yang memiliki pijakan yang kuat. Kaki Yasmine terlihat gemetar, Arsen pun sadar sebenarnya Yasmine tidak berani namun mereka tidak punya pilihan lain.
Yasmine sudah berada di atas pagar, "Lo jangan ngintip" Yasmine merapatkan rok nya.
Arsen kembali berdecak kesal melihat Yasmine, "Gak! Buruan!" ketus Arsen.
"Hap..." Kedua tangan kekar Arsen menangkap tubuh Yasmine yang terlihat pucat. Kedua mata mereka saling beradu, sesaat mereka terdiam hingga suara langkah kaki menyadarkan mereka.
"Kalian!" pekik seorang pria muda yang membawa sebuah penggaris kayu. Pria itu berjalan ke arah Arsen dan Yasmine.
"Ngapain kalian disini?!"
"Pasti kalian telat!" terka guru muda itu.
Yasmine membuka mulutnya, Ia hendak menjawab pertanyaan guru itu. Arsen hanya berdiri tegak tanpa memperdulikan omelan guru itu.
"Udah telat pacaran lagi!" guru muda itu menatap tajam pada Arsen dan Yasmine.
"Ikut saya!" perintah guru itu. Mereka berdua berjalan mengikuti guru itu.
Mereka berhenti di lapangan bola basket. Ada sebuah tiang bendera yang berdiri tegak lurus di lapangan bakset itu.
"Kalian hormat bendera sampai bel istirahat pertama" pekik Pak Bagus.
"Kalo mau hukum saya aja pak, Yasmine gak usah dia lagi sakit pak" Arsen menatap Yasmine yang sudah sangat pucat pasi.
"Tidak bisa menawar! Kalian berdua terlambat, kalian berdua harus hormat bendera!" ketus Pak Bagus.
"Dan kamu Arsen jangan mentang - mentang kamu anak pemilik yayasan SMA Garuda kamu semena - semena sama peraturan!" Pak Bagus menatap tajam ke arah Arsen.
Arsen tak kalah tajam menatap Pak Bagus, "Saya gak semena - semena sama peraturan, Saya cuma butuh toleransi Bapak. Yasmine lagi sakit pak" Arsen menaik kan nada suaranya.
Yasmine memegangi kepalanya yang terasa berat, Pak Bagus hanya acuh tanpa memperdulikan permintaan Arsen. Pak Bagus berjalan pergi meninggalkan mereka di lapangan basket.
Arsen berdecak kesal melihat kepergian Pak Bagus. Yasmine melepaskan tas nya dan meletak kan nya di pinggir lapangan.
"Gue kuat kok Sen" Yasmine tersenyum di hadapan Arsen, Arsen hanya diam.
"Kalo gak kuat Lo bilang sama gue" perintah Arsen, Yasmine mengangguk pelan.
10 menit berlalu mereka masih berdiri tegap saat hormat bendera, di menit 20 mereka masih hormat bendera.
__ADS_1
"Lo kuat?" Arsen menatap wajah Yasmine yang sudah semakin pucat dan berkeringat.
"Hmm Sen" Yasmine mengangguk pelan.
Di dalam kelas 11 IPA 1, Jimmy dan Ervan melihat ke arah luar kelas. Mereka melihat Arsen yang sedang hormat bendera dan seorang perempuan.
"Arsen sama siapa?" Ervan masih memandangi Arsen dari kejauhan.
"Itu Yasmine" jawah Jimmy. Mereka tidak memperhatikan pelajaran yang sedang di jelaskan Bu Siska.
"Jimmy! Ervan! Guru kalian di sini bukan di luar!" bentak Bu Siska. Jimmy dan Ervan menunduk takut, Amel yang duduk di sebelah Ervan hanya terkekeh.
"Jadi ini gimana Arsen dan Yasmine Alfa?" Bu Siska membuka buku absen.
"Gak Buk, Arsen sama Yasmine lagi di hukum hormat bendera" Ervan menunjuk ke arah luar kelas.
Amel membelalak kan matanya, "Di hukum?!" pekik Amel, Amel langsung melihat ke arah lapangan.
30 menit masih berlanjut Yasmine mulai memejamkan matanya, kepalanya terasa berat. 40 menit berlalu Yamsine sudah berkeringat di seluruh wajahnya, Arsen mengalihkan pandangannya ke arah Yasmine.
"Lo istirahat aja" Arsen menarik tangan Yasmine, Yasmine menggelenh tidak mau.
"Gapapa Sen" Yasmine masih tersenyum.
Arsen menatap wajah Yasmine yang sangat lemah, Ia kembali mengangkat tangannya untuk kembali hormat bendera.
"Brak..." Yasmine pingsan di sebelah Arsen. Ia tergeletak di lapangan basket yang panas itu. Arsen langsung menepuk - nepuk pipi Yasmine.
"Yas"
"Yasmine" Arsen menepuk pipi Yasmine, Dari hidung Yasmine keluar darah segar. Arsen membelalak kan matanya, "Darah" lirih Arsen.
Pak Bagus langsung berlari menghampiri mereka yang berada di lapangan basket.
"Bawa kw UKS Arsen!" perintah Pak Bagus.
Arsen langsung mengangkat Yasmine ala brydal style. Semua murid yang ada di di kelas 11 IPA 1 terlihat panik.
"Yasmine" lirih Amel.
'Tenang dulu Mel, ada Arsen" Ervan mengelus pundak Amel.
"Kembali fokus!" Bu Siska kembali menerangkan materi.
Arsen meletak kan Yasmine di kasur UKS, perawat yang ada di UKS langsung memeriksa kondisi Yasmine. Para perawat itu langsung membersihkan darah dari hidung Yasmine dan memasangkan infus pada Yasmine.
"Saya udah bilang sama Bapak Yasmine lagi sakit" Arsen menyeringai tajam pada Pak Bagus.
"Seandainya Bapak gak hukum Yasmine dia gak bakal pingsan kaya gini pak" ketus Arsen.
Pak Bagus hanya menunduk, Ia terlihat merasa bersalah kepada dua muridnya itu.
Arsen masih berdiri di depan ruang UKS, Ia terduduk lemas di lantai UKS itu.
"Gimana Buk kondisi Yasmine" Arsen terlihat cemas.
"Pasien kelelahan, pada dasarnya pasien sudah sakit ditambah pasien harus melakukan hukuman menyebabkan pasien pingsan dan mimisan" jelas perawat itu.
Arsen hanya terdiam mendengar penuturan perawat UKS, Ia menyeringai tajam ke arah Pak Bagus.
"Kita harus menghubungi keluarga pasien" perawat itu langsung pergi untuk menuju ke ruang kepala sekolah.
Arsen berjalan ke arah Pak Bagus, Ia menyeringai tajam, "Kalo sampai Yasmine celaka saya gak segan - segan keluarin Bapak dari sekolah saya" dengus Arsen.
Bersambung🌻
__ADS_1
Don't Forget to Vote, Like and Comment🌻
Author tunggu yaa❤