
Yasmine sedang tiduran di kasurnya. Ia menselonjorkan kakinya. Keadaanya sudah mulai membaik daripada siang tadi.
"Ting..." sebuah pesan masuk ke handphone Yasmine. Ia langsung mengambil handphonenya yang berada di atas meja belajar.
Amelia Putri
"Yas lo udah baikan? Atau masih sakit?".
Yasmine tersenyum memandangi pesan dari sahabatnya itu. Ia cukup beruntung memiliki sahabat seperti Amel yang sangat perhatian pada dirinya.
Yasmine Rosalia
"Allhamdulilah udah baikan kok Mel, besok juga udah sekolah".
Amelia Putri
"Besok udah sekolah? Allhamdulilah kalo gitu"
Yasmine Rosalia.
"Iya Mel, gue tidur duluan ya. Assalamualaikum".
~
Yasmine sedang menyiapkan sarapan untuk Haris dan Miller. Ia menyiapkan sepiring nasi goreng dan sepotong roti tawar di piring masing - masing.
"Langsung sekolah dek?" Miller yang berada di lantai atas langsung turun menghampiri Yasmine di meja makan.
"Iya bang, udah agak baikan juga" jelas Yasmine yang sedang menuangkan susu ke gelas Miller.
"Abang anter ya" Miller mengambil kunci motornya di ruang tamu. Haris yang baru keluar dari kamarnya langsung berjalan ke arah meja makan.
"Sama abang aja dek" Haris duduk di kursi meja makan.
"Yaudah kalo gitu Pa" Yasmine juga ikut sarapan dengan mereka.
Setelah selesai sarapan mereka semua menuju pintu luar. Mereka berjalan beriringan, di belakang mereka di ikuti oleh seorang pembantu.
"Saya lembur malam ini jadi Bibi gak perlu masak banyak ya" ujar Haris sambil merapikan jas nya.
"Baik Tuan" pembantu itu menunduk dan pamit undur diri.
"Kalau ada masalah di sekolah cepat hubungi Papa dan Abang kamu ya" Haris membelai kepala Yasmine.
"Iya Pa" Yasmine tersenyum.
"Ayo berangkat nanti terlambat lagi" ajak Miller sambil menarik tangan Yasmine. Tak lupa Miller melepaskan jaket kulit hitamnya dan mengingkatkannya di pinggang Yasmine.
"Abang gak mau badan kamu terekspos" jelas Miller menatap Yasmine. Yasmine mengangguk sambil tersenyum.
Miller mengendarai sepeda motornya dalam kecepatan standar, sesekali Ia menoleh ke arah Yasmine. Akhirnya mereka sampai di depan gerbang sekolah. Yasmine langsung turun dan melepaskan jaket Miller.
"Nanti kalo pulang biar abang yang jemput" ucap Miller seraya memakai kembali jaket geng motornya.
"Iya bang" Yasmine mengeratkan tas ranselnya.
"Adek masuklah ke kelas" ujar Miller.
Yasmine menganggukan kepalanya pelan sambil ternsenyum ke arah Miller. Yasmine berjalan ke dalam halaman sekolahnya, Miller masih menunggu Yasmine masuk ke sekolah sampai punggung Yasmine samar - samar menghilang.
Miller menghidupkan motor sportnya, Ia memasang helm fullface nya. Ia langsung memutar balik arah sepeda motornya.
__ADS_1
Deru suara motor sport seperti milik Miller terdengar dari arah depan Miller, siapa lagi kalau bukan Wolf. Terlihat Arsen berada pada baris depan. Arsen memberhentikan motor nya di sebelah Miller dan melepas helm fullface nya.
"Mau apa Lo?" Arsen menyeringai tajam ke arah Miller. Terlihat anak - anak Wolf lainnya ikut menyeringai tajam ke arah Miller.
Miller melepaskan helmnya dan tersenyum miring di sudut bibirnya, "Goedemorgen Arsen" (Selamat Pagi Arsen) untuk pertama kalinya seorang Miller menyapa musuhnya.
