
Sementara kita tinggalkan dulu pembahasan mengenai juragan Susilo, Kita beralih dulu kerumah Wisnu. Terlihat raut kecemasan di antara Yuni dan juga Bambang ayah dari Wisnu, ketika pagi hari di saat Bambang telah selesai melaksanakan shalat subuh di mesjid, Bambang kemudian pergi ke kamar Wisnu, di ketuk nya pintu kamar Wisnu secara berulang ulang, namun Bambang tidak mendengar adanya sahutan dari dalam kamar tersebut.
" Nduk, sini dulu sebentar nduk," ucap Bambang yang terdengar memanggil Yuni.
" Ia pak, sebentar lagi Yuni kesana," sahut Yuni dari arah belakang, seraya ia bergegas menuju ke tempat bapak nya berada.
" Ia pak ada apa pak,? tanya Yuni kepada bapak nya yang kala itu terlihat sedang berdiri di depan pintu kamar Wisnu.
" Ini loh nduk masmu, sedari tadi bapak panggil-panggil namun tak juga ada sahutan nduk, bapak khawatir kalau terjadi apa-apa sama masmu itu nduk," ucap Bambang menjelaskan alasannya memanggil Yuni.
" Coba bapak panggil lagi pak, siapa tau mas Wisnu masih tidur pak," timpal Yuni memberi saran agar bapak nya mencoba memanggil kembali abang nya itu.
" Nu,,,, Wisnu,,, kamu ndak apa-apa kan,? Ini sudah lewat subuh loh, kenapa belum bangun,? sahut Bambang yang kini kembali terdengar memanggil anaknya tersebut namun tetap tidak ada sahutan juga yang terdengar dari dalam kamarnya itu.
" Tuh kan nduk,,, bapak sedari tadi sudah memanggil masmu, bahkan bapak menggedor-gedor pintu kamarnnya namun masmu tetap belum bangun juga, bagai mana ini nduk,? ujar ayahnya yang nampak sekali terlihat khawatir, karena dia ingat sewaktu tadi malam, Wisnu bilang ia tidak enak badan, apalagi tak biasanya Wisnu tidak melaksanakan shalat subuh seperti biasanya
." Apa jangan-jangan mas Wisnu pingsan di dalam ya pak,? ujar Yuni yang kini iapun terlihat sama khawatirnya seperti kekhawatiran yang bapaknya sedang rasakan.
" Huuss,,,, jangan ngmong sembarangan nduk, jangan bikin bapak tambah khawatir," sahut Bambang seraya menutup mulutnya dengan jari telunjuknya, agar Yuni tidak sembarangan berbicara. Yuni pun seketika terdiam melihat kode tangan dari bapaknya tersebut.
" Ya sudah, biar bapak dobrak saja pintunya," ucap Bambang seraya segera menendang pintu kamar tersebut sehingga membuat Yuni pun seketika menjadi kaget.
__ADS_1
" Braaaaaaak,,!!!
Terdengar suara gaduh yang di timbulkan oleh tendangan Bambang, seraya kemudian pintu itupun akhirnya dapat terbuka.
" Alhamdulillah, bisa terbuka juga pintunya nduk," ucap Bambang tersenyum sembari mengucapkan syukur ketika melihat pintu kamar dari Wisnu akhirnya bisa terbuka setelah ia dobrak paksa tadi.
" Ayo nduk, kita lihat masmu segera kedalam," ucapnya kemudian mengajak Yuni untuk segera masuk bersamanya.
" Lohh, masmu kemana nduk,? kenapa dia tidak ada di kamarnya nduk,? tanya Bambang terkaget, sembari ia menujuk ke arah tempat tidur milik Wisnu yang dalam keadaan kosong tidak ada siapapun di sana.
" Ia pak, kemana mas Wisnu ya pak,? kok bisa bisanya mas gak ada di kamar, apa mungkin dia ke mesjid juga pak,? timpal yuni sembari menerka tentang keberadaan Wisnu.
