
*Hai Reader's setia ARSEN maafkan Author yang hiatus sangat lama karena ada kesibukan, nah sekarang Author akan Up kembali cerita cinta Arsen dan Yasmine
Arigatou❤*
Sejak malam ulang tahun itu Yasmine merasa bahagia ternyata bukan hanya dirinya yang menyukai Arsen melainkan Arsen juga memiliki perasaan yang sama pada dirinya.
"Yasmine turun dek, ayo sarapan" seru Haris dari arah bawah meja makan. Yasmine yang mendengar suara Papa nya itu langsung turun untuk sarapan bersama.
"Lama banget di kamar ngapain aja?" Miller mengambil roti dan meletakannya di atas piring.
"Cuma siap - siap aja bang" Yasmine melirik ke arah Yasmine.
"Udah jangan ngobrol terus, ayo makan nanti terlambat".
"Iya Pa".
~
Miller berhenti di depan gerbang sekolah Yasmine sambil melepaskan helm fullface nya. Yasmine turun dari motor sport berwarna hitam legam itu.
"Masuk gih, nanti siang biar abang jemput" perintah Miller yang masih setia duduk di atas motornya.
"Iya bang, kalo gitu Yasmine masuk ya bang" Yasmine mencium tangan Miller.
Miller memasang kembali helm fullface nya, Ia menghidupkan mesin motornya, sesegera mungkin Ia pergi meninggalkan wilayah musuhnya. Baru berkendara beberapa meter mata Miller sudah bertemu dengan Wolf.
Arsen di ikuti anak buahnya langsung berehenti di hadapan Miller. Mereka semua melepaskan helm fullface milik mereka masing - masing. Arsen menatap tajam pada Miller yang hanya tersenyum mengejek. Ervan menoleh ke arah Devan "Ngapain dia ketawa Jim?" tanya Ervan.
"Gak tahu juga" Jimmy mengangkat bahunya acuh.
"Ada apa? lo ngerasa terganggu dengan gue?" Miller menatap wajah Arsen yang menatap sinis padanya.
"Sebenernya siapa adek lo?!" tanpa basa - basi Arsen langsung menanyakan siapa adik Miller sebenernya.
"Apa perlu gue jawab pertanyaan lo?!" balas Miller tak kalah sengit. Arsen hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Miller yang menurutnya bodoh.
"Yang jelas adek gue primadona di Garuda" Miller menjawab dengan nada angkuh dan sombong.
Arsen yang mendengat kata "Primadona" hanya menaikan sebelah alis matanya. Inti Wolf yang mendengar kalimat itu pun terkejut.
"Primadona? Siapa primadona di Garuda?" pekik Alex.
"Luna?" terka Kevin, Ervan yang mendengar nama Luna langsung menatap sinis ke arah Kevin.
"Lo yang bener dong Vin, ya kali mak lampir jadi primadona" Ervan tertawa sambil menepuk bahu Kevin. Alex dan Kevin pun ikut tertawa.
"Gue gak mau bilang siapa nama adek gue" Miller memakai kembali helm yang telah di lepaskan sebelumnya.
Arsen hanya diam tanpa berkomentar apa pun dari jawaban Miller, dia sangat mengerti karakter dari musuhnya ini, Miller tidak akan menjawab pertanyaan yang menyangkut tentang keluarganya.
"Pecundang lo!" serka Ervan.
Miller terdiam mendengar ucapan Ervan, Ia menatap ke arah Ervan dengan sinis, "Lo bilang gue pecundang? Kalo lo punya adek apa lo bakal buka identitas dia sama musuhnya" Miller melirik ke arah Arsen.
Mereka semua terdiam mendengar jawaban Miller, "Terserah lo mau jawab atau gak, yang jelas jangan buat keributan di Garuda". Arsen menghidupkan motornya dan meninggalkan Miller di gerbang Garuda.
Arsen turun dari atas motornya dan melepas jaket Wolf. Di ikuti anak buahnya Ia berjalan di depan mereka, hanya dengan berjalan saja membuat seluruh mata tertuju pada mereka. Padahal mereka hanya berjalan, bukan sedang megadakan konser.
Arsen masuk ke dalam kelas dan duduk di kursinya. Jimmy dan Ervan juga duduk di kursi masing - masing, "Yasmine belum datang?" Ervan mencari keberadaan Yasmine.
"Maybe" Arsen menjawab dengan santai.
"Tapi tas nya ada" balas Jimmy sambil menunjuk tas ransel milik Yasmine yang ada di atas meja.
Baru saja mereka membicarakan Yasmine, dari arah pintu luar Yasmine dan kedua sahabatnya itu tengan jalan beriringan. Arsen memperhatikan Yasmine dari jauh wajah putih, senyum yang indah, dan sangat ramah itulah yang menyebabkan Arsen menyukai Yasmine.
"Yang baru jadian seneng banget kayanya" ejek Jimmy.
"Santai aja Sen, Yasmine gak bakal berpaling kok" kekeh Ervan sambil melirik ke arah Jimmy mereka kompak menggoda Arsen.
