
Hari minggu ini Arsen hanya berdiam diri di kamarnya sejak tadi pagi. Ia duduk di sofa dekat jendela kaca yang menampakan halaman taman rumahnya dari atas.
Ia berjalan ke arah luar jendela kacanya, Ia menyandarkan dirinya di balkon kamarnya sambil menyesep minum yang Ia pegang sejak tadi.
Arsen melihat langit biru yang terbentang di atasnya, Ia melawan sinar matahari yang menyengat kulit putihnya.
"Tok...Tok" sebuah ketukan pintu terdengar dari luar pintu kamar Arsen, Ia langsung berjalan untuk membuka pintu kamarnya.
"Arsen" Bram dan Tania berdiri dihadapan Arsen sambil tersenyum.
"Masuk Pa Ma" Arsen meletakan kaleng minumannya di meja belajar miliknya.
Bram dan Tania duduk di tepi ranjang kasur Arsen, Tania melirik ke arah Bram kemudian Tania memalingkan wajahnya ke arah Arsen. Arsen duduk di antara Bram dan Tania.
"Gimana sekolah kamu Sen? Lancar?" Tania mengusap punggung Arsen dengan lembut.
"Lancar Ma" Arsen tersenyum ke arah Tania.
"Tumben kamu gak pergi keluar Sen? Biasanya kamu pergi sama temen - temen kamu?" Bram melirik ke arah Arsen.
"Lagi mau break aja Pa dirumah" Arsen tersenyum tipis di hadapan Bram.
"Ma, Pa, Arsen mau tanya?" Arsen menatap kedua orangtuanya secara bergantian.
"Tanya apa nak?" Tania kembali mengelus punggung kokoh Arsen.
Arsen memejamkan matanya, Ia menarik nafasnya begitu dalam dan mengehembuskannya secara kasar, Tania yang melihat kelakuan Arsen yang agak aneh hanya menaikan alis matanya sebelah sedangkan Bram tetap santai setelah melihat reaksi Arsen.
"Apa itu cinta?".
Tania membelalakan matanya ketika mendengar pertanyaan dari Arsen. Ia sangat terkejut ketika anak satu - satunya itu menanyakan hal yang tidak terlalu penting baginya. Sedangkan Bram tersenyum puas mendengar pertanyaan dari Arsen.
"Kamu tanya apa itu cinta? Kenapa kamu tanya hal begitu?" Tania menatap heran pada Arsen yang menatap lurus dengan tatapan datar.
"Kamu mau tahu apa itu cinta?" Bram mengusap kasar bahu Arsen.
"Cinta itu adalah bentuk baiknya dari sisi manusia yang di isi oleh Ego dan Nafsu" Bram menatap ke arah Arsen. Arsen bingung dengan jawaban Bram.
"Ego? Nafsu?" suara Arsen terdengar sangat bingung.
"Ego adalah ketika kamu marah saat orang yang kamu cinta tersakiti oleh kamu, pergi bersama orang lain, itu yang di sebut Ego" Bram beranjak dari duduknya dan duduk di sebelah Tania. Bram langsung merangkul bahu Tania, Tania mendelik kaget dengan tangan Bram.
"Nafsu itu adalah kami hahaha" Bram tertawa keras sampai memejamkan matanya, Tania memukul pundak Bram.
"Aduh aduh sakit Ma" kekeh Bram.
Arsen menatap bingung serta lucu kepada kedua orangtuanya itu. Tania membelai rambut Arsen.
"Kalau orang yang sedang jatuh cinta adalah ketika dua orang insan memiliki rasa yang sama pada orang itu maka itulah cinta" jelas Tania.
"Tapi tidak semua orang yang jatuh cinta itu akan menyatakan perasaanya dengan cepat. Ada yang memang hanya diam saja tapi gerakannya selalu tertuju pada orang yang kita cinta" Tania memeluk Arsen, Arsen memeluk erat Tania.
