
Setelah mbah Jambrong Bersemedi, dia pun akhirnya mengakhiri semedi tersebut kemudian bergegas kembali masuk menuju kediamannya. Di suruhnya juragan Susilo untuk mencarikan Ayam Hitam di dalam Hutan Merangin. Sontak saja juragan Susilo menjadi terkejut karena bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan ayam hitam tersebut didalam hutan apalagi pada malam hari.
" Susilo, lekaslah kau berangkat ke dalam hutan, ambilkan ayam hitam disana kemudian bawa kemari," sahut mbah Jambrong kepada juragan Susilo.
" Tapi mbah, bagaimana saya bisa mendapatkan ayam itu mbah, apalagi ini sudah tengah malam mbah,? tanya juragan Susilo yang seketika terkejut mendengar perintah dari mbah Jambrong.
" Kamu tidak perlu khawatir, berangkatlah segera, nanti setelah sampai di tengah hutan, hampir lah sebuah batu berundak yang berada di dekat semak belukar, nanti kamu akan melihat ayam tersebut. Tangkap dan langsung bawa kemari," timpal mbah Jambrong memberikan penjelasan kepada juragan Susilo.
" Baiklah mbah kalau begitu kami berangkat mbah," sahut juragan Susilo sembari hati dan pikirannya saat tidak karuan namun dia pun tidak mungkin menolak perintah mbah Jambrong.
Sementara itu Karta hanya bisa manut dengan sang juragan, karena diapun hanyalah seorang bawahan, jadi mau tak mau dia harus ikuti apa kata sang juragan. Mereka berdua pun kahirnya berangkat ke tengah hutan merangin. Di temani senter yang memang mereka bawak dari rumah.
" Ah entah apa lah mbah Jambrong ini nyuruh-nyuruh kita ke hutan malam-malam gini Karta, kalo bagi dia itu hal yang biasa, tapi bagi kita kan enggak ya kan Karta,? gerutu juragan Susilo sambil terus melangkah berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke dalam hutan.
" Iya juragan, apalagi ini sudah tengah malam, gimana kalau nanti banyak demit yang muncul juragan,? Karta pun ikut menggerutu.
" Hus, jangan sembarangan kamu ngomong, udah kita laksanakan saja perintahnya, lagian ini demi kebaikan ku juga Karta," timpal juragan Susilo yang langsung mengingatkan Karta agar menjaga ucapan.
" Maaf juragan, saya salah," ucap Karta meminta maaf kepada juragan Susilo.
sekitar setengah jam perjalanan mereka, akhirnya mereka kini telah berada di tengah hutan yang terkenal angker itu. Pandangan mereka pun mereka arahkan ke sekeliling tempat tersebut untuk mencari batu yang di sebutkan oleh mbah Jambrong tadi. Suara-suara hewan hutan pun terdengar saling bersahutan, seolah menyambut kedatangan mereka berdua di tempat tersebut. Namun yang membuat mereka bergidik ialah ketika mereka mulai mencium bau-bau busuk yang mulai menyeruak menusuk indera penciuman mereka berdua. Bahkan sesekali terdengar suara seperti orang tertawa dan bahkan sesekali menangis tersedu.
__ADS_1
" Suara apa itu juragan,? jangan-jangan demit juragan,? tanya Karta yang mulai ketakutan.
" Udah kamu diam saja Karta, abaikan saja suara-suara itu, lagian mbah Jambrong pun pastinya sudah memberi tahu penghuni di sini," ujar juragan Susilo yang mencoba menenangkan Karta, padahal dia sendiri pun sebenarnya merasakan ketakutan yang sama seperti apa yang Karta rasakan.
" Baik juragan," timpal Karta singkat.
" Lihat itu Karta, itu batu yang di bilang mbah Jambrong, ayo kita segera kesana," ucap juragan Susilo sembari menunjuk ke sebuah batu besar yang berada tak jauh dari posisi mereka berdiri sembari mengajak Karta untuk segera kesana.
" Iya juragan, itu batunya juragan," timpal Karta dengan girang nya.
