ARSEN

ARSEN
Sebuah Foto


__ADS_3

Arsen masuk ke dalam kamarnya. Merebahkan dirinya di atas ranjang berukutan size king itu. Wajah tampan nya tertutupi oleh dua tangan kekar yang melintang di atas wajahnya.


"Kenapa setiap hal selalu berhubungan sama Yasmine. Gue gak mau kalo dia celaka karna gue" batin Arsen.


Arsen beranjak dari ranjangnya dan mendudukan dirinya di kursi meja belajarnya. Ia mengambil sebuah flashdisk berwarna hitam dari saku celana nya.


Arsen membuka laptop nya dan memasangkan flashdisk itu ke lubang yang tersedia di laptop. Arsen membuka file yang akan Ia print di printer.


Setelah selesai mencetak tugasnya, Arsen membuka sebuah file bernama "Kenangan". Ia sempat ragu untuk membuka file itu, Ia merasa tidak berhak untuk mengetahui isi dari file itu. Tapi jika itu bukan suatu hal yang penting tidak mungkin Yasmine menyimpan file itu di flashdisk nya.


"Gue coba buka aja kali ya" gumam Arsen.


Arsen melihat isi dari file itu. Hanya berisi kan dua foto usang. Di foto pertama Ia melihat sebuah foto keluarga dengan gaya jadul. Terlihat ada seorang pria dan wanita berumur sekitar tiga puluh lima tahunan dan dua orang anak. Satu orang anak lelaki yang paling besar dan satu orang anak perempuan yang lebih kecil dari pada anak laki - laki itu.


Di foto kedua terlihat dua orang anak yang sama di foto sebelumnya. Anak laki - laki itu mengenakan seragam sekolah dan anak perempuan yang lebih muda dari nya berdiri sambil memeluk bonek beruang warna coklat. Sesaat Arsen terdiam, Ia masih menilik siapa orang - orang dalam foto itu.


"Ini semua keluarga Yasmine? Dan sebelah Yasmine itu Abang nya? Arsen penasaran dengan foto usang itu.


"Gue serasa gak asing sama wajah anak laki - laki itu. Tapi gue gak tahu siapa dia?" Arsen memicingkan sebelah mata nya.


"Tapi kalo itu beneran Yasmine waktu kecil, dia beneran manis waktu kecil" Arsen tersenyum simpul di sudut bibirnya.


"Apaansih Sen!" dengusnya sambil mematikan laptopnya.


~


Arsen sudah bersiap - siap dengan seragamnya, Ia berjalan ke arah meja makan. Terlihat Bram sedang meminum kopi dan Tania sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


"Sarapan dulu Sen!" Tania melirik tajam pada anaknya itu.


"Iya ma" Arsen hanya menjawab singkat dan langsung mengambil selembar roti tawar.


"Pulang jam berapa tadi malam?" Tania duduk di sebelah Arsen.


"Jam 11 ma" santai Arsen.


"Yasmine baik - baik aja kan Sen?" Tania langsung merubah ekspresi wajahnya kala menyebut nama yasmine.


"Baik ma, Arsen duluan ya ma takut macet" Arsen langsung beranjak dari kursi meja makan.


"Hati - hati Sen" Tania melihat punggung anaknya yang semakin menjauh dari pandangan.


Bram memandangi istrinya, "Kaya nya mama suka sama Yasmine?" terka Bram.


"Iya pa, mama suka lihat Yasmine. Anak nya baik, sopan, terus cantik lagi" Tania terkekeh.


Bram hanya memejamkan matanya sambil tersenyum, "Papa berangkat ya ma".


Tania menyalami tangan suaminya, "Hati - hati pa".


Arsen sampai di parkiran sekolah terlihat motor Jimmy dan Ervan sudah berada di parkiran itu. Ia berjalan menuju kelas nya, sesaat mata nya tertuju pada seorang perempuan yang berada di sisi nya, Ia menatap malas pada perempuan itu.


"Pagi Arsen" Luna berjalan di sisi Arsen sambil memainkan rambut pirangnya.


"Hmm" balas Arsen.


"Arsen nanti pulang sekolah bisa anterin aku gak?" Luna memainkan matanya seakan menggoda Arsen.


Arsen yang mendengar ucapan Luna langsung memejamkan matanya. Ia menarik nafasnya begitu dalam dan menghembuskan nya dengan kasar, "Gak bisa! Gue udah ada janji" ketus Arsen. Arsen mempercepat langkahnya dan meninggalkan Luna di koridor sekolah.


"Brengsek banget Lo Sen! Awas aja Lo bakal bertekuk lutut sama gue liat aja! Batin Luna sambil memandangi kepergian Arsen.


Terlihat Jimmy dan Ervan sedang mengobrol di kelas. Arsen berjalan ke arah kursinya dan meletakan tas ranselnya di atas meja dan duduk di kursinya.


"Van panggil yang lain suruh ke sini" perintah Arsen.


"Siap Sen" Ervan bergaya hormat pada Arsen.


Kenan, Alex dan Kevin berjalan mendekati meja Arsen. Mereka mengambil kursi lain untuk duduk.


