ARSEN

ARSEN
Clue (2)


__ADS_3

Happy Reading♡


Arigatou♡


Pagi ini Arsen berangkat lebih siang dari pada biasa nya. Ia masih memikirkan siapa adik Miller yang sebenernya namun hal itu gagal lagi Ia lakukan. Ia mendudukan diri nya di kursi. Arsen memijat dahi nya dengan pelan. Di susul anggota Wolf yang lain nya mereka juga ikut duduk di dekat Arsen.


"Kenapa Bos pagi - pagi pijet jidat aja" tanya Kevin sambil memasang dasi nya di depan kaca kelas.


"Iya lo kenapa Sen?" sambung Jimmy.


"Gue kemaren hampir ketemu sama adek nya Miller" lirih Arsen Ia menidurkan kepala nya dj atas meja rasa nya kepala nya terasa sangat berat.


"Hampir? Belum ketemu dong?" ucap Ervan.


"Gue kemaren buru - buru di tunggu nyokap di rumah dan dia lama banget keluar nya dari toko buku" balas Arsen sambil menghela nafas nya.


"Gue jadi ikut penasaran sama adek nya Miller sebegitu susah nya kita cari tahu tentang adek nya" Alex ikut menghela nafas nya dengan kasar.


"Eh gue ada hot news " celetuk Kevin sembari berjalan mendekat ke arah mereka.


" Hot news apaan?" Ervan mengerutkan dahi nya.


Kevin merangkul bahu mereka dan mendekatkan wajah nya agar tidak terdengar siapa pun selain mereka"Gue kemaren lihat Kenan sama Selena berduaan" angguk Kevin.


"Lo serius Vin? Jangan ngaco!" sarkas Ervan.


"Serius gue masa iya gue bohong" ujar Kevin.


"Lo ketemu dimana?" tanya Jimmy sambil menatap Kevin.


"Di depan halte bus gue abis jemput adek gue dari rumah temen nya terus gue lihat mereka berdua pelukan" Kevin memperagakan gaya berpelukan Kenan dan Selena yang Ia lihat tadi malam.


Ervan terkejut dengan tindakan Kevin, sedangkan Jimmy malah terkekeh melihat Kevin, "Ya bagus dong kalo Kenan sama Selena udah jadian jadi gak bakal ganggu Arsen sama Yasmine lagi" balas Alex.


Arsen hanya tersenyum kecil di sudut bibir nya, "Assalamualaikum" sapa Yasmine dari arah pintu luar kelas.


"Walaikumsallam" jawab mereka serempak.


"Baru datang Yas tumben?" tanya Ervan dengan mengerutkan dahi nya.


"Iya tumben baru berangkat, biasa nya lo udah sampai duluan" celetuk Alex yang duduk di sebelah Arsen.


"Iya soal nya gue bareng sama abang gue jadi nya agak telat" balas Yasmine Ia meletakan tas ransel nya di atas meja. Mendengar kata abang Arsen mengerutkan dahi nya, "Gagal lagi ya aku ketemu sama abang kamu" ujar Arsen.


"Iya Sen hmmm kalo gak kita janjian aja ketemuan" ujar Yasmine.


"Janjian?" suara Arsen terdengar sedikit terkejut.

__ADS_1


"Iya janjian kaya double date gitu".


"Gaskeun lah Bos" kekeh Kevin.


"Iya Sen coba aja lo double date sama abang nya Yasmine sekalian kenalan" ujar Jimmy sambil melirik ke yang lain.


"Iya gapapa kalo ada waktu kita bakal double date " Arsen tersenyum pada Yasmine.


Yasmine mengeluarkan paper bag dari dalam tas ransel nya. Paper bag itu berisikan buku cerita anak - anak yang akan di hadiahkan pada adik Amel yang sekarang berulang tahun.


"Kamu beli buku ini?" Arsen menunjuk sebuah buku dengan sampul berwarna putih yang berjudul The seven unicorn.


"Bukan ini hadiah untuk adek nya Amel kan dia lagi ulang tahu" jawab Yasmine.


"Apa? Adek nya Amel ulang tahun?" wajah Ervan terlihat sangat hiseteris dan kaget saat mengetahui calon adik ipar nya sedang berulang tahun.


"Kapok lo Van lo gak bakal jadi pacar nya Amel kalo gini lo aja lupa sama ulang tahun adek nya" Kevin menakut - nakuti Ervan.


"Eh ntar temenin gue beli hadiah ya Vin" ajak Ervan.


"Siap tapi traktir juga ya" balas Kevin. Ervan menatap datar pada Kevin.


Arsen terkekeh melihat kelakuan kedua sahabat nya itu. Mata nya bergerak ke sisi kanan tepat di mana Yasmine meletakan paper bag nya. Ia terus memperhatikan paper bag berwarna putih awan yang berlabel Minnie Book's . Ia merasa tidak asing dengan nama toko buku itu.