Mereka pun akhirnya menghampiri batu tersebut, dan benar saja, disana sudah ada satu ekor ayam jantan berwarna hitam, yang di kenal sebagai ayam cemani yang berada tak jauh dari batu tersebut. Tak mau menunggu lama, juragan Susilo menyuruh Karta untuk menangkap ayam tersebut kemudian mereka berdua pun bergegas meninggalkan tempat tersebut kemudian kembali menuju kediaman mbah Jambrong.
" Ya jelas lah Karta, namanya juga ini ayam untuk di pakai mbah Jambrong, yo pastinya sudah di persiapkan," timpal juragan Susilo.
" Ya udah lah ayok kita cepat-cepat kembali kesana, gak usah lama-lama kita di sini," sahut juragan Susilo yang menyuruh Karta untuk bergegas.
Setelah beberapa waktu berjalan, akhirnya mereka berdua pun akhirnya telah tiba di kediaman mbah Jambrong, dan Karta pun segera memberikan ayam tersebut kepada mbah Jambrong.
" Ini mbah ayamnya mbah," ucap Karta sembari memberikan ayam tersebut kepada mbah Jambrong.
" Hahahaha, bagus, bagus, kalian gak kesulitan kan pada saat mengambilnya,? sambil tertawa, mbah jambrong pun bertanya kepada juragan Susilo dan juga Karta.
__ADS_1
" Tidak mbah, semua berjalan sesuai apa yang mbah katakan," timpal juragan Susilo.
" Ya sudah, sekarang kalian mundur, biar aku selesaikan pekerjaanku," perintah mbah Jambrong kepada juragan Susilo dan juga Karta.
" Baik mbah," sahut mereka berdua secara bersamaan dan kemudian mereka pun menjauh.
Mbah jambrong pun terlihat tengah memulai ritualnya, asap kemenyan pun mengepul memenuhi ruangan tersebut sementara mulutnya itu terlihat berkomat kamit membaca mantra-mantra yang juragan Susilo dan Karta tidak mengerti apa yang telah di ucapkan mbah Jambrong.
Sedangkan di kediaman Wisnu, mbah Darmo pun terlihat tengah sibuk mempersiapkan diri untuk menyambut serangan yang akan di kirimkan oleh musuhnya tersebut. Mbah Darmo duduk bersila sementara Bambang, Wisnu, dan juga Yuni juga tengah bersiap untuk melakukan Dzikir seperti yang telah di perintahkan oleh mbah Darmo. Sekitar pukul 02.00 dini hari, tiba-tiba saja suasana di rumah Wisnu seketika berubah mencekam. Hawa di rumah tersebut tiba-tiba saja menjadi panas, dan juga bulu kuduk mereka bertiga pun langsung meremang, sehingga Yuni pun tak kuasa untuk bertanya kepada bapa nya saking ketakutannya.
" Pak, kenapa tiba-tiba bulu kuduk Yuni berdiri ya pak, apa bapak tidak merasakan keanehan di rumah ini pak,? tanya Yuni dengan perasaanya yang diliputi ketakutan.
" Kamu tidak perlu takut nduk, bulu kuduk bapak juga dama nduk, tapi seperti kata mbah Darmo, kita tidak perlu khawatir apalagi takut, karena mbah Darmo kan sudah memberi kita pagar badan nduk," ujar Bambang yang tengah berusaha untuk membuat anaknya itu tenang.
" Iya Yun, mas juga merasakan yang sama, tapi yakinlah allah bersama kita Yun," timpal Wisnu yang ikut menenangkan adiknya.
" Tapi mas, kenapa tiba-tiba saja rumah ini menjadi panas mas,? Yuni takut mas," sahut Yuni yang masih merasakan ketakutan yang luar biasa.
" Kalian tidak perlu takut, selagi ada mbah disini insya allah kita semua akan selamat, yang terpenting kalian memohon pertolongan selalu kepada allah. Dan untuk hawa panas ini, ini adalah efek benturan energi yang coba di kirim oleh si Jambrong, jadi lebih baik kalian segera berdzikir," sahut mbah Jambrong yang seolah tau tentang apa yang saat ini di rasakan oleh mereka bertiga dan akhirnya mereka pun kemudian segera melakukan dzikir tersebut.
Bersambung>>>>>
__ADS_1