ARSEN

ARSEN
Bertemu (2)


__ADS_3

Suara deru motor yang menggelegar memasuki area parkiran SMA Pelita Bangsa. Mereka adalah Miller dan anggota Black Devils. Miller memakirkan motornya dan melepaskan helm fullface nya.


Ia mengacak - acak rambutnya dengan kasar, semua pengunjung yang ada di SMA Pelita Bangsa kagum dengan ketampanannya.


"Kalian duluan aja, gue mau ke toilet dulu" Miller turun dari atas tempat duduk motor sportnya.


"Siap Bos".


Miller melewati koridor yang ada di SMA Elite itu, semua mata tertuju padanya.


"Ganteng banget".


"Gak asing sama wajahnya".


"Leader Black Devils?".


Miller tetaplah Miller, apapun yang di katakan oleh orang akan dirinya Ia hanya diam tanpa menjawabnya. Miller masuk ke dalam toilet pria untuk buang air kecil. Setelah selesai buang air kecil Ia memutuskan untuk menemui anggota Black Devils.


"Argghhh....sakit".


"Ampun".


Terdengar suara kesakitan dan ampunan dari pintu sebelah toilet Pria. Miller yang mendengar suara rintihan itu langsung mencari sumber suara.


Miller berjalan ke samping pintu toilet wanita, Ia mendekatkan telinganya di dinding tolilet tersebut.


"Sakit...Ampun".


Miller mencoba masuk ke dalam pintu utama toilet wanita, ketika baru masuk Ia melihat sekumpulan perempuan sedang membully seorang perempuan yang Miller kenal, Diana.


"Diana" Miller terkejut dengan situasi ini.


Diana mengangkat kepalanya, "Miller" lirih Diana.


"Ngapain Lo disini? Ini toilet cewe!" ketus perempuan berambut pirang itu sambil menarik paksa rambut diana.


"Gue yang harusnya tanya sama Lo, ngapain Lo bully dia?" Miller menyeringai tajam ke arah mereka.


Perempuan berambut pirang itu mulai ketakutan, "Urusan apa Lo sama dia?!".


"Diana pacar gue, Lo gak berhak ganggu dia!" bohong Miller berjalan maju ke arah mereka.


Mereka berjalan mundur sambil ketakutan, "Lo Miller ketua Black Devils ?" tanya perempuan berambut kuncir kuda.


"Bagus kalo Lo tahu siapa gue! Buruan pergi Lo semua!" Miller menyentakan kakinya untuk mengusir mereka. Mereka semua langsung lari tanpa melihat ke arah Miller sedikit pun.


"Diana" Miller membantu Diana untuk berdiri. Kondisi Diana benar - benar sangat buruk dan kacau. Bajunya basah akibat di siram air oleh mereka sehingga mengakibatkan seragamnya tembus pandang. Wajahnya lebam di sekitar mata dan pipi.


"Ada yang sakit? Ayo gue obatin" Miller menahan tubuh Diana yang hampir kehilangan tenaga.


"Gue gapapa Mill, cuma sakit sedikit aja" Diana masih bisa tersenyum di hadapan Miller saat ini.


"Kenapa Lo di bully sama mereka?".


"Mereka di suruh sama Petra buat bully gue Mill" jawab Diana sambil berpegangan pada wastafel toilet Ia hampir kehilangan keseimbangannya.


Miller berdecak kesal setelah mendengar jawaban dari Diana, Miller melepaskan jaket hitamnya dan memakaikannya pada Diana.


"Pake jaket gue, baju Lo udah tembus" Miller memakaikan jaketnya pada Diana.


Diana tersenyum sambil menunduk, "Makasih ya Mill".


Kemudian Miller menarik tangan Diana untuk keluar dari toilet itu, Diana kesusahan mengikuti langkah kaki Miller yang cepat. Terlihat jelas dari wajah Miller jika Ia sedang menahan amarahnya. Tangan kirinya Ia kepal sekuat mungkin untuk menahan emosinya.


Seluruh anak Pelita Bangsa menatap aneh pada Miller dan Diana, "Lihat tuh baru di putusin sama Petra udah dapat yang baru aja" cela salah seorang perempuan yang berdiri si koridor. Miller yang mendengar celaan itu langsung berhenti tepat di hadapan perempuan itu.


"Jaga omongan Lo! Sekali lagi Lo ganggu Diana, gue robek mulut Lo sekarang juga!" ketus Miller sambil menyeringai tajam. Perempuan itu menelan salivanya dengan kasar karena takut mendengar ancaman Miller.


Miller kembali menarik tangan Diana untuk mengikuti langkahnya, "Kita mau kemana Mill?" Diana mulai takut karena sikap Miller.


Miller terus berjalan tanpa memperdulikan pertanyaan Diana, sampai pada akhirnya Miller berhenti di depan pintu kelas 12 IPS 4.


Di dalam kelas itu sudah ada Petra dan anggota Warrior. Di sisi kanan dan kiri Petra berdiri perempuan - perempuan yang membully Diana di toilet tadi. Petra yang melihat kedatangan Miller hanya tersenyum angkuh.


