
"Kini Susilo tengah berjuang dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai ke tempat yang diperintahkan oleh lelaki tua misterius itu. Dengan tanpa membawa perbekalan apapun, Susilo nekad pergi demi untuk mewujudkan niatnya yang ingin menjadi orang kaya raya itu. Jalanan sempit, berbatu, dan juga banyak semak berduri yang mengiris tubuhnya itu tidak membuat sedikitpun niatnya itu berubah, bahkan lapar dan dahaga sekalipun tidak ia hiraukan. Hingga tak terasa perjalanan nya pun kini sedikit lebih lambat, itu karena kini ia telah benar-benar kelelahan, perlahan namun pasti, selangkah demi selangkah ia tetap melanjutkan perjalanan, hanya sesekali saja Susilo berhenti kemudian sedikit berjongkok memegangi kedua lututnya itu untuk sekedar mengambil nafas.
__ADS_1
" hari pun kini telah berganti, sinar matahari kini telah menghilang berganti dengan gelap yang mulai melingkupi alam. Susilo yang memang tidak punya persiapan apapun harus berjalan agak terseok-seok terkena rerumputan liar bahkan sesekali ia terjatuh akibat kakinya tak sengaja tersandung batu atau pun akar dari pohon yang melintang, hingga akhirnya, kini Susilo sudah berada di bawah pintu masuk menuju ke hutan Gunung Merangin. Dia terlihat sedikit tertegun, kala matanya ia arahkan ke sekeliling tempat tersebut, yang walaupun ia tidak menggunakan penerangan sama sekali, namun ia masih bisa melihat kengerian suasana di dalam hutan gunung merangin. Seketika itu juga bulu kuduknya langsung meremang , jantungnya berdetak kencang, ketika sesosok bayangan putih melayang-layang dan bertengger dari satu dahan pohon ke dahan pohon lainya, Dengan suara tawa nya yang melengking keras membuat Susilo semakin dilanda perasaan takut yang luar biasa. Hiiikkkkk...hikkkkk..hikkkkk " terdengar tawa cekikan dari mahluk tersebut yang tak lain adalah sesosok kuntilanak. " "Haaah..apa itu? mahluk apa itu? gumam Susilo dalam hatinya. " pokoknya aku harus tetap melanjutkan perjalanan ini, walaupun nyawa taruhannya, ucap Susilo seraya segera berjalan tanpa menghiraukan lagi gangguan-gangguan dari para mahluk halus penghuni hutan merangin tersebut.
Hutan Merangin memang terkenal akan ke angkerannya, jarang sekali di jamah oleh manusia, karena banyak rumor atau mitos yang mengatakan bahwa penunggu hutan tersebut sering meminta tumbal nyawa manusia, itulah kenapa jarang sekali orang yang mau menginjakkan kakinya ke tempat tersebut, kalau bukan karna ada niatan tertentu bagi mereka, terlebih karena tersebut sering bermunculan mahluk-mahluk penghuni hutan yang wujudnya sangat menyeramkan dan sering mengganggu siapapun yang memasuki kawasan hutan gunung merangin. Ditambah dengan Suasananya yang gelap sekalipun pada waktu siang hari, menambah kesan mistis pada hutan tersebut. Tentu saja hanya Susilo lah yang dengan sedikit keberaniannya itu kini tengah berjalan memasuki hutan yang rimbun dan gelap itu hanya seorang diri.Selama perjalanan, Susilo banyak sekali mendapat gangguan, bahkan sesekali ia pun terhenti akibat ulah mahluk yang datang untuk mengganggunya itu. " Sialan..asik mengganggu saja kalian, kalian fikir dengan menggangguku, aku akan mundur? cuiihh, itu tidak akan pernah terjadi" ucap Susilo berteriak kesal seraya sesekali ia meludahkan liurnya itu ke tanah. Setelah sekian lama ia berjalan masuk kedalam hutan, akhirnya dia menemukan sebuah lubang gua dekat sebuah tebing, karena kebetulan pada waktu itu tiba-tiba matanya seolah bisa melihat dalam gelap, sehingga iapun segera menuju tebing tempat gua itu berada. Ia menapaki jalanan terjal dengan sangat hati-hati, karena salah sedikit saja, ia akan langsung terjatuh kedalam jurang yang sangat dalam tersebut dan jangan hatarap bisa selamat. Setelah lama berusaha dengan sekuat tenaga, akhirnya Susilo pun kini telah sampai di depan mulut gua yang terlihat gelap dan menyeramkan itu. "Akhirnya sampai juga aku di sini" ujar Susilo seraya memberanikan diri untuk berjalan masuk kedalam gua tersebut. Setelah ia memasuki mulut gua, terdengar banyak sekali suara dari hewan-hewan malam seperti kelelawar seolah menyambut kedatangan Susilo. Dengan perasaan takut dan juga sambaran kelelawar yang sesekali mengenai tubuhnya, Susilo terus berjalan semakin masuk kedalam gua yang sangat gelap tersebut, sesekali ia pun terpeleset akibat jalanan yang licin karena terkena tetesan air dari langit-langit gua tersebut. Aduhhh,,, terdengar suara mengaduh dari mulut Susilo, ketika ia tak sengaja terjatuh dengan begitu kerasnya ke lantai gua tersebut. Sial, sakit kali pinggangku..aduhhhhh" gerutu Susilo sembari tangannya terlihat memijit mijit bagian tubuhnya yang sakit. Susilo gak mau membuang buang waktu, segera iapun bangkit kemudian dengan tertatih ia melanjutkan lagi perjalanan, hingga akhirnya ia telah sampai di dekat sebuah batu besar dengan ruangan yang cukup lapang dan juga ada suara gemericik air yang menandakan di tempat ini ia akan mulai pertapaanya tersebut. Nah disini sepertinya cocok untuk aku segera melakukan pertapaanku." ujar Susilo seraya menghampiri batu besar di hadapannya itu.
__ADS_1
Setelah sekian lama ia bertapa, tiba-tiba saja ia di kejutkan dengan suara seorang perempuan yang memanggil namanya " Susilo...Susilo..bukalah matamu, aku sudah datang untuk memenuhi panggilanmu" ucap suara perempuan itu menyuruh Susilo untuk membukakan matanya. " Namun Susilo merasa bingung, takutnya ketika ia membuka mata, itu bukanlah sosok yang sedang ia tunggu, melainkan hantu atau para siluman yang mau mencoba menggagalkan ritual pertapaanya tersebut. "Sudahi ritualmu Susilo, bukalah matamu, aku adalah Nyai Ratu Sekar Arum yang akan memenuhi keinginanmu itu. Terdengar suara perempuan itu kembali menyuruh Susilo untuk segera menghentikan ritualnya tersebut. Setelah mendengar bahwa itu adalah Nyai Ratu Sekar Arum yang telah sangat ia tunggu-tunggu, akhirnya Susilo pun kini mulai membuka matanya, hingga ia baru tersadar bahwa sosok wanita yang kini telah berdiri di hadapannya itu sungguh luar biasa cantiknya dengan balutan perhiasan yang terbuat dari emas di seluruh tubuhnya, sehingga Susilo hanya bisa terdiam dengan mata terbelalak, saking terpesona nya ia kepada Nyai Ratu Sekar Arum itu. Herannya lagi, ruangan tempat Susilo melakukan ritual pertapaanya tersebut, kini seketika menjadi terang, padahal sewaktu bertapa, tempat ini hanyalah sebuah gua yang gelap.."
...****************...
__ADS_1
...Bersambung...