
Yasmine masih berdiri di ruang kelas yang sedang hiruk pikuk itu. Semua murid membicarakan hal yang baru terjadi antara Sandra dan Mita.
Terlihat Arsen menatap tajam kepada murid - murid lainnya yang masih setia membicarakan hal itu. Arsen mengepalkan tangannya, buku - buku jarinya terlihat sudah memutih, Ia mendengus kesal.
"Dasar ceroboh! Kalian semua emang gak bisa di andelin!" pekik Arsen.
"Kalo ada yang berantem di pisahin di lerai bukannya jadi tontonan! Gue ketua kelas kalian, kalo ada apa - apa siapa yang mau tanggung jawab! dengus nya kesal.
"Udah Sen jangan marah terus ah" Ervan mengusap kasar pada bahu Arsen.
Yasmine hanya menatap takut pada Arsen, baru kali ini Ia melihat kemarahan Arsen yang begitu memuncak. Menurutnya hal ini wajar saja bagi Arsen untuk marah karna Ia selaku ketua kelas. Jika ada yang terluka memang siapa yang akan bertanggung jawab.
"Yas cari Sandra yuk gue takut dia kenapa - kenapa" ajak Amel.
"Hmm..Iya iya" Yasmine masih memandangi Arsen.
Di dalam ruang UKS terlihat Jimmy duduk di sebelah Sandra, Ia mengenggam lengan Sandra, kemudian Sandra melepaskan genggaman tangan Jimmy.
"Lepas Jim" Sandra menarik paksa lengannya dari Jimmy. Jimmy hanya menatap sekilas pada Sandra, Ia ingin melihat apakah tangan Sandra itu ada yang terluka.
"Gue gapapa" dengus Sandra kesal.
"Lepas Jim" Sandra berusaha melepaskan genggaman tangan Jimmy. Jimmy hanya menatapnya sekilas.
"Jim Lepas" untuk kesekian kalinya Sandra memberontak.
"Diam San, biarin gue lihat ada luka apa sama diri Lo" Jimmy menatap lembut pada Sandra.
Dilihatnya tak ada luka sama sekali, berarti benar ucapan Sandra jika dirinya tidak terluka. Jimmy merapikan rambut Sandra yang berantakan, Ia mengambil anak rambut Sandra dan menyelipkannya di telinga Sandra.
"Hiks...Hiks...Hiks" Sandra menumpahkan tangisannya. Ia sudah tidak bisa menahan seluruh amarah dan emosinya.
"Nangis aja San lepasin semua beban kamu" Jimmy mengelus kepala Sandra.
"Ada yang sakit? Biar aku obatin" tawar Jimmy.
Sandra menunduk kan wajahnya, bibirnya bergetar, mata nya masih menjatuhkan air mata yang Ia tahan sejak tadi.
"Mana yang sakit San?" Jimmy menatap wajah Sandra yang tertunduk.
Sandra mendongakan wajahnya tepat di hadapan Jimmy, Ia menghapus air mata yang sudah membekas di wajahnya.
"Lo lihat? Fisik gue gak ada yang luka sama sekali" suara Sandra begitu berat.
" Tapi hati sama perasaan gue yang luka. Lo gak bakal bisa lihat dan rasaiin Jim" jelas Sandra sambil mengepalkan tangannya.
"Sandra..." lirih Jimmy sambil memegang bahu Sandra.
"Gue ingetin sama Lo! Jangan pernah deketin gue lagi! Lo cuma bisa ngasih luka ke gue!" teriak Sandra sambil menangis.
Yasmine dan Amel berdiri di depan pintu UKS yang tertutup, mereka mendengar percakapan Jimmy dan Sandra. Sesaat Yasmine termenung, wajar saja jika Sandra bersikap seperti itu pada Jimmy ternyata Sandra sudah mendapat luka yang berat dari Jimmy.
"Sekuat apa pun kamu nyuruh aku pergi, aku gak akan ninggalin kamu" Jimmy beranjak dari kasur itu dan menuju pintu luar. Ia sedikit terkejut karna Yasmine dan Amel berdiri di depan pintu UKS.
"Masuk aja gue titip Sandra sama kalian ya" Jimmy hanya tersenyum kecut pada mereka.
Yasmine dan Amel masuk ke dalam ruang UKS itu, terlihat Sandra sedang melamun. Amel mengusap bahu Sandra, " Sandra Lo baik - baik aja?" tanya Amel.
Sandra mengangguk pelan, "Kalian bisa tinggalin gue sendiri gak? Gue mau sendiri dulu?" pinta Sandra.
"Hmm gitu..Yaudah gapapa San kalo ada apa - apa panggil kita aja ya" Yasmine menyelimuti tubuh Sandra.
"Iya".
Yasmine dan Amel masuk ke dalam kelas, terlihat Arsen sedang duduk sambil membaca buku, Jimmy sedang melamun dan Ervan sedang mendengarkan earphone nya.
"Sandra mana?" Ervan terlihat bingung.
