ARSEN

ARSEN
Penasaran


__ADS_3

"Assalamualaikum" Miller membuka pintu rumah nya dan berjalan santai menghampiri Haris dan Yasmine.



"Dari mana aja kamu nak?" Haris mengusap bahu Miller.



"Biasa lah pah, cowo" Miller terkekeh kecil sambil menatap papa nya.



"Kenapa kamu gak berhenti dari geng itu Miller?" Haris menatap sendu pada putra sulung nya itu.



"Gak bisa pah. Aku hobi kaya gini karna turunan papa" Miller tersenyum sumringah.



Yasmine mendekati Miller dan menepuk pelan bahu Miller. "Iya bang, coba abang berhenti dari geng motor abang itu" Yasmine mencoba membujuk Miller.



"Gak bisa dek, abang udah terlalu nyaman sama mereka" Miller mengedarkan pandangan nya.



Haris menarik nafas nya begitu dalam sambil.memejamkan kedua mata nya, "Yasudah gapapa. Asal kamu gak berbuat ulah di jalanan dan yang terpenting jangan pernah libatkan masalah geng motor kamu dengan Yasmine" Haris memasang wajah serius di hadapan Miller.



"Iya pa" Miller tersenyum menatap Haris.




~



Keesokan paginya, Yasmine sudah siap dengam seragam sekolah nya. Ia berjalan menuruni anak tangga rumah nya itu.



"Sarapan dulu dek" Haris sedang duduk di meja makan nya sambil mengoles roti tawar nya.



"Iya pa." Yasmine menarik kursi meja makan nya dan duduk di sebelah Haris.



"Abang mana pah?" Yasmine mencari Miller yang belum menampakkan diri nya di meja makan.



"Mungkin masih di kamar nya" Haris mengunyah roti tawar nya.



Miller turun dari lantai atas dengan tergesa - gesa, berlari ke arah meja makan.



"Pah Miller berangkat dulu ya" Ia menyalami tangan Haris.



"Bang, Yasmine bareng abang ya" Yasmine berdiri dari kursi nya.



"Iya dek, ayok" Miller menarik tangan Yasmine.



"Pah, Yasmine berangkat ya. Assalamualaikum" Yasmine berlari kecil meninggalkan Haris di meja makan sendirian.



"Walaikumsalam, hati - hati ya" Haris ikut berdiri melihat anak - anak nya pergi.




~



Sesampai nya di depan gerbang SMA Garuda, Miller membuka helm fullface. Ia mengedarkan pandangan nya ke SMA Garuda.



"Nanti pulang sekolah tunggu di sini ya, abang yang jemput Yasmine nanti" Miller menatap serius wajah Yasmine.



"Iya bang, Yasmine masuk ya" Yasmine berjalan meninggalakan Miller di depan gerbang.



Saat akan meninggalkan SMA Garuda, terdengar suara deru motor sport yang sangat ramai "Brumm...Brumm...Brumm", ya siapa lagi kalau bukan "Wolf". Miller menatap santai pada Arsen yang melaju di depan anak buah nya. Arsen menatap sinis pada Miller, Miller hanya terkekeh.



Arsen dan teman - teman nya berjalan melewati koridor kelas, semua mata tertuju pada Arsen.



"Arsen ganteng banget ya"



"Gue mau dong jadi pacarnya"



"Udah kaya, ganteng, ketua geng Wolf lagi"



Begitulah pujian semua perempuan yang mengagumi seorang Arsen. Arsen tetap berjalan lurus tanpa menghiraukan semua pujian perempuan di sekolah nya, ia hanya akan diam apabila di sanjung seperti itu.



Arsen duduk di kursi nya, ia masih memikirkan ucapan Miller yang kemarin, Miller punya adik di Garuda? Itulah yang terngiang - ngiang di kepala Arsen.



"Jim, Van sini lo berdua" Arsen memanggil kedua sahabat nya itu.



