
Sebelum juragan Susilo menyandang gelar orang paling kaya raya dan juga orang yang paling berpengaruh di seantero kampung bahkan Desanya itu, dulu ia dikenal hanyalah seorang petani biasa, bahkan boleh di bilang ia hanya seorang pekerja upahan bagi orang-orang yang membutuhkan tenaganya tersebut.
Ya, jangankan mempunyai tanah, sedang untuk menghidupi keluarganya saja, terkadang ia harus banting tulang bekerja sangat extra di ladang milik penduduk Kampung Pandan Sari. Semua itu Susilo lakukan agar mendapatkan upah yang lebih besar, sehingga bisa dibawa kerumah untuk makan istri dan kedua anaknya itu.
Bahkan, sesekali ia harus memutar keras otaknya untuk mencari pinjaman ke tetangga, maupun kepada warga di kampungnya tersebut. Bisa dikatakan, hampir setiap warga ataupun tetangga pernah ia datangi untuk meminjam uang . Hingga terkenal kala itu bukan sebagai juragan, namun sebagai si tukang ngutang. Namun ia tidak pernah sekalipun tak membayar pinjaman tersebut, walau sesekali ia harus telat membayar pinjaman tersebut, itu di sebabkan karena saat itu kebetulan bersamaan dengan kebutuhan keluarganya yang sudah sangat mendesak.
Bahkan, demi bisa membayar pinjaman tersebut, ia harus rela menahan perutnya kelaparan, dan hanya minum teh manis saja sebagai pengganjal perutnya yang lapar itu. Sungguh keadaan yang berbanding terbalik dengan Susilo yang kini telah di kenal sebagai juragan paling kaya raya dan punya banyak tanah maupun beberapa buah kios di pasar. Semakin lama, semakin terasa sulit kehidupan yang di jalani oleh Susilo dan keluarganya itu, terkadang mereka harus menahan lapar, akibat tidak ada beras sedikit pun lagi untuk bisa dimasak. Sedangkan mau berhutang ke warung pun sudah tidak bisa, karena hutang dia di beberapa warung sudah menumpuk. Sehingga, si pemilik warungpun sudah enggan untuk memberi hutangan lagi kepada Susilo.
Pernah pada suatu waktu, saat persediaan beras mereka sudah habis, istrinya tersebut pergi ke warung langganan mereka untuk mengutang beras dari warung tersebut. Berharap si empunya warung masih mau memberinya utangan. namun, bukan beras yang ia dapatkan, melainkan sebuah tangisan sang istri dengan penuh kepedihan, akibat telah menjadi bahan gunjingan dari ibu-ibu yang pada saat itu hendak berbelanja di warung tersebut.
" Pak ee, ibu sudah tak sanggup hidup seperti ini pak, bukan ibu tidak bersyukur, namun ibu sudah tak tahan dengan omongan dan juga gunjingan dari ibu-ibu di kampung ini pak, sakit kali rasanya hati ini pak," ujar istri Susilo sambil menangis dengan sesenggukan di hadapan Susilo. Ia yang melihat istrinya tersebut menangis pun tidak bisa berbuat apa-apa, karena ia sangat malu kepada istrinya tersebut. Karena dia merasa telah gagal menjadi seorang suami dan juga ayah dari kedua anaknya yang belum bisa membahagiakan mereka.
" Ya tuhan, apa yang harus aku perbuat, agar anak dan istriku bisa aku bahagiakan ya tuhan," gumam Susilo dalam hatinya.
" Yang sabar ya buk, doakan saja bapak agar kelak hinaan dan cacian mereka pada kita itu akan berbalik menjadi sebuah tepuk tangan, bapak berjanji akan berusaha untuk bisa membahagiakan kalian buk," sahut Susilo kepada istrinya yang masih terlihat menangis. Padahal, jauh didalam benak Susilo, ia pun tak tau mau kemana dan bagaimana caranya ia agar bisa segera mendapatkan uang dengan cara yang cepat, agar bisa segera membahagiakan keluarganya tersebut.
" Ibuk masih bisa untuk sabar pak, namun kasian anak-anak kita pak, seharusnya mereka merasakan bisa menikmati kebahagiaan di masa kecil mereka, bukan malah ikut menderita seperti kita ini pak, hiiikks,,, hikkkss," lirih istrinya Susilo sembari tak henti hentinya mengeluarkan air matanya tersebut.
Melihat keadaan istrinya yang terlihat begitu sedih dan merana itu, kemudian Susilo segera menghampiri istrinya tersebut.
"Ya sudah, ibu tenang saja ya bu, bapak pasti akan segera usahakan untuk mencari uang yang banyak walau bagaimanapun caranya. Agar keluarga kita tidak selalu menjadi bahan hinaan dan juga cemoohan dari orang-orang kampung ini buk," ucap Susilo seraya memeluk dan mencium kening istri tercintanya tersebut.
__ADS_1
Iapun segera melangkah pergi berjalan tanpa arah dan tujuan, dia juga tidak memberitahukan kepada istrinya kemana ia akan pergi, karena yang ada di benak dan fikirannya saat ini, Ia harus bisa menjadi orang yang kaya raya dengan cara yang cepat. Sehingga tidak ada seorangpun yang akan mengina lagi keluarganya di kampung.
Susilo yang terus berjalan tanpa arah itupun kini telah memasuki area perkebunan penduduk, sesekali ia menoleh ke arah para petani yang kala itu sedang bekerja bercocok tanam. Tanpa menghiraukan keadaan di sekelilinya tersebut, ia terus saja melangkah menyusuri jalanan setapak yang berada di area perkebunan tersebut, hingga akhirnya ia pun segera menghampiri sebuah pohon asem ysng cukup lumaya besar dan rimbun kemudian langsung duduk di bawah pohon tersebut.
