
Namun segala usaha yang Marni coba lakukan, tetap tidak bisa menghalangi mahluk tersebut untuk segera membawanya.
Dan kini, dengan tanpa disadari oleh Marni, ternyata tubuh Marni kini telah berada dalam lilitan ekor dari mahluk siluman tersebut. Sehingga membuat Marni kini tidak dapat bergerak sama sekali, bahkan untuk mengeluarkan suaranya saja, Marni sangat kesulitan akibat lilitan tersebut, sehingga membuat Marni hanya bisa pasrah menerima keadaannya tersebut.
Setelah dirasa cukup, kini mahluk tersebut pun segera membawa tubuh Marni beserta sukmanya itu pergi, dan dengan sekejap merekapun kini telah menghilang di sertai dengan suara ringkikan yang terdengar cukup melengking dari seekor kuda di luar rumah Marni tersebut. Kini Marni pun sedang dibawa menuju ke alam siluman tempat Nyai Ratu Sekar Arum berada. Bersamaan dengan lenyap nya Marni, kini suasan dirumah itupun kembali seperti sediakala.
Hanya keheningan malam yang kini terasa di dalam rumah itu. Namun keadaan tersebut tidak berjalan lama, hanya sekitar beberapa waktu saja dari kepergian Marni.
kini di rumah tersebut mulai terdengar suara gaduh dari arah dapur dekat kamar mandi.
" Bruggh.,ketemprang,,brak!!
terdengar suara seperti barang yang berjatuhan di belakang, sehingga membuat Bambang yang kala itu sedang tertidur pun seketika langsung terperanjat seraya ia langsung bangkit dari tidurnya.
Bambang kemudian segera menghidupkan lampu kamarnya dan langsung menoleh kearah istrinya, namun betapa terkejutnya Bambang ketika melihat Marni sudah tidak berada di tempat tidurnya tersebut.
Suara apa tadi ya? terus kemana ibu? kok tidak ada, apa ibu sedang ke kamar mandi? gumam Bambang dalam hati, seraya ia segera melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar menuju ke arah kamar mandi rumahnya tersebut.
Setelah sampai di depan pintu kamar mandinya itu,
Bambang pun segera mengetuk pintu, seraya memanggil-manggil istrinya. "Tok,tok, buk, apa ibu ada didalam? ucap Bambang yang terdengar memanggil istrinya dari depan kamar mandi. Namun sudah beberapa kali mencoba memanggil dan mengetuk pintu, tetap saja Bambang tidak mendengar adanya sahutan dari dalam kamar mandi tersebut yang membuat Bambang semakin khawatir.
"Jangan-jangan terjadi sesuatu sama istriku didalam, sebaiknya aku dobrak saja pintu ini" gumam Bambang dalam hati karena sangat mengkhawatirkan istrinya tersebut.
Braakkkkk..,
Terdengar suara keras akibat dari dobrakan yang dilakukan oleh Bambang, yang membuat pintu kamar mandi itu pun seketika terbuka.
__ADS_1
Namun, betapa terkejutnya Bambang setelah berhasil membuka pintu kamar mandinya tersebut. Matanya seketika melotot, dengan mulut terbuka lebar dan juga nafasnya yang seketika tertahan. Bahkan badannya kini terasa gemetar hebat, membuat Bambang lemas seketika dan hampir saja dia terduduk saking tak percaya dengan apa yang tengah lihat di depan matanya tersebut.
Bambang melihat tubuh istrinya itu sudah dalam posisi tertelungkup, dengan bagian kepala dari istrinya tersebut mengeluarkan banyak darah sehingga bau anyir darahpun seketika menyeruak di dalam kamar mandi tersebut.
Sementara itu, Wisnu dan juga Yuni pun kini telah terbangun ketika mendengar sebuah teriakan dari arah kamar mandi, yang mereka tau itu adalah teriakan dari bapaknya, kemudian segera berlari kearah kamar mandi.
"Ya allah..ibu!!!
"Apa yang terjadi sama ibuk?
hikkk..hiiik..
teriak Bambang seketika pecah ketika melihat kondisi dari istrinya yang terlihat sangat mengenaskan tersebut.
