
Kemudian mereka pun segera meminum dan memakan kudapan yang sudah dibuatkan oleh Yuni tersebut. Bahkan Wisnu terlihat begitu lahapnya menyentap singkong dan pisang goreng buatan Yuni, sehingga bapak, Yuni dan juga mbah Darmo pun semua terperangah melihat hal tersebut.
" Pelan-pelan saja mas, kalo kurang nanti Yuni buatkan lagi," sahut Yuni mengingatkan mas nya tersebut agar makan dengan pelan-pelan.
Mendengar ucapan Yuni tersebut, Wisnu pun seketika dibuat salah tingkah sembari tangannya itu ia garukan ke kepalanya yang gak gatal itu.
" Ehhhh iya Yun, habisnya, pisang sama singkong goreng buatan kamu rasanya enak sich, jadinya mas selera kali Yun, heehehhee," sahut Wisnu terkekeh kemudian mereka semua pun dibuat tertawa oleh kelakuan Wisnu tersebut.
Ditengah kegembiaraan mereka, tiba-tiba saja mbah Darmo terlihat berdiri dari tempat duduknya tersebut seraya kedua matanya itu ia arahkan ke arah kamar Bambang dan juga almarhum Marni.
" Mbah, ada apa mbah,? tanya Bambang kepada mbah Darmo yang terlihat masih memandang tajam kearah kamarnya tersebut. Sementara mbah Darmo tetap diam tanpa menghiraukan perkataan dari Bambang barusan.
" Mas, kenapa sama mbah Darmo ya mas,? Kenapa tiba-tiba mbah Darmo melihat kamar ibu dan bapak,? ucap Yuni dengan suara berbisik kepada mas nya tersebut.
" Hussss, kamu diam saja Yun, pantang ikut campur urusan orang tua," timpal Wisnu yang segera menyuruh adiknya tersebut untuk segera diam.
" Nak Bambang, istrimu meninggal secara tidak wajar," ucap mbah Darmo yang secara tiba-tiba, sehingga Wisnu, Yuni, dan juga Bambang dibuat seketika langsung terkejut, mendengar ucapan dari mbah Darmo tersebut.
__ADS_1
" Ma,,, maksud mbah apa mbah,? tanya Bambang kepada mbah Darmo penasaran.
Mbah Darmo pun kemudian kembali duduk, seraya kini kedua matanya itu terlihat menatap tajam kearah mereka bertiga.
" Aku masih merasakan sebuah kekuatan jahat yang melingkupi rumahmu ini Bambang, apalagi kekuatan tersebut masih mengincar salah seorang diantara kalian," sahut mbah Darmo dengan suaranya yang terdengar berat dan serak tersebut kepada mereka bertiga.
" Mbah, tolong jelaskan kepada kami mbah, supaya kami faham apa yang mbah maksudkan tersebut mbah," timpal Bambang kepada mbah Darmo. Sementara Wisnu dan juga Yuni terlihat hanya bisa terdiam seraya nampak dari kedua wajah mereka yang kini terlihat menunjukan raut wajah yang penuh keheranan.
" Baiklah, aku akan menceritakan kepada kalian semua, mengenai maksud dan tujuanku datang kemari," ucap mbah Darmo kepada Bambang dan juga kedua anaknya tersebut.
" Kala itu, sewaktu mbah berada dihutan larangan, tiba-tiba mbah mendapatkan sebuah wangsit ketika sedang dalam sebuah pertapaan. Didalam wangsit tersebut, mbah di perlihatkan keadaan Marni istrimu yang sedang dibelenggu dengan rantai, sembari terlihat ia sesekali mendapatkan sebuah cambukan dari mahluk berwujud seperti seekor kerbau namun dengan setengah badannya tersebut ialah manusia. Sedangkan ditempat tersebut mbah juga diperlihatkan sebuah istana kerajaan dengan seorang perempuan setengah manusia setengah ular yang tengah duduk diatas singgasana kerajaan tersebut dengan wajahnya yang sungguh sangat menyeramkan. Setelah itu, mbah disuruh untuk segera kemari menanyakan perlihal kematian istrimu Marni dan juga cara ia bisa meninggal. Makanya mbah segera datang kemari setelah mbah mendapatkan wangsit tersebut," ucap mbah Darmo menjelaskan kepada Bambang, perihal kedatangannya kerumah Bambang tersebut.
" Kenapa bisa hampir sama ya, apa yang pernah Ratu Anjani sampaikan kepadaku dan apa yang telah mbah Darmo sampaikan barusan itu. Hmmmmmm, sepertinya aku harus segera menemui Ratu Anjani, untuk menanyakan tentang keberadaan ibuku itu kepadanya," gumam Wisnu dalam hati.
