
Setelah menempuh perjalanan yang begitu panjang akhirnya juragan Susilo dan juga Karta berhasil sampai tepat dimana dahulu mbah Jambrong pernah berkata bahwa apabila ingin menemuinya cukup datang ke tempat tersebut.
" Juragan, apa ini benar tempat mbah Jambrong juragan,? kok gak ada nampak rumah ataupun bangunan disini juragan,? tanya Karta yang saat itu mulai penasaran.
" Huss, kamu diam saja Karta, nanti juga mbah Jambrong pasti akan datang," timpal juragan Susilo yang menyuruh Karta untuk diam.
Karta yang mendapat kode dari sang juragan pun akhirnya hanya bisa menunduk karena takut sang juragan akan marah kepadanya. Walaupun dalam hatinya masih saja penasaran dengan keberadaan mbah Jambrong yang akan mereka temui itu.
" Sebenarnya juragan lupa atau gimana si, kan ini hutan, masa iya mbah Jambrong ada di sini,? gumam Karta dalam hatinya.
Sesaat kemudian tiba-tiba saja angin berhembus kencang kearah mereka berdua. Karta yang sedari tadi hanya menunduk dan hanya mampu berkata-kata dalam hati pun tak bisa menahan rasa takutnya sehingga dia pun sedikit bergeser ke belakang juragan Susilo. Dan tak berselang lama akhirnya angin tersebutpun kemudian menghilang disertai terdengarnya sebuah suara menggelegar tanpa wujud yang memanggil juragan Susilo.
" Susilo, berjalanlah kamu kearah pohon besar yang berada di tengah hutan, aku sudah menunggumu disini," ucap suara tanpa wujud tersebut memerintahkan juragan Susilo untuk segera memasuki hutan tersebut.
" Ayo Karta, kita harus segera masuk," ajak juragan Susilo kepada Karta.
" Baik juragan," timpal Karta singkat dengan perasaannya yang kini tengah didera sebuah rasa ketakutan yang begitu teramat sangat namun Karta tetap mengikuti juragannya tersebut.
Keadaan hutan yang gelap disertai suara-suara hewan-hewan liar semakin menambah aura mistis suasana di dalam hutan yang dulu pernah juragan Susilo lewati, sehingga dia sudah hafal betul seluk beluk hutan tersebut. lain halnya dengan Karta yang seumur -umur baru menginjakkan kakinya di hutan yang terkenal angker tersebut. Dan setelah berjalan sekitar 1 jam akhirnya mereka berdua pun tiba didepan sebuah pohon yang cukup besar yang tepat di sampingnya terdapat sebuah bangunan mirip gubuk namun lumayan cukup besar sehingga mereka pun bergegas menghampiri bangunan tersebut.
" Sudah datang kau Susilo, cepat kalian masuk kedalam," terdengar kembali sebuah suara yang kini menyuruh mereka berdua untuk segera memasuki bangunan yang terbuat dari kayu dan jerami tersebut
" Silahkan duduk Susilo, dan kamu jangan takut Karta," sahut seorang lelaki tua yang tidak lain adalah mbah Jambrong kemudian mereka pun segera duduk tepat di depan mbah Jambrong.
__ADS_1
" Maaf mbah apabila kedatangan saya mengganggu mbah," ucap juragan Susilo sembari menundukkan kepalanya.
" Aku memang sudah menunggu kamu Susilo, karena Nyai Ratu Sekar Arum sudah memberi tahuku perihal kedatanganmu kemari," timpal mbah Jambrong.
" Terimakasih banyak mbah," sahut juragan Susilo singkat.
Susilo pun mulai menceritakan semuanya kepada mbah Jambrong dan terlihat mbah Jambrong pun tersenyum kearah juragan Susilo.
" Tidak perlu kau ceritakan lagi kepadaku Susilo, aku sudah tau semuanya," sahut mbah Jambrong.
" Jadi harus bagaimana mbah,? apa yang harus kita lakukan untuk menghabisi orang itu mbah,? tanya juragan Susilo kepada mbah Jambrong.
" Kau perlu tau Susilo, orang yang telah mengambil jasad dan juga sukmanya Marni itu bukan orang sembarangan jadi kita juga harus tetap hati-hati," timpal mbah Jambrong mengingatkan.
