
Happy Reading All😊
Arigatou.
"Di berikan nya jarak agar kau dapat merasakan yang nama nya Rindu dan Sabar, Percaya lah di akhir jarak akan ada pertemuan manis".
Yasmine terduduk lemas di tepi ranjang nya dari kemarin Ia tidak ada keluar dari kamar. Tidak makan dan hanya mandi saja, Ia tak merasakan lapar atau pun haus. Mulai dari Haris, Miller dan Pembantu mereka juga sudah berusaha membujuk Yasmine untuk keluar namun nyata nya nihil.
Yasmine membuka knop pintu nya, Ia berjalan menuju kamar Miller, "Abang... " lirih Yasmine yang berdiri di depan pintu kamar Miller yang setengah terbuka.
Miller duduk di depan komputer nya terlihat Ia sedang mengamati sesuatu, "Yasmine... " segera Miller bangkit dari duduk nya dan menghampiri Yasmine.
Miller menuntun Yasmine agar masuk ke dalam kamar nya. Yasmine duduk di tepi ranjang Miller, "Apa udah ada kabar dari Arsen bang?" wajah Yasmine berubah menjadi sendu yang berharap kabar baik dari Arsen.
Miller menggeleng pelan yang menandakan jika Ia belum mendapatkan info sama sekali tentang Arsen. Ia sudah menyuruh anak buah nya untuk membantu Wolf mencari keberadaan Arsen, terakhir info yang Ia dapat Jimmy dan anggota Wolf yang lain nya pergi ke Solo untuk mencari Arsen. Di Solo ada keluarga dari Mama Arsen dan nyata nya juga nihil. Jimmy bilang jika keluarga nya juga tidak tahu pergi kemana bahkan mereka baru mengetahui kabar jika Arsen pindah dari Jimmy. Jadi Arsen pindah benar - benar tidak memberi kabar kepada siapa pun.
"Hiks... Hiks... Hiks... " cairan bening lolos dari mata sendu Yasmine. Ia menumpahkan seluruh tangisannya. Miller menarik Yasmine dalam pelukannya.
"Yasmine gak pernah nangis seberat ini kecuali meninggal nya Mama. Berarti benar Yasmine beneran cinta sama si Brengsek itu!".
"Bang..." lirih Yasmine yang masih dalam keadaan menangis.
"Iya dek... " Miller mengusap lembut kepala Yasmine untuk meredakan tangis nya.
"Hati Yasmine sakit bang... " tangis Yasmine semakin keras terdengar oleh Miller.
"Yasmine... " Miller mendekap erat tubuh Yasmine.
"S - sakit bang, hati Yasmine sakit bang" Yasmine mencengkram kuat lengan Miller. Di sebalik pintu kamar Miller, Haris juga ikut berdiri mendengarkan obrolan mereka.
"Apa yang harus Papa lakuin nak" gumam Haris. Ia juga menurunkan anak buah nya untuk mencari keberadaan Arsen dan keluarga nya.
Haris merogoh saku celana nya dan mengeluarkan ponsel nya, "Bagaimana? Sudah ada perkembangan?.
"Maaf Tuan Haris, saya belum mendapatkan apa pun dari target".
Haris menghela nafas nya dengan kasar, "Lanjutkan pencarian kamu" Haris mematikan ponsel nya.
~
Jimmy dan anggota Wolf yang lain nya tengah beristirahat di penginapan. Jimmy merebahkan tubuh nya di atas kasur empuk milik penginapan tersebut. Ia mengeluarkan sebuah foto dimana ada tiga anak laki - laki kecil yang sedang merangkul bahu satu sama lain.
"Lo dimana Sen? Kenapa lo gak ada kabarin kita? Apa segitu gak berarti nya gue sama Ervan di mata lo Sen? Dan apa lo gak sayang sama Yasmine, gue yakin dia pasti lagi kebingungan cari lo Sen" Jimmy memejamkan mata nya rasa nya seperti sedang mimpi jika Ia kehilangan sahabat nya.