" Ndak mungkin nduk, kalau masmu memang ke mesjid, kenapa pintunya ia kunci dari dalam, seharunya ia kuncikan dari luar nduk," Yuni pun seketika terdiam mendengar perkataan bapaknya, yang memang ada benarnya itu.
" Udah nduk, kamu jangan sedih, nanti bapak coba cari ketempat kawan-kawan masmu itu ya, sekarang kamu masak aja di dapur, biar bapak sebentar lagi keluar mencari masmu itu," ucap bambang mencoba menenangkan hati anaknya tersebut, seraya segera menyuruh agar Yuni kembali ke dapur.
" Janji ya pak, Yuni gak mau mas Wisnu kenapa-kenapa," timpal Yuni sembari ia segera berjalan kembali ke arah dapur.
" Kemana lah kamu pergi Wisnu, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa tidak mau bercerita sama bapak nak," gumam Bambang dalam hatinya, seraya mengusap usapkan telapak tangan ke dadanya agar batinnya bisa sedikit lebih tenang.
Sekitar pukul 09:00 Wib pagi hari, Bambang terlihat sedang memakai topi yang sering ia gunakan, kemudian terdengar Yuni menyapanya dari belakang.
__ADS_1
" Bapak mau kemana pak,? mau cari mas Wisnu ya pak,? ucap Yuni yang tiba-tiba sudah menyapanya dari arah belakang, yang membuat Bambang pun kemudian menolehkan wajahnya ke arah Yuni.
" Ia nduk, bapak rencananya mau keluar, mau mencari mas mu itu ke tempat kawan-kawannya, siapa tau mas mu ada di sana. Kamu di rumah saja ya nduk, siapa tau nanti masmu pulang," sahut Bambang yang segera bangkit dari tempat duduknya itu kemudian berdiri di di depan pintu keluar.
" Oh ia pak, bapak hati-hati di jalan ya, biar Yuni tunggu saja di rumah, mudah-mudahan mas Wisnu nanti pulang ya pak," jawab Yuni yang terlihat dari raut wajahnya itu masih menyimpan rasa sedih atas kepergian kaka satu-satunya itu.
" Ya sudah, bapak pergi dulu ya nduk, Assalamualaikum," sahut Bambang yang kemudian langsung beranjak pergi meninggalkan Yuni sendiri di rumah.
Bambang mencari Wisnu dengan berkeliling kampung, dari satu rumah ke rumah yang lainnya, namun beberapa kawannya itu hampir semuanya mengatakan kalau Wisnu belum ada nampak dari kemarin, padahal biasanya mereka sering berkumpul di warung dekat mesjid sembari memesan minuman kopi atau pun teh dan juga gorengan yang memang biasa bik Darsih jual di warungnya tersebut.
kemudian, Bambang yang masih kebingungan itu pun kini berjalan menuju ke arah warung bik Darsih, berharap bik Darsih tau mengenai keberadaan Wisnu.
Sesampainya di Warung bik Darsih, yang kebetulan pada saat itu masih agak sepi karena memang warung tersebut rame nya mulai dari sore hingga malam, jadi kalau siang begini palingan juga satu atau dua orang saja yang terlihat sedang duduk di warung tersebut.
" Bik, pesan kopi sama goreng pisangnya ya bik" ucap Bambang meminta bik Darsih untuk membuatkannya kopi sekaligus goreng pisang, sembari ia langsung duduk di warung tersebut.
" Oalah pak Bambang toh, tak kirain siapa hehehe,
Yowes tunggu sebentar biar bibik buatkan," sahut bik Darsih sembari tertawa kecil ketika melihat Bambang yang kala itu datang dan gak biasanya memesan kopi sama gorengan di tempatnya tersebut, apalagi masih siang seperti sekarang ini. Setelah kopi dan gorengan telah siap dihidangkan kepada Bambang, kemudian bik Darsih yang penasaran pun kini mulai bertanya.
" Kok tumben-tumbenan toh pak Bambang mau duduk di sini,? biasanya nak Wisnu yang malahan sering duduk di warung bibik sama kawan-kawannya itu, habis dari mana to pak Bambang,? tanya bik Darsih
__ADS_1
Bersambung dulu>>>