Asmara Terlarang Dengan Jin Penunggu Air Terjun

Asmara Terlarang Dengan Jin Penunggu Air Terjun
Salah Sasaran


__ADS_3

Ketika juragan Susilo yang sedang termenung, tiba-tiba saja ia di kagetkan lagi oleh kemunculan Karta yang seketika membuyarkan lamunannya tersebut seraya menyapa kepadanya.


" Juragan, saya sudah mendapatkan orang-orang yang yang nantinya mau bekerja di ladang juragan, ucap Karta sembari terlihat nafasnya sedikit memburu karena kelelahan.


" Oh, rupanya kau karta, buat kaget orang saja,


memanganya siapa saja mereka,? tanya juragan Susilo sembari matanya terlihat mendelik ke arah Karta.Sontak saja Karta yang melihatnya pun seketika menjadi sedikit ketakutan.


" Anu Juragan, tadi saya sudah keliling ke beberapa kampung, ada juga beberapa orang dari warga yang bersedia bekerja di ladang juragan, termasuk Wisnu dan juga ibunya yaitu buk Marni. Ditambah sebagian orang dari kampung sebelah, jadi totalnya ada sekitar 20 orang Juragan," ucap Karta menjelaskan, sembari ia segera mengambil air minum dari atas meja, kemudian segera meminumnya.


" Bagus, bagus sekali kerjamu Karta, gak salah aku memilihmu menjadi kaki tanganku," sahut juragan Susilo seraya tanganya terlihat menepuk pundak anak buahnya itu.


" Siapa dulu dong orangnya juragan, Karta di lawan, hehehheh," timpal Karta kegirangan, karena mendengar sebuah pujian yang sudah pasti Karta akan segera mendapatkan imbalan, karena perintah dari juragannya itu dapat Karta laksanakan dengan baik.


Terlihat juragan Susilo kini tengah mengambil sesuatu dari dalam saku celananya tersebut, yang ternyata itu adalah gepokan uang kertas pecahan 100 ribuan dan juga 50 ribuan. Juragan Susilo kemudian segera mengambil beberapa lembar uang tersebut, yang selanjutnya akan dia berikan kepada Karta.


"Ni ambil upah mu Karta," ucap juragan Susilo, seraya tangannya terlihat menyodorkan beberapa lembar uang pecahan 100 ribuan dan juga 50 ribuan ke arah Karta, dan diperkirakan jumlahnya ada sekitar 1 jutaan jumlahnya. Karta yang melihat itupun sontak kegirangan, sembari dengan segera tangan Karta meraih uang pemberian dari juragan Susilo tersebut.


" Terimakasih banyak Juragan" ucap Karta setelah menerima uang dari Juragan Susilo tersebut.

__ADS_1


"Oh ia, saya mau tanya sama kamu Karta, Wisnu dan ibunya itu maksudmu anak dan istrinya si Bambang itu bukan ya,? tanya juragan Susilo kepada Karta yang masih terlihat sedang menghitung uang pemberiannya tersebut.


" Oh ia maaf juragan, betul sekali juragan," timpal Karta kepada juragan Susilo dengan singkat.


"Hmmmmmm,,, bagus lah, pas pula anaknya itu masih perjaka, jadi bisa ku gunakan untuk tumbal kepada Nyai Ratu Sekar Arum nanti," gumam juragan Susilo berkata dalam hati, seraya bibirnya terlihat menyeringai, ketika mendengar nama dari orang yang telah menolak mentah-mentah tawaran dia yang kala itu ingin membeli ladang milik Bambang tersebut.


Memang, dulu juragan Susilo pernah datang menemui Bambang untuk membeli ladang miliknya tersebut, namun ternyata Bambang menolak keinginannya itu, bahkan setelah harganya di naikkan sekalipun, tetap saja Bambang menolaknya. Dengan alasan, bahwa tanah nya tersebut masih ia pergunakan, sehingga dari situlah juragan Susilo kesal terhadap penolakan yang di diterimanya dari Bambang.


Padahal, juragan Susilo memang sangat menginginkan sekali bisa memiliki ladang tersebut, itu semua karena ia tau, bahwa tanah milik Bambang tersebut terkenal karena tanahnya yang subur dan juga gembur di antara ladang ladang lain milik para penduduk yang lainnya yang memang kurang subur bahkan sering kali membuat gagal panen. Sehingga, karena alasan itulah kenapa Juragan Suilo menginginkan sekali Wisnu untuk dia jadikan sebagai tumbal pesugihan yang di lakukannya tersebut selama ini.


Sementara itu, terlihat Marni dan juga Bambang sedang berbincang diruang tengah rumahnya, sedangkan Wisnu dan juga Yuni, mereka kini tengah berada di dalam kamarnya masing-masing.


