Asmara Terlarang Dengan Jin Penunggu Air Terjun

Asmara Terlarang Dengan Jin Penunggu Air Terjun
Kesedihan Kembali Hadir


__ADS_3

Wisnu yang memang masih merasakan sebuah perasaan yang tidak baik tentang adiknya yaitu Yuni itu pun semakin khawatir akan keselamatan adiknya tersebut sehingga dia pun berencana untuk kembali ke tempat sahabat dari adiknya itu.


" Pak, sepertinya aku akan kembali kesana pak, soalnya perasaan ku ini semakin gak tenang saja pak," ucap Wisnu kepada ayahnya.


" Loh, kamu itu kan baru sampek rumah to Nu, apa gak sebaiknya nanti saja kamu pergi kesana,?" Bambang pun sedikit terkejut mendengar bahwa Wisnu akan kembali ketempat dimana adinya sekarang ini sedang membantu sahabatnya itu.


" Iya pak, tapi perasaanku kok gak tenang ya pak, aku takut terjadi apa-apa sama Yuni pak," timpal Wisnu yang bersikeras tetap ingin kembali kesana.


" Mungkin itu hanya perasaan kamu saja Nu, daripada kamu terus berfikiran yang enggak-enggak, bagusan kamu pergi ambil air Wudhu dan doakan supaya adik mu itu tidak kenapa-napa," ucap Bambang memberi saran kepada anak laki-laki nya itu.


Wisnu tau saran dari bapak nya tersebut memang benar, namun perasaan was-was dan juga khawatir yang tengah ia rasakan semakin menjadi, namun walau bagaimana pun juga ia tidak ingin bapak nya itu malah ikut khawatir, sehingga Wisnu pun akhirnya menuruti apa yang di sarankan oleh bapak nya tersebut.


" Ya sudah pak, aku kebelakang dulu ya pak," sahut Wisnu seraya berjalan kearah belakang meninggalkan ayahnya yang sedari tadi terlihat kebingungan dibuatnya.


Sementara itu di kediaman sahabatnya, Yuni terlihat masih sibuk mangatur dan mendekor ruangan demi ruangan yang ada di rumah tersebut. Bahkan beberapa kali sahabat nya itu terdengar menyuruh Yuni untuk berhenti, namun Yuni seolah tidak ingin menghentikan kerjaannya tersebut sehingga sahabatnya itu pun hanya bisa terdiam melihat Yuni yang terlihat sangat bersemangat.


" Yun, nanti kalau capek kamu istirahat aja ya, tidak usah di paksakan kali Yun, aku jadi gak enak loh," sahut Rita.


" Oke aman Rit, lagian tiggal beberapa ruang lagi kok, tanggung kalo kebanyakan berhenti, nanti gak kelar-kelar lagi kerjaanku, hehehehe,"


" Iya tapi aku gak enak loh, setidaknya berhenti dulu untuk istirahat, biar gak capek kali Yun," timpal Rita dengan perasaan yang gak enak sama sahabatnya itu.


" Hussss, udah-udah, macam sama siapa saja lah kau Rit, udah nanti juga kalau aku capek pasti berhenti nya Rit," sahut Yuni kembali sembari menoleh kearah sahabatnya tersebut sambil tersenyum.


Melihat sahabatnya itu pun seketika fikiran Rita pun menerawang, dia teringat akan janji nya itu kepada sang paman, yang mau tak mau memang harus ia laksanakan.

__ADS_1


" Sebenarnya kenapa sih pamanku begitu ngebet nyuruh aku ngasih amplop ini sama Yuni, padahal kan bisa aja pamanku yang kasih secara langsung, kenapa juga haru melalui aku ya,?" gumam Rita dalam hatinya yang kini bertanya-tanya.


" Tapi ya sudah lah, toh aku pun memang dapat bagian kok, lagian ini kan uang yang itung-itung bayaran untuk Yuni yang udah mau membantuku mendekor," kembali Rita bicar sendiri dalam hatinya.


Masih dalam keadaan terdiam, tiba-tiba saja sang paman pun terdengar memanggil namanya, sehingga Rita pun seketika tersadar.