Letak pohon itu sendiri berada cukup jauh dari area perkebunan penduduk. Sehingga, kesan angker dan suasananya yang terasa menyeramkan itu seolah menyelimuti pohon tersebut. Namun itu tidak pala di hiraukan oleh Susilo, karena yang ada di fikirannya sekarang hanyalah sebuah kekayaan dan kemewahan sehingga ia dan keluarganya tidak akan pernah mendapat hinaan lagi dari orang lain.
" Bagaimanapun juga, dan dengan cara apapun, aku harus bisa menjadi orang kaya dan terpandang, agar aku bisa membalas sakit hatiku kepada semua orang yang telah menghina dan merendahkan aku dan juga keluargaku." gumam Susilo sembari masih terlihat bersandar pada batang pohon asem tersebut.
Hingga akhirnya Susilo pun seketika tertidur ditempat tersebut. Dan entah itu mimpi atau hanyalah halusinasi Susilo saja, tiba-tiba dalam penglihatannya tersebut, Susilo melihat sesosok lelaki tua, dengan pakaiannya yang serba hitam, kemudian mukanya yang tertutup jubah, ditambah lagi dengan jenggotnya yang sudah memutih, terlihat berjalan menghampiri Susilo. Bahkan lelaki tua itu dengan seketika sudah berada tepat di hadapannya. Susilo pun seketika terkejut bukan main. Ketika melihat sosok lelaki tua yang sebenarnya jelmaan dari sukmanya mbah Jambrong. Dia memang telah mendapatkan tugas dari Nyai Ratu Sekar Arum untuk menemui Susilo.
Karena tanpa diketahui oleh Susilo, Nyai Ratu Sekar Arum ternyata telah mengetahui semua hal tentang Susilo, bahkan keinginan Susilo yang hendak menjadi seorang yang sangat kaya raya. Sehingga, ketika Nyai Ratu Sekar Arum melihat keberadaan Susilo kala itu pun segera memerintahkan mbah jambrong untuk segera menemui Susilo ke alam bawah sadar Susilo.
Mbah jambrong adalah salah satu orang kepercayaa dari Nyai Ratu Sekar Arum, atau bisa di bilang sebagai juru kunci penghubung antara alam manusia dan juga alam gaib tempat Nyai Ratu Sekar Arum bersemayam. Dia ditugaskan untuk memberi Susilo sebuah petunjuk, agar Susilo mau menemui Nyai Ratu Sekar Arum di istananya tersebut.
" Kamu tidak perlu kaget dengan kehadiranku ini Susilo, karena aku sudah tau apa yang sedang engkau cari", ucap lelaki tua tersebut yang seketika tambah membuat Susilo kebingungan.
"Maa,, apa maksud jenengan,? ucap Susilo mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
" Kau menginginkan kekayaan secara cepat bukan,? kau juga ingin membalaskan rasa sakit hatimu itu,ia kan ,? sahut lelaki tua tersebut kepada Susilo yang masih terlihat ketakutan.
__ADS_1
" Ia, itu memang benar, namun darimana kamu tau apa yang sedang aku inginkan,? lalu, bagaimanakah caranya agar aku bisa segera menjadi orang kaya,? tanya Susilo penasaran.
" Kalau kau memang menginginkan semua itu segera terwujud, segeralah kau pergi menuju kesebuah goa, yang letak goa tersebut tepat berada di kaki gunung Merangin. Bertapalah engkau disana, hingga saatnya nanti kau akan di jumpai oleh Nyai Ratu Sekar Arum, ialah yang nantinya akan memberimu kekayaan tersebut dan juga akan membantumu untuk membalaskan sakit hatimu itu Susilo" ucap lelaki tua itu menjelaskan dengan nadanya yang berat seraya iapun langsung menghilang dan lenyap seketika dari pandangan mata Susilo.
"Wusssssssh..!!!
"Dengan hanya sekejap mata, lelaki tua misterius itu pun menghilang. Bersamaan dengan hilangnya lelaki tua tersebut, Susilo pun tersentak kemudian seketika itu ia terbangun dari tidurnya.
" Hoaaammmm,,!!
"apakah tadi aku hanya bermimpi ya,?
" Tapi kalau itu memang hanya sebuah mimpi, kenapa itu bisa terlihat sangat nyata,?
" Kemudian, apa maksud dari lelaki tua itu menyuruhku untuk bertapa di sebuah goa,?
" Apakah itu memang sebuah petunjuk untukku, bahwa aku memang harus pergi kesana,? gumam Susilo dalam hati yang kini penuh dengan tanda tanya.
" Tunggu dulu, apakah gunung yang di maksud oleh lelaki misterius itu letaknya yang tak seberapa jauh dari bukit mayangan.? susilo pun kembali mengingat-ngingat akan letak Gunung merangin tersebut.
" Hmmmm...baiklah, lebih baik aku segera kesana, agar bisa secepatnya membahagiakan istri dan anak-anaku" ujar Susilo berbicara sendiri.
__ADS_1
Susilo pun kembali membulatkan tekadnya itu, untuk segera menjalankan apa yang di perintahkan oleh lelaki tua misterius yang dia lihat di dalam mimpinya tersebut. Bergegas Susilo pun segera bangkit dari duduknya, kemudian berdiri dan langsung beranjak pergi untuk segera berangkat menuju ke arah gunung Merangin.