ARSEN

ARSEN
He's Reason


__ADS_3

Happy Reading All 😊


Arigatou.


" Ketika hati dan pikiran ku bertolak belakang, Rindu dan Benci menjadi satu dalam hati ku ".


Yasmine Rosalia


Ting - Tong


"Yasmine buka pintu nya dek" seru Miller yang sedang membaca koran di sofa nya. Ia masih duduk menunggu Yasmine untuk membuka pintu nya.


Ting - Tong


"Yasmine...!" seru Miller sekali lagi.


"Kemana dia?" Miller beranjak dari duduk nya untuk membuka pintu.


"Lagian siapa sih?" sungut Miller dengan nada kesal nya. Ia membuka pintu, mata nya melihat sepatu hitam legam yang berdiri di depan nya. Tidak sendiri tamu itu bersama kedua orang lain nya. Mata Miller naik ke atas untuk melihat siapa tamu nya.


Wajah Miller berubah jadi geram, tangan nya Ia kepal kuat - kuat saat melihat siapa yang Ia lihat saat ini, "Brengsek!" ketus Miller.


"Ngapain lo di sini?!" Miller membogem wajah Arsen hingga membuat Arsen tersungkur ke lantai teras rumah nya.


"Mill sabar dulu Mill" lerai Jimmy, Ia menarik Miller untuk mundur beberapa langkah, Ervan membantu Arsen untuk berdiri.


"Lo ngapain bawa si Brengsek ini ke rumah gue?!" desis Miller sambil menyeringai tajam. pada Arsen.


Arsen mengusap bibir nya yang berdarah, "Ada yang mau gue omongin sama lo dan Yasmine" jawab Arsen.


"Mau omongin apa lagi? Gampang banget lo ngajak damai?!" sentak Miller.


"Gue gak ngajak damai sama lo, gue cuma mau jelasin kenapa gue pergi gitu aja. Masalah lo mau maafin atau gak itu terserah lo" jawab Arsen dengan tenang.


"Abang kenapa panggil Yasmine?" Yasmine berjalan dari dalam rumah. Ia berhenti di belakang Miller, "Arsen...?" lirih Yasmine.


"Apa kita gak bisa masuk dulu?" tanya Jimmy sambil melirik ke Miller.


"Buruan masuk! Gak usah lama - lama!" sungut Miller.


Mereka semua masuk dan memilih duduk di ruang tamu. Yasmine duduk di sebelah Miller sambil menunduk. Arsen duduk di hadapan mereka berdua.


"Sebelumnya apa ada Papa Haris?" tanya Arsen.


"Gak ada! Bokap gue lagi di luar kota! Buruan!" bentak Miller.


Arsen menghela nafas nya secara perlahan sambil memejamkan mata nya.


Flashback 5 tahun lalu.


Setelah selesai mengantar Yasmine pulang Arsen langsung menuju rumah nya. Ia masuk ke dalam rumah nya dan melihat beberapa koper berada di ruang tamu rumah nya.


"Koper? Mau kemana?" gumam nya, setahu nya Mereka tidak memiliki rencana pergi kemana pun jika bukan liburan semester.


"Kamu udah pulang Sen?" tanya Tania yang menuruni anak tangga rumah nya.


"Ini koper siapa Ma? Mama mau pergi?" tanya Arsen dengan nada bingung nya.


"Kita harus ke Rotterdam Sen" jawab Bram yang keluar dari ruang kerja nya.


"Rotterdam? Maksud Papa kita ke rumah Kakek?" Arsen menaikan nada suara nya, Ia ingat jika hubungan keluarga nya dengan keluarga yang ada di Rotterdam tidak baik.

__ADS_1


"Iya Arsen kakek menyuruh kita buat ke sana" jawab Bram.


"Untuk apa Pa? Papa tahu sendiri kan Kakek itu gak sayang sama kita" jelas Arsen.


"Arsen gak boleh gitu nak, itu Kakek kamu Arsen" Tania mengusap punggung Arsen.


"Tapi Ma - ".


"Sudahlah kita turuti apa kemauan Kakek kamu kali ini" lerai Bram.