" Rita, kamu sedang apa,? paman mau bicara sebentar," sahut sang paman memanggil keponakannya tersebut.


" Eh paman, ia paman sebentar," timpal Rita seraya bergegas menghampiri sang paman yang berdiri tak jauh darinya.


" Ada apa paman,? tanya Rita.


" Jangan disini, diluar saja, soalnya penting," ucap sang paman yang kemudian mengajak keponakannya itu untuk berbicara di luar.


" Belum, soalnya Yuni masih sibuk mendekor dan belum selesai, rencanaku nanti pas sudah selesai dia mendekor baru aku kasihkan paman," jawab Rita kepada sang paman.


" Oh begitu ya, ya sudah kamu kabari paman setelah kamu memberikan amplop itu sama si Yuni ya Rit," ucap pamannya lagi kepada Rita.


" Baik paman, nanti aku kabari sama paman apabila aku sudah memberikan amplop ini sama dia," sahut Rita mengiyakan permintaan pamannya itu.


Mereka berdua pun akhirnya mengakhiri pembicaraan mereka. Rita kembali ke dalam rumah, sedangkan sang paman pergi menuju kearah pohon besar yang tak jauh dari rumah Rita.


Wisnu pun telah selasi melaksanakan shalat, kemudian ia keluar dari dalam kamarnya lalu duduk bersama ayahnya di ruang tengah.


" Udah selesai Nu,? Tanya Bambang kepada putranya.

__ADS_1


" Sudah pak, ini barusan selesai paka makanya Wisnu kemari," timpal Wisnu.


" Gimana, udah agak tenang kan hatimu,? kembali Bambang bertanya kepada Wisnu.


" Udah lumayan sih pak, sekarang gak terlalu khawatir lagi kok," jawab Wisnu kepada ayahnya padahal Wisnu berbohong kepada sang ayah.


" Bagus lah kalau begitu, ya sudah mandi dulu gih,'' ucap Bambang saraya menyuruh putra nya itu untuk segera mandi.


'' Iya pak, ini sebentar lagi mandi, mau makan dulu laper heheheh," timpal Wisnu kepada sang ayah


" Maaf ya pak, sengaja aku berbohong demi kebaikan bapak dan agar bapak tidak ikut_ ikutan menjadi khawatir," gumam Wisnu dalam hatinya.


Wisnu pun kemudian bergegas keluar, dengan alasan mau membeli sesuatu ke depan, yang padahal sebenarnya Wisnu akan pergi ke tempat nya Rita untuk menjemput adiknya. Setelah mendapatkan ijin dari bapaknya, dia pun segera berangkat.


Setelah hampir setengah perjalanan, hal yang tak mengenakan pun terjadi. motor yang di kendarai Wisnu pun tiba-oleng karena ban depan motor tersebut pecah, sehingga Wisnu tidak dapat mengontrol laju kendaraanya lalu menabrak pohon asem yang berada di pinggir jalan. Sontak saja kepala Wisnu pun terbentur sangat keras akibat menghantam batang pohon asem yang cukup lumayan besar itu.


"Braaakkk,,!!!!!


Darah pun seketika mengucur deras mengalir membasahi kepala hingga wajah Wisnu. Sedangkan motor yang ia kendarai hancur dan ringsek terbagi menjadi dua bagian. Dan tak berselang lama warga sekitar tempat kejadianpun datang berbondong -bondong kearah dimana Wisnu kecelakaan .


Sedangkan di rumah Rita, Yuni yang hampir selesai mendekor seisi rumah tersebut, dan tak sengaja ia menjatuhkan tempat dimana ia menaruh alat-alat dekorasi nya itu hingga pecah dan berserakan di lantai. Dan setelah kejadian itu pun sontak saja perasaannya kini mulai tak tenang, seolah ada sesuatu yang tengah terjadi kepada keluarganya. Segera ia pun turun dari tangga kemudian bergegas mengambil air minum kemudian Yuni pun terduduk.


" Ya Allah semoga apa yang aku fikirkan ini tidak benar-benar terjadi, dan semoga bapak juga mas Wisnu tidak terjadi apa-apa sama mereka ya Allah." Gumam Yuni dalam hatinya seraya fikirannya pun kini menerawang jauh entah kemana.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2