"Kamu tanya - tanya cinta, kamu lagi jatuh cinta?" Bram menoleh ke arah Arsen.
"Gak tahu Pa" Arsen mengacak rambutnya dengan kasar.
"Kalau kamu memang benar - benar jatuh cinta dengan seseorang kamu harus berusaha untuk dapatin dia" Bram duduk di hadapan Arsen.
"Gini ya Sen, cinta itu buta istilah itu memang benar - benar ada. Buktinya Papa mau sama Mama kamu yang galak kaya gini" Tania mendelik tajam ke arah Bram, Bram hanya terkekeh.
"Tidak peduli wanita yang kamu sukai itu adalah musuh kamu atau bukan wanita yang baik yang namanya cinta ya cinta" jelas Bram.
"Remember, no matter how" Bram memberikan penekan pada kalimat itu.
Arsen menatap wajah Bram yang serius, Ia benar - benar kagum dengan penjelas yang di berikan Papanya. Ia tidak menyangka jika Papanya lah yang akan menjelaskan banyak hal tentang cinta.
"Kamu fokus sekolah dulu, masalah pacar gampang. Kamu ganteng nak jadi gak susah" Tania berdiri dari duduknya dan menarik tangan Bram untuk keluar dari kamar Arsen.
Arsen merebahkan dirinya di atas kasur big size nya itu. Ia merogoh saku celana levisnya dan mengambil handphonenya, terlihat Ia sedang mengetik sesuatu di layar handphonenya.
Arsen Atmanegara
"Yasmine".
Yasmine yang sedang belajar di meja belajarnya terkejut mendengar suara notifikasi dari handphonenya, Ia menaikan sebelah alisnya ketika mendapat pesan dari Arsen.
"Arsen..." lirihnya.
Yasmine Rosalia
"Iya Sen ada apa?"
Arsen langsung membuka handphonenya kala mendengar sebuah notifikasi pesan masuk ke handphonenya.
Arsen Atmanegara
"Lo lagi suka sama seseorang gak?".
Yasmine mengerutkan dahinya setelah melihat pesan dari Arsen, Ia menatap aneh pada layar handphonenya.
Yasmine Rosalia
"Hmmm... ada sih"
__ADS_1
Arsen mengerutkan dahinya setelah membaca pesan dari Yasmine.
Arsen Atmanegara
"Siapa?!"
Yasmine Rosalia
"Ya seseorang"
Arsen Atmanegara
"Dia tahu kalo Lo suka sama dia?"
Yasmine Rosalia
"Kayanya sih gak tahu"
Arsen Atamanegara
"Oh gitu, udah dulu ya gue mau tidur"
Arsen memejamkan matany dengan lengan kekarnya, Ia masih memikirkan jawaban Yasmine yang menganggu pikiran Arsen.
"*Ternyata dia lagi suka sama seseorang".
"Hebat juga cowo yang buat Yasmine suka sama dia"
"Kenapa gue kesel ya denger kalo dia lagi suka sama orang lain*".
~
Yasmine berangkat lebih awal, Ia sudah sampai di sekolah pukul tujuh pagi. Ia menyadarkan dirinya di sebuah kursi belajar.
Dari arah luar kelas Arsen dan teman - temannya masuk ke dalam kelas. Arsen melirik ke arah Yasmine untuk sesaat, Yasmine pun melakukan hal yang sama sampai mata mereka berdua beradu satu sama lain.
"Arsen" Jimmy menepuk bahu Arsen, Ia terkejut dengan tepukan tangan dari Jimmy.
"Lo ngapain diam aja?" Jimmy menatap sekilas ke araha Yasmine, sejak tadi Jimmy memperhatikan Arsen yang menatap wajah Yasmine.
"Gapapa" jawab Arsen sambil keluar dari kelas. Yasmine hanya membaca bukunya dan pura - pura tidak mendengar oborolan Jimmy dan Arsen.
