
"Nah, kini kau telah sampai di ujung hutan merangin, sekarang juga kau sudah bisa segera pulang untuk menemui anak dan istrimu. Tapi perlu kau ingat, jangan pernah kau tunjukan gelagat yang mencurigakan ketika kau sudah tiba di rumahmu, dan jangan lupa, kau juga harus menyediakan tempat untuk nanti Nyai Ratu Sekar Arum datang ke rumahmu itu Susilo," ujar Mbah Jambrong kepada Susilo seraya mengingatkan kembali akan ucapan dari Nyai Ratu Sekar Arum kepada Susilo.
" Baik mbah, saya akan ingat pesan dari mbah dan juga dari Nyai Ratu Sekar Arum," ucap Susilo seraya menganggukan kepala tanda mengerti.
" Dan satu hal lagi, apabila terkajadi sesuatu kepadamu, segera kau jumpai aku," sahut Mbah jambrong kembali mengingatkan .
" Baik mbah, tapi saya tidak tahu dimana kediaman mbah,? lalu bagaimana saya bisa menjumpai mbah,? timpal Susilo kebingungan karena tidak mengetahui rumah atau kediaman dari mbah Jambrong tersebut.
"Hahahahhaha,,,!!!
Kau tinggal datang kemari saja nanti, aku pasti segera datang untuk menemuimu." ucap mbah jambrong kepada Susilo seraya terdengar tawa dari mulutnya yang cukup keras.
" Ba,,,, baik Mbah, saya akan ikuti perintah mbah," jawab Susilo sembari ia pamit untuk segera pulang.
Setelah pamit pada mbah jambrong, Susilo pun dengan segera melangkah pergi melewati jalanan berbatu dengan semak yang hampir menutupi jalan yang kini ia lewati. Dan dengan sedikit agak berlari, Susilo terhenti sejenak sembari seketika fikirannya menerawang mengingat akan apa yang telah ia perbuat. Karena, Susilo merasa sangat bersalah telah mengorbankan anaknya demi sebuah kekayaan, namun iblis tetaplah iblis, yang akan terus berusaha menggoda manusia agar terjerumus kedalam lubang kesesatan. Sehingga, itulah yang telah menutup mata hati Susilo.
Malam pun kian larut, akhirnya Susilo pun kini telah berada dekat dengan rumahnya tersebut. Namun, ketika mata Susilo memandang kearah halaman rumahnya, disitu telah berdiri sebuah tenda yang di bawahnya terlihat berjejer kursi-kursi plastik dengan berbagai warna, kemudian di ujung jalan terlihat juga sebuah bendera dari kertas berwarna kuning, yang menandakan bahwa di tempat tersebut telah terjadi sebuah kematian.
" Jantung Susilo pun kini seolah berdebar begitu kencangnya dengan posisinya yang kala itu masih terlihat berdiri. Dia seakan masih tak percaya dengan apa yang telah ia perbuat, namun bagaimanapun juga perjanjian itupun telah ia sepakati, dan tidak bisa untuk mundur apalagi berniat untuk membatalkannya, karena bisa saja nyawanya sendirilah yang nanti akan dijadikan tumbal olehNyai Ratu Sekar Arum.
__ADS_1
Dengan langkahnya yang sedikit berat, ia kemudian berjalan pelan menuju ke arah rumahnya, dengan hati dan fikiran Susilo yang campur aduk jadi satu. Hingga akhirnya, Susilo kini telah berada tepat di depan pintu rumahnya tersebut seraya segera mengetuk dan memanggil istrinya tersebut.
" Toookk ,, tokkk,,,, tookk,,,,!!!!
" Buuu,,, ibuuuu,,, bapak pulang buk," terdengar suara Susilo yang tengah memanggil istrinya seraya ia mengetuk ngetuk pintu rumahnya tersebut.
Pintu pun akhirnya terbuka, Susilo menatap istrinya tersebut kemudian berpura-pura tidak mengetahui tentang kematian anaknya sulungnya itu.
" Buuuu,, ada apa ini buuuk,?
" Siapa yang telah meninggal buk,? kenapa tidak ada yang memberitahu bapak buk,? ucap Susilo bertanya kepada istrinya tersebut dengan nada suaranya yang agak meninggi, seolah Susilo tidak mengetahui akan apa yang telah ia lakukan tanpa sepengetahuan dari istrinya tersebut.
" Paaaakkk,,, Sulis paaaak,, Sulis anak kita telah meninggalkan kita semua pak,"
" Hiikkk,,,, hikkkk,,,, hiiikkk," ucap Halimah sembari menangis tersedu-sedu, seraya segera memeluk tubuh suaminya itu kemudian menanyakan tentang kepergian Susilo yang tanpa memberitahunya itu.
" Bapak dari anu buk, dari tempat teman lama bapak, rencana mau meminjam uang untuk modal, dan alhamdulillah teman bapak mau memberi kita modal untuk membeli tanah. Namun, apabila ada yang bertanya tentang kepergian bapak sama ibuk, tolong bilangkan kalau bapak dapat uang dari hasil jual warisan ya buk, ini bapak lakukan demi kalian buk, namun bapak bingung saat pulang keadaan sudah seperti ini. Maafkan bapak buk, bapak sungguh tidak tau buk," ucap Susilo memberi alasan kepada istrinya tersebut.