Arsen hanya tersenyum singkat ke arah mereka berdua tanpa menjawab pertanyaan mereka sedikit pun.
__ADS_1
Yasmine yang baru melangkahkan kakinya ke dalam kelas langsung menatap ke arah Arsen dan tersenyum. Arsen memejamkan matanya kala melihat senyuman Yasmine.
"Si Arsen melting" goda Ervan.
Yasmine juga ikut tersenyum mendengar godaan Ervan, Yasmine berjalan ke samping kursi Arsen dan menyodorkan sebuah roti yang Ia beli tadi.
"Ini Sen kalo belum sarapan" Yasmine mendekatkan roti keju itu ke tangan Arsen.
Arsen membuka matanya dan melihat roti keju yang di berikan oleh Yasmine, "You know my favorite, thank you".
Pipi Yasmine berubah menjadi bullshing kala mendengar ucapan terima kasih dari Arsen, hanya memberi sebuah roti keju dan Ia mendapatkan ucapan dari Arsen sesederhana itu membuat hati Yasmine bahagia.
"Sama - sama Sen" Yasmine kembali duduk di kursinya.
Amel dan Sandra yang memperhatikan mereka berdua ikut tersenyum, "Enaknya yang udah jadian" Amel menghela nafasnya dengan agak kasar.
Sandra tersenyum, "Nanti ada waktunya lo jadian sama Ervan" ejek Sandra sambil melirik ke arah Ervan, mata Sandra juga menatap ke arah Jimmy.
"Apaan sih San" Amel mengedarkan pandangannya agar tidak bertemu wajah Ervan.
"Gak usah gengsi Mel" kekeh Ervan, Amel menutup wajahnya dengan buku karena malu mendengar godaan Ervan.
"Kamu udah sarapan?" Arsen memakan roti keju nya.
"Udah kok Sen" di ikuti oleh anggukan kecil Yasmine.
Dari luar kelas Selena masih berdiri di dinding kelas sambil mendegar pembicaraan mereka, "Arsen jadian sama Yasmine?! ".
"Sialan lo! Tunggu aja pembalasan gue, Arsen bakal jadi milik gue!".
Mereka semua sedang belajar, tidak lebih tepatnya mereka hanya mengerjakan tugas pemberian Bu Siska. Ia tidak hadir karena sedang ada dinas luar bersama kepala sekolah.
"Bu Siska padahal alfa masih aja kasih tugas" Ervan hanya memainkan pulpenya, Ia sama sekali belum mengerjakana satu soal sama sekali.
"Ngeluj aja lo Van" Jimmy masih fokus mengerjakan soal yang ada di hadapannya.
Yasmine terdiam dan hanya menatap soal yang kini Ia pegang, "Ini gimana ya? Kok susah banget" gumam Yasmine.
"Kenapa? Susah?" tanya Arsen sambil menatap Yasmine.
"Ah iya Sen susah" Yasmine menggaruk kepalanya.
"Sini aku ajarin" Arsen berbicara kepada teman sebangkunya Andi untuk bertukar posisi dengan Yasmine. Andi langsung beranjak dan otomatis duduk di samping Amel.
"Awas lo macem - macem sama Amel" gertak Ervan, Ia benar - benar cemburu jika Amel dekat dengan laki - laki lain.
"Sewot aja sih lo Van" balas Andi.
"Lo mau gue pukul?!" Ervan menatap tajam ke arah Andi.
"Udah ah diem! Berisik aja!" Amel juga ikut ketus pada mereka. Jimmy dan Sandra ikut tertawa melihat pertengkaran sahabatnya itu.
Yasmine membuka buku panduannya, "Ini gimana Sen?".
"Ini tinggal kamu kali terus kamu tarik akar aja" Arsen langsung menuliskan di buku Yasmine, walapun Arsen adalah ketua geng. motor Ia juga pintar di sekolah.
Kedekatan mereka tak lupur dari pandangan Selena, "Kalo mau pacaran jangan di kelas, sana di luar!" serka Selena.
Arsen dan Yasmine yang merasa di sindir oleh Selena langsung menoleh ke arah Selena yang sedang menatap kosong sambil bersedekap tangan.
"Iri bilang bos" Ervan tertawa keras, murid yang lainnya juga ikut menertawai Selena yang sedang cemburu oleh Arsen dan Yasmine.
"Gak usah di dengerin, lanjut!" Arsen mendorong tubuh Yasmine agar kembali ke depan.
Setelah selesai mengerjakan tugas akhirnya mereka bisa beristirahat untuk makan di kantin. Arsen dan yang lainnya sedang makan di meja dekat Yasmine. Entah kenapa Arsen hanya ingin dekat selalu dengan Yasmine, Ia tidak mau jauh dari pacarnya itu.
Rupanya kabar mengenai hubungan mereka sudah beredar luas, apalagi Arsen adalah most wanted di Garuda.