Ervan membuka knop pintu kamar, "Kita harus cari kemana lagi Jim? Solo udah kita jarah Jim".
"Sebelum Solo pun kita udah jarah Bandung Jim" Ervan menghela nafas nya dengan kasar. Benae kata Ervan sebelum Solo mereka sudah mencari Arsen ke Bandung di sana Arsen memilik seorang Tante yang merupakan adik tiri Mama nya.
"Gue juga gak tahu Van kita harus kemana? Cuma Bandung dan Solo yang gue tahu" Jimmy ikut menghela nafas nya dengan kasar.
Kenan dan kedua teman nya mengetuk pintu kamar mereka, "Masuk aja" sahut Jimmy. Mendengar jawaban dari dalam mereka memilih masuk.
"Jadi apa yang harus kita lakuin Jim?" tanya. Kevin yang duduk di lantai kamar itu.
"Gue juga gak tahu Vin" Jimmy mengusap wajah nya dengan kasar, baru kali ini Ia merasa benar - benar frustasi karena seseorang.
"Selain Bandung dan Solo apa gak ada tempat lain yang ada keluarga Arsen?" tanya Kenan yang duduk di sebelah Jimmy dan Ervan.
"Rotterdam" jawab Jimmy.
Mereka semua menoleh ke arah Jimmy, "Rotterdam?" sahut Alex dengan menaikan sebelah alis mata nya.
__ADS_1
"Rotterdam dimana? Gak pernah denger gue" balas Kevin.
"Belanda..." jawab Ervan singkat.
"Lo semua tahu kan Papa Bram itu orang Belanda" jelas Ervan.
"Yaudah kita ke Rotterdam sekarang" ujar Kevin.
"Gak bisa!" tolak Jimmy.
"Haa - kenapa Jim?" tanya Alex bingung.
"Kalo masalah biaya tanggung pribadi aja" jawab Kevin.
"Bukan masalah biaya Vin kalo itu gue gak bakal pamrih sama lo semua gue bisa bayarin buat lo semua" jawab Jimmy sambil sesekali menghela nafas kasar nya.
"Terus kenapa?" tanya Kenan.
"Papa Bram udah lost contact sama Keluarga nya yang ada di Rotterdam" jelas Jimmy.
"K - kenapa gitu?" sahut Alex.
"Kakek nya Arsen gak setuju kalo Papa Bram nikah sama Mama Tania. Kakek nya mau Papa Bram menikah sama orang Rotterdam juga tapi Papa Bram menolak keras jadilah mereka putus hubungan keluarga" sambung Ervan.
"Jadi kita harua gimana sekarang? Lo yang sahabat nya aja gak tahu dimana Arsen apalagi kita" sahut Kevin.
Jimmy berdiri dari duduk nya, "Lebih baik kita pulang ke Jakarta aja sekarang, kita juga harus sekolah" ujar Jimmy.
"Lo udah tanya sama pihak sekolah kan Papa nya Arsen komite di Garuda" ujar Kenan.
"Gue udah tanya tapi mereka juga gak tahu kemana mereka pergi" balas Jimmy.
~
Sampai sudah sebulan kepergian Arsen, Yasmine menjadi sosok yang pendiam ibarat seseorang yang kehilangan cahaya nya Ia tidak tahu harus kemana dan berbuat apa sekarang.
"Udah satu bulan kamu diem kaya gini Yasmine" Miller menyentuh lengan bahu Yasmine.
"Yasmine masih nunggu Arsen bang" Yasmine menatap lurus ke arah luar jendela kamar nya.
Miller mengepal kedua tangan nya, "Berhenti berharap sama dia Yasmine...!".
"Dia udah ninggalin kamu itu aja!".
"Si Brengsek itu! Kalo dia emang sayang sama kamu dia gak akan ninggalin kamu gitu aja!".
"T - tapi bang - ".
