Asmara Terlarang Dengan Jin Penunggu Air Terjun

Asmara Terlarang Dengan Jin Penunggu Air Terjun
Amplop Kematian


__ADS_3

Kini Wisnu maupun ibunya telah tiba di ladang tempat mereka akan bekerja untuk memanen hasil bumi milik juragan Susilo, nampak di sana kini sudah ramai orang-orang yang juga bekerja di ladang tersebut, termasuk Iyem yang turut bekerja di sana. Wisnu yang kebagian mengumpulkan hasil panen pun kemudian membawa hasil panen tersebut menuju ke tempat penimbangan, sekaligus untuk segera di masukan kedalam mobil bak milik Juragan Susilo yang berjumlah sekitar 2 buah, termasuk 3 buah mobil Truck besar yang terparkir di tempat tersebut.


Tanpa ia sadari, gerak geriknya itu telah di awasi dari jauh oleh juragan Susilo. Terlihat dari sorot mata juragan Susilo yang terus memperhatikan Wisnu sedari tadi.


" Kok juragan bengong sich juragan, kenapa,? tanya Karta yang secara tiba-tiba, seketika membuat juragan Susilo pun terperanjat kaget.


" Buju buneng,,!! kebiasaan kali kau buat aku sport jantung ya, lain kali jangan buat orang terkejut," ujar juragan Susilo sembari mendelik ke arah Karta dengan suaranya sedikit menggeram.


Sontak saja Karta langsung meminta maaf kepada sang juragan sembari menundukan kepala karena merasa takut.


" Ampun juragan, saya mohon maaf, saya tidak tau kalau juragan jadi terkejut, sekali lagi saya memohon maaf ya juragan" ucap Karta sembari mengatupkan kedua telapak tangannya di hadapan juragan Susilo.


" Jangan kau ulangi lagi Karta, bisa-bisa aku mati kau buat," ucap juragan Susilo mengingatkan.


" Siap laksanakan komendan,,, hehhehe," sahut Karta sembari terlihat mulutnya mulai cengengesan.


"Karta, sekarang aku akan memberimu tugas yang sangat penting, tapi kau harus merahasiakan ini, atau kau tau sendiri akibatnya. Dan satu hal yang harus kau ingat Karta, apa yang aku berikan ini harus kau berikan tepat kepada orangnya," ucap juragan Susilo kepada Karta, seraya tangannya itu terlihat sudah menggenggam sebuah amplop berwarna putih.


" Berikan amplop ini kepada Wisnu, kalau dia tanya untuk apa ini, bilang saja kalau ini bonus dariku karena dia sudah rajin dan juga mau bekerja di ladangku ini. Apa kau mengerti Karta,? kembali juragan Susilo bertanya kepada Karta, sembari memberikan sebuah amplop putih berisi uang, yang nantinya akan di berikan kepada Wisnu.


" Baik juragan, saya siap dan saya sudah mengerti apa yang juragan perintahkan," jawab Karta sembari ia segera menerima amplop tersebut dari juragan Susilo.

__ADS_1


" Bagus, sekarang juga kau pergi, berikan amplop ini segera kepada Wisnu, ingat jangan sampai orang lain tau, dan terimalah uang untukmu," ucap juragan Susilo kepada Karta, seraya segera memberikan sejumlah uang kepada Karta.


Karta segera menerima uang pemberian tersebut seraya iapun langsung bergegas menuju ke tempat dimana Wisnu sekarang tengah berada. Setibanya Karta di tengah ladang, matanya pun kini ia arahkan ke sekeliling untuk mencari Wisnu. Namun, itulah yang namanya sudah suratan yang maha kuasa. Ketika Karta sedang focus untuk mencari keberadaan Wisnu, tiba-tiba saja seseorang menyapanya dari arah belakang.


"Bang Karta, sedang apa di sini, kok sepertinya sedang mencari seseorang,? terdengar suara seorang perempuan dari arah belakangnya, yang tak lain adalah Ijah, anak kampung sebelah yang memang selama ini sangat disukai oleh Karta.


"Eh, dek Ijah, ngagetin abang aja hehehhe," sahut Karta ketika ia tau bahwa yang tadi memanggilnya itu adalah Ijah.


" Ini loh dek Ijah, anu dek Ijah, abang lagi cari dek Ijah tadi, rupanya dek Ijah duluan yang nemuin abang" ucap Karta seraya tangannya terlihat menggaruk rambut di kepalanya yang tak gatal itu. Akibat pertemuan yang tak terduga dengan Ijah tersebut, membuat Karta seketika menjadi lupa akan niat dia yang sebenarnya, sehingga tanpa Karta sadari, dia telah melupakan amplop yang seharusnya segera dia berikan kepada Wisnu.


" Loh kok abang malah diam si bang,? sahut ijah yang nampak keheranan melihat tingkah dari Karta.


" Ohh enggak dek Ijah, gak apa-apa kok, dek Ijah tunggu sebentar disini ya, dan jangan kemana-mana, abang mau pergi sebentar karena ada perlu sama buk Marni. Soalnya, tadi juragan Susilo menyuruh abang untuk menjumpai buk Marni.