" Terus mbah, maksud dari wangsit yang mbah terima tersebut itu apa ya mbah,? tanya Bambang kembali kepada mbah Darmo yang kini semakin penasaran.
" Istrimu telah dijadikan tumbal oleh seseorang yang tengah melakukan sebuah pesugihan, namun kejadian yang sebenarnya adalah, Marni seharunya tidak menjadi tumbal, melainkan anakmu lah yang akan mereka jadikan tumbal penguasa gunung Merangin," lanjut mbah Darmo menjawab pertanyaan dari Bambang kepadanya.
__ADS_1
" Ma,, maksud mbah, istriku sudah ditumbalkan oleh penganut pesugihan,? lalu kalau memang Marni tidak seharunya menjadi tumbal, lantas siapa dari anakku yang akan mereka jadikan sebagai tumbal itu mbah,? Sahut Bambang kepada mbah Darmo, bahkan, terlihat dari kedua mata bambang tersebut kini mulai berkaca-kaca.
" Wisnu, dialah yang di incar oleh orang tersebut dan bahkan sudah dipersiapkan oleh mereka untuk dijadikan tumbal iblis sesembahan mereka," ucap mbah Darmo dengan tegas, seraya kedua matanya kini memandang tajam kearah Wisnu.
Wisnu yang kala itu mendengar ucapan mbah Darmo pun seketika dibuat sangat terkejut, apalagi ketika ia melihat sebuah tatapan tajam dari mbah Darmo yang mengarah kepadanya itu. Sedangkan Yuni dan juga Bambang pun sontak ikut dibuat kaget, mendengar nama Wisnu yang akan dijadikan tumbal.
" Apa mbah, kenapa dengan Wisnu mbah,? lalu sekarang kami harud bagaimana mbah,? tanya Bambang kepada mbah Darmo dengan penuh rasa kekalutan ketika mendengar bahwa anaknya tersebutlah yang seharunya menjadi tumbal.
Mbah Darmo yang ketika itu masih memandang kearah Wisnu pun segera menjawab pertanyaan dari Bambang tersebut, seraya ia bergegas menghidupkan kembali rokoknya yang kini sudah mati. Dan setelah itu mbah Darmo pun seketika langsung berkata kepada Bambang.
" Iya, Wisnu lah yang seharunya menjadi tumbal waktu itu. Namun, karena kesalahan dari orang suruhan si pelaku pesugihan tersebut , sehingga barang yang seharunya diberikan kepada Wisnu, malah dia berikan kepada Marni istrimu itu Bambang. Bahkan anak mu Wisnu pernah mencoba untuk memberitahumu mengenai kematian ibunya tersebut, namun engkau malah mengabaikan ucapanya. Benarkan itu Bambang,? sahut mbah Darmo yang seketika membuat Bambang langsung teringat bahwa waktu itu Wisnu pernah mengatakan sesuatu perihal kematian istrinya tersebut.
" Astaghfirullah, ya allah, kenapa bisa ada manusia yang sekejam itu mbah,? ucap Bambang sembari tangannya terlihat ia tutupkan ke wajahnya tersebut.
" Iya benar mbah, Wisnu memang pernah bilang kepadaku waktu itu mbah, dia bilang kalau kematian Marni itu tidak wajar. Namun, waktu itu aku memang sama sekali tidak mempercayainya, karena bagiku kematian itu sudah suratan mbah," sahut Bambang kembali melanjutkan ucapannya tersebut kepada mbah Darmo.
" Memang benar apa yang telah kamu bilang tersebut, bahwa semua sudah suratan. Sehingga, Wisnu bisa selamat, sedangkan Marni lah yang menjadi tumbalnya. Namun walau bagai manapun juga, kita sebagai manusia diharuskan untuk melakukan sebuah iktiyar. Apalagi melihat kondisi Marni yang disaat itu meninggal secara tidak wajar, bahkan yang kalian kuburkan itu juga bukanlah jasad dari Marni istrimu, melainkan itu adalah sebuah gedebong pisang," sahut mbah Darmo kembali menjelaskan kepada Bambang.
__ADS_1
" Tidak mungkin mbah, aku jelas-jelas melihat dengan mata kepalaku sendiri, bahkan semua warga pun melihatnya dengan jelas, kalau itu adalah jasad Marni istriku mbah," timpal Bambang yang masih belum percaya atas apa yang dikatakan mbah Darmo kepadanya.
Bersambung>>>>