
Haris sedang melakukan meeting dengan beberapa clientnya. Ia sedang memperhatikan moderator yang berdiri di hadapannya. Handphone Haris berdering di sebelahnya, otomatis Ia langsung mengangkat panggilan itu. Haris permisi keluar ruangan untuk mengangkat panggilan dari nomor tidak di kenal itu.
"Iya Walaikumsallam. Benar saya ayah dari Yasmine Rosalia"
..............................
"Apa?! Anak saya pingsan?!"
..............................
"Baik baik saya akan segera ke sana, Tolong jaga anak saya!"
..............................
Miller sedang memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi di depan. Ia tengah mencatat materi yang di jelaskan oleh guru perempuan itu. Handphone Miller berdering, Ia hanya menatap layar handphonenya tertulis nama Papa.
Ia masih diam tanpa mengangkat panggilan itu, sampai pada akhirnya guru itu mengizinkan Miller untuk mengangkat panggilannya.
Miller berjalan agak menjauh dari kelasnya, Ia mencari tempat yang tenang.
"Hallo Pa".
..................
"Yasmine pingsan?! Terus sekarang adek dimana Pa?.
...................
"Iya Pa Miller ngerti Miller bakal kesana sekarang".
Miller berlari ke kelasnya Ia berjalan ke arah guru yang sedang mengajar. Ia menatap serius pada guru perempuan itu.
"Saya izin keluar Buk" Miller mengepalkan kedua tangannya kala mendengar hal buruk menimpa adiknya.
"Mau izin kemana kamu Miller?" tanya guru itu sambil membuka buku absennya.
"Saya ada urusan mendadak Buk dengan keluarga saya".
Guru itu melihat gerak - gerik Miller, guru itu menatap lekat wajah Miller, "Baik kamu boleh izin sama pelajaran saya".
Miller langsung mengambil tas nya dan berlari ke arah luar kelas. Ia berlari ke arah parkiran motor dan menghidupkan motor sportnya. Ia melaju kencang menuju ke sekolah Yasmine
Yasmine mengerjapkan matanya, kepalanya terasa berat. Ia menggerak kan tangannya, sakit itulah yang Yasmine rasakan sekarang. Ia melihat ada sebuah selang infus yang melekat pada tangannya.
Yasmine mengangkat kepalannya dan menyandarkannya pada sebuh bantal. Ia mencium bau alkohol yang begitu menyengat dalam ruang itu.
"Gue dimana?" lirih Yasmine sambil memegangi kepalannya.
Arsen yang berdiri di depan pintu UKS langsung masuk ke dalam kala melihat Yasmine yang sudah sadar.
"Lo udah sadar? Ada yang sakit?" Arsen duduk di sebelah Yasmine.
"Kepala gue sakit Sen" Yasmine masih memegangi kepalannya.
"Tadi Lo pingsan terus Lo mimisan makanya Lo ada di sini" jelas Arsen.
Yasmine hanya menunduk sambil memejamkan matanya. Ia meringis kesakitan karna kepalannya terasa berat.
"Lo istirahat aja dulu" Arsen memakaikan selimut ke Yasmine.
Yasmine tersenyum ke arah Arsen, "Makasih ya Sen, Lo udah tolongin gue".
"Iya sama - sama" Arsen mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
Pak Bagus masuk ke dalam UKS dan berjalan menghampiri mereka, "Arsen kamu ikut saya ke Ruang Kepala Sekolah kamu jadi saksi dalam masalah ini" Pak Bagus terlihat ketakutan ketika mengucapkan itu kepada Arsen.
"Iya Pak" Arsen berjalan mengikuti Pak Bagus dari belakang.
"Kamu duluan ke Ruangan Kepala Sekolah, saya mau panggil wali kelas kamu dulu" Pak Bagus langsung memisahkan diri dari Arsen.
Arsen berjalan ke arah Ruangan Kepala Sekolah sambil menunduk, karna tidak melihat arah jalan Ia menebarak seseorang. Seseorang yang di tabrak Arsen adalah Miller.
__ADS_1
"Lo kalo jalan pake mata dong!" pekik Miller sambil menatap pada Arsen.
Arsen menatap tajam sekaligus bingung, kenapa Miller ada di sekolahnya.
"Lo ngapain di sekolah gue" Arsen membalas seringai tajam Miller.
