ARSEN

ARSEN
Petra Is Back


__ADS_3

Arsen pergi menuju rumah Jimmy untuk meminta bantuan. Kini Ia berdiri di rumah mewah berwarna putih susu, "Jimmy...!" teriak Arsen dari arah luar pintu.


Seorang pembantu sekitar yang berumur setengah abad datang untuk membuka pintu, "Maaf mas nya siapa ya?" tanya pembantu.


"Saya Arsen Bi, Jimmy atau Sandra nya ada?" Arsen celingak - celinguk mencari Jimmy ataupun Sandra.


"Ada mas silahkan masuk" Pembantu itu mempersilahkan Arsen untuk masuk, segera pembantu itu memanggil majikan nya. Dari lantai atas turun Jimmy yang sedang memegangi lengan Sandra.


"Ada apa Sen? Tumben pagi - pagi ke sini?" tanya Jimmy sambil membantu Sandra untuk duduk di sofa.


"Gue mau minta tolong sama lo berdua" ucap Arsen sambil memegangi kedua tangan nya.


"Mau minta tolong apa Sen?" Sandra menatap wajah Arsen.


Arsen memejamkan mata nya, "Gue mau beli cincin untuk ngelamar Yasmine dan gue butuh saran dari lo berdua".


Sandra menutup mulut nya tak percaya dan Jimmy mengerutkan dahi nya, "Lo mau ngelamar Yasmine? Serius?" tanya Jimmy.


"Kamu kok gitu sih Jim" Sandra menyenggol. pinggang Jimmy.


"Aku cuma mau yakinin aja San" jawab Yasmine.


"Jadi kamu mau aku sama Jimmy untuk bantu pilihin cincin?" tanya Sandra.


"Iya San aku mau kalian bantu aku pilihin cincin untuk Yasmine" jawab Arsen.


"Lo yakin kalo Yasmine bakal terima lo?" Jimmy menyipitkan mata nya.


"Gue juga gak tahu yang penting gue bakal berusaha" Arsen menyenderkan kepala nya di atas sofa.


"Usah aja dulu kita bakal bantu kok Sen" jawab Sandra sambil melirik ke Jimmy.


"Makasih ya Jim, San" Arsen tersenyum. pada Jimmy dan Sandra.


"Yaudah aku siap - siap dulu ya" Sandra beranjak dari duduk nya untuk berganti pakaian.


Arsen menatap punggung Sandra tangan Sandra memegangi area pinggang nya, "Sandra hamil berapa bulan?".


"Jalan 5 bulan Sen" Jimmy ikut memandangi Sandra yang di bantu berjalan dengan pembantu mereka.


"Dia gak ada ngidam gitu Jim?" Arsen mulai penasaran.


"Sejauh ini sih gak ada tapi gak tahu ke depan nya palingan cuma mau makanan aja" jelas Jimmy.


"Lo kalo emang beneran di terima sama Yasmine jangan sampai ngilang lagi" ketus Jimmy.


Arsen mengerutkan dahi nya dan menatap Jimmy, "Gue hilang dari dia juga bukan kemauan gue Jim".


"Gue tahu itu dan gue mohon sebagai sahabat lo dan Yasmine lo jangan buat dia kecewa".


"Lo tahu kan seberapa marah nya Miller saat dia tahu lo hilang" desis Jimmy.


"Iya gue tahu gue paham. Gue gak akan kecewain dia" Arsen tersenyum pada Jimmy. Dari lantai atas Sandra turun segera Jimmy menyusul Sandra dan menuntun nya.


"Ayo Sen" ajak Sandra.


Arsen mengangguk pelan dan segera menuju luar mereka masuk ke dalam mobil, " Ke toko langganan lo aja ya San" ujar Arsen.

__ADS_1


"Iya Sen langganan gue aja".


Kurang lebih 20 menit mereka berkendara akhirnya mereka sampai, "Di sini San?" tanya Arsen.