Sementara Wisnu dan juga Yuni yang kala itu sudah berada di sanapun seketika ikut menangis, bahkan Yuni terlihat langsung terjatuh akibat tak sadarkan diri karena syok melihat kondisi ibunya yang kini telah terbujur kaku dengan darah yang terlihat menggenang di lantai kamar mandi tersebut.
"Pak..ikhlaskan pak"
"Eling pak, nyebut"
lebih baik kita segera mengurus jenazah ibu pak"
ucap Wisnu kepada bapaknya seraya memeluk tubuh bapaknya tersebut.
"Kenapa dengan ibumu Nu, padahal tadi bapak sama ibumu masih sempat mengobrol diruang tamu sebelum tidur Nu.
"Hikkk..hikkk..hikk.." kembali terdengar suara tangisan dari Bambang.
__ADS_1
Sedangkan Wisnu hanya bisa terdiam melihat keadaan bapaknya tersebut, sembari ia mengusap pipinya yang telah basah dengan air mata yang terus mengalir dari matanya tersebut.
Sementara itu, tetangga dan juga sebagian warga terlihat telah banyak yang berdatangan kerumah Wisnu.
Itu karena mereka telah mendengar teriakan dari Bambang, yang kala itu terdengar hingga ke rumah tetangganya.sehingga merekapun berinisiatif untuk segera mendatangi rumah Wisnu.
Sebagian dari para warga tersebut ada yang segera masuk kedalam rumah, sementara yang lain terlihat menunggu diluar.
sementara yang lainnya bergegas menuju rumah pak lurah, untuk segera memberitahukan tentang kejadian tersebut.
sedangkan dari ibu-ibu, mereka ada yang mengurus Yuni yang ketika itu masih tidak sadarkan sendiri dan sebagiannya lagi segera mempersiapkan segala keperluan untuk jenazah. Namun ternyata bukan hanya keluarga Bambang saja yang merasa heran dengan kematian Marni yang secara mendadak itu karena melihat kondisi dari jenazah Marni yang terlihat sungguh sangat mengenaskan tersebut.
Bahkan sebagian warga mulai curiga bahwa kematian Marni itu bukan kematian biasa, namun Marni dikirim guna-guna ataupun santet dari orang yang tidak suka dengan keluarga Marni.
" Yo, sepertinya ada yang tak beres dengan kematian buk Marni ini, soalnya kau lihat sendiri kan keadaanya seperti apa? Itu seperti orang yang di guna-guna atau di santet yok", ucap Jali salah seorang tetangga Wisnu yang mengajak Karyo untuk berbicara.
"Huuust, udah Li, kita gak usah bahas-bahas itu, nanti jadi fitnah" sahut Karyo kepada Jali, seraya jari telunjuknya ia tempelkan di bibirnya memberi kode agar Jali untuk segera diam.
Tak berselang lama akhirnya pak lurah pun kini telah tiba di kediaman Bambang, seraya ia segera menyuruh sebagian warga untuk segera ke mesjid dan membuat pengumuman tentang kematian buk Marni, sekalian nanti mempersiapkan liang lahat, karena nanti pagi, jenazah dari buk Marni akan segera di kuburkan.
Mendengar perintah pak lurah tersebut, sebagian warga kemudian bergegas melaksanakan perintah orang nomer satu di Kampung Pandan Sari tersebut.Sementara itu, jenazah Marni pun segera mereka mandikan, untuk selanjutnya di kafani, kemudian di shalatkan, yang nantinya akan segera di bawa menuju tempat pemakaman umum yang berada di sebelah Kampung Pandan Sari tersebut.
Sedangkan di rumah juragan Susilo sendiri, nampak Karta masih terlihat berjaga di depan pintu kamar dari sang juragan, dengan sesekali terlihat Karta menoleh ke belakang ke arah kaca dari kamar juragan Susilo. Namun ia tidak bisa melihat apapun, karena memang ruangan tersebut didisain agar tidak dapat di lihat atau di intip dari luar.
"Hoaammmm..ngantuk kali ah, kalau bukan karena duit, aku gak mau juga kerja ginian, bagusan ngeloni Ijah di rumahnya hahahhaha", gumam Karta dalam hati yang terlihat sesekali menguap, namun masih sempat dia tersenyum sendirian seperti orang gila tersebut.
Bersambung lagi....
__ADS_1