"Oke kalo gitu, Arsen mau hubungin Yasmine dulu".


"Nanti aja kalo kita udah sampe di Rotterdam kamu kabarin di sana, kita udah gak punya waktu lagi".


Arsen berdecak kesal, "Yaudah!".


Rotterdam - Den Hag International Airport.


Mereka sudah sampai di bandar di sana sudah ada pengawal dari Camelio Atmanegara, ayah dari Bram Atmanegara sekaligus Kakek dari Arsen Atmanegara. Ia berdiri sambil di kawal oleh para ajudan nya. Tak lupa sebuah cerutu berada di dalam mulut nya serta tongkat kayu berada di tangan kanan nya.


" Welkom " Camelio menyambut kedatangan anak, mantu dan cucu nya. Bram memeluk Camelio dengan erat kemudian Tania hanya menyalami tangan nya sedangkan Arsen hanya berdiam tanpa mau memeluk dan menyalami tangan nya. Namun Camelio tak memusingkan itu Ia memilih tersenyum saja ketika Arsen memilih acuh pada nya.


" til hun spullen op " (Angkat barang mereka) perintah Camelio pada ajudan nya.


" Ja meneer " (Baik Tuan) ajudan itu membungkukan badan nya dan segera mengangkat barang milik mereka.


Di dalam mobil BMW itu Arsen hanya diam tanpa ikut berbicara sedikit pun dengan Camelio, hanya Bram yang berbicara pada Camelio sesekali Arsen berdecak karena bosan mendengarkan obrolan mereka yang membahas perusahaan dan saham.


" Hoe gaat het met je " ( Bagaimana kabar mu?) tanya Camelio pada Arsen.


" Goed " ( Baik) jawab Arsen singkat.


Camelio hanya tersenyum miris begitu acuh nya Arsen pada diri nya, " heb je een minnaar " (Apa kamu sudah memiliki kekasih) tanya Camelio.


"Arsen... " Tania terkejut dengan jawaban Arsen.


Camelio hanya diam tanpa merespon jawaban Arsen, Ia menahan sesak di dada nya, " we zijn aangekomen, meneer " (Kita sudah sampai, Tuan) ucap ajudan.


Mereka turun dari mobil dan segera memasuki Villa Costa milik Camelio, " rust wat uit " (Istirahat lah) ujar Camelio, Ia memasuki Villa nya dengan cepat.


~


Ketika makan malam Arsen mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana nya. Ia ingin mengabari Yasmine ketika baru mengeluarkan ponsel nya dengan cepat ajudan Camelio mengambil ponsel milik nya, " Wat ben je aan het doen ! " (Apa yang kau lakukan!) bentak Arsen pada ajudan itu dengan cepat ajudan itu menyerahkan ponsel Arsen pada Camelio.


" als Bram mij niet kan gehoorzamen, dan ben jij als vervanger** ! " (Jika Bram tidak bisa menuruti ku maka kau sebagai pengganti nya!") Camelio melempar ponsel Arsen ke lantai dan memukul nya dengan tongkat kayu. milik nya.


"Papa! Mama! " Arsen lebih memilih meneriaki Bram dan Tania daripada menyelamatkan ponsel nya yang telah hancur di tangan Camelio. Bram dan Tania turun dari lantai atas dengan tergesa - gesa.


"Ada apa Arsen?" tanya Bram.


Bram membelalakan mata nya saat meliha ponsel Arsen telah hancur, "Papa! Apa yang Papa lakuin sama Arsen?!".


"Diam! Dia sekarang adalah boneka ku, dia telah memakai marga Atmanegara maka Ia harus menuruti perintah ku. Bersiaplah keluarga Mendensen agar segera tiba" Camelio berlalu meninggalkan mereka.


"Pa keluarga Mendensen itu siapa?" tanya Tania dengan isakan air mata nya.


"Keluarga Mendensen itu adalah calon besan Papa waktu itu, karena Papa menolak maka nya tidak jadi. Dan - ".