Jimmy dan Ervan duduk di kursi sebelah Arsen. Jimmy menatap serius pada Arsen.


__ADS_1


"Kenapa Sen?" Jimmy menatap bingung pada wajah Arsen.



"Cari tau siapa adik Miller" Arsen menatap serius pada Jimmy dan Ervan.



"Maksud nya, lo nyuruh kita berdua buat jadi FBI gitu" Ervan tertawa kecil.



"Right, gue mau lo cari tau siapa dia? Dan apa tujuan dia sekolah di sini!" ketus Arsen.



"Ya tujuan dia sekolah di sini sekolah lah Sen, ya kali karna bosen" Ervan terkekeh.



"Gue serius Van, kita gak tau apa tujuan Miller buat sekolahin adik nya di Garuda. Bisa aja dia jadi mata - mata untuk Black Devils" Arsen menyeringai tajam pada Ervan.



Jimmy mengangguki perintah Arsen, Ervan meneguk saliva nya dengan kasar, " Oke Sen".




Yasmine berjalan memasuki kelas nya, di kursi sebelah nya sudah ada Amel yang tiba duluan. Ia juga melihat Arsen yang sudah sampai di kelas, ia pergi ke kursi nya untuk duduk.



"Berangkat sama siapa lo Yas? Sama Bang Miller ya?" Amel tesenyum sumringah jika mengingat wajah tampan Miller.



Yasmine hanya terkekeh melihat ekspresi Amel, "Iya Mel, gue sama Bang Miller".



"Pagi Yas, Mel" Jimmy berjalan mendekati Yasmine dan Amel.



"Pagi Jim" Yasmine hanya tersenyum tipis.



"Pagi Amel" Ervan berjalan dari belakang kursi Amel.



"Pagi" Balas Amel cuek.



"Cuek amat sih Mel" Sungut Ervan.



"Suka - suka gue dong" Amel ikut mendengus kesal.



Jimmy dan Yasmine hanya menggelengkan kepala nya melihat kelakuan teman nya itu.



"Gimana Yas sekolah di sini? Enak?" Jimmy duduk di sebelah Yasmine.




Arsen hanya menatap sinis pada Yasmine, "Sen gabung ke sini gih" Ervan memanggil Arsen yang duduk bersebrangan dengan mereka.



"Males" Arsen membuang muka nya dengan nada ketus nya.



Bel berbunyi dan semua siswa harus masuk ke dalam kelas untuk melakukan PBM. Ketika sedang melakukan PBM, bel sekolah berbunyi sebanyak lima kali, "Kring...Kring...Kring...Kring...Kring" Semua siswa bersorak ria di dalam kelas, bel itu berbunyi sebagai penanda pulang cepat.



"Harap tenang semua, kami parah majelis guru akan mengadakan Rapat dengan Komite sekolah. Jadi kalian bisa belajar di rumah" Guru laki - laki itu keluar meninggalkan kelas 11 IPA 1.



"Asik boleh pulang" Ervan bersorak ria sambil menggaet tas ransel coklat nya.



"Seneng banget lo" Jimmy dan Arsen terkekeh melihat tingkah Ervan.



"Iya dong kan bisa tidur, hehe" Ervan tersenyum sumringah.



Yasmine dan Amel berjalan melewati koridor kelas mereka, "Amel" mendengar nama nya di panggil oleh seseorang, Amel spontan membalikan badan nya.



"Amel" Wanita paruh baya dan seorang pria yang berumur sama dengan wanita di sebelah nya itu berjalan mendekati Amel.



"Tante Tania, Om Bram" Amel menyalami tangan mereka.



"Mau rapat ya Om, Tan?" Amel menatap mereka berdua.



"Iya Mel." Tania tersenyum pada Amel.



"Ini siapa Mel? Kok Tante gak pernah lihat dia" Tania memandangi Yasmine.