"Iya Sen yuk turun" dengan cepat Jimmy membukakan pintu untuk Sandra. Arsen ikut tersenyum dengan kemesraan mereka terlihat jelas jika Jimmy begitu sayang pada Sandra.


Mereka bertiga masuk ke dalam toko perhiasan, "Ada yang bisa kami bantu, Tuan" seorang pramuniaga datang menghampiri mereka.


"Saya sedang cari cincin untuk tunangan" jawab Arsen.


"Mari Tuan ikuti saya, cincin nya ada di sebelah sana" pramuniaga itu berjalan ke sebelah kanan.


Pramuniaga itu membuka etalase yang berisi cincin mewah nan mahal, "Silahkan Tuan lihat terlebih dahulu".


"Bagus yang mana San?" tanya Arsen, Sandra masih melihat semua cincin yang ada. Mata Sandra menelusuri setiap cincin yang bertengger indah di dalam kotak nya.


"Saya ingin lihat cincin bermata ruby ini" Sandra menunjuk sebuah cincin. Pramuniaga itu mengeluarkan sebuah cincin.


"Coba lihat dulu Sen" ujar Sandra.


Arsen meneliti setiap inci cincin itu. cincin berwarna perak itu terlihat sederhana namun indah dan sebuah mata ruby berdiri di atas cincin itu.


"Ini bagus juga San, yaudah gue pilih ini aja San" ujar Arsen.


"Saya mau yang ini" Arsen menyerahkan cincin itu pada pramuniaga.


"Baik Tuan" pramuniaga itu langsung membungkus cincin itu.


" Simple banget lo jadi cowo, gue aja mau lamar Sandra ribet banget" kekeh Jimmy.


"Yang penting pas di jari Yasmine" sambung Sandra.


"Nanti" Arsen melihat ke arah jam tangan nya.


Jimmy dan Sandra menoleh secara bersamaan, "Cepet banget" timpal Jimmy.


"Kalo pun gue di tolak gue masih punya rencana lain untuk lamar dia" jawab Arsen dengan nada datar.


"Pesimis bangeti sih Sen mungkin aja Yasmine terima lo kan, ya gak Jim" Sandra melirik Jimmy.


"Bisa di tolak bisa di terima" Jimmy mengangkat bahu nya.


Pramuniaga itu datang dan memberikan sebuah kotak berisi cincin pada Arsen, Ia juga menyerahkan sebuah kartu kredit pada pramuniaga itu. Setelah selesai membeli cincin mereka keluar dari toko, Jimmy dan Sandra saling bercanda satu sama lain hingga ada seseorang yang menabarak Sandra dari arah yang berlawanan.


"Ssshhhhttt.... auuwww" ringis Sandra sambil memegangi perut nya.


"Lo kalo jalan lihat - lihat! Istri gue lagi hamil!" sungut Jimmy. Laki - laki yang menabrak Sandra hanya diam tanpa meminta maaf.


"Ada yang sakit San? Kita ke rumah sakit ya sayang" ajak Jimmy.


"Aku gapapa Jim cuma kaget terus kontak ke anak kita" Sandra terduduk di tepi toko.


Arsen hanya menatap sinis pada laki - laki yang bermasker itu. Laki - laki itu membuka masker dan kacamata nya, "Oh jadi yang gue tabrak istri dari Jimmy Anderson" kekeh nya.


Arsen dan Jimmy sama - sama mengerutkan dahi mereka, "Petra...?" ucap mereka serempak.


"Iya gue Petra kenapa lo berdua kaget? Lo pikir gue masih di sel?!" ketus Petra.

__ADS_1


Petra berjalan ke arah Sandra tangan nya terulur ke perut Sandra, " Hai baby, kamu jangan jadi penerus Jimmy Anderson ya" kekeh Petra.


Jimmy menarik Petra, "Brengsek lo! Lo jangan ganggu istri gue!" Jimmy mencengkram baju Petra.