" Njih pak, lagian kan cuma bantu panen saja toh pak, lumayankan pak uangnya, bisa kita pakai untuk membeli keperluan pupuk di ladang kita juga pak, sedangkan bapak kan tau sendiri, kalau ladang kita itu memerlukan banyak sekali pupuk pak," ujar Marni menjelaskan kepada Bambang.


" Ia buk, bapak juga tau kalau ladang kita itu memang membutuhkan banyak sekali pupuk, tapi ibu kan tau sendiri, sebagian pupuk sudah bapak beli, jadi ibu tidak perlu terlalu khawatir buk," sahut Bambang kembali mengingatkan Marni.


Terlebih lagi, juragan Susilo itu dulu pernah bapak tolak sewaktu dia mau membeli ladang kita buk, bahkan bapak masih ingat ucapan dari dia itu buk. Dia pernah bilang sama bapak, kalau dia akan membalas sakit hatinya tersebut sama bapak buk. Terlihat, setiap ada acara di rumahnya tersebut, cuma keluarga kita saja yang tidak medapat undangan kan buk, sementara hampir seluruh warga kampung dia undang," timpal Bambang yang teringat akan kejadian dahulu dengan juragan Susilo.


" Wes toh pak, ndak usah di bahas lagi, itukan dulu pak, lagian cuma 2 hari saja toh ibuk bantu panen nya juragan Susilo, apalagi Wisnu juga ikut kan pak," ucap Marni meyakinkan, seraya meminta suaminya tersebut agar berhenti membahas kejadian yang sudah lama berlalu itu.

__ADS_1


"Yowes lah buk, terserah ibuk saja, yang penting ibuk jangan terlalu capek ya buk," ujar Bambang yang akhirnya luluh juga pada istrinya tersebut. Padahal, setelah ia mendengar kalau anak dan istrinya menerima tawaran Karta untuk bekerja di ladang Susilo, seketika itu juga perasaanya pun menjadi risau, seolah Bambang berat sekali untuk mengijinkan Marni dan juga Wisnu untuk bekerja diladang tersebut.


" Hmmmm, semoga saja tidak akan terjadi apa-apa sama mereka berdua, dan ini hanyalah perasaanku saja," gumam Bambang dalam hati, seraya tanganya meraih gelas minuman kemudian segera meminumnya.


" Nu, Wisnu, ayo cepat nanti kita kesiangan loh," terdengar suara Marni memanggil anak sulungnya tersebut untuk segera bergegas.


" Ia buk ini Wisnu sudah siap kok buk," ucap Wisnu yang kemudian segera keluar dari dalam kamarnya tersebut seraya segera menghampiri ibunya.


" loh, kok pagi-pagi sekali kalian berangkatnya toh buk, lagian ladang juragan Susilo kan gak pala jauh buk," ucap Bambang yang tadi sempat mendengar teriakan Marni kepada Wisnu, sehingga ia yang kala itu sedang berada di belakang pun langsung bergegas menuju ke depan menjumpai anak dan istrinya tersebut.


" Ia pak e, ibu rencananya mau sekalian mampir ke rumah Iyem, kawan ibuk itu loh pak, jadi biar sekalian kami berangkatnya barengan, kan enak kalo berangkatnya rame toh pak," sahut marni kepada Bambang.


" Ohhh si Iyem kawan ibuk itu ya,? yowes kalo kalian mau berangkat sekarang, hati-hati di jalan yo buk," timpal Bambang sembari tangannya terlihat di cium oleh anak dan istrinya tersebut.


Sementara itu, Yuni masih terlihat tertidur didalam kamarnya, dan memang sengaja gak di bangunkan karena tadi malam dia baru saja pulang habis bantu-bantu temannya yang pesta sunatan adiknya. Sehingga Bambang pun urung membangunkan anaknya gadisnya tersebut.


Sementara itu, Marni dan Wisnu kini pun telah pergi, sedangkan Bambang kembali ke belakang untuk melanjutkan kegiatannya mengasah parang yang tadi sempat ia tinggalkan. Sembari ia mengasahkan bilah parangnya tersebut, tiba-tiba saja perasaan Bambang kembali merasakan sebuah kekhawatiran akan Marni dan juga anak sulungnya tersebut, sehingga tanpa disengaja jari telujuknya kini telah mengeluarkan banyak darah karena tergores oleh ujung tajam dari parang yang sedang ia asah tersebut.


"Astaghfirullah ada apa ini,? mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu kepada anak di istriku ya allah," gumam Bambang dalam hati sembari ia segera membersihkan darah yang terus mengucur deras dari jari telujuknya tersebut. Setelah itu ia pun segera membalutnya dengan sobekan kain yang ia ambil dari kain bajunya sendiri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2