
Sandra terbaring lemah di atas branker wajahnya sangat pucat, tangannya tersambung dengan infus. Kini Ia sedang di suapi oleh Rania, Mama Sandra.
"Suapan terakhir San, ayo San" Rania mengangkat sendok yang berisikan bubur yang akan di suapkan ke mulut Sandra namun Sandra menghindar dari suapan itu.
"Gak mau Ma" Sandra langsung mengalihkan wajahnya dari hadapan Rania Ia hanya bisa tersenyum kecut melihat respon anaknya, mungkin Sandra masih belum bisa memaafkan Ia dan Adit suaminya.
"Assalamualaikum" Mereka inti Wolf dan kedua sahabatnya berdiri di depan pintu. Jimmy terdiam dan hanya memandangi Sandra yang mengalihkan pandangannya ketika mereka tiba.
"Masui nak" Rania mempersilahkan teman - teman Sandra untuk menjenguk Sandra. Mereka duduk di kursi yang telah di sediakan rumah sakit.
"Tante apa kabar?" Jimmy mencium tangan Rania, "Tante baik nak, Kamu gimana? Rania memandang Jimmy.
"Jimmy baik tante" Jimmy memeluk Rania layaknya ibu sendiri, Sandra hanya diam Ia sama sekali tidak ingin berbicara pada siapa pun.
"Tante mau keluar sebentar, Kalian bisa jagain Sandra sebentar?" Rania mengambil tas yang ada di meja sebelah branker Sandra.
"Bisa tante" Arsen menjawab dengan suara yang tenang.
"Kalau ada apa - apa langsung hubungi tante ya" Rania langsung pergi menuju pintu luar ruangan Sandra.
Jimmy menarik kursi agar bisa duduk di sebelah Sandra, mata Jimmy terus memperhatikan Sandra yang terus menghindarinya, "Masih sakit? Atau udah agak mendingan?" tangan Jimmy merambat untuk menyentuh tangan Sandra namun segera Sandra menarik tangannya.
"Udah mendingan" Sandra mengalihkan pandangannya.
"Lo kenapa bisa kambuh gini San?" tanya Amel.
Sandra menghela nafasnya, "Waktu lagi makan malam tiba - tiba dada gue sesak kayanya gue pingsan dan waktu bangun gue udah ada di sini".
"Terus lo kapan boleh pulang?" tanya Yasmine.
"Dua hari lagi gue baru bisa pulang Yas, doain aja gue bisa sembuh" Sandra berharapa kepada teman - temannya itu.
"Papa lo udah datang?" suara Arsen terdengar berat.
"Belum dia bilang masih di Singapura masih ada kerjaan yang harus dia kerjain" Sandra menunduk rapuh ketika menjawab pertanyaan Arsen.
Ervan terlihat gugup dan celingak - celinguk, "Positif thinking aja San mungkin bokap lo emang beneran sibuk".
"Mungkin" Sandra kembali menghela nafasnya.
"Gue mau ngomong sama Sandra, kalian semua bisa tinggalin gue gak?" pinta Jimmy suara terdengar sangat lirih Sandra mengerutkan dahinya karena bingung.
Mereka berdiri dan berjalan menuju pintu luar hanya ada Jimmy dan Sandra dalam ruangan itu. Jimmy masih menatap dengan lekat, "Sandra... " suara Jimmy mulai terdengar berat.
"Lo mau ngomong apa?!" Sandra menyambut panggilan Jimmy dengan nada ketusnya.
"Aku minta maaf..." ujar Jimmy, Sandra kembali mengerutkan dahinya karena mendengar ucapan Jimmy mantan kekasihnya itu.
"M - maaf... buat apa?" bibir Sandra bergetar matanya mulai berkaca - kaca.
"Maaf atas kesalahan aku waktu kamu down karena orangtua kamu cerai aku gak ada di samping kamu" Jimmy memejamkan matanya. Sandra Memperhatikan Jimmy yang terlihat rapuh di hadapannya setetes cairan bening berhasil lolos dari mata tajam Jimmy.
__ADS_1
"Jimm..." lirih Sandra tangan kecilnya menghapus air mata Jimmy.
"Aku gak pernah ada niatan untuk tinggalin kamu San, Aku sayang sama kamu" Jimmy mengenggam erat tangan Sandra.
Sandra ikut menangis karena ucapan Jimmy, "Semua udah beda Jim keadaan gak kaya dulu lagi. Semua yang aku punya hilang" Sandra membalas genggaman tangan Jimmy tangisnya semakin pecah sadar akan hal itu Jimmy menarik Sandra dalam pelukannya.
"Aku gak pergi sayang aku di sini" Jimmy mengelus dengan lembut kepala Sandra, sesekali Ia menciumi pucuk kepala gadis yang Ia sayangi sampai saat ini.
"Aku mohon sama kamu kasih aku kesempatan ya" Jimmy menggenggam tangan Sandra.
"A - aku... " tiba - tiba bibir Sandra terasa kelu hatinya mengatakan iya namun pikirannya menolah untuk memberi kesempatan pada Jimmy.
"H - hmm iya..." lirih Sandra.
Jimmy langsung menatap ke wajah Sandra dan menarik dagu Sandra ke hadapannya. Ia langsung mencium bibir Sandra dan ******* nya untuk beberapa saat Sandra juga membalas ciuman yang di berikan Jimmy.
"Kamu harus sembuh San, biar kita bisa kaya dulu lagi" Jimmy menggengam tangan Sandra dengan erat.
