
Miller melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Ia menaiki anak tangga dan langsung menuju ke kamar Yasmine. Ia mengetuk pintu kamar Yasmine, Ia memegang gagang pintu dan rupanya pintu itu tidak terkunci.
"Yasmine!" Miller memanggil adiknya dengan suara yang keras.
"Yasmine!" karena tidak ada jawaban dari panggilanya, Miller semakin menaikan suaranya.
"Iya bang" Yasmine keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Kamu pulang sama siapa tadi?!" Miller mulai menatap tajam pada adiknya, Yasmine yang melihat wajah Miller mengerutkan dahi.
"Sama temen bang" jawabnya sambil duduk di tepi ranjang kasurnya.
"Jangan mentang - mentang abang gak satu sekolah sama kamu, kamu seenaknya aja pergi sama siapa pun!".
"Kamu itu anak baru disini, dan ingat satu lagi abang kamu ini anak motor kalo sampai mereka tahu kamu adik abang kamu bisa celaka!" Miller tidak bisa menahan emosinya, Ia mengepalkan tangannya sampai buku - buku tangannya memutih.
Yasmine hanya menunduk, Ia sadar apa yang Ia lakukan adalah sebuah kesalahan dan apa yang di katakan Miller adalah hal yang benar.
"Asal kamu tahu, musuh abang di Garuda itu banyak! Musuh abang bukan cuma Petra!" Miller melepaskan pukulannya di meja belajar Yasmine, Yasmine langsung terkejut dengan kemarahan Miller kali ini.
Seseorang yang berdiri di depan pintu kamar Yasmine hanya diam dan mendengar Miller yang sedang memarahi adiknya itu, seseorang itu membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Yasmine.
"Miller" Haris mengelus pundak Miller yang mulai mengeras karena menahan emosi.
"Papa tahu kamu itu sayang sama adik kamu" Haris merangkul Yasmine untuk mendekat ke arahnya.
"Kalo Papa tahu kenapa Papa masih diam aja! Harusnya Papa bertindak tegas!" Miller ikut menatap tajam ke arah Haris.
Haris memejamkan matanya, " Yasmine kamu ingat apa kata abang kamu, musuh abang kamu itu banyak. Jadi kamu harus tahu gak semua orang itu baik".
"Iya Pa maafin Yasmine" Yasmine langsung memeluk Haris, "Maafin Yasmine juga bang" Yasmine memeluk Miller.
Miller melemah ketika di peluk oleh adiknya, "Iya maafin abang juga" Miller mengusap punggung Yasmine.
"Kalo gitu Miller permisi dulu Pa" Miller pamit undur diri dari hadapan Haris dan Yasmine.
~
Yasmine masuk ke dalam mobil bersama dengan Haris. Sepanjang perjalanan menuju sekolah Yasmine hanya diam dan hanya melihat ke arah luar mobil.
"Nanti biar adek di jemput sama Pak Hadi ya" Haris mengusap bahu Yasmine.
"Iya Pa".
Setelah sampai di sekolah Yasmine langsung menuju ke kelas. Di kelas sudah ada Arsen dan anggota Wolf yang lainnya.
Yasmine menatap sekilas ke arah Arsen yang sedang bersandar ke dinding. Pikirannya masih sangat kacau karena memikirkan omongan Miller kemarin.
"*Apa gue bisa jaga jarak sama Arsen?".
"Mustahil kayanya, gue udah terlanjur nyaman sama dia*".
"Eh Yas udah datang?" Ervan menoleh ke arah Yasmine yang sedang duduk.
"Oh ah iya Van" Yasmine gugup di hadapan mereka, mata Arsen tidak lepas dari Yasmine.
"Gugup Yas?" heran Ervan.
"Ah engga kok Van" elak Yasmine.
Ketika pelajaran di mulai pun Yasmine merasa sangat gusar, kemarin Arsen yang terlihat gusar sekarang dirinya lah yang terlihat gusar.
"Yasmine Rosalia?" panggil guru yang sedang duduk di meja guru. Arsen langsung menoleh ke arah Yasmine.
"Ah iya saya buk" Yasmine langsung berdiri dari duduknya, Amel yang ada di sebelahnya menatap aneh kepada Yasmine.
