ARSEN

ARSEN
Di Antar Arsen


__ADS_3

Yasmine masih setia menunggu jemputan Miller. Ia tetap berusaha menghubungi Miller, sesekali ia berdecak kesal karna lelah menunggu Miller.


"Abang mana sih, di telfon gak di angkat" Sungut Yasmine, ia masih duduk di kursi panjang taman sekolah nya. Sesekali ia melihat Arsen dan teman - teman nya bermain basket di lapangan.


"Arsen keren juga ya" Ia masih memandangi Arsen dari kejauhan, Arsen yang menyadari jika dirinya di perhatikan oleh Yamsine sesekali menatap Yasmine, secepat mungkin Yasmine mengalihkan pandangan nya.


"Wih di lihatin Yasmine tuh" Ervan tertawa melihat nya, "Apaan sih!" Arsen berlalu meninggalkan Ervan, Ervan dan Jimmy tertawa melihat reaksi sahabat nya itu.


Setelah selesai bermain basket, Arsen memutuskan untuk pulang, "Gue balik" Dengan santai ia menarik ransel hitam nya yang berada di pinggir lapangan Basket.


"Yaudah Sen, kita juga mau balik" Jimmy dan Ervan berjalan di belakang Arsen untuk menuju ke parkiran. Ketiga laki - laki itu langsung menaiki motor sport mereka dan tak lupa mengenakan jaket hitam kulit berlambang kepala serigala.


Mereka melewati Yasmine yang masih duduk di kursi taman itu, Jimmy berhenti di depan Yasmine.


"Belum pulang lo Yas? Nungguin siapa?" Jimmy melepas helm fullface nya.


"Belum Jim, gue masih nunggu jemputan" Yasmine memegang erat tas ransel merah nya.


"Supir lo Yas?" Ervan turun dari motor sport merah nya itu. Terlihat Arsen masih duduk di atas motor sport nya dan memasang wajah acuh tak acuh nya.


"Gue nunggu abang gue Van, dia masih di sekolah nya" Yasmine menghapus keringat di dahi nya, sejujurnya ia sangat lelah menunggu Miller sejak tadi.


"Abang lo kan masih di sekolah, pulang nya ntar sore pasti nya Yas. Udah bareng kita aja" Ervan melirik Arsen.


"Gak usah deh Van, gue gak mau repotin kalian" Yasmine tersenyum tipis.


"Gak repotin kali Yas. Rumah lo dimana Yas biar kita anterin lo balik" Jimmy berusaha membujuk Yasmine agar mau pulang bersama mereka.


Sesekali Yasmine menatap takut pada Arsen, pasal nya sejak tadi Arsen hanya diam dan menatap sinis pada Yasmine, " Rumah gue di Villa Mid Level" Yasmine menunduk takut.


"Mid Level? Wah pas banget, rumah lo searah sama rumah Arsen" Jimmy menatap Arsen sambil tersenyum. Arsen yang mendengar hal itu langsung membelalakan mata nya.


"Yaudah Yas lo balik sama Arsen aja, Ya gak Jim" Ervan tersenyum licik ke arah Jimmy, Jimmy juga membalas senyuman licik Ervan.


"Apaan sih lo berdua, gue gak mau!" Dengan nada ketus Arsen menghidupkan motor nya.

__ADS_1


"Gak usah repot - repot, gue nunggu aja gapapa kok" Yasmine tersenyum kikuk pada mereka.


"Lo lupa sama visi Wolf Sen?" Jimmy menatap serius pada Arsen. Arsen langsung teringat visi Wolf , dimana anggota Wolf tidak akan membiarkan melihat orangtua, wanita, dan anak kecil kesusahan. Arsen berdecak kesal kala mengingat visi geng nya itu.


Arsen memejamkan mata nya dan menarik nafas nya begitu dalam dan menghembuskan nafasnya dengan kasar, " Buruan naik! Nih pake!" Suara ketus Arsen membuat Yasmine mendongakan kepalanya dan berdiri dari kursi taman itu.


"Iya Sen" Yasmine menerima jaket pemberian Arsen, dan mengingkatkan jaket hitam itu di pinggangnya.


Jimmy dan Ervan tersenyum puas melihat Arsen yang mau mengantar pulang Yasmine. Jimmy dan Ervan menghidupkan motor mereka. Yasmine menaiki motor sport Arsen. Mereka melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan Jakarta yang sangat ramai dan padat. Mereka berpisah di persimpangan, Jimmy belok ke kanan, Ervan belok ke kiri, sedangkan Arsen tetap lurus ke depan.


Arsen mengurangi kecepatan nya, membuka kaca helm fullface nya. " Rumah lo yang mana?" Arsen tetap fokus pada pandangan nya.


"Di depan sana Sen" Yasmine menunjuk rumah mewah berwarna hitam putih, dengan pagar rumah yang menjulang tinggi.


Arsen berhenti di depan gerbang rumah mewah itu, Yasmine langsung turun dari motor Arsen, ia melepaskan jaket hitam yang melingkar di pinggang nya, dan menyodorkan pada Arsen.