"Sandra lagi istirahat di UKS Van" jawab Yasmine.
"Biarin aja Sandra butuh waktu untuk sendiri" sambung Arsen.
"Makasih ya Yas Mel" Jimmy tersenyum tulus pada mereka.
"Sama - sama Jim" jawab mereka serempak.
__ADS_1
Bel masuk berbunyi, Bu Rika berjalan ke arah kelas 11 IPA 1 sambil membawa buku pelajaran.
"Selamat pagi semua. Silahkan buka buku panduan kalian halam 112" perintah Bu Rika. Mereka semua membuka buku panduan yang di perintahkan Bu Rika.
Setelah selesai belajar satu jam, bel istirahat berbunyi, "Kring...Kring...Kring".
Yasmine menoleh ke arah Amel, " Nanti ke UKS dulu ya Mel, kita bawaiin makanan buat Sandra" ajak Yasmine.
"Iya Yas, yuk kantin dulu dari pada ntar rame" Amel beranjak dari duduknya.
Sedangkan di Kantin sudah ada Arsen dan lainnya di tempat biasa. Mereka sedang makan sambil bercerita satu sama lain.
"Cewe lo gimana Jim?" Alex menatap Jimmy.
"Baik - baik aja cuma dia sempet nangis tadi" tutur Jimmy.
Kevin menoleh ke arah Jimmy menatap tak percaya, " Serius dia nangis? Kok bisa?" tanya Kevin.
"Sandra juga manusia kali Vin, dia bisa nangis juga walau kaya gitu" Arsen menatap Kevin.
"Iya sih... tapi Sandra kan bukan cewe lemah" balas Kevin.
"Dia masih marah sama kejadian itu" Jimmy menjawab dengan suara lesu.
"Ya semua butuh waktu Jim" Kenan mengambil sekaleng soft drink .
"Terus si Mita gimana tadi Ken?" Arsen menatap Mita and the gengs yang berada di sebelah meja makannya.
Kenan melihat Mita, " Dia nangis juga tadi, gue berusaha tenangin dia dan dia bilang kalo dia beneran sayang sama Jimmy" jawab Kenan santai.
"Emang ya Luna sama temen - temennya itu gak ada yang bener" dengus Ervan.
"Biarin aja" Arsen memejamkan matanya.
Yasmine dan Amel berjalan di depan meja Arsen dan teman - temannya sambil membawa sebuah nampan yang berisi bubur dan teh hangat.
"Mau kemana Lo?" suara dingin Arsen menghentikan langkah kaki Yasmine.
"Mau ke UKS anterin makanan untuk Sandra" Yasmine hanya menunduk ketika menjawab pertanyaan Arsen.
"Hmmm...Iya Sen maaf" lirih Yasmine.
"Apaansih Sen! Udah lah kita mau ke UKS" Amel melotot ke arah Arsen, Arsen menaik kan sebelah alisnya.
'Tolong ya Yas Mel" Jimmy memasang wajah kusutnya.
"Iya Jim" Yasmine dan Amel pergi meninggalkan mereka.
"Tumben Lo mau banyak ngomong sama cewe.Lo suka ya sama tuh anak baru?" Kenan menatap lucu pada Arsen.
"Gak lah" Arsen terlihat kikuk di hadapan teman - temannya.
"Akhirnya ketua Wolf gak jomblo lagi" kekeh Alex.
"Enggak, gak mungkin gue suka sama Yasmine" elak Arsen.
Mereka semua hanya tertawa, tapi tidak bagi Luna yang mendengar obrolan mereka. Luna terlihat kesal mendengar nama Yasmine, "Tunggu aja pembalasan gue!" batin Luna.
Sandra masih menutupi wajahnya dengan kedua lengannya. Ia merasa pusing dengan kejadian tadi pagi. Mata nya terasa berkunang - kunang.
"Assalamualaikum San. Gue masuk ya" Yasmine masih berdiri di depan pintu UKS yang setengah tertutup.
"Walaikumsalam masuk aja Yas" terdengar suara Sandra begitu berat. Yasmine dan Amel berjalan ke arah Sandra. Yasmine meletak kan nampan berisi makanan itu di sebuah meja di sebeleah Sandra.
"Gue bawaiin bubur buat Lo, Lomakan ya" Yasmine tersenyum pada Sandra, Sandra juga membalas senyuman Yasmine.
"Makasih ya kalian udah repot anterin makanan buat gue" ucap Sandra.
"Kita gak repot kok San di makan ya buburnya" Amel mengenggam erat tangan Sandra yang mulai melemah.
"Apa mau gue suapin?" Amel menatap pada Sandra.
Sandra hanya terkekeh melihat ekspresi Amel, "Gak usah Mel gue bisa sendiri".
"Kalian semua pasti denger obrolan gue sama Jimmy kan?" tanya Sandra sambil memakan bubur.
__ADS_1
"Hmm..Iya San maaf sebelumnya" Yasmine merasa bersalah telah lancang mendengar obrolan antara Jimmy dan Sandra.