" Baiklah aku akan segera mempersiapkan segala kebutuhan untuk melenyapkan si Darmo itu," jawab mbah Jambrong kemudian segera bangkit dari duduknya setelah itu ia terlihat berjalan ke belakang.
sekitar lima menitan akhirnya mbah Jambrong pun kembali, namin di tangannya kini terlihat sudah memegang sesuatu seperti sebuah kepala manusia namun tinggal tengkorak sama rambutnya saja. Sontak saja juragan Susilo dan juga Karta seketika dibuat ketakutan saat mereka melihat apa yang tengah dibawa oleh mbah jambrong tersebut.
" Sekarang suruh anak buah mu itu potongkan ayam cemani ini kemudian darahnya di tampung lalu bawa kemari," perintah mbah Jambrong kepada juragan Susilo.
" Baik mbah," timpal juragan Susilo seraya menyuruh Karta untuk segera menjalankan perintah tersebut.
Mendengar perintah tersebut Karta pun segera berjalan ke arah belakang sembari membawa ayam cemani itu bersamanya.
__ADS_1
" kok tiba-tiba saja merinding sekujur tubuhku ini,? kenapa ya,? gumam Karta dalam hatinya menahan rasa takutnya yang kian menjadi-jadi itu.
Setelah ayam tersebut di potong dan di ambil darahnya, Karta pun bergegas membawa darah tersebut kembali kedalam kemudian segera ia kasihkan kepada mbah Jambrong.
" Mbah, ini darahnya mbah," ucap Karta sembari menyodorkan gelas yang berisi darah tersebut kepada mbah Jambrong.
Mbah Jambrong pun kemudian segera meletakkan semua bahan-bahan yang akan dia gunakan untuk menyerang mbah Darmo. Di ambilnya sebuah keris hitam pekat lalu di taruh di atas bara api yang biasa di gunakan untuk membakar kemenyan. Sementara itu, disana terlihat sudah ada sebuah boneka yang terbuat dari jerami, lengkap dengan mata, hidung dan juga mulut tersebut kemudian segera meraihnya.
" Ingat Susilo, selama ritual ini berlangsung, kalian tidak boleh keluar dari tempat ini, apa kalian faham,? ucap mbah Jambrong kepada juragan Susilo.
" Faham mbah, saya akan melaksanakan semua perintah dari mbah," timpal juragan Susilo sembari mengangguk pelan kearah mbah Jambrong.
Di bakarnya kemenyan itu kemudian mbah jambrong mengasapi boneka tersebut dengan asap yang di keluarkan dari tempat pembakaran kemenyan itu. setelah itu dia terlihat mengambil keris kemudian boneka tadi disiramkan dengan menggunakan darah cemani yang tadi di potong oleh Karta
" Susilo, Karta, kalian sebaiknya sedikit mundur," ucap mbah Jambrong yang menyuruh mereka berdua untuk mundur.
Kini kedua tangan mbah Jambrong telah memegang boneka di tangan kirinya kemudian keris di tangan kanannya lalu dia terlihat membacakan mantra-mantra kuno yang juragan Susilo maupun Karta tidak mengerti akan bahasa dari mantra yang di ucapkan oleh mbah Jambrong tersebut. Dan setelah selesai membacakan mantra-mantra tersebut terlihat keris itu ia tusukkan ke bagian tubuh dari boneka tersebut, kemudian mbah Jambrong pun menutup kedua matanya tersebut sembari mulutnya itu tak Henti-Hentinya komat-kamit.
Sedangkan di rumah Wisnu, mbah Darmo pun mulai merasakan sebuah energi negative yang kini mulai terasa di sekujur tubuhnya.
" Bambang, Wisnu, Yuni, kemari lah kalian semua," teriak mbah Darmo memanggil Bambang dan kedua anaknya tersebut untuk datang kepadanya yang memang pada saat itu Wisnu, dan Yuni tengah berada di dalam kamarnya, sementara itu Bambang tengah berada di luar mengotak atik motornya. Sehingga mereka bertiga pun bergegas menghampiri mbah Darmo setelah mendengar teriakan tersebut.
Bersambung>>>>>
__ADS_1