Miller berdecak kesal sambil mengalihkan pandangannya, "Apapun yang gue lakuin gak ada urusannya sama Lo!" Miller terdengar sangat marah.
"Gue udah pernah bilang kalo Lo ada di Garuda Lo ada urusan sama gue!" ketus Arsen.
"Gue gak ada waktu ladenin Lo!" Miller langsung pergi meninggalkan Arsen di depan koridor kelas.
Arsen menatap punggung Miller dari belakang, Ia melanjutkan jalannya ke Ruangan Kepala Sekolah.
Miller berjalan ke arah seorang perawat yang berdiri di depan UKS, "Permisi Buk apa Yasmine Rosalia ada di sini?" Miller menunjuk ke arah UKS itu.
"Iya benar Yasmine Rosalia di sini. Anda siapa ya?" perawat itu membuka buku tamu.
"Saya kakak nya Yasmine Buk bisa saya jenguk adik saya Buk?" Miller menarik nafasnya begitu dalam.
"Silahkan masuk saja" perawat itu mempersilahkan Miller masuk ke dalam UKS.
Miller berjalan ke ranjang Yasmine, terlihat Yasmine sedang istirahat di ranjang itu.
"Adek kenapa? Kok bisa pingsan kaya gini?" Miller menatap nanar pada Yasmine. Wajah pucat, selang infus yang ada pada Yasmine membuat Miller semakin pasrah.
"Yasmine pingsan tadi bang" lirih Yasmine.
Miller membalalakan matanya, Miller mengenggam tangan Yasmine yang di pasang selang infus.
"Adek pingsan waktu belajar?" Miller menyentuh wajah Yasmine yang pucat pasi.
"Tadi Yasmine terlambat bang, terus di hukum hormat bendera" Yasmine berusah mengingat kejadian sebelum Ia pingsan.
"Bukannya adek sakit? Terus kenapa di hukum juga? Miller mulai menaik kan nada suaranya .
" Yasmine di hukum sama temen Yasmine juga bang, dia terlambat juga. Dia udah berusaha minta toleransi sama guru bang cuma guru itu gak mau " Yasmine memejamkan matanya.
"Adek tadi mimisan juga bang" jelas Yasmine
"Mimisan?" Miller terdiam mendengar kata itu, Ia benar - benar marah.
Di Ruangan Kepala Sekolah sudah ada Kepala Sekolah, Pak Bagus, Haris, Arsen dan Wali Kelas 11 IPA 1. Terlihat wajah Haris benar - benar marah kala mendengar kabar bahwa putri nya pingsan di sekolah.
"Saya memanggil Anda karena anak Anda sedang dalam kondisi yang buruk seperti yang Anda dengar tadi" jelas Kepala Sekolah.
"Bagaimana anak saya bisa pingsan?!" pekik Haris sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Jadi begini pak anak Bapak terlambat dan saya menghukumnya dengan dia" Pak Bagus menunjuk ke arah Arsen.
"Di hukum?! Apa kamu tidak bisa lihat kondisi anak saya?! Anak saya sedang sakit?!" Haris mencengkram kerah baju Pak Bagus suasana di Ruangan Kepala Sekolah itu benar - benar tidak kondusif.
Arsen menatap Haris, " Saya sudah meminta toleransi kepada Pak Bagus tapi Pak Bagus hanya acuh tak acuh" jelas Arsen sambil menyeringai tajam ke arah Pak Bagus. Haris kembali mencengkram kerah baju Pak Bagus, Pak Bagus benar - benar ketakutan.
"Mohon Pak Haris tenang dulu pak" ucap Ibu Wali Kelas.
Haris melepaskan cengkramannya dan kembali duduk di sofa. Ia tetap menatap tajam pada Pak Bagus.
"Arsen kamu bisa kembali ke kelas. Masalah ini biar kami yang selesaikan terima kasih sudah menjadi saksi" Kepala Sekolah itu menepuk pundak bahu Arsen.
"Saya permisi pak" Arsen berjalan keluar meninggalkan mereka semua.
Setelah kepergian Arsen, Miller masuk ke dalam Ruangan Kepala Sekolah, Ia mengepalkan kedua tangannya.
"Kamu siapa?" Kepala Sekolah terlihat bingung dengan kedatangan Miller.
"Dia anak saya, kakak nya Yasmine" ketus Haris.