Arsen hanya mengerutkan dahinya,bukan karna Ia tidak tahu dengan apa yang di ucapkan oleh Miller. Pasalnya Kakek - Nenek dari Papa nya adalah orang Belanda jadi bukan hal sulit untuk memahami ucapan Miller. Di tambah lagi wajah eropa nya semakin memperjelas jika Arsen bukan berwajah asli Indonesia melainkan Ia ada campuran dari Belanda yang diturunkan dari Keluarga Papa nya. Ia bingung dengan sikap Miller yang sok ramah dengan dirinya.
"Wat doe je hier?" ( Apa yang sedang kamu lakukan di sini?) Arsen menatap aneh pada Miller. Sejak tadi Ia perhatikan Miller hanya tersenyum aneh pada dirinya.
"*W*ord niet vaak boos" (Jangan terlalu sering marah) Miller terkekeh ringan.
Anak - anak Wolf yang lainnya hanya menggeleng - gelengkan kepala, mereka sama sekali tidak tahu apa yang sedang Arsen bicarakan dengan Miller. Jimmy sedikit mengerti dengan ucapan mereka, tapi tidak bagi Ervan Ia terlihat bingung dengan ucapan mereka.
"Ga ngerti gua mereka ngomong apaan!" dengus Ervan.
Jimmy terkekeh melihat Ervan yang sedikit kesal, "Ntar juga di jelasin sama Arsen".
"Ik zet mijn jongere zus af" (Aku sedang mengantar adik ku) sambung Miller.
"als het niet meer nodig is, ga hier weg!" (Jika tidak ada urusan lagi maka pergilah dari sini!) ketus Arsen.
"Ja sorry als het je stoort" (Baiklah, Maaf jika sudah mengganggu mu) Miller langsung menghidupkan motornya dan meninggalkan mereka, Wolf.
"Ngomong apa aja sih Sen?" Ervan mendengus kesal.
"Dia bilang di habis ngantarin adiknya" Arsen melihat pungguny Miller yang mulai samar - samar menghilang.
"Yaelah kiraiin apaan" Alex memejamkan matanya dengan enteng.
"Gue cuma ngerti bahasa gaul" timpal Kevin.
"Fasih juga Miller bahasa belanda" balas Kenan.
Arsen dan yang lainnya berjalan di koridor kelas. Semua mata tertuju pada dirinya dan Wolf. Respon Arsen tetap sama tidak peduli dengan apa pujian mereka.
Mereka berpisah di depan sebuah lorong, Arsen, Jimmy dan Ervan menuju kelas 11 IPA 1 sedangkan Kenan, Alex dan Kevin menuju kelas 11 IPS 1.
Baru berjalan beberapa langkah, Arsen sudah melihat Yasmine yang sedang menghapus tulisan di papan tulis. Mata Yasmine langsung terfokus pada Arsen yang berdiri di depan pintu.
"Je bent hersteld?" (Kamu sudah sembuh) Arsen melihat dari atas sampai bawah diri Yasmine. Sesaat Ia terdiam, Ia bertanya pada Yasmine menggunakan bahasa belanda, apakah Yasmine mengerti dengan ucapannya?.
"Ja zoals je ziet, Ik ben hersteld" (Seperti yang kamu lihat, Aku sudah sembuh) Yasmine terlihat lancar ketika berbicara dengan Arsen.
Jimmy dan Ervan terdiam dengan jawaban Yasmine, mereka pikir Yasmine tidak mengerti dengan ucapan Arsen ternyata Yasmine terlihat sangat mengerti.
"Maaf gue ngomong pake bahasa belanda" Arsen menunduk kan kepalanya.
"Gapapa Sen" Yasmine terkekeh melihat wajah Arsen.
"Kok Lo bisa bahasa belanda?" Arsen menaik kan sebelah alis matanya.
"Alm. Mama gue blasteran Indo - Belanda makanya gue bisa bahasa belanda" jelas Yasmine.
Arsen hanya menganggukan kepalanya, Ervan terllihat sangat takjub dengan Yasmine. Sedangkan Jimmy tersenyum pada Yasmine.
Seaat Arsen terdiam, Ia langsung menatap wajah Yasmine penuh curiga. Entah mengapa Ia merasa jika Yasmine sangat mahir berbahasa belanda seperti Miller tadi pagi. Namun pikirannya itu langsung Ia tepis jauh - jauh.