"Iya Jim" Sandra tersenyum, senyuman itu sudah lama menghilang dan sekarang senyuman itu muncul kembali tepat di hadapannya.
Mereka yang sedang duduk di luar hanya duduk dan berdiam diri, namun ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Yasmine, "Hmmm Papa nya Sandra di luar negri?".
"Iya Papa Sandra di luar negri, Mama nya di Bandung" jelas Arsen.
Yasmine mengerutkan dahinya, " Mereka broken home ?".
"Iya orangtua Sandra cerai waktu kelas 10 itu yang gue denger dari Jimmy" tambah Ervan.
"Itu juga salah satu hal yang buat Sandra terpukul, orangtuanya broken home dan lihat Jimmy selingkuh di depan matanya" Amel menghela nafasnya dengan kasar, "Dasar cowo!" sungut Amel.
"Jimmy itu gak selingkuh itu cuma salah paham lo masih aja gak percaya Mel!" ketus Ervan.
"Emang iya kan dia selingkuh!" balas Amel tak kalah sengit.
"Gak" bela Ervan.
"Udah diam! Ini rumah sakit jangan buat keributan di sini" Arsen menatap sini pada Ervan dan Amel.
"Maaf" ujar mereka berdua.
~
Kini Miller tengah menunggu Diana di depan gerbang SMA Diana. Ia melepaskan helm fullface nya tentu saja hal itu membuat semua perempuan berbisik satu sama lain. Miller melihat jam tangan nya waktu sudah menunjukan pukul tiga lewat.
Diana baru keluar dari kelasnya Ia berjalan sendirian melewati koridor kelasnya Ia memang tak punya teman karena tidak ada satu pun anak PB yang mau berteman dengan dirinya yang notabene nya adalah anak orang miskin.
"Sendirian aja lo? Mana Miller? Gak jemput?" suara itu adalah milik Petra yang menghadang jalan Diana.
Diana hanya diam Ia tidak mau berurusan lagi dengan Petra Ia lebih memilih jalan dari pada harus berbicara dengan Petra, "Maua kemana lo sialan?! Udah berani lo sama gue!" Petra menarik kasar lengan Diana.
"Ssshhh..." Diana meringis kesakitan karena tarikan Petra.
__ADS_1
"Jawab gue ******!" Petra mendorong tubuh Diana dan menghantam dinding kelas. Diana terjatuh karena benturan itu matanya mulai menitikan air mata karena ucapan Petra.
"Aku bukan ******" lirih Diana, mereka yang berlalu lalang hanya diam dan melihat saja tanpa ada yang mau membantu Diana. Mereka tidak mau berurusan dengan Petra yang notabenenya adalah orang yang paling berpengaruh di PB.
"Terus kalo bukan ****** apa?! Buktinya lo rela lakuin apa aja buat gue" Petra tertawa keras.
"Petra!" seseorang meneriaki nama Petra dari kejauhan dia adalah Miller Ia memutuskan untuk mencari Diana ke dalam kawasan PB.
"Miller" batin Diana.
Petra mundur beberapa langkah karena melihat kedatangan Miller, "Cari Diana? Nih cewe lo".
Miller memapah Diana untuk berdiri, "Kamu gapapa? Ada yang sakit?".
"Aku gapapa Mill tolong bawa aku pergi dari sini Mill" lirih Diana.
"Kenapa mau pergi? Takut ketahuan jadi ****** lo!" sarkas Petra.
"Sialan lo!" Miller melayangkan sebuah bogeman ke wajah Petra.
"Bugh!"
Petra tersungkur ke lantai koridor Ia memegangi bibir nya yang berdarah, "Demi dia lo mau kotorin tangan lo buat gue!" kekeh Petra seraya berdiri dari jatuhnya.
"Gue lebih suka kotorin tangan gue ke muka lo daripada dia" Miller menunjuk Diana.
"Mulai sekarang jangan pernah ganggu Diana! Dia punya gue!" Miller menarik tangan Diana untuk meninggalkan Petra. Mereka langsung naik ke atas motor sport berwarna hitam yang akan membelah jalanan Jakarta sore ini.
Kemudian mereka berhenti di sebuah taman, "Duduk dulu gue mau cari minum buat lo" Miller berlari kecil ke seorang pedagang asongan.
"Nih minum dulu" Miller menyodorkan seboto air mineral, "Makasih Mill" segera Diana meminum air mineral itu.
Miller duduk di sampinh Diana, "Maaf kemaren gue langsung tinggalin lo di cafe".
Diana tersenyum kecil, "Gapapa Mill" hanya kata itu yang keluar dari bibir Diana.
Miller mengangguk pelan, "Lo masih sering di ganggu Petra?".
"Masih Mill" lirih Diana.
"Oh iya Mill apa yang di bilang Petra itu gak bener aku bukan ******" ujar Diana.
Miller terkekeh mendengar ucapan Diana, "Gue percaya sama lo, lo gak bakalan lakuin hal hina itu".
"Makasih Jim udah percaya sama gue selama ini gak ada orang yang percaya sama gue selain lo" Diana tersenyum tipis.
"Gue percaya kalo lo cewe yang baik" Miller membelai pipi Diana dan membuat perempuan itu malu.
Don't forget to like, vote and comment ❤
Doakan Author sehat selalu agar bisa up setiap hari.
__ADS_1
Thank you so much Reader's ❤