"Ngapain Bos Black Devils ada di PB?" kekeh Petra sambil merangkul pinggang perempuan berambut pirang itu.


Miller berjalan ke arah Petra dan melayangkan sebuah bogeman keras yang akan di daratkan pada wajah eropa Petra.


"Sialan!" Miller meninju wajah Petra. Diana terkejut dengan hal itu hingga Ia berjalan mundur di belakang Miller.


Petra tersungkur ke bawah lantai, anak buah Petra menyeringai tajam pada Miller. Petra mengangkar tangannya, "Biar gue yang beresin si sialan ini!" Petra berdiri tegak walau kesusahan.

__ADS_1


"******** Lo Miller" Petra melayangkan pukulannya ke Miller, dengan tangan kanan yang terangkat Miller langsung menangkis serangan Petra.


"Bisa - bisanya Lo kasar sama cewe, pake - pake nyuruh mereka buat bully Diana lagi" Miller mecengkram kerah seragam Petra.


Petra terkekeh mendengar ucapan Miller dan menyeringai tajam ke arah Miller, "Jadi Lo bogem gue demi dia!" Petra menunjuk ke arah Diana.


"Demi cewe kaya dia! Hahaha Bos Black Devils takhluk sama cewe miskin kaya Lo!" Petra kembali menunjuk Diana yang ketakutan. Diana mulai menitikan air matanya karena mendengar ejekan Petra.


"Mati aja Lo keparat!" Miller melayangkan tinjuan keras di hidung mancung Petra.


"Arrghh...." teriak Petra yang menahan rasa sakit karena banyaknya darah yang keluar dari hidungnya.


"Bos..." anak buah Petra mengangkat Petra untuk menjauh dari Miller.


Miller menghampiri Diana dan pergi meninggalkan kelas itu. Tangan Diana di genggam erat oleh Miller.


"Miller" lirih Diana.


-


Di lain sisi, Yasmine dan yang lainnya sedang menonton pertandingan basket. Amel bersorak ria untuk menyemangati Ervan.


"Go Ervan Go Ervan Go" sorak Amel sambil berdiri di kursi penonton. Yasmine terekekeh melihat Amel yang tanpa malu menyemangati Ervan.


Di lapaangan basket, Jimmy sedang mendribbling bola basketnya. Jimmy semakin mempercepat permainannya, Jimmy mengoper pada Ervan yang ada di depan kanananya. Gantian untuk saat ini Ervan mendribbling si bola basket, Ervan melempar dari jarak jauh bolanya ke arah Arsen. Arsen menerima dengan baik lemparan dari Ervan, Arsen mendribbling untuk sesaat dan langsung menshooting.


"Hap..." bola bakset yang di shooting oleh Arsen masuk ke dalam keranjang. Ervan dan Jimmy bertos ria, Yasmine dan lainnya bersorak kemenangan atas usaha Arsen.


Dari jarak belakang Rey mengamati Yasmine yang sedang berdiri sambil bersorak ria, Rey mengamati dengan pasti apakah itu Yasmine atau bukan.


"Bukannya itu adeknya si Bod ya Rey?" David menepuk bahu Rey.


Rey menoleh ke arah David, " Kayanya iya Dav" Rey memicingkan matanya.


Sampai pada akhirnya Miller dan Diana masuk ke dalam barisan kursi penonton, "Sorry lama" Miller mengenggam tangan Diana.


"Eh Bos" anak buah Miller berbisik satu sama lain.


"Siapa tuh yang sama si Bos".


"Pacarnya Bos?".


Miller memutar kepalanya malas, "Dia bukan pacar gue" jelas Miller.


Diana melepaskan genggaman tangan Miller, "Hai gue Diana" Diana tersenyum ramah pada mereka semua.


"Namanya Diana, cantik yah" mereka tertawa satu sama lain.


"Gue kedepan cari kursi buat Diana".


"Oke Bos".


Yasmine berdiri dari kursinya, " Gue permisi ke toilet dulu ya" Yasmine langsung pergi meninggalkan kursi penonton.


Ketika baru berjalan beberapa langkah Yasmine menabrak seseorang yang ada di depannya. Yasmine mendongakan kepalanya untuk melihat siapa yang Ia tabrak.


"Abang?" Yasmine menatap bingung pada Miller, ditambah lagi Yasmine menatap aneh pada Diana yang berdiri di samping Miller.


"Loh dek kamu disini juga?" Miller menatap ke arah Yasmine yang masih fokus pada Diana.


"Ah iya bang... Ini siapa bang?" Yasmine tersenyum ke arah Miller dan Diana.


"Oh kenalin, ini Diana. Diana ini adek gue Yasmine" Miller memperkenalkan mereka satu sama lain.


"Diana" Diana menjabat tangan Yasmine.


"Yasmine" Yasmine membalas juluran tangan Diana.


"Pacarnya bang Miller?" Yasmine memicingkan matanya ke Diana.