" Buk..buk Marni, sebentar buk," sahut Karta memanggil Marni sembari ia segera menghampirinya.


" Oh..pak Karta, ono opo toh pak memanggil saya,? jawab Marni yang nampak keheranan tersebut.


" Ini loh buk Marni, saya di suruh Juragan Susilo untuk memberikan ini kepada buk Marni," ucap Karta seraya tangannya kini terlihat sedang menyodorkan sebuah amplop berwarna putih yang memang amplop tersebut.


Sebenarnya, amplop itu telah juragan Susilo ritualkan terlebih dahulu, agar nantinya ketika siluman yang menjadi pengawal dari Nyai Ratu Sekar Arum datang, ia bisa langsung mengetahui targetnya dari amplop tersebut.

__ADS_1


" Aduh op iki pak Karta,? tanya Marni semakin di buat heran ketika tangannya kini telah memegang sebuah amplop berwarna putih dan berisikan uang dari juragan Susilo tersebut.


" Ini buat buk Marni, juragan tadi berpesan agar memberikan ini sebagai bonus, karena buk Marni sudah mau bekerja di ladangnya," sahut Karta menjelaskan mengenai amplop tersebut, yang sebenarnya itu untuk Wisnu, bukan untuk Marni ibunya Wisnu. Namun, ya Karta tetaplah Karta, karena kebucinan dia sama Ijah, akhirnya dia lupa akan pesan yang di perintahkan oleh juragan Susilo kepadanya.


" Owalahh kok repot-repot toh pak Karta, lagian yang kerja di sini juga kan bukan saya saja toh pak Karta, kenapa hanya saya saja yang di beri bonus sama Juragan,? ucap Marni yang masih kebingungan.


" Tidak apa-apa buk Marni, terima saja pembarian ini," ucap Karta meyakinkan Marni.


" Yowes, namanya juga rejeki ya kan pak Karta, mosok iyo kita mau nolak toh, hehehe," sahut marni seraya segera memasukan amplop tersebut kedalam saku bajunya itu.


" Tolong sampaikan juga ucapan terimakasih saya untuk juragan ya pak Karta" timpal Marni yang merasa sangat senang, karena tanpa diduga ia akan mendapatkan bonus dari juragan Susilo.


" Hmmmmm, memang rejeki tak akan kemana," gumam Marni dalam hati, seraya ia segera melanjutkan kembali pekerjaanya tersebut.


" Ingat ya buk, jangan sampai kelihatan sama yang lain, takutnya yang lain merasa iri hati nanti sama ibuk," ucap Karta sembari mengingatkan Marni agar merahasiakan pemberian dari Juragan Susilo tersebut.


Setelah selesai memberikan amplop, Karta pun segera berjalan kembali ke arah Ijah yang terlihat masih setia menunggu kedatangan Karta di tempat tadi pertama mereka bertemu. Setelah bertemu, Karta kemudian segera mengajak Ijah untuk pergi dari sana, sembari jari telunjuknya terlihat menunjuk ke arah sebuah pohon besar di sebelah ladang juragan Susilo tersebut.


" Dek Ijah, kita pindah saja yuk, gak enak disini entar di liatin banyak orang kan malu, heheheh," ucap Karta sembari mulutnya terdengar tertawa cengengesan,


Karta meraih tangan Ijah, setelah itu mereka berdua segera berjalan menuju pohon yang di tunjukan oleh Karta. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun kini telah sampai ditempat tersebut seraya mereka pun akhirnya duduk di balik pohon besar nan rindang tersebut. Itu mereka berdus lakukan, agar para warga yang sedang bekerja di ladang tidak akan melihat keberadaan mereka berdua yang sedang di mabuk asmara tersebut kala itu.

__ADS_1


Tanpa terasa hari pun kini telah beranjak sore, terlihat orang-orang yang sedari tadi sibuk bekerja, kini tengah sibuk mengumpulkan barang bawaan yang mereka bawa tadi untuk mereka bawak pulang kembali. Setelah selesai berkemas, mereka pun segera menuju ke tempat juragan Susilo untuk mengambil upah. Disana terlihat juragan Susilo kini sedang memberikan upah yang di masukan kedalam sebuah amplop kepada para pekerja tersebut satu persatu, hingga akhirnya semua pekerja pun telah menerima upah mereka masing-masing. Setelahnya, mereka pun kemudian segera meninggalkan tempat tersebut untuk segera pulang kerumah mereka masing-masing.


Begitupun dengan Wisnu dan juga ibunya yang terlihat telah meninggalkan ladang juragan Susilo. Dari kejauhan, Karta yang melihat kepulangan dari para pekerja pun segera menyuruh Ijah untuk pulang juga, seraya tangannya terlihat mengambil sejumlah uang kertas 50 ribuan yang di ambil Karta dari dalam saku celananya tersebut kemudian segera memberikannya kepada Ijah sang pujaan hatinya tersebut. Ijah yang melihat lembaran uang itupun segera menerimanya, kemudian segera beranjak pergi meninggalkan Karta. Sedangkan Karta, dia segera berjalan menuju ketempat Juragan Susilo.


__ADS_2