"Gimana? Udah ada perkembangan sama penulusuran kalian siapa adik Miller?" tanya Arsen.


Alex dan kevin menggeleng yang menandakan mereka tidak tahu. Sama hal nya dengan Jimmy dan Ervan mereka juga belum tahu siapa adik Miller di Garuda.


"Sampai sekarang kita belum ada bukti kuat siapa adik Miller" jawab Jimmy.

__ADS_1


"Sen gue pernah lihat Miller ke sini buat jemput seseorang" Kenan menatap serius pada Arsen.


"Ah elah Ken kita semua tahu kalo Miller ke sini buat jemput adiknya" timpal Ervan yang menatap malas pada Kenan.


"Iya gue tau, tapi waktu itu dia boncengin cewe gitu" tutur Kenan.


Sontak mereka menoleh ke arah Kenan secara bersamaan, Arsen yang paling terkejut di antara yang lainnya.


"Lo lihat wajahnya gak?" Arsen menatap serius pada Kenan.


"Nah masalahnya gue gak lihat. Soalnya waktu itu dia ngebut banget" Kenan menatap serius pada teman - temannya.


"Belum tentu itu adiknya Miller. Mana tau pacarnya Miller" sambung Kevin.


"Ngapain coba cari cewe di Garuda, kalo cewe - cewe di Harapan Bangsa lebih cantik. Secara Miller ganteng bukan hal sulit dong naklukin cewe Harapan Bangsa" ungkap Alex.


"Siapa juga yang mau pacaran sama cowo kaya Miller. Iya sih ganteng tapi Miller galak judes lagi" ketus Ervan.


"Gue tanya adik Miller bukan Miller. Gue gak butuh argumen lo tentang Miller" Arsen mendengus kesal pada teman - temannya.


"Udah - udah jangan ribut ah" Jimmy memandangi teman - temannya.


"Ken Lo bisa jelasin ciri - cirinya lebih spesifik lagi?" Arsen menatap dingin pada Kenan.


"Seinget gue cewe itu rambutnya panjang hitam lurus, kaya nya sih cantik dari belakang" jelas Kenan.


"Kaya gitu di Garuda banyak Ken. Coba lebih spesifik lagi?" pinta Alex.


"Gue ga inget Lex" dengan suara pasrah Kenan menjawab pertanyaan Alex.


"Oke gapapa. Gue gak maksa kalian buat secepatnya cari tahu hal ini tapi kalo kalian lihat Miller ke sini hubungin gue langsung" pinta Arsen.


"Dan Lo Ken karna lo yang udah agak paham sama situasi ini Lo gue kasih tugas buat pantau terus" Arsen beranjak dari kursinya.


"Yang lain juga bantu Kenan" tambah Arsen.


"Siap".


Di lain sisi, Miller sedang duduk di kantin belakang sekolahnya bersama dengan anggota Black Devils yang lainnya. Miller tengah meneguk sekaleng soft drink.


"Baik - baik aja" Miller menatap santai pada Rey.


"Adek lo cantik juga" Rey terkekeh ringan kala mengingat wajah manis Yasmine.


"Lo suka sama adek gue?" Miller menatap serius pada Rey.


Rey membalas tatapab tajam Miller, "Kalo gue suka sama dia apa lo izinin gue jadi pacarnya?".


"Kita lihat nanti gue gak bisa mutusin satu pihak aja. Gue juga harus mikirin perasaan adek gue" Miller mengedarkan pandangannya.


"Gue cabut!" Miller berdiri daru duduknya dan pergi meninggalkan teman - temannya. Rey masih dalam keadaan duduknya, Ia masih memikirkan ucapan Miller, "Apa ini tanda nya kalau Miller masih belum percaya sama gue?" batin Rey bertanya - tanya.


Yasmine berjalan masuk ke kelasnya, Ia hampir saja bertabrakan dengan Arsen. Kedua wajah remaja itu bertemu satau sama lain. Manik mata coklat milik Arsen menabrak manik mata hitam Yasmine. Arsen dan Yasmine mengedarkan pandangannya, jantung Arsen kembali berdegup dengan kencang, "Bisa mati berdiri gue kalo kaya gini terus!" sungut Arsen dalam hati.


Yasmine terlihat gugup di hadapan Arsen, Ia menatap mata Arsen, "Masuk aja" Arsen langsung pergi meninggalkan Yasmine di depan pintu kelasnya.


"Yasmine!" pekik Amel.


"Kok Lo kelihatan pucet? Lo sakit?" Yasmine menempelkan tangannya di dahi Amel.


"Gue gak sakit Yas, gue masih takut sama kejadian tadi malam" Amel spontan memeluk Yasmine.


"Udah gapapa Mel" Yasmine mencoba menenangkan Amel.


Sandra yang berdiri di depan pintu langsung masuk ke kelas tanpa peduli apa yang di lakukan Yasmine dan Amel. Sandra mengingat kejadian tadi malam di antara mereka Amel yang paling ketakutan, Ia memutuskan untuk menenangkan Amel.


Sandra jalan mendekati ke arah Amel, "Udah Mel gak ada apa di sini jadi gak usah takut" Sandra juga berusaha menenangkan Amel.