"Ada masalah? Kenapa tidak bisa diam?" guru itu memperhatikan Yasmine.
"Maaf buk" Yasmine menunduk untuk meminta maaf, Arsen menaikan sebelah alis matanya.
-
Di kantin pun masih sama Yasmine terlihat gusar di hadapan teman - temannya. Amel memperhatikan sikap Yasmine yang aneh sejak tadi.
"Lo kenapa sih Yas? Dari tadi kaya gugup gitu?" Amel menatap aneh pada Yasmine.
"Gapapa Mel" Yasmine berusaha tersenyum pada teman - temannya itu.
Arsen langsung menarik tangan Yasmine untuk mengikuti dirinya, mereka semua terlihat kaget dengan pemandangan itu.
__ADS_1
"Bos kita mau kemana tuh?" celetuk Alex.
"Ngedate" jawab Kevin santai.
"Tumben banget Arsen mau megang tangan cewe" Ervan kegum dengan tarikan tangan Arsen pada Yasmine.
"Arsen banyak berubah setelah kenal sama Yasmine, dia sekarang gak cuek sama cewe" jawab Jimmy sambil meminum es teh manisnya.
Arsen menarik tangan Yasmine ke arah belakang perpusatakaan. Mereke bersandar pada dinding belakang perpusatakaan itu.
"Kita ngapain kesini Sen?" Yasmine menatap heran pada Arsen.
"Diam!" Arsen langsung menarik Yasmine ke dalam pelukannya, Yasmine terkejut ketika Arsen menarik dirinya.
"Ar...".
"Diam sebentar" lirih Arsen sambil mengusap punggung Yasmine. Yasmine hanya mengikuti apa yang di perintahkan oleh Arsen.
"Mama gue bilang, kalo cewe lagi gelisah itu harus di peluk biar tenang".
Yasmine semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Arsen, "Kenapa Lo mau peluk gue?".
" Je bent een bijzondere vrouw" (Karena kamu adalah wanita spesial**) jawab Arsen dengan suara tenangnya.
Yasmine terkejut dengan jawaban Arsen "Waarom ikn" (Kenapa aku?).
" Ik weet het nietz" (Entahlah aku tak tahu) Arsen membelai rambut Yasmine.
Yasmine mulai melepaskan pelukannya dan tersenyum ke arah Arsen, "Bedankt Arsen" (Terima kasih Arsen).
"Jadi kenapa Lo dari tadi gusar terus?" Arsen menatap Yasmine.
"Gapapa kok Sen" Yasmine tersenyum ke arah Arsen sambil bersandar pada dinding perpustakaan.
"Serius?" Arsen mengerutkan dahinya
"Iya serius Arsen".
-
Ketika bel pulang sekolah berbunyi Yasmine dan kedua sahabatnya berjalan melewati koridor. Mereka bertemu dengan Luna and the gangs. Luna menatap sinis ke arah Yasmine untuk kali ini Luna tidak berbuat ulah pada Yasmine.
"Udah tobat kali" Sandra terkekeh.
Arsen sudah ada di parkiran motor bersama anggota Wolf yang lainnya. Arsen duduk di atas motor sportnya.
Arsen dan Yasmine bertatap muka satu sama lain, wajah Yasmine memerah bila mengingat kejadian tadi siang di belakang perpustakaan.
Arsen memalingkan wajahnya dari Yasmine, Kenan yang memperhatikan dua orang ini malah tertawa.
"Si Arsen sama Yasmine kenapa sih?" kekeh Kenan.
"Tau tuh" jawab Alex.
"Fall in love" Kevin terkekeh, jari tangannya Ia bentuk seperti hati dan di arahkan ke Arsen.
Arsen hanya diam tanpa menggubris candaan teman - temannya. Yasmine juga melakukan hal yang sama hanya diam tanpa menggubris.
"Gue duluan ya" Yasmine melambaikan tangannya pada mereka.
-
Sementara itu, Miller dan anggota Black Devils sedang berdiri di depan gerbang sekolah mereka.
"Nongkrong lah Bos udah lama nih gak ngumpul" seru David.