Diana menggeleng di hadapan Yasmine, "Bukan - bukan kita cuma temen". Yasmine terkekeh melihat ekpresi Diana.


Dari kejauhan rupanya Kenan tengah memperhatikan Yasmine yang sedang berbicara pada seseorang. Kenan memicingkan matanya, "Yasmine lagi ngomong sama siapa?".


"Woi sini lu pada" Kenan memanggil Alex dan Kevin yang duduk di sebelahnya.


"Apa sih Ken" dengus Alex.


"Itu Yasmine lagi ngobrol sama siapa?!" Kevin menatap sinis pada laki - laki yang hanya terlihat punggungnya saja.


"Nah itu yang mau gue kasih tahu sama Lo pada" Kenan masih memperhatikan laki - laki itu.

__ADS_1


"Mungkin itu abangnya Yasmine" Kevin menoleh ke arah Kenan.


Kenan langsung merubah ekspresinya, "Bener juga omongan Lo Vin" balas Kenan.


Ketika Kenan dan lainnya ingin melihat siapa laki - laki yang berbicara dengan Yamsine, tiba - tiba ada seorang perempuan berbadan gempal yang duduk di sebelah mereka. Alex menelan salivanya dengan kasar ketika melihat perempuan itu.


"Ngapain Lo lihatin gue" tanya peremuan berbadan gempal itu.


"Minggir Lo!" ketus Alex.


Perempuan itu memelototkan matanya ke arah mereka, perempuan itu berpindah duduk tepat di kursi mereka. Perempuan berbadan gempal itu langsung menduduki mereka.


"Aduh...aduhh sakit woi" erang Alex.


"Minggir woi!" teriak Kevin.


"Parah banget sih Lo!" sungut Kenan. Ketika Kenan hendak melihat kembali, Yasmine dan laki - laki itu sudah tidak ada.


"Sial!" sungut Kenan.


Pertandingan semakin sengit, di menit - menit terakhir poin SMA Garuda dan SMA Harapan Bangsa seri. Di situ pula Arsen mendribbling bola baksetnya dengan skill dewa dan mengoperkannya pada Ervan. Ervan melempar jarah jauh ke arah Jimmy, Jimmy langsung menshooting tanpa ada kendala sedikit pun.


Semua penonton bersorak kemenangan atas tembakan dari Jimmy. Sandra tersenyum melihat performa Jimmy di pertandingan kali ini.


"Pertandingan basket kali ini di menangkan oleh SMA Garuda" MC menyebutkannya dengan lantang.


Sandra dan Amel melempar senyum ke arah Jimmy dan Ervan. Arsen berjalan untuk bergabung bersama mereka.


"Yasmine mana?" pekik Arsen sambil meminum air mineral.


"Oh iya dia bilang mau ke toilet" jawab Amel.


"Kita langsung keluar aja, bawa tas Yasmine sekalian" ujar Arsen.


Akhirnya mereka berjalan menuju pintu luar, Amel dan Sandra menyusul Yasmine ke toilet. Arsen dan lainnya menunggu di parkiran, "Akhirnya menang lagi Bos" Alex tersenyum ke arah Arsen.


Arsen terkekeh, "Berkat kalian semua".


"Solidaritas itu penting" jawba mereka serempak.


Dari arah belakang Miller dan anggota Black Devils sedang menuju ke parkiran motor.


Miller melewati Arsen yang sedang duduk sambil tersenyum angkuh, " Congratulations" ucap Miller.


Arsen tersenyum miring di depan Miller, "Bedankt" .


Miller langsung menghidupkan motornya dan pergi meninggalkan Arsen dan lainnya. Wolf menatap kepergian Black Devils.


"Oh iya Sen tadi kayanya Yasmine lagi ngobrol sama abanganya" jelas Kenan. Jimmy dan Ervan membelalakan matanya.


Arsen memutar kepalanya ke arah Kenan, "Lo udah tahu wajahnya?".


"Belum Sen soalnya ada penghalang tadi".


"Tapi gue lihat abangnya itu sama cewe".


"Cewe?" bingung Arsen.


" Oke gapapa, cari tahu terus siapa abang Yasmine. Kalo ada info baru kasih tau gue langsung" ujar Arsen.


"Siap Sen".


Yasmine dan lainnya berlari kecil ke arah parkiran motor, "Maaf ya lama" ujar Yasmine.


"Santai aja Yas" balas Ervan.


"Selamat ya buat kemenangan kalian" Yasmine tersenyum ramah.


"Makasih ya Yas" balas Jimmy dan Ervan.


"Kamu kelihatan keren Sen waktu shooting" Yasmine tersenyum ke arah Arsen.


Arsen memalingkan wajahnya, " Makasih Yas". jantung Arsen berdegup dengan kencang karena pujian dari Yasmine.


"Pulang yuk udah sore" ajak Amel.


"Ayok".


Bersambung😊


Jangan lupa like dan komen ya kak😚. Author sangat butuh semangat dari kakak kakak sekalian agar semangat Up terus🌻

__ADS_1


__ADS_2