"Jimmy... " seru Sandra, "Udah Jim" Sandra memeluk Jimmy dari belakang.


Petra terkekeh, "Lo jadi Hot Daddy ya sekarang".


"Udah kewajiban Jimmy untuk lindungin Sandra lo yang gak punya keluarga tahu apa?!" ketus Arsen.


"Lo bakal jadi seorang kepala keluarga, lo iri kan sama mereka yang bahagia karena lo sendiri gagal dalam keluarga lo" ujar Arsen.


Petra mengepal kedua tangan nya, "Brengsek!" Petra memilih pergi meninggalkan mereka.


"Gue anter kalian pulang" mereka segera masuk ke dalam mobil. Sesampai nya di rumah Jimmy, Arsen langsung memilih ke rumah Yasmine.


~


Mata elang Petra terus menangkap seorang wanita yang berdiri di depan kantor nya. Ia memunculkan sebuah senyum smirk pada ujung bibir nya, " Shoot! Gue dapatin lo lagi Yas" kekeh Petra.


Petra menaikan tudung hoodie nya Ia berjalan ke arah parkiran dengan perlahan. Suasana di parkiran sangat sepi hanya ada Yasmine yang sedang memeriksa ponsel karena memang jam kerja sudah selesai dari tadi. Petra berdiri di belakang Yasmine, " Aku kembali Yasmine " Petra memukul tengkuk leher Yasmine sehingga membuat Yasmine pingsan, segera anak buah Petra membawa Yasmine ke dalam mobil.


Arsen tiba di rumah Yasmine, "Permisi... " seru Arsen. Miller berjalan untuk membuka pintu.


"Lo? Mau apa?" tanya Miller.


"Ada Yasmine? Gue ada urusan sama dia" jawab Arsen.


"Adek gue belum pulang mungkin dia lembur" ujar Miller dengan santai.


"Apa lo yakin?" tanya Arsen.


Miller terdiam mendengar pertanyaan Arsen, "Yaudah gini aja mending sekarang kita ke tempat Yasmine aja" ujar Miller, Arsen mengangguki saran Miller.


Sepakat mereka menuju ke kantor Yasmine, mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam kantor, "Selamat Malam Tuan Miller" sapa seorang satpam.


"Selemat malam, Yasmine masih di kantor?" tanya Miller.


"Maaf Tuan saya kurang tahu saya baru datang, Tuan" jawab satpam itu. Arsen bergegas menuju ruangan Yasmine, Miller mengikuti Arsen.


"Anita... " panggil Miller.


"T - tuan Miller dan Tuan Arsen, ada apa Tuan?" tanya Anita.


"Yasmine ada dimana?" tanya mereka serempak.


Anita agak terkejut, "Nona Yasmine sudah pulang dari tadi Tuan, sekitar satu jam yang lalu".


"Apa kamu yakin? Pasal nya dia belum kembali" ujar Miller.


"Kita lihat CCTV saja" ajak Arsen, Miller dan Anita mengangguki nya. Mereka menuju ruang pengawasan dan memerintahkan salah seorang operator untuk memutar kembalo video pengawas. Mata Arsen terus memperhatikan Yasmine yang masih berdiri di depan kantor, sampai mata nya mulai menyipit pada seseorang yang berdiri di belakang Yasmine.


"Coba zoom orang ini" ujar Arsen, operator itu memperjelas vide nya. Mata Arsen terus memperhatikan orang itu hingga orang itu memukul leher Yasmine.


"Adek gue!" erang Miller, sedangkan Arsen mengepal kedua tangan nya Ia kenal siapa pelaku nya karena Ia telah bertemu dengan orang itu.


"Brengsek!" dengus Arsen.

__ADS_1


Petra kembali guy's , Kisah cinta Arsen dan Yasmine di uji lagi. See U in the next chapter.


Jangan lupa like, vote and comment's


__ADS_2