"Iya Mill kita udah lama gak ngumpul" Rey menatap ke arah Miller.
"Oke lah gue yang traktir" Miller memakai helm fullface nya.
Mereka mengendarai motor mereka dengan kebut - kebutan tapi tidak dengan Miller Ia hanya santai dalam perjalanannya. Akhirnya mereka sampai di sebuah cafe.
Miller melepaskan helm fullface nya dan mengacak - acak rambutnya. Semua pengunjung yang ada di cafe itu takjub dengan ketampanan Miller.
"Tumben di sini? Kenapa gak di tempat biasa?" Miller menatap ke arah David.
"Cafe baru Bos, masih promo jadi Bos gak perlu keluar uang banyak" David dan yang lainnya tertawa, Miller tersenyum miring di sudut bibirnya.
"Yaudah ayok masuk" Miller masuk terlebih dahulu.
__ADS_1
Merek duduk di tepat di depan panggung cafe itu. Miller memanggil pelayan dan memesan minuman. Setelah minuman yang di pesan sampai mereka saling bercerita dan bercanda satu sama lain.
Di atas panggung sekarang ini sudah ada perempuany yang duduk di depan stand microfon. Perempuan itu membawa sebuah gitar berwarna putih.
I've been letting you down, down
*G*irl i know i've been such a foool
Giving in to temptation
I should ve i played it cool
The situation got out of hand
I hope you understand
"Bos itu bukannya cewe yang Lo selamatin Bos?" pekik David ketika perempuan itu sedang bernyanyi. Miller yang sebelumnya sedang memainkam handphonya kini langsung terperangah pada perempuan itu, dia lah Diana.
It can happen to
Anyone us, Anyone you think of
Anyone can fall
Anyone can hurt someone they love
Heart will break
Cause i made stupid mistake (Stupid mistake).
Miller menatap takjub pada Diana yang tersenyum sambil memetik gitar. Menurutnya aura Diana sangat indah dan cantik kali ini. Semua mata tertuju pada Diana dan semua orang bertepuk tangan atas penampilan Diana.
"Cantik juga rupanya ya Bos" timpal anak buah Miller.
Setelah hampir 3 jam menunggu, Miller berjalan keluar dari cafe, Ia mengikuti Diana yang sedang mengambil sepedanya dari parkiran.
"Diana!" seru Miller.
Diana menoleh ke sumber suara yang memanggil namanya, "Miller?" dengan nada heran sekaligus senang Diana tersenyum ke arah Miller.
"Lo kerja disinin Na?".
"Hmm iya Mill gue Part time disini. Lo sendiri lagi nongkrong?" tanya Diana.
"Iya gue lagi nongkrong sama temen - temen gue".
"Kok gue gak lihat Lo ya" kekeh Diana.
"Lo terlalu menghayati lagu Lo sih" balas Miller sambil tersenyum ke Diana. Entah mengapa Miller banyak tersenyum bila di dekat Diana.
"Suara Lo bagus" puji Miller sambil mengalihkan wajahnya.
"Makasih Mill".
"Oh iya terus hubungan Lo sama Petra gimana?" Miller menatap serius.
"Gue udah putus sama dia Mill, dia langsung mutusin gue setelah Lo nganter gue balik" Diana berubah menjadi sosok yang sendu
"Lo bakal bahagia setelah ini Na, percaya sama gue" Miller berusaha menyemangati Diana. Diana tersenyum tulus pada Miller.
"Mau gue anter pulang?" Miller menatap Diana.
"Gue bawa sepeda Mill" Diana lagi - lagi terkekeh.
"Oh iya lupa, boleh minta nomor Hp Lo Na?" Miller menyodorkan handphonenya pada Diana, Diana langsung mengangguk dan memberikan nomor handhphonenya pada Miller.
"Makasih ya Na".
"Gue balik duluan ya Mill" Diana mengayuh sepedanya dan pergi jauh.
"Diana" lirih Miller.
"Bos ngapain Lo disitu?" teriak David. Miller langsung berjalan ke arah anak buahnya yang sedang menunggunya.
Bersambung😊
Jangan lupa vote, like and comment ya kak🌻
Author tunggu yaa❤
__ADS_1