" Ya allah bapak, padahal kita masih bisa mencari uang dari bekerja pak, kenapa harus meminjam, darimana kita akan menggantinya nanti pak,? timpal Halimah yang merasa terkejut atas apa yang di ucapkan suaminya tersebut.
__ADS_1
" Ibuk tenang saja ya buk, insya allah pasti ada rejeki untuk kita. lagian teman bapak juga memberikan pinjaman tersebut dengan cuma-cuma buk tanpa ada bunga," ujar Susilo menerangkan pada istrinya agar istrinya tersebut bisa lebih tenang.
"Ya sudah, kalau begitu bapak masuk dulu, bapak pasti capek kan,? sahut Halimah yang menyuruh suaminya agar segera masuk, sesaat kemudian mereka pun akhirnya masuk kedalam rumah.
Hari berganti bulan, dan tahun pun juga telah berganti.
Kini, Susilo yang tadinya dikenal orang hanya sebagai seorang pekerja upahan di ladang, lambat laun kehidupannya kini mulai berangsur meningkat dengan pesat. Karena, sekarang ini ia telah bisa membeli beberapa ladang milik para penduduk yang ia beli dengan alasan, karena ia mendapatkan harta warisan dari orang tuanya di kampung. Padahal, itu hanya alasan Susilo aja agar warga kampung tidak menaruh curiga kepadanya.Bahkan, Susilo yang tanpa sepengetahuan istrinya itu mempunyai harta simpanan yang begitu banyak, Susilo pun rupanya tidak kehabisan akal, dia sengaja tetap terlihat biasa dan juga tidak terlalu banyak membeli sesuatu, sehingga akan terlihat wajar dimata para warga kampung pandan sari tersebut, sehingga orang-orang pasti berfikir bahwa itu adalah hasil dari kebun miliknya tersebut dan bukan hasil dari dia menjadi pemuja iblis.
Bahkan kini, rumahnya yang dulu hanya sebuah gubuk dari papan yang sudah reyot, kini telah di ubah dan dibangunkan sebuah rumah yang permanen. Selain itu, tidak lupa juga Susilo sengaja membuat sekitar empat kamar tidur, termasuk satu buah gudang. Dan gudang itu tentunya akan dibuat khusus oleh Susilo untuk ia pergunakan menjalankan ritual pesugihannya dengan Nyai Ratu Sekar Arum. Terlebih lagi dia memang harus mepunyai satu tempat khusus untuk menerima kedatangan dari Nyai Ratu Sekar Arum, ketika ia berkunjung untuk sekedar dilayani oleh Susilo. Karena daei situ juga Susilo menambah pundi-pundi kekayaannya tersebut.
3 tahun Sudah berlalu, kini tiba saatnya Susilo harus segera memberikan tumbal pada Nyai Ratu Sekar Arum, dan waktunya tinggal 1 bulan lagi hingga datangnya bulan purnama. Susilo pun berfikir keras, siapa kira-kira orang yang bisa di jadikan sebagai tumbal, namun ternyata bukan perkara yang mudah untuk mencari calon korban Susilo. Sehingga pada suatu ketika,Juragan Susilo akan mengadakan panen besar di beberapa ladangnya, bahkan Susilo kini telah menyandang gelar sebagai Juragan, Ya..Juragan Susilo. Itulah panggilan orang-orang ketika berpapasan dengannya. Dan untuk menutupi kebusukannya, Juragan Susilo sering membatu warga yang membutuhkan, menyumbang mesjid, bahkan membantu biaya pembangunan infrastuktur di kampung pandan sari. Sehingga tidak ada seorangpun yang berani membicarakan jelek tentang Juragan Susilo di kampung nya tersebut.
Singkat cerita, panen pun akan segera tiba, namun Juragan Susilo kini kekurangan tenaga pekerja hingga ia menyuruh Karta kaki tangannya tersebut, untuk segera mencarikan pekerja yang mau bekerja diladang miliknya itu untuk memanen hasil kebunnya tersebut.
" Karta, segera kau carikan aku orang yang mau bekerja," ucap Juragan Susilo kepada Karta.
" Siap juragan, sekarang juga akan saya cari," Sahut karta seraya segera pergi untuk mencari para pekerja.
Sementara itu, kini juragan Susilo terlihat langsung termenung. Memikirkan tumbal yang harus segera ia berikan kepada Nyai Ratu Sekar Arum sesembahannya itu. Apalagi memngingat waktu yang sudah sangat mepet, sehingga ia harus memutar otak untuk segera mencari target yang bisa ia jadikan tumbal saat bulan purnama tiba.
__ADS_1
" Hmmmm, siapa ya kira-kira yang bisa aku jadikan untuk tumbalku nanti,? gumam juragan Susilo berkata dalam hati sembari berfikir dengan keras.
...****************...