
" Gelapnya malam tak mengendurkan niatku untuk pergi ke Air Terjun tersebut, ku susuri jalanan setapak demi setapak di sekitaran perkebunan warga yang gelap. Dengan sesekali kakiku terseok, bahkan sering kali menginjak batuan kerikil tajam, sehingga akupun mengerang kesakitan. Udara malam yang begitu dingin menerpa tubuhku, yang kala itu hanya mengenakan kaos pendek di balut jaket yang tidak terlalu tebal. Aku berjalan sendirian dengan tanpa penerangan apapun, karena aku takut terlihat oleh warga yang sedang berada di kebun. Karena biasanya ada saja warga yang sedang menunggu hasil kebunnya untuk di panen di keesokan hari nya.
" Syukurlah malam ini aku tidak bertemu dengan siapapun" gumamku seraya tetap melanjutkan perjalanan menuju ke arah bukit mayangan.
Bukan perkara yang mudah untuk bisa mencapai bukit tersebut, sering kali aku melihat bayangan-bayangan putih melintas terbang mengelilingiku, terkadang terdengar juga suara orang yang menangis dengan pilu kemudian berganti dengan tawa cekikikan yang seketika membuat bulu kuduku langsung meremang ketakutan.
Akhirnya, setelah melewati perkebunan warga yang cukup luas, akupun kini telah sampai di bawah kaki bukit tersebut. Keadaan yang gelap, di tambah dengan hembusan angin yang seolah-olah hanya berada di sekelilingku.Sesekali indra penciumanku pun mencium wangi-wangian tertentu yang sangat menusuk hidung, bukan hanya wewangian yang tercium olehku,namun tercium juga bau bangkai yang membuatku mual dan seketika ingin muntah. Sungguh keadaan yang membuat siapapun pasti berfikir ulang untuk datang ketempat ini.
Bukit mayangan adalah sebuah bukit yang lumayan tinggi, dengan pepohonan yang rimbun, di tambah banyak sekali semak belukar, membuat bukit tersebut cocok sekali menyandang sebutan bukit yang angker. Bahkan waktu itu, hampir saja ku urungkan niatku untuk melanjutkan perjalanan tersebut, namun tekad ku yang sudah bulat dan ingin mengetahui siapa yang telah berbuat keji terhadap ibukulah yang membuat aku untuk tetap melanjutkan perjalananku menuju ke air terjun tersebut.
"Cukup lumayan lama aku berdiri dengan begitu banyak yang ku rasakan di benaku, Rasa was-was, ngeri, dan takut campur aduk semua menjadi satu.
__ADS_1
"Arggggghhh aku gak boleh lemah, aku gak boleh nyerah, ini harus ku tuntaskan apapun resikonya." gumamku dalam hati.
Seketika ku buka tas yang ku bawa tadi, kemudian segera ku keluarkan senter kecil yang tadi aku bawa sebagai alat peneranganku selama memasuki kawasan hutan yang terkenal dengan ke angkerannya itu. Setelah itu,aku pun langsung bergegas melanjutkan perjalananku menuju air terjun tersebut. Belum sempat berjalan jauh, tiba-tiba saja ada angin yang berhembus cukup kencang menerpa tubuhku, sehingga hampir saja aku terjengkang ke arah belakang, sementara, saat itu aku sedang berada di sebuah tanjakan yang cukup lumayan terjal, sehingga aku seketika berpegangan pada sebuah akar yang cukup lumayan besar di samping kananku . Sedangakan di sebelah kiriku, itu adalah sebuah jurang yang sangat dalam. Ibaratnya, apabila kita sampai terjatuh kebawah jurang, otomatis kita pasti langsung meregang nyawa.
"Untung saja aku bisa berpegangan, kalau tidak, bisa-bisa aku terjatuh kedalam jurang ," gumamku dengan perasaan kalut.
Setelah dirasa aman, segera ku lanjutkan perjalananku kembali, karena aku tidak mau lewat dari waktu yang telah di tetapkan oleh Ratu anjani. Jalanan terjal, kemudian semak belukar yang menghalangi jalanku pun tidak aku hiraukan, bahkan suara-suara menyeramkan dan juga bayangan-bayangan hitam yang mencoba mengganggu konsentrasiku tidak sama sekali meyurutkan niatku untuk tetap melanjutkan perjalanan. Walau tak dapat ku pungkiri, rasa lelah akibat berjalan sedari tadi dan juga rasa takutku kini seakan terus membuatku sedikit goyah, sehingga beberapa kali aku hampir membatalkan niatku tersebut.