"Arsen kenapa?" Ervan menatap heran pada Jimmy.
"Gak tahu" Jimmy mengangkat bahunya.
"Kayanya Bos kita ada masalah" Alex duduk di kursi Arsen.
"Terus kenapa?" tanya Alex sambil menoleh ke arah Kevin yang sekarang sedang sisiran di depan sebuah cermin.
"Fall in love" Kevin menoleh ke arah teman - temannya.
"Bener yang di bilang Kevin, Arsen lagi jatuh cinta sama seseorang" sambung Kenan.
"Seseorang?" pekik Jimmy.
"Ya iyalah seseorang, ya kali cinta sama dua orang sekaligus" kekeh Ervan.
Dari luar kelas Amel dan Sandra masuk ke dalam kelas, mata Amel melirik sedikit ke arah Ervan sedangkan Sandra hanya acuh tanpa peduli dengan tatapan Jimmy.
"Sama hal nya Lo suka sama Amel" Kenan melirik ke arah Ervan dan Amel.
"Cinta Lo ke Sandra" Kenan tersenyum ke arah Jimmy dan Sandra.
"Ken Lo bikin malu aja sih" Ervan mendorong tubuh Kenan. Sandra yang merasa tersebut namanya hanya menatap sinis pada mereka.
"Salah ngomong Lo Ken" kekeh Alex.
"Bos lagi suka sama siapa?" Alex mengerutkan dahinya.
"Yasmine" jawab Jimmy, Ervan dan Kenan serempak.
Yasmine mendelikan matanya kala namanya di panggil oleh mereka, "Gue kenapa?" dengan suara ragu - ragu.
"Gapapa Yas" elak Ervan.
"Bisa jadi sih Bos kan lagi deket sama dia" tambah Kevin.
"Gue sih yakin banget kalo Arsen emang beneran suka sama Yasmine" Jimmy duduk di sebelah kursi Arsen.
"Memang cuma Yasmine yang bisa buat Arsen banyak bicara sama cewe" balas Alex.
Yasmine sesekali tersenyum mendengar obrolan para lelaki itu. Sandra dan Amel juga ikut tersenyum kala mendengar nama Yasmine dihubungkan dengan Arsen.
-
Setelah pulang sekolah Yasmine berjalan menyusuri koridor dengan sahabatnya, "Dari jam pertama Arsen sama yang lain kok gak ada di kelas ya?" Yasmine menoleh ke arah Amel dan Sandra.
"Tuh di sana" Amel menunjuk ke arah lapangan basket dimaba disana sudah ada Arsen dan yang laiinya.
"Kesana aja Yas biar lebih jelas" Sandra menarik tangan Yasmine dan Sandra untuk menuju lapangan.
Terlihar Arsen, Jimmy dan Ervan sedang latihan basket dengan teman - teman lainnya. Di sisi kanan lapangan berdiri seorang pelatih dan seorang wasit.
__ADS_1
Yasmine berdiri di sisi kiri lapangan bakset dan duduk di sebuah kursi penonton.
"Eh Yasmine" Kenan menoleh ke arah Yasmine.
"Kenan" Yasmine tersenyum.
"Belum pulang?" Kenan menatap ke arah Yasmine dan lainnya.
Yasmine menggelengkan kepalanya, "Lo sendiri kenapa masih disini? Nunggu Arsen?".
"Iya Yas gue sama yang lain lagi nunggu Arsen latihan basket" jelas Kenan.
Yasmine masih fokus memperhatikan Arsen yang memainkan si kulit bundar. Arsen menggelengkan kepalannya untuk membersihkan keringat yang ada di wajahnya. Yasmine menatap takjub dan kagum pada ketampanan Arsen.
Kenan yang melihat Yasmine pun tersenyum, "Ganteng ya Yas?".
"Hehehe iya Ken ganteng" Yasmine meringis.
