
"Masih terasa hening ku rasakan, dengan sesekali bulu kudukku yang seketika langsung meremang, jujur saja baru kali ini aku pergi ke tempat seseram ini, ku alihkan pandangan ke sekeliling, yang tampak hanyalah pepohonan besar menjulang tinggi, dengan dinding-dinding tebing yang curam yang masih bisa aku lihat walau dalam keremangan malam.
"Apakah benar tempat ini yang di katakan oleh Ratu Anjani,? dan apakah benar ia akan datang,? gumamku dalam hati seraya segera ku lihat jam di tanganku sudah menunjukan pukul 23:45 Wib, yang artinya tinggal beberapa menit lagi menuju jam 00:00 Wib.
Aku pun kembali melirik ke kanan dan ke kiri berulang ulang, berharap ada seseorang yang segera datang menemuiku, namun hingga beberapa saat tetap saja keadaan masih sama, hening tanpa adanya kehidupan. Bahkan suara binatang malam sekalipun malam ini tidak ada aku dengar sama sekali.
"Kok aneh ya, perasaan sebelum kemari masih banyak aku mendengar suara binatang, ini kok sepi sekali, atau memang pendengaranku saja yang lagi bermasalah,?
" Arggggghh entah lah," gumamku bertanya-tanya dalam hati.
Dalam keheningan malam, tiba-tiba saja terasa sebuah hawa dingin seolah di hembuskan oleh seseorang ke bagian belakang tungkak kepalaku, yang dengan seketika saja aku merasakan kantuk yang luar biasa, sehingga akupun seketika langsung menguap. Kugosok mataku dengan jari tanganku, namun tetap saja rasa kantuk itu semakin kuat, hingga akhirnya aku pun tertidur di tempat tersebut. Entah aku memang sedang tertidur dalam keadaan sedang bermimpi, atau memang itu sebuah kenyataan. Entah lah yang jelas aku memang merasa sudah tertidur.
Tiba-tiba, aku merasakan sebuah cahaya menerpa kedua mataku, seraya segera ku bukakan kedua mataku.
" Deuuugghhhh!!!... !!!
Jantungku seketika serasa mau copot, disaat ku lihat di sekelilingku telah berubah dalam keadaan siang hari. Sementara itu, aku ingat betul kalau tadi aku sedang tertidur di bawah pohon besar dekat air terjun. Lalu, bagaimana mungkin aku bisa dengan cepat berganti tempat, bahkan dengan sangat cepat hari berganti siang," gumamku dalam hati seraya merasakan sebuah keanehan yang nembuatku semakin bingung.
Nampak dengan jelas di sekitarku, kini sudah banyak bunga-bunga indah bermekaran, dengan bau wangi yang menyeruak menusuk indera penciumanku. Ya, kini aku sedang berada di sebuah jalanan yang mirip jalan di sebuah perkampungan dengan batu-batu yang tersusun sangat rapih.
"Di mana aku ini,? kenapa aku bisa berada di tempat ini,? lalu kemanakah orang-orangnya,? gumamku dalam hati, seraya bertanya-tanya tentang keberadaanku di tempat yang terasa sangat asing bagiku. Kulangkahkan kaki menyusuri jalananan setapak dan berbatu itu, kulihat ke sekeliling dan ku arahkan pandanganku ke arah rumah-rumah penduduk yang terlihat cukup aneh bagiku.
Bagaimana aku tidak merasa aneh, karena hampir semua bangunan di sini terbuat dari bambu dan kayu, dengan atap dari ijuk namun terlihat sangat rapih dan bersih.Akan tetapi, sedari tadi aku berjalan belum satu orang pun yang terlihat di perkampungan ini. Seolah, kampung ini adalah kampung mati, karena tidak ada aktifitas terlihat dari para penduduk.
__ADS_1
Semakin jauh aku berjalan, semakin dalam aku masuk ke perkampungan. Barulah setelah beberapa saat aku berjalan masuk, kini aku bisa melihat ada beberapa orang penduduk yang tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang sedang menyapu, ada yang seperti sedang jual beli, dan ada juga yang seperti sedang duduk berkerumun seolah sedang bergosip ria. Namun yang membuat aku heran, baik yang sedang menyapu, yang jual beli, bahkan yang sedang berkumpul, tak terdengar suara percakapan di antara mereka, bahkan tatapan mereka pun seakan kosong tanpa expresi. Ditambah lagi, dengan raut wajah mereka yang terlihat putih pucat, dengan pakaian mereka yang hanya memakai kain untuk wanita, sedangkan untuk para pria nya, mereka terlihat bertelanjang dada, dengan hanya memakai celana hitam selutut.
" Hmmmm, sungguh suatu keadaan yang begitu sangat aneh menurutku," gumamku dalam hati.
" Ahh, coba aku bertanya saja kepada salah satu penduduk, siapa tau diantara mereka, ada yang mau menunjukan arah jalan untuk pulang" ucapku dalam hati penuh harap.
Aku pun segera berjalan kearah para penduduk, kemudian dengan perlahan segera kuhampiri salah seorang ibu-ibu yang ku lihat tengah sibuk merapihkan jemuran padi nya tersebut. Setelah itu, aku kemudian segera bertanya kepada beliau.
" Permisi bu, kalau boleh tau, sebenarnya ini kampung apa ya bu,? apakah ibu tau arah jalan keluar dari kampung ini bu,? tanyaku dengan penuh kehati-hatian kepada ibu tersebut.