"Pantesan Lo cantik kaya gini, ternyata blasteran" Ervan mengangguk - anggukan kepalanya.
"Kakek - Nenek Arsen juga orang belanda Yas,Ya kan Sen?" jelas Jimmy sambil menatap Arsen.
__ADS_1
Yasmine hanya menganggukan kepalanya, dari luae kelas terlihat Amel dan Sandra sedang berjalan bersama. Entah kenapa hubungan mereka kembali akrab.
"Yasmine!" pekik Amel sambil berlari ke arah Yasmine duduk. Ervan menutup telinganya dengan tangan, suara Amel sangat keras sampai membuat telinganya sakit.
"Iya gue di sini Mel" Yasmine berdiri dari duduknya.
"Gue takut banget waktu denger Lo pingsan" Amel memeluk Yasmine, terlihat Sandra berdiri di samping Yasmine.
"Udah agak baik kan Yas?" Sandra meletak kan tas nya di meja.
"Udah mendingan San" balas Yasmine seraya tersenyum.
Arsen hanya duduk di bangkunya sambil bersandar ke dinding. Jimmy masih dalam keadaan posisi berdiri di depan Sandra.
Sandra hendak berjalan ke luar kelas, namun dirinya tidak bisa lewat karna Jimmy berdiri sambil menatap wajah Sandra.
"Awas gue mau lewat" tebas Sandra.
"La lingua" (Tidak mau) Jimmy menatap kosong pada mata Sandra.
Yasmine dan Arsen menatap Sandra yang menatap tajam pada Jimmy, Yasmine baru tahu jika Jimmy bisa berbahasa Italia. Arsen sendiri tidak heran dengan Jimmy, Ia sudah tahu lama jika Jimmy bisa berbahasa Italia. Yang menarik perhatian Arsen adalah Jimmy menghalangi Sandra pergi.
"Ngomong apa lagi sih!" Ervan kembali mendengus kesal, sudah tadi pagi Ia bingung dengan Arsen sekarang di tambah Jimmy.
Amel terlihat bingung dengan ucapan Jimmy dan Sandra. Terlihat hanya Ervan dan Amel lah yang tidak paham dengang obrolan mereka.
Amel menyenggol pinggang Yasmine, "Mereka ngomongin apa sih Yas?!" ketus Amel.
"Ssssttt.." bukannya menjawab pertanyaan Amel, Yasmine malah menyuruh Amel untuk diam.
"Non farmi arrabbiare!" (Jangan buat aku marah!) Sandra tidak mau kalah keras dengan Jimmy.
Yasmine terkejut kala mendengar jawaban Sandra dengan bahasa Italia.
Jimmy memegang tangan Sandra, "Ti amo" dengan suara keras Jimmy mengucapkan kata itu yang berarti "Aku cinta kamu". Seluruh murid yang ada di kelas langsung menatap aneh pada Jimmy dan Sandra.
Sesaat Sandra terdiam kala mendengar ucapan Jimmy, darahnya bergerak dengan cepat. Ia menatap mata Jimmy yang diam dan tenang. Ia tidak melihat keraguan pada diri Jimmy kala mengucapkan kata itu.
"Non mi interessa" (Aku tidak peduli!) Sandra melepaskan tangan Jimmy dan berjalan cepat ke arah luar.
Jimmy langsung terdiam mendengar balasan Sandra, Ia langsung membalik kan badannya untuk melihat Sandra.
"Kenapa sih Sen gak ngerti gue" dengus Ervan.
"Sandra marah di hadang sama Jimmy" jawab Arsen santai.
"Terus?" balas Amel.
"Jimmy bilang dia masih cinta sama Sandra" sambung Yasmine.
"Oh gitu tinggal ngomong bahasa indonesia aja ribet banget" sela Ervan.
Yasmine hanya terkekeh melihat reaksi Ervan dan Amel. Terlihat Jimmy hanya melamun di kursinya, Arsen menghampiri Jimmy.
"Gak usah di pikirin! Ntar balik sendiri" Arsen berusah menyemangati sahabatnya.
"Thank's Sen" Jimmy hanya tersenyum ringan.
*Bersambung...🌻
Don't forget to Vote, Like and Comment🌻
__ADS_1
Author tunggu yaa❤*