"Kamu beli buku dimana?" tanya Arsen pada Yasmine yang sedang bercanda pada teman - teman Arsen.


"Di Minnie Book's Sen" jawab Yasmine.


Arsen membelalakan mata nya kini Ia ingat di mana toko buku Minnie Book's itu. Toko buku itu adalah tempat bertemu nya Ia dan Miller tadi malam.


"Jadi Yasmine ke sini tadi malam?" batin Arsen.


"Kamu kenapa diem aja?" Yasmine menepuk pelan bahu kanan Arsen.


Arsen sedikit terkejut dengan tepukan Yasmine, "Hmmm gapapa" jawab Arsen.


"Lo gapapa Sen?' tanya Jimmy.


"Gue gapapa santai aja" jawab Arsen dengan tenang.


"Mau ke UKS? Sekalian bolos" ajak Ervan sambil tersenyum ke arah Arsen.


"Gue gapapa" ketus Arsen.


~


Malam ini Diana sedang menyanyi di Cafe tempat Ia bekerja dengan anggun dan berwibawa Ia membawakan lagu kesukaan nya My heart will go on milik Celine Dion. Mata nya coklat terus mentatap fokus pada stut piano yang Ia mainkan. Bibir tipis nya terus melantunkan lirik indah milik Celion Dion itu.

__ADS_1


Namun sejak Ia di atas panggung ada sepasang mata tajam yang terus memperhatikan nya dengan sadis. Kaki laki - laki itu menindih kaki kiri nya. Sesekali Ia tersenyum kecil di sudut bibir nya sambil terus memperhatikan Diana. Ia mengambil rokok yang ada di hadapan nya Ia membakar nikotin itu dan menghembuskan asap ke hadapan nya.


Setelah selesai menyanyi Diana memutuskan untuk pulang karena Ia hanya bekerja part time di Cafe itu selebihnya ketika sudah jam 9 ke atas acara nya akan di isi oleh music DJ.


Diana keluar dari pintu belakang Cafe dengan perlahan ketika baru akan melewati tangan nya di tarik dari arah belakang oleh seseorang.


"Udah mau pulang lo?" Petra menahan kedua tangan Diana dengan merapatkan nya ke dinding Cafe.


"Suara lo bagus juga, tapi sayang banget lo udah jadi bekas gue" kekeh Petra.


"L - lo mau a - apa?" badan Diana bergetar karena ketakutan.


"Kenapa lo gemeteran gini mana mulut lo yang sok hebat kemaren!" gertak Petra.


"Apa? Lo mau panggil si Miller? Iya?" Petra mencengkaram kuat tangan kanan Diana yang ia rapatkan ke dinding Cafe.


"Asal lo tahu ya, Miller itu gak pernah serius sama lo!" Diana membelalakan mata nya setelah mendengar ucapan Petra.


"Orang sehebat Miller, sekaya Miller mana mau sama cewe kaya lo! Nyadar!" Petra mengangkat tangan kanan nya untuk menampar Diana.


"Omong kosong apa yang lo bilang sama cewe gue!" Miller menahan tangan Petra yang akan menampar pipi Diana.


"M - miller" lirih Diana wajah nya sudah tidak berbentuk karena air mata nya.


"Bugh"


"Bugh"


"Bugh"


"Brengsek! Udah berapa gue bilang jangan ganggu Diana!" Miller mencengkram kerah jaket motor Petra. Tangis Diana pecah karena ketakutan, takut karena gertakan Petra dan takut karena amarah Miller.


"Hiks... Hiks... Hiks..." Diana masih menangis sambil terduduk di samping dinding Cafe.


Miller melepaskan cengkraman nya dari Petra kini Ia beralih ke Diana yang terlihat sangat kacau, "Maaf... " lirih Miller Ia menarik Diana dalam pelukan nya.


"Aku anter kamu pulang" Miller memakai kan jaket motor nya pada Diana.


"Brengsek! Miller Brengsek!" erang Petra yang masih tergeletak di samping Cafe.


Mereka berdua sampai di rumah Diana, segera Diana melepaskan jaket yang membalut diri nya, "Makasih Mill" lirih Diana sembari menyerahkan jaket pada Miller.


"Iya sama - sama Na" balas Miller sambil memakai jaket nya kembali.


"Makasih Mill lo udah nolongin gue lagi" ucap Diana.


"Gue bakal lindungin lo Na, buruan masuk gih udah malem" ujar Miller. Diana berlalu memilih masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Nah Arsen sudah mulai curiga dengan clue yang ada. Stay terus di ARSEN and See U in the next chapter.


Jangan lupa like, vote and comment's geng's♡


__ADS_2