"Gak ada tapi - tapi! Mulai sekarang lupain Arsen! Buang jauh - jauh Arsen dari kehidupan kamu!" Miller membanting bingkai foto Arsen dan Yasmine.
Yasmine terkejut, "Abang...!" pekik Yasmine.
Miller tidak memperdulikan bentakan Yasmine, Ia memilih untuk keluar meninggalkan Yasmine.
"Kamu dimana Sen?" isak Yasmine.
~
Sudah sebulan atas renggang nya hubungan Miller dan Diana, dan Miller pun sudah tidak pernah mengunjungi Cafe kesukaan nya itu.
Diana pun juga sudah tidak perlu takut, Ia pikir Miller tidak akan kembali lagi. Diana naik ke atas panggung sambil membawa gitar putih kesayangan nya.
__ADS_1
Miller tiba di Cafe kesukaan nya itu sendirian, Ia ingin bersantai sejenak dari permasalahan yang ada. Ia masuk ke dalam Cafe.
"Mbak expresso nya satu" ujar Miller. Pelayan itu sedikit terkejut dengan kedatangan Miller, pelayan itu undur diri dan memberikan kode pada Diana yang akan menyanyi, namun seperti nya keburuntungan sedang berpihak pada Miller untuk bertemu dengan Diana.
Diana mengalungkan tali sandang gitar nya ke bahu dan memainkan senar - senar gitu itu dengan perlahan.
Pesan t'lah ku terima sore lalu
T'lah ku baca apa yang jadi pinta mu
Kau sentuh hati ku dengan tulisan mu
Tak terasa menetes air mata ku
Miller membelalakan mata nya, Ia kenal dan sangat paham siapa pemilik suara merdu itu. Ia menoleh ke arah panggung dan benar saja Ia melihat Diana yang tengah menyanyi di atas sana. Miller masih diam, mata nya terus. memperhatikan Diana.
Andaikan raga ini bisa terbang
Aku selalu ingin cepat - cepat pulang
Namun keadaan tak mungkin di salahkan
Kasih ku tunggu aku akan pulang
Hati mana yang sanggup menahan rindu
Saat jauh tak mungkin nyenyang tidur ku
Tidak ada hari yang tidak tersentuh
Tak bertemu sehari rasa sewindu
Percaya aku kuatkan hati mu
Kekasih tunggu aku akan pulang
Miller menatap takjub pada Diana, suara Diana benar - benar menghipnotis seluruh pelanggan Cafe. Lirik lagu itu juga menggambarkan perasaan nya, Rindu.
Diana mengedarkan pandangan nya hingga mata perempuan itu menatap mata tajam milik Miller. Diana terkejut Ia mulai gugup dan langsung turun dari panggung. Miller berdiri dan mengikuti Diana pergi.
"Kenapa ada Miller" Diana berlari dari pintu belakang Cafe.
Saat hendak mengambil sepeda nya, tangan kekar Miller terlebih dulu menahan Diana, "Diana..." seru Miller.
Diana tertahan di dinding Cafe kini Miller tepat di hadapan nya, " Kamu kemana aja selama ini?".
Diana terdiam Ia tidak mau menjawab pertanyaan Miller, Diana berusaha melepaskan diri dari Miller namun semua itu gagal. Miller menarik Diana dan segera mencium bibir Diana.
Diana terkejut dengan ciuman Miller, Miller menekan tengkuk leher Diana agar membalas ciuman nya.
"Hmmpphhh" erang Diana, Miller semakin memperdalam ciumannya, tanpa sadar Diana juga membalas ciuman Miller.
Miller melepaskan ciuman nya, "Jangan pergi lagi... " lirih Miller.
Yasmine patah hati banget setelah kehilangan Arsen
Ada yang tahu kemana dan mengapa Arsen pergi? Maafkeun Author yang memberikan kiss ending Miller and Diana guy's.
See U in the next chapter 💛
Jangan lupa like, vote and comment's okey ♡
__ADS_1