"Siapa yang sudah menghukum adik saya?!" pekik Miller sambil menatap tajam ke arah mereka.
Pak Bagus menunduk ketakutan sambil mengangkat tangannya, " Saya yang menghukum Yasmine".
__ADS_1
Miller menatap tajam ke arah Pak Bagus, " Bisa - bisanya Bapak hukum adik saya!".
"Dia saya hukum karna di bersalah, dia terlambat!" Pak Bagus tidak mau kalah dengan Miller.
Miller mendekati Pak Bagus dan mecengkram kerah baju Pak Bagus, " Bapak kira saya gak tahu?! Adik saya lagi sakit tapi tetap Bapak hukum?! Saya juga pernah di hukum tapi dalam keadan sehat! Kalo sakit gak mungkin di hukum pak" Miller hampir kehilangan kendali.
"Mohon jaga sikap kamu nak" Kepala Sekolah menarik tangan Miller.
"Kalo adik saya celaka gimana?! Pihak sekolah mau tanggung jawab!" Miller benar - benar naik pitam.
Pak Bagus terlihat ketakutan, Ia merasa bersalah atas tindakannya seharusnya Ia setuju dengan pendapat Arsen.
"Miller tenang" Haris mengusap kasar bahu Miller.
"Adik saya sampai mimisan kaya gitu! Apa yang Bapak lakuin sampai adik saya kaya gitu Pak?!" pekik Miller.
Haris juga semakin naik pitam kala mendengar penjelasan Miller, "Saya benar - benar kecewa dengan tindakan Bapak!" Haris menatap Pak Bagus.
"Kalau sampai kejadian ini terulang kembali, Saya gak segan - segan buat perhitungan dengan kalian!" Haris beranjak dari duduknya dan menarik tangan Miller keluar.
"Pak Bagus benar - benar ceroboh" Kepala Sekolah pergi meninggalkan Pak Bagus.
Haris dan Miller berjalan ke arah UKS dengan langkah yang terburu - buru, Haris benar - benar khawatir dengan kondisi putrinya.
Mereka masuk ke dalam UKS dan melihat Yasmine sedang meminum teh hangat.
"Papa" mata Yasmine berkaca - kaca melihat kedatangan Haris.
"Mana yang sakit dek?" suara Haris benar - benar khawatir.
"Cuma pusing Pa" Yasmine tersenyum pada Haris dan Miller.
"Kita pulang sekarang!" pekik Haris.
"Iya pa" Yasmine beranjak dari ranjangnya di bantu Miller.
Mereke bertiga langsung berjalan ke arah parkiran dan pergi meninggalkan sekolah itu.
Arsen yang duduk di dalam kelasnya tidak konsentrasi sama sekali dengan pelajaran yang sedang di jelaskan. Tak lama bel istirahat berbunyi.
Amel dan Sandra duduk di sebelah Yasmine, "Sen Yasmine gimana?" Amel terlihat khawatir.
"Dia baik - baik aja cuma masih butuh istirahat" jelas Arsen.
Arsen beranjak dari kursinya, Ia berjalan ke arah Jimmy dan Ervan. Terlihat Kenan dan lainnya masuk ke dalam kelas Arsen.
"Kalian bisa pergi dulu, kita ada urusan penting" pinta Arsen.
Amel dan Sandra mengangguk pelan dan pergi meninggalkan mereka.
"Tadi gue ketemu Miller" ketus Arsen.
Mereka semua terkejut mendengar ucapan Arsen, hingga membuat mata Ervan terbalalak lebar.
"Miller? Ngapain Sen?" tanya Jimmy.
"Gue juga gak tahu kenapa dia ada di sini" Arsen memijat pelipisnya.
"Iya gue juga lihat waktu Lo ga sengaja nabrak dia tadi di depan kelas gue" tambah Kenan.
"Yang jelas tadi dia kelihatan marah banget" sambung Arsen.
"Marah? Apa dia ngajak tawuran?" pekik Ervan.
"Gue juga gak tahu kenapa dia kesini, yang penting Lo semua selalu waspada sama dia" perintah Arsen.
"Kalian bisa bubar! Kalo ada hal mencurigakan dari Miller kabarin gue!" Arsen langsung pergi meninggalkan mereka.
Bersambung🌻
Don't forget to Vote, Like anda Comment🌻
__ADS_1
Author tunggu yaa❤