Sungguh terasa berbeda sekali keadaan dan suasana di tempat ini, disini aku sama sekali tidak merasakan takut, bahkan, seolah tidak perlu memakai alat penerangan, mataku bisa melihat dengan jelas ketika ku arahkan pandanganku ke sekeliling tempat tersebut.
"Hmmmm, seolah tempat ini sering di bersihkan, namun mana mungkin ada orang yang berani ke tempat ini selain aku" gumamku dalam hati seraya mataku tetap kuarahkan kesekeliling tempat tersebut.
__ADS_1
" Sebenarnya sedari tadi aku merasakan sesuatu, seolah ada sebuah sosok yang terus memperhatikan aku, namun bedanya, kali ini sama sekali aku tidak merasakan takut. Berbeda dengan ketika aku masih di bawah sana, dengan begitu banyaknya gangguan, baik itu sebuah bayangan, sura, atau bahkan bau anyir darah dan juga bau bangkai yang menyeruak menusuk ke hidung, sehingga sesekali aku merasakan mual dan serasa ingin muntah. Namun keadaan di sini berbanding terbalik, bahkan aku merasa nyaman sekali berlama-lama di tempat ini. Yang memang tanpa pernah aku sadari, bahwa tempat ini adalah pintu masuk ke arah air terjun yang akan aku tuju tersebut. Bahkan sedari awal memang Ratu Anjani terus mengawasiku, hanya saja aku memang tidak dapat melihatnya.
Sembari tetap bersandar pada batu tersebut, tiba-tiba saja perutku ini keroncongan, sehingga aku pun segera mengambil bekal yang tadi aku bawa dari dalam tas, kemudian akupun segera menyantapnya dengan sangat lahap hingga tak bersisa, seolah aku sudah tidak makan selama berhari-hari.
" Ahhh, akhirnya kenyang juga," ucapku sambil mengelus-elus perutku yang kini telah terisi makanan tersebut. Setelah selesai makan, segera kumasukan kembali peralatan makan tadi, kemudian, aku langsung celingukan ke kanan da ke kiri, ketika sayup-sayup aku mendengar suara gemuruh air dari arah belakangku.
Akupun segera bangkit, kemudian segera berjalan mengikuti arah suara tersebut. Kulangkahkan kakiku menuruni jalan setapak yang tambah lama kian menurun saja, ku lirik ke sebelah kiriku yang seketika aku langsung bergidik ngeri, karena sudah berada tepat di bibir tebing yang curam. Dengan hati-hati, kembali aku meneruskan langkahku, hingga akhirnya langkahku seketika terhenti, di saat mataku menoleh ke sebelah kanan, ternyata itu adalah sebuah air terjun yang cukup lumayan tinggi, dengan airnya yang mengalir begitu sangat deras sehingga menimbulkan suara gemuruh yang begitu keras terdengar di telingaku. Apalagi dengan suasananya yang sunyi, di tambah lagi, tidak ada seorangpun di tempat tersebut sehingga membuatku sedikit merasakan ketakutan.
"Syukurlah, akhirnya sampai juga aku ke tempat ini" ucapku dalam hati seraya dengan kedua matsku tetap ku arahkan ke arah air terjun tersebut.
Dari kejauhan dan tanpa aku sadari, Sosok Ratu Anjani tengah memandangku dengan tersenyum, seolah dia juga merasa senang ketika melihat aku telah sampai di tempat yang telah dia perintahkan itu. Lama ku amati keadaan di tempat tersebut, hingga akhirnya pandanganku tertuju pada sebuah pohon besar menjulang tinggi dengan daun-daunya yang rimbun, sehingga membuatku sedikit begidik ngeri, akan tetapi, di tempat itulah ku lihat tanahnya agak lapang, sehingga mau tak mau akupun segera berjalan menuju pohon tersebut. Dan setelah sampai, segera kuletakkan tas dari punggungku, kemudian langsung duduk tepat di bawah pohon besar tersebut.
__ADS_1