
Setelah dirasa cukup, mbah Darmo pun kemudian segera beranjak keluar dari dalam kamar. Selanjutnya ia segera duduk diantara bersama Bambang dan kedua anaknya tersebut yang saat itu masih menunggu kehadirannya.
" Bambang, kamu berikan ini kepada kedua anakmu itu, karena sebentar lagi kita akam segera berangkat ke kaki gunung merangin" sahut mbah Darmo sembari memberikan tiga buah bungkusan kecil beserta air munum yang telah ia doakan tersebut kepada Bambang.
" Baik mbah," timpal Bambang kemudian segera memberikan bungkusan beserta air putih tersebut kepada Wisnu dan juga Yuni.
" Nduk, kamu dirumah ya nduk, dan ingat pesan mbah, apapun yang terjadi nanti disini kamu abaikan saja dan jangan sampai keluar dari rumah ini sebelum kami kembali," ucap mbah Darmo kepada Yuni.
" Iya mbah, Yuni ak berusaha untuk menjalankan pesan dari mbah Darmo," timpal Yuni sembari ia terlihat mengangguk pelan tanda mengerti.
" Ya sudah sekarang kita sudah bisa segera berangkat," sahut mbah Darmo kembali seraya mereka bertiga pun terlihat segera berjalan keluar dari dalam rumah tersebut.
Kini tinggalah Yuni sendiri dirumah, dengan perasaanya yang was-was itu, kemudian iapun bergegas menuju kedalam kamarnya.
Ditempat lain, Wisnu beserta Bambang dan juga mbah Darmo kini telah memasuki kawasan perkebunan milik para penduduk, jalanan setapak dengan suasana malam pun mengiringi perjalanan mereka bertiga. Untungnya malam itu adalah malam bulan purnama, sehingga mereka tidak terlalu kesulitan melihat selama perjalanan mereka bertiga ke arah gunung merangin.
" Bambang, kalian sudah mbah kasih pelindung, sehingga kalian tidak perlu khawatir akan diketahui oleh mahluk-mahluk yang sekarang tengah berada disekitar jasad Marni," sahut mbah Darmo yang seketika itu memecah keheningan diantara mereka bertiga.
" Lalu apa yang harus kami lakukan disana mbah,? Tanya bambang kepada mbah Darmo.
" Kalian cukup membawa jasad Marni saja menjauh dari tempat tersebut, kemudian segeralah menuju pemakaman umum dimana kuburan marni berada," timpal mbah Darmo yang terdengar memberikan arahan kepada Bambang dan juga Wisnu.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu mbah," timpal Bambang seraya mereka terus berjalan membelah keheningan malam menuju hutan gunung merangin.
" Mas Wisnu, aku akan tetap menjagamu dari sini mas, kamu jangan pernah khawatir ya mas," sahut sebuah suara yang tiba-tiba saja terdengar oleh telinga Wisnu pada saat itu. Dan dia sangat hafal betul kalau suara tersebut adalah suara kekasihnya yaitu Ratu Anjani.
" Baiklah Anjani, terimakasih banyak ya sayang," ucap Wisnu dalam hatinya itu.
" Sama-sama mas, dan mas juga tidak perlu mengkhawatirkan Yuni, karena aku telah mengirim pengawal terbaikku untuk menjaga Yuni mas," timpal Ratu Anjani kembali yang seolah tau bahwa Wisnu saat itu memang sedang memikirkan Yuni adiknya tersebut.
" Syukurlah kalau memang kamu sudah menyuruh pengawalmu untuk menjaga adiku itu Anjani," sahut Wisnu dalam hatinya kemudian ia segera melanjutkan perjalanan bersama mbah Darmo dan juga ayahnya itu.
Mbah Darmo sebenarnya tau kalau Wisnu sedang berkomunikasi dengan seseorang melalui batinnya, namun mbah Darmo saat itu berpura-pura tidak mengetahuinya, karena ia tau bahwa Ratu Anjani memang sosok jin yang baik.
" Akhirnya, kita telah sampai di pertigaan jalan, ingat disaat kalian memasuki hutan larangan tersebut, apapun yang kalian akan lihat nanti tolong di abaikan saja, karena mereka sebenarnya tidak akan bisa melihat keberadaan kalian," ucap mbah Darmo mengingatkan Bambang dan juga Wisnu.