"Apa mungkin Arsen bakal di jodohin sama keluarga Mendensen Pa?" tanya Arsen.


"Seingat Papa keluarga Mendensen ada seorang cucu perempuan yang nama nya Karina Mendensen".

__ADS_1


"Pa tolong bantu Arsen Pa, Arsen gak mau Pa. Arsen cinta sama Yasmine Pa" Arsen memohon pada Bram.


"Denger Papa nak, Papa akan bantu kamu tapi tidak bisa cepat nak! Bram menarik Arsen dalam pelukan nya.


Mau tidak mau Arsen harus menikah dengan Karina. Sempat beberapa kali Arsen menggagalkan acara pertunagan nya namun Camelio memilik 1000 rencana agar Arsen menuruti nya. Sudah hampir 5 tahun Arsen dan Karina bertunangan sampai suatu hari Arsen benar - benar merasa tertekan dengan segala aturan Camelio. Mulai harus bertunangan dengan Karina, mengurus perusahaan utama milik Camelio dan lain - lain. Hingga suatu hari Arsen merasa tertekan dan Arsen mencoba bunuh diri.


Arsen mengambil sebuah pisau dan akan menggoreskan pada tangan nya, "Arsen! Apa yang kamu lakukan?! " bentak Camelio.


Darah segar turun bercucuran dari pergelangan tangan Arsen, "Kakek..." lirih Arsen.


"Panggil Bram dan Tania!" perintah Camelio pada ajudan nya.


Bram dan Tania berlari ke kamar Arsen betapa terkejutnya mereka ketika melihat Arsen sudah terkulai lemah di atas lantai.


"Arsen...! " teriak Tania dengan segera Ia menghampiri Arsen.


"Arsen udah gak kuat Ma, Arsen gak mau tertekan kaya gini" lirih Arsen.


"Pa panggil Ambulans" titah Tania.


Camelio menatap miris pada Arsen, Ia merasa sakit pada lubuk hati nya mengapa Arsen sampai memilih bunuh diri.


"Ayah tolong jangan bebankan Arsen dengan keinginan Ayah" pinta Tania.


"Arsen sudah banyak menderita dengan Ayah" isak Tania memeluk Arsen.


"Ayah!!!" bentak Tania pada Camelio.


Camelio melempar tongkat kayu nya ke kaca, "Baiklah! Ku lepaskan Arsen demi masa depan nya!" Camelio keluar dari kamar Arsen.


Sejak kejadian itu Arsen dan keluarga nya bisa kembali ke Indonesia walau sempat Camelio melarang nya namun hati Camelio tersentuh karena ucapan Arsen jika diri nya sudah memiliki wanita di hati nya.


Flashback Selesai.


Yasmine terdiam setelah mendengar penjelesan dari Arsen hati nya ikut sakit setelah mengetahui apa alasan Arsen meninggalkan diri nya.


"Arsen pasti benar - benar tertekan" batin nya.


"Apa gue bisa percaya sama omongan lo?" tanya Miller.


"Terserah lo percaya atau gak, gue udah jujur sama lo dan Yasmine".


"Aku minta maaf karena udah tinggalin kamu".


"Aku gak ada niatan tinggalin kamu sayang".


"Aku mau kita terus bersama" Arsen mengenggam tangan Yasmine.


Miller hanya diam memperhatikan Arsen dan Yasmine, "Dari raut wajah mereka gak bisa bohong mereka saling cinta satu sama lain" batin Miller.


Yasmine melepaskan tangan nya dari Arsen dengan pelan, "Kasih aku kesempatan sekali lagi Yas" lirih Arsen.


Yasmine berdiri dan berlari ke belakang meninggalkan Arsen dan yang lain nya di ruang tamu.


"Adek gue masih butuh waktu buat pahamin ini semua" ujar Miller.


Arsen mengangguk pelan, "Gue bakal bahagiain dia".


"Gue gak tahu harus apa sekarang" Yasmine meringkuh lemah di atas anak tangga.


Ada yang baper kah pada part ini ?

__ADS_1


See U in the next chapter.


Jangan lupa like, vote and comment's ♡


__ADS_2