Namun bukannya menjawab, ibu tersebut malah terdiam seraya melirik ke arahku. Dengan sorot matanya yang tajam, dan dengan raut wajahnya yang terlihat pucat, ia kemudian mengangkatkan tanganya, kemudian jari telunjuknya terlihat ia arahkan ke ujung perkampung itu, dan aku tetap tidak mendengar sepatah katapun yang keluar dari mulutnya tersebut. Aku pun segera menoleh ke arah yang di tunjukan oleh ibu itu kepadaku.
Betapa terkejutnya aku, ketika tiba-tiba saja telah berdiri di hadapanku, sebuah bangunan yang sangat besar dan juga terlihat sangat mewah, dengan warna keemasan yang mendominasi di setiap sudut bangunan tersebut. Padahal, sedari tadi aku berada di perkampungan ini, aku tidak melihat ada sebuah bangunan yang cukup besar diperkampungan ini.
Dan disaat aku tengah kebingungan, tiba-tiba saja aku langsung teringat dengan bangunan yang kulihat tersebut, yang memang tak begitu asing dalam ingatanku. karena seingatku, disaat aku tertidur di rumah, kalau tidak salah aku pernah sekali memasuki bangunan megah tersebut, karena aku masih ingat betul bentuk dan model dari bangunan yang kulihat saat berada di alam bawah sadarku sewaktu itu. akupun berfikir keras, sembari mencoba terus mengingat-ngingat tentang kejadian kemarin.
Aku segera berjalan ke arah bangunan tersebut, yang boleh di katakan itu bukanlah bangunan biasa, namun lebih tepatnya seperti sebuah istana kerjaan yang sering kita lihat di televisi, yang terdapat di filem-filem kolosal.
"Deuggghhh.......,!!
Aku kembali dibuat terkejut, ketika tanpa kusadari aku telah berada tepat didepan pintu gerbang istana tersebut. terlihat ada dua orang penjaga tengah berdiri tegap dengan perawakan yang tinggi. Wajah mereka pun terlihat sangat sangar-sangar. terlihat juga, mereka berdua tengah memegang sebuah tombak dan juga sebuah tameng di kedua tangan mereka. Pakaian merekapun sangatlah mirip dengan pakaian kerjaan pada jaman dahulu layaknya seperti seorang prajurit dari sebuah kerajaan. Atau lebih tepatnya seperti pengawal kerjaan.
" Lalu Siapakah mereka ini,? tanyaku dalam hati.
__ADS_1
Aku lalu mencoba memberanikan diri menghampiri mereka berdua. Namun, tiba-tiba saja salah satu dari penjaga tersebut menoleh ke arahku, dengan tatapan matanya yang tajam dan terlihat kurang suka dengan keberadaanku di tempat tersebut. Sehingga, seketika saja membuat badanku pun terasa bergetar hebat.
" Waduh, jangan-jangan mereka berdua akan membunuhku," gumamku dalam hati yang kini tengah merasa sangat ketakutan. Namun dugaanku ternyata salah, karena orang yang tadi melihatku kini mau berbicara denganku, walau dengan nada suaranya yang terdengar berat dan juga tegas.
" Kisanak sudah di tunggu di dalam keraton oleh Kanjeng Ratu," ucapnya padaku seraya segera membukakan pintu gerbang tersebut seraya mengajaku untuk segera memasuki istana tersebut.
" Ma.....maksudnya apa tuan,? dengan sedikit tergagap, akupun memberanikan diri untuk bertanya.
" Sudah jangan banyak tanya, sekarang ikuti aku agar aku bisa mengantarnu kedalam untuk menemui Kanjeng Ratu," sahutnya lagi kepadaku dengan suaranya yang kini terdengar agak meninggi.
Tanpa berfikir lagi, akhirnya aku pun segera mengikutinya untuk masuk kedalam istana tersebut. Setelah berjalan kurang lebih 100 meter dari pintu gerbang tadi, kini akupun telah telah masuk ke dalam area istana tersebut, terlihat olehku beberapa orang yang berlalu lalang dengan berbagai macam senjata. ada tombak, panah dan juga pedang, sedangkan yang perempuan terlihat sedang bersih-bersih di halaman istana, dan ada juga yang terlihat sedang sibuk menyirami bunga-bunga di taman Istana tersebut.
" Sendiko Kanjeng Ratu, hamba sudah membawakan orang ini masuk" ucap prajurit tersebut, sembari kepalanya ia tundukkan kemudian kedua telapak tangannya ia katupkan tepat di depan wajahnya seolah sedang memberi hormat.
" Baiklah, sekarang kamu bisa segera keluar," sahut seorang wanita yang di panggil kanjeng Ratu oleh orang yang tadi mengantarkanku memasuki istana ini.
" Sendiko dawuh Kanjeng Ratu," ucap orajurit tersebut seraya segera pergi meninggalkan istana.
Kudongakkan kepala ku ke arah perempuan yang di panggil Kanjeng Ratu itu, seraya segera kutatap wajahnya. Betapa kagetnya aku, ketika kulihat orang yang sekarang berada di hadapanku ini tak lain adalah Ratu Anjani.
"Ra,, Ratu Anjani" ucapku dengan terbata-bata.
Bersambung>>>
__ADS_1