"Makasih ya Sen" Yasmine menatap takut - takut pada Arsen.


"Iya sama - sama" Arsen memakai jaket nya dan menghidupkan motor sport nya, "Buruan masuk! Lo gak perlu lihatin gue" Sungut Arsen.


"Iya".


~


Yasmine langsung merebahkan diri nya di atas ranjang nya. Ia memeluk bantal guling nya dan tertawa kecil, " Kok gue seneng banget ya bisa pulang sama Arsen" Yasmine mengingat diri nya tadi, dimana saat berboncengan dengan Arsen jantungnya berdegup dengan kencang, ia juga tidak tahu kenapa dia seperti itu. "Apa gue suka sama Arsen?"


Miller sampai di depan gerbang SMA Garuda, ia terlihat bingung dengan keadaan sekolah adik nya itu. Pasal nya ini baru jam dua lewat tapi kenapa sekolah sudah sepi. SMA Harapan Bangsa pulang lebih awal di banding SMA Garuda. Miller berjalan ke dalam lingkungan sekolah itu, dia menghampiri seorang tukang kebun yang sedang menyapu halaman.


"Permisi pak, apa anak sekolah udah pada pulang?" Miller masih celingak - cekinguk mencari keberadaan adiknya, Yasmine.


"Anak - anak sudah pulang dari tadi mas, mereka di pulangin cepat karna ada rapat mas. Dari jam 10 tadi mereka sudah pulang" Lelaki tua mendongakan kepalanya untuk melihat siapa sebenernya lawan bicara nya itu.


"Oh gitu, Makasih ya pak" Miller berlari dan langsung menghidupkan motor nya.


Sesampai nya di rumah, Miller berlari ke dalam rumah nya, "Bi Ani, Yasmine udah pulang Bi?" Miller mendekati wanita berumur empat puluh tahunan itu.

__ADS_1


"Udah den, Non Yasmine baru aja pulang" Bi Ani berdiri di dekat meja sambil menyiapkan makanan di meja. Langsung saja Miller menaiki anak tangga itu dan mengetuk pintu kamar adiknya itu.


"Dek kamu udah pulang?" Miller masih berdiri di depan pintu yang masih di tutup itu. Yasmine yang mendengar suara Miller langsung membuka pintu kamarnya.


"Udah Bang. Baru aja pulang" Yasmine masih mengenakan seragam sekolah nya dan bersender di dinding kamar nya.


"Pulang sama siapa? Pak Hadi?" Miller masuk ke kamar Yasmine dan ikut bersender di dinding kamar itu.


"Engga Bang, Yasmine pulang sama temen tadi" Yasmine mengingkat rambutnya, ia merasa gerah dan kepanasan setelah menunggu Miller begitu lama di sekolah tadi.


"Kenapa Yasmine gak nelfon Abang? Kan Abang bisa jemput" Miller berjalan mendekati adiknya.


"Yasmine udah nelfon Abang, Tapi Abang gak angkat" Yasime sedikit kesak mengingat kejadian tadi.


Miller merogoh saku celana nya, ia sempat terkejut ketika tidak mendapati handphone di saku celana nya, "Maaf dek, Hp Abang kaya nya ketinggalan di kamar" Miller menggaruk kepala nya.


"Yaudah gapapa lah Bang, Yasmine juga udah pulang kan" Yasmine tersenyum.


"Trus yang ngantar kamu pulang, Cowo apa Cewe dek?" Miller menatap curiga pada adiknya itu.


"Cowo Bang" Dengan santai Yasmine menjawab pertanyaan Miller. Miller yang mendengar kata cowo langsung berjalan mendekati adiknya itu. Memegang bahu Yasmine dan menatap serius pada adiknya itu.


"Siapa nama nya?! Miller menatap tajam pada adiknya itu, Yasmine hanya tertawa kecil melihat reaksi Abangnya itu.


"Nama nya Ar..." Belum selesai Yasmine melanjutkan pembicaraanya, Bi Ani yang berada di bawah datang menghampiri mereka di kamar, "Den Miller, Non Yasmine makan siang nya sudah Bibi siapin" Wanita itu tersenyum tulus pada kedua remaja itu.


"Nanti lagi kita bahas nya, kita makan dulu ya" Miller menarik tangan adiknya untuk makan bersama.


~


Di lain sisi, Arsen berdiri di balkon kamar nya. Ia bersandar pada pembatas balkon itu, ia sesekali termenung mengingat kejadian tadi siang. Pasal nya, Arsen mendengar detak jantung Yasmine berdegup dengan kencang, dimana dada Yasmine tidak sengaja bersentuhan dengan punggung Arsen saat di perjalanan tadi, bukan hanya Yasmine Arsen pun juga merasakan hal yang sama. Detak jantungnya berdegup sangat kencang selama perjalanan dengan Yasmine tadi, "Gue kenapa sih?" Arsen mengacak - acak rambut nya dengan kasar.


Bersambung...


Jangan lupa Like and Comment🌻

__ADS_1


Maaf Typo berterbaran dimana - mana.


__ADS_2