Luna dan kedua antek - anteknya menggebrak meja makan Yasmine, Ia tidak peduli jika ada Arsen du sebelahnya Ia benar - benar naik pitam mendengar perihal hubungan mereka.
"Lo apaan sih Lun pake gebrak meja segala!" Amel tidak kalah takut dengan gertakan Luna.
__ADS_1
"Lo jadian sama gebetan gue! Dasar gak tahu malu" Luna mengangkat tangannya dan hampir melayangkan tamparan ke wajah Yasmine namun rencana itu gagal, Sandra menahan tangan Luna agar tidak menampar Yasmine.
Arsen mengepal kedua tangannya ketika melihat Luna hendak menampar Yasmine, "Sialan!" umpat Arsen.
Arsen menarik tangan Yasmine untuk menjauh dari Luna, Yasmine mengikuti kemana Arsen pergi.
"Sialan lo Sandra! Berani - beraninya lo ganggu gue!" Luna benar - benar emosi.
"Jaga ucapan lo Luna!" teriak Jimmy sambil menatapa tajam ke Luna, Jimmy juga menarik tangan Sandra untuk mengikutinya.
"Amel ayok ikut gue, kan gak lucu kalo kita gak kaya mereka" Ervan menarik tangan Amel.
"Brengsek!" pekik Luna.
Kini Arsen dan Yasmine sedang duduk di belakang kelas. Arsen masih menggenggam tangan Yasmine.
"Apa aku salah jadian sama kamu?" Yasmine mendongkan kepalanya untuk melihat Arsen.
Arsen tersenyum sambil menyentuh rambut hitam Yasmine, "Gak ada yang salah sama hubungan kita".
"Apa kamu bakal tetap sama aku apapun keadaannya?" Yasmine mendekatkan dirinya ke Arsen.
Arsen menarik Yasmine ke dalam pelukannya, "Aku bakal selalu sama kamu" Arsen mencium puncak kepala Yasmine.
"Seriuosly?" Yasmine meyakinkan sekali lagi atas ucapan Arsen.
"Serius sayang" kembali Arsen mencium puncak kepala Yasmine.
Sedangkan Jimmy dan Sandra kini sedang berdua di dalam kelas lama yang sudah tidak di pakai. Mereka masih saling diam satu sama lain. Sandra hanya menatap ke arah luar jendela, Jimmy masih setia menatap Sandra.
"Kamu jangan sampai berurusan lagi sama Luna" tegas Jimmy.
Sandra menoleh ke arah Jimmy, "Apa peduli kamu sama aku?!" balas Sandra dengan ketus.
Jimmy hanya diam, Sandra juga masih menatap ke arah luar. Jimmy mendekati Sandra dan langsung mencium bibir Sandra.
Sandra terkejut dengan ciuman yang tiba - tiba itu, Ia berusah melepaskan diri namun hatinya berkata untuk tetap melanjutkan ciuman itu.
Tanpa basa - basi Sandra menggigit bibir bawah Jimmy agar bisa lari dari situasi ini, "Akhh..." Jimmy meringis karena gigitan Sandra. "Plakkk.... " Sandra juga menampar Jimmy.
"Brengsek!" umpat Sandra, Ia pergi meninggalkan Jimmy di kelas lama itu. Jimmy mengusap bibirnya yang berdarah.
Bel masuk berbunyi semua murid masuk ke dalam kelas kali ini mereka sedang free pasalnya Pak Rudi sedang sakit dan tidak memberi tugas sama sekali.
Sandra masih diam di kursinya, Yasmine dan Amel menatap heran pada Sandra yang sejak tadi hanya diam. Jimmy baru masuk dan langsung duduk di kursinya. Di belakang kursi Arsen sudah ada Kenan, Alex dan Kevin kelas mereka juga sedang free.
Ervan menoleh ke arah Jimmy, mata Ervan terbelalak melihat bibir Jimmy terluka, "Lo kenapa Jim?".
Mendengar itu Arsen dan lainnya menoleh ke arah Ervan, mereka juga bingung kenapa ada darah di bibir Jimmy.
Ervan dan Jimmy ikut bergabung dengan yang lainnya, "Lo kenapa?!" serka Arsen.
"Gue abis cium Sandra" jawab Jimmy dengan suara lemah.
"Apa?! Lo ciuman sama Sandra?" semua murid yang ada di dalam kelas menoleh ke arah Jimmy dan Sandra.
"Suara lo Van" Jimmy menatap sinis ke Ervan.
"Hehe ya maap" kekeh Ervan tanpa rasa bersalah.
"Terus lo di gigit Sandra Jim?" tanya Kenan tak percaya, Jimmy mengangguk pelan.
"Lo terlalu ganas Jim" balaa Alex.
"Main sosor ae sih lo Jim" kekeh Kevin.
Sandra hanya menunduk malu semua orang memperhatikan dirinya dan Jimmy, "Sialan mulut Ervan!" batin Sandra.
Jangan lupa like, vote dan komen ya Reader's kesayangan Author ❤
Terima kasih banyak🌻
__ADS_1