"Saya Yasmine Tante, anak baru di sekolah ini" Yasmine menyalami tangan Tania.



"Yasmine, nama kamu bagus sayang. Kamu sekelas dengan Amel?" Tania merespon Yasmine denga baik.



"Iya Tante" Yasmine menganggukan pelan.


__ADS_1


"Berarti sekelas dengan Arsen dong?" Bram menerka - nerka.



"Iya om, Yasmine sekelas dengan Arsen Om" Yasmine tersrnyum tipis.



"Kok Arsen gak pernah cerita ya pah kalo ada anak baru di kelas nya, cantik lagi" Tanis sedikit kesal.



"Kaya gak tau Arsen aja ma" Bram menggidikan bahunya.



Arsen, Jimmy, dan Ervan berjalan keluar untuk pulang, ketika baru keluat pintu kelas nya, Arsen melihat kedua orang tua nya sedang berbicara dengan Yasmine dan Amel.



"Mama, Papa!" Pekikan suara Arsen berhasil membalikan pandangan Tania dan Bram.



"Ngapain Mama ngobrol sama mereka?!" Arsen menatap sinis pada Yasmine.



Yasmine dan Amel hanya menunduk takut karna tatapan tajam Arsen. Tania yang menyadari hal itu langsung memukul Arsen.



"Kamu sama perempuan kok judes sih Sen!" Tania menaik kan suara nya.



Arsen hanya acuh, "Mau rapat ya pah?" Arsen langusng mengalihkan pembicaraan nya.



"Iya Sen" Bram mengusap kasar bahu Arsen.



"Tante" Ervan memeluk Tania.



"Eh Ervan, Jimmy. Kalian udah lama banget gak ke rumah. Main lah nak" Tania tersenyum tulus pada mereka.



"Iya Tante, besok kita main" Jimmy tersenyum tipis.



"Kalau gitu, Kita pulang ya Om Tante" Amel menyalami tangan mereka.



"Hati - Hati ya Mel, Yas" Tania melambaikan tangan nya.



"Mama apaansih ma!" Ketus Arsen.



"Itu orang tua Arsen, Mel?" Yasmine menatap penasaran pada Amel.



"Iya Yas, mereka Om Bram sama Tante Tania. Mereka baik gak kaya anak nya si Arsen" Amel mecibirkan bibir nya.



"Gak boleh gitu Mel, gitu - gitu lo sahabat nya Arsen juga" Yasmine terkekeh.



"Gue rasa Arsen gak pernah anggap gue sebagai sahabat nya deh Yas" Suara Amel sedikit melemah, Yasmine hanya tertawa melihat perubahan wajah Amel.




~



"Lo mau bareng gue Yas?" Amel berdiri di sebelah motor matic nya.



"Gak usah Mel, gue biar hubungin Abang gue" Yasmine mengeuatrkan handpohone nya.



"Kalau gitu gue duluan ya Yas, See you" Amel pergi meninggalakan Yasmine di parkiran motor yang sudah sepi itu.



Yasmine mencoba menghubungi Miller, panggilan nya tidak di jawab oleh Miller. Yasmine terus mencoba menghubungi Miller berulang kali, sampai akhirnya Yasmine merasa lelah dan kesal. Ia duduk di kursi panjang dekat taman halaman sekolah, terdengar suara deru motor sport, ia kira itu suara motor Miller, ternyata suara motor itu milik Arsen.



Arsen menatap sekilas pada Yasmine, dan tetap melajukan motor nya. Kurang lebih sepuluh menit Yasmine menunggu, Arsen kembali lagi dengan membawa satu plastik putih berisi 6 botol air mineral.



Arsen turun dari motornya dan berlari ke lapangan basket, dan bermain basket dengan Jimmy dan Ervan.



"Oh jadi dia lagi main basket" gumam nya.




Bersambung...




Jangan lupa Like and Comment guys❤







__ADS_1


__ADS_2