"Kok gue baru lihat Arsen latihan basket ya Ken?" Yasmine menoleh ke hadapan Kenan.
"Besok ada petandingan basket Yas. Sebenarnya ini bukan latihan yang pertama, biasanya mereka latihan di tempat yang lain karena ini udah hari terakhir mereka latihan di sini" jelas Kenan.
"Kok Lo gak ikutan basket Ken?".
"Gue cuma bisa di akademik Yas bukan kaya Arsen.Arsen Anak motor tapi bisa Akademik dan Non Akademik".
"Tetep semangat Ken" Yasmine menggerakan lengannya untuk menyemangati Kenan.
"Kita gak di semangatin Yas?" Alex menoleh ke arah Yasmine.
"Semangat" Yasmine tersenyum ke arah Alez dan Kevin.
"San, coba Lo buka hati Lo lagi buat Jimmy" Kenan menoleh ke arah Sandra.
"Gak mau" ketus Sandra.
Kenan menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Jangan sampai Lo nyesel San dengan keputusan Lo"
Sandra mengerutkan dahinya ketika mendengar jawaban Kenan.
Setelah selesai latihan, Arsen dan yang lainnya istirahat di tepi lapangan. Arsen terkejut dengan adanya Yasmine di sini.
"Belum balik?" Arsen menatap heran.
"Belum Sen".
Arsen mengambil sebotol air minum dan meminum setengahnya. Setengahnya lagi Ia gunakan untuk mengguyur rambut dan wajahnya yang basah karena keringat. Ia hendak mengeringkannya dengan seragam sekolahnya namun ditahan oleh Yasmine.
"Jangan pakai seragam nanti kotor, pakai ini" Yasmine menyerahkan sapu tangan berwarna navy pada Arsen.
Arsen terdiam dengan tindakan Yasmine, "Sini biar gue yang lap" Yasmine langsung mengelap wajah tampan eropa Arsen.
Sesaat mata mereka berdua beradu satu sama lain. Arsen meneliti dengan inti setiap sudut wajah Yasmine.
Kenan dan lainnya tersenyum melihat pemandangan itu, "Mau bilang sayang tapi bukan pacar" suara itu adalah nyanyian dari Alex dan Kevin.
"Bilang tidak ya, Bilang tidak ya" suara itu sambungan dari mereka semua.
Arsen dan Yasmine tersadar dari lamunan mereka, Arsen menatap tajam pada mereka yang sedang duduk di sana.
"Maaf Bos" Alex dan Kevin tertawa.
"Nunduk sedikit Sen, gua gak bisa jangkau" Yasmine menjijitkan kakinya. Arsen langsung menurunkan kepalanya dan menyamai tinggi Yasmine.
"Udah Sen" Yasmine memeras sapu tangannya yang basah.
"Gue cuci" Arsen menadahkan tangannya.
"Gue cuma minjemin, bukan buat di bawa pulang" Yasmine tersenyum pada Arsen. Sesaat Arsen terdiam, rasanya Ia pernah mendengar kalimat itu. Sampai pada akhirnya Ia menoleh ke arah Yasmine dan tersenyum.
"Itu kalimat yang Lo bilang waktu Lo minjemin jaket Lo ke gue" kekeh Yasmine.
"Thank's ya Yas".
"Besok datang ya ke pertandingan basket gue" Arsen menatap wajah Yasmine.
"Besok Lo pergi sama yang mereka" Arsen menunjuk Kenan dan lainnya.
"Gus usahaiin datang" Yasmine tersenyum.
"Lo datang juga ya Mel" ajak Ervan.
"Hmmm" Amel menatap datar pada Ervan.
"Datang ya San" Jimmy menatap sendu wajah Sandra.
"Gak janji" ketus Sandra.
Bersambung😊
Jangan lupa vote, like dan comment ya kak🌻
Author tunggu yaa❤
__ADS_1