"Gapapa lagian biar Lo tau masalah gue sama Jimmy itu apa tanpa harus tanya ke Amel" Sandra tersenyum simpul.
"Hmm Iya San lanjutin makan Lo dulu" Yasmine berusaha mengembalikan suasana.
Setelah selesai menemani Sandra di UKS, mereka kembali ke kelas. Sandra juga sudah merasa agak baikan dan memutuskan untuk mengikuti proses belajar. Mereka belajar dengan Pak Arif dengan mata pelajaran Matematik dan di akhiri dengan pelajaran Fisika oleh Bu Nia.
"Ke depan gerbang bareng ya Yas" Amel memasuk kan buku ke dalam tas nya. Ajakan Amel hanya di angguki oleh Yasmine.
"Bareng ya" Sandra berdiri di samping Amel.
Jimmy masih terlihat lesu, Arsen menepuk pelan bahu Jimmy, "Lo dari tadi diam aja? Ada masalah? Arsen menatap bingung pada sahabatnya itu.
"Gue gapapa kok yuk balik" Jimmy berdiri dan mengambil tas ransel nya, sesekali Ia menatap Sandra.
"Jangan karna cewe lo diam kaya orang mau mati!" ketus Arsen. Ervan terkekeh mendengar ucapan Arsen.
Yasmine berjalan bersama kedua temannya itu, sesekali mereka bercanda ria. Ketika hendak berjalan ke arah depan mereka di hadang oleh Luna and the gengs.
Luna menatap sini pada Yasmine dan teman - temannya. Begitu juga kedua antek - antek Luna, Mita dan Hani.
"Udah berani lo ya ganggu anak buah gue" Luna menatap sinis pada Yasmine.
Yasmine mengerutkan dahi nya Ia bingung mendengar penuturan dari Luna, "Maksud Lo apa? Yasmine masih mencerna ucapan Luna.
"Lihat temen lo yang urakan itu! Berani - berani nya dia nampar sahabat gue!" ketus Luna. Mendengar kata "Urakan" Sandra naik pitam.
"Urakan siapa yang lo bilang urakan haa?" Amel berteriak di hadapan Luna.
Yasmine dan Sandra menoleh ke arah Amel, mereka kaget melihat Amel yang berteriak melawan Luna.
"Berisik banget sih Lo" Hani menuding ke arah Amel.
"Diam Lo! Lo mau gue jambak kaya dulu?!" pekik Amel, Hani terlihat ketakutan karna ancaman Amel.
Yasmine dan Sandra hanya terkekeh melihat reaksi Hani yang ketakutan. Amel menaik kan kedua alisnya.
"Berani Lo ya ketawa di depan gue" sungut Luna. Luna berjalan ke arah Yasmine dan mendorong tubuh Yasmine dengan kuat.
"Hap..." Sebuah tangan kekar menahan tubuh Yasmine agar tidak jatuh. Tangan kanan itu menahan pinggang Yasmine. Dan sebelah tangan itu menahan bahu Yasmine. Sesaat Yasmine terdiam, Ia membalikan tubunya ke belakang dan orang yang menyelamatkannya lagi - lagi adalah Arsen.
Kedua manik mata Yasmine menatap wajah tampan Arsen, Arsen masih setia menahan tubuh Yasmine. Luna semakin geram melihat pemandangan itu.
"Hmm Arsen.." Yasmine kembali berdiri sempurna.
"Lo gapapa?" santai Arsen.
"Gapapa" padahal detak jantung Yasmine bedegup kencang tak karuan "*Jantung gue kenapa?" batin Yasmine.
"Sial lagi - lagi jantung gue berulah karna Yasmine!" pekik Arsen dalam hati*.
Ervan dan Amel hanya tersenyum melihat kelakuan Sahabatnya. Ervan berjalan ke arah depan Luna.
"Lo lagi Lo lagi. Gak ada capeknya ya Lo bertiga" Ervan menatap sinis pada Luna.
"Bukan urusan Lo" dengus Luna.
"Kalo Lo bukan cewe udah abis lo di tangan gue" Ervan menatap sinis pada mereka.
Amel dan Sandea hanya tertawa melihat Luna and the gengs. Arsen menatap sinis pada Luna.
"Berhenti ganggu Yasmine!" ketus Arsen.
"Pergi Lo dari hadapan gue!" Arsen mengepalkan tangannya.
Luna berdecak kesal pada Arsen dan memilih pergi sebelum Arsen bertindak kasar.
"Gue bangga sama Lo Mel. Lo udah berani lawan Luna" Ervan mencubit gemas pipi Amel. Seketika wajah Amel berubah merah.
Arsen dan lainnya pergi meninggalkan mereka yang masih berdiri di koridor. Ketiga perempuan itu menatap punggung kepergian mereka dari belakang.
Bersambung🌻
Don't forget to Vote, Like and Comment🌻
__ADS_1
Author tunggu ya❤