"Sandra..." lirih Amel sambil memeluk erat Sandra.


Di depan pintu berdiri seorang perempuan dengan gaya ala tomboy sambil meletak kan tangannya di sisi pinggangnya.


"Jimmy...Jimmy sayang" pekik Mita.


Sandra yang mendengar itu hanya acuh tanpa memeperdulikan nya. Murid - murid yang lainnya menatap aneh pada Mita, Mita memilih acuh pada pandangan sinis mereka.

__ADS_1


"San dimana Jimmy?!" Mita mendengus melihat Sandra.


Sandra hanya diam dan tetap duduk di samping Amel.


"Sandra! Gue lagi ngomong sama Lo!" pekik Mita.


Tetap saja Sandra hanya diam tanpa mengubris omelan Mita. Yasmine menatap aneh pada Mita, kenapa ada perempuan seperti Mita di dunia ini?


"Lo anak baru apa Lo lihat - lihat!" Mita melotot ke arah Yasmine dan yang di lakukan Yasmine sama seperti Sandra hanya diam saja.


"Lo semu pada bisu ya!?" ketus Mita.


Sandra berdiri dan berjalan ke arah Mita, Amel yang paham akan situasi ini langsung pergi mencari Jimmy.


"Gue tanya sama Lo dimana Jimmy?!" Mita menaik kan nada suaranya pada Sandra.


Sandra hanya diam dan menatap sinis pada Mita. Ia mengepal kedua tangannya, Yasmine langsung menghampiri Sandra, "Sandra sabar" Yasmine mengelus punggung Sandra.


"Inget ya San Lo itu udah putus saka Jimmy!" Mita tersenyum puas.


"Dasar cewe gila" batin Yasmine.


Amel berlari ke arah Arsen dan lainnya. Jimmy berdiri di sebelah Arsen, Amel terlihat ngos - ngosan.


"Ada apa Mel?" Arsen menatap bingung pada Amel.


"Jim, Mita cari masalah sama Sandra" jawab Amel. Mereka semua terbelalak kaget mendengar penuturan Amel.


"*Perang dunia ketiga mulai" balas Alex.


"Butuh wasit gak nih" tambah Kevin.


"Dasar Mita mak lampir" sungut Ervan.


"Dasar cewe saiko" dengsu Arsen.


"Brengsek! Dasar Sialan!" pekik Jimmy*.


Jimmy berlari kencang ke arah lokalnya, di ikuti Amel dan lainnya dari belakang. Sementara itu Mita masih berlagak preman di hadapan Sandra.


"Gue tanya dimana Jimmy?!" Mita menaikan suaranya dan menatap sinis pada Sandra.


"Brengsek lo San! Jawab" pekik Mita.


"Plak" Sandra menampar pipi kanan Mita hingga Mita tersungkur ke lantai yang menandakan tamparan Sandra sangat kuat.


"Buat apa lo nanya Jimmy sama gue! Gue gak ada hubungan sama dia!" Sandra terlihat sangat emosi.


Mita memegangi pipi yang di tampar oleh Sandra, Mita menatap nanar dirinya. Tidak ada yang menolongnya hanya menatap jijik pada Mita.


"Sialan Lo Sandra!" Mita melayangkan tamparannya ke arah Sandra, Sandra lebih dulu menangkis tamparan Mita. Sandra mencengkram kuat tangan Mita.


"Lepasing gue!" Mita langsung menjambak rambut Sandra, Sandra juga menjambak rambut Mita. Yasmine berusah melerai mereka berdua, "Mita Sandra Stop!" Yasmine berusaha memisahkah mereke berdua.


Jimmy yang sampai di TKP langsung menarik Sandra ke arahnya, " Sandra udah! Lepas Sandra" Jimmy berusah lembut pada Sandra.


Sandra melepaskan cengkaramannya pada rambut Mita, Mita ditarik ke belakang oleh Kenan dan lainnya. Sandra menatap sinis ke arah Jimmy, tatapan Jimmy masih dalam keadaan yang lembut dan Sendu. Wajah nya kembali berubah ketika menatap wajah Mita.


"Lo apa - apaan sih Mita! Gue bukan pacar Lo! Gue putus sama Sandra karna Lo!" Jimmy meluapkan semua emosinya. Murid - murid lainnya hanya sebagai penonton tanpa melerai perkelahian Sandra dan Mita.


Mita hanya diam tanpa mampu menatap Sandra maupun Jimmy, "Hiks...Hikss" Mita menangis mendengar ucapan Jimmy.


"Lebih baik Lo pergi dari pada gue main kasar sama Lo!" ketus Jimmy.


"Mending balik, biar gue yang anterin Lo" Kenan memegang bahu Mita.


"Kalian juga udah tau mereke bertengakar pisahin bukan nonton doang!" Jimmy mendengus kesal.


Jimmy berjalan keluar sambil menggandeng tangan Sandra ke UKS.


Bersambung🌻


Don't forget to Vote, Like and Comment🌻


Auhtor tunggu❤

__ADS_1


__ADS_2