Setelah melewati pertigaan jalan tersebut akhirnya mereka telah tiba didepan pintu gerbang menuju hutan larangan yang gerkenal angker dan sangat wingit tersebut. Suasana di tempat itu terasa begitu sangat berbeda, aura jahat seolah melingkupi tempat tersebut sehingga mambuat Bambang dan juga Wisnu sedikit begidik ngeri. Mbah darmo kemudian segera melangkahkan kakinya itu memasuki hutan tersebut, disusul Wisnu dan juga Bambang yang mengikutinya dari belakang.
Belum juga beberapa langkah mereka menapaki jalan setapak dihutan tersebut, mereka telah disambut oleh pemandangan yang begitu mengerikan. Bukan hanya mbah Darmo saja yang dapat melihat itu, melainkan Wisnu dan juga Bambang yang saat itu memang telah dibukakan mata bathinya tersebut oleh mbah Darmo, sehingga mereka juga bisa melihat keberadaan dari beberapa mahluk yang ada disana. Sebagian dari mahluk-mahluk itu kebanyakan berwujud tinggi besar berbulu, ditambah lagi banyak sekali kuntilanak dan juga pocong yang hampir memenuhi seisi hutan larangan tersebut.
" Nu, apa kamu melihat yang bapak lihat Nu,? Tanya bambang kepada Wisnu sembari menolehkan pandangannya tersebut kearah Wisnu anaknya tersebut.
" Iya pak, Wisnu juga melihatnya pak," sahut Wisnu menjawab ayahnya tersebut dengan singkat.
__ADS_1
" Kalian tidak perlu kaget, karena memang sengaja mbah telah membukakan mata batin kalian berdua, sehingga kakian sekarang dapat melihat keberadaan dari mahluk-mahluk siluman tersebut," sahut mbah Darmo yang tiba-tiba saja mengagetkan Bambang dan juga Wisnu.
" Eh ia mbah, sekarang kami mengerti mbah," timpal Bambang dengan raut wajahnya yang saat itu terlihat menunjukan sebuah rasa ketakutan.
" Ya sudah mari kita jalan lagi, abaikan saja mahluk-mahluk laknat itu," ucap mbah Darmo yang segera mengajak Bambang dan juga wisnu untuk segera melanjutkan perjalanan mereka.
Dan setelah beberapa waktu lamanya mereka berjalan, akhirnya mereka pun telah tiba disebuah tebing yang sangat curam, kemudian mereka bertiga pun segera berjalan menuruni tebing curam tersebut untuk menuju kearah sebuah goa yang berada di tengah-tengah tebing curam tersebut.
" Hati-hati kalian saat melangkah, karena salah langkah sedikit saja kalian bisa jatuh," ucap mbah Darmo kembali mengingatkan Bambang dan juga Wisnu agar berhati-hati.
" Iya mbah, kami akan berhati-hati," sahut Bambang dan juga Wisnu secara bersamaan.
Sementara itu, Nyai Ratu Sekar Arum terlihat tengah bersiap untuk segera menuju rumah juragan Susilo, karena malam ini adalah malam dimana juragan Susilo harus melayaninya. Sedangkan juragan Suslilo pun terlihat tengah sibuk mempersiapkan jamuan dan juga ubo rampe untuk menyambut kedatangan dari Nyai Ratu Sekar Arum itu.
" Malam ini adalah malam yang selalu kunantikan, karena malam ini aku akan meraih kenikmatan kembali dari Susilo, hahahahhaha,,, hahahhaha,," ucap Nyai Ratu Sekar Arum sembari mengeluarkan suara tawa dari mulutnya yang terdengar begitu nyaring tersebut.
" Ahhhhhhhh,, brusaaaakkkk,,,!!!
Terdengar teriakan keras dari Wisnu yang kala itu kakinya terperosok kedalam bibir tebing, sehingga tubuhnya pun seketika jatuh kedalam jurang yang sangat curam tersebut.
" Wisnu,,,,!!! Teriak Bambang mencoba meraih tubuh Wisnu yang saat itu jatuh terjerembab kedalam jurang dan seketika itu juga lenyap ditelan kegelapan jurang tersebut.
__ADS_1
" Wisnu anakku, maafkan bapak nak, hiikkssss," ucap Bambang yang langsung terisak sembari terduduk lemas didapan tebing tempat Wisnu saat itu terjatuh.
Bersambung>>>>>>