
Seketika itu angin mulai berhembus begitu kencang, mbah Darmo yang masih duduk dalam keadaan bersila pun kini telah bangkit dari duduknya tersebut kemudian segera mengeluarkan sebilah keris yang memang telah ia bawa semenjak kedatangannya tersebut kerumah kami.
Segera ditancapkannya keris tersebut didepan kuburan Marni, disaat itu pula angin pun seketika langsung berhenti. Mbah Darmo kemudian memanggil kami semua untuk segera mendatanginya, sehingga kami semua pun akhirnya bergegas menghampiri mbah Darmo yang terlihat seperti sedang merasakan sebuah kelelahan.
" Kalian segeralah kemari, karena aku tidak bisa terlalu lama menahan serangan ghaib dari para pengawal siluman laknat tersebut," ucap mbah Darmo memanggil kami semua sembari ia terlihat terus berkomat kamit membacakan sesuatu dari mulutnya tersebut.
Setelah kami semua telah berada di sekitar makam, mbah Darmo kemudian segera menyuruh pak Wawan dan juga bapak untuk segera membongkar kuburan tersebut.
" Pak Wawan, Bambang, dan juga kamu Wisnu sekarang waktunya untuk membongkar kuburan ini, takutnya aku tidak bisa menahan kekuatan jahat ini lebih lama lagi," sahut mbah Darmo kepada kami bertiga.
" Baik mbah," timpal mereka bertiga secara bersama-sama, kemudian segera membongkar kuburan tersebut dibantu oleh anak-anak pak Wawan yang ketika itu ikut membantu dalam proses pembongkaran tersebut.
Disisi lain, Yuni yang kala itu hanya seorang diri, kini ia mulai merasakan sesuatu yang membuat bulu kuduknya seketika menjadi meremang. Saat itu Yuni seperti mencium aroma-aroma tak sedap, seperti bau bangkai dan juga bau dari sesuatu yang terbakar, sehingga sesekali Yuni pun merasakan mual yang begitu sangat tak tertahankan bahkan ingin rasanya ia segera memuntahkannya namun sengaja ia tahan.
Belum berhenti sampai disitu, Yuni kembali di kagetkan oleh sesosok mahluk berbadan tinggi besar, dengan matanya yang menyala merah, ditambah gigi-ginya yang runcing kemudian seluruh tubuhnya dipenuhi bulu tersebut terlihat memandang tajam kearahnya. Seketika itu juga Yuni pun berteriak saking takutnya, sehingga orang-orang yang tengah sibuk membongkar kuburan tersebut pun seketika terhenti akibat mendengar teriakan dari Yuni tersebut.
" Ahhhhhh,,,,!!!!!
" Mas Wisnu, bapak, tolong Yuni," teriak Yuni yang seketika memecah keheningan malam tersebut.
Wisnu yang mendengar teriakan dari adiknya tersebut pun seketika bergas keluar dari dalam lubang kuburan tersebut seraya segera menghampiri Yuni.
" Kenapa kamu Yun,? apa yang terjadi sama kamu,? Tanya Wisnu kepada Yuni yang terlihat seperti orang yang tengah melihat sesuatu yang menakutkan.
" I,, itu mas, itu," ucap Yuni dengan suaranya yang terbata-bata seraya tangannya terlihat menunjuk kearah sebuah pohon kamboja dekat kuburan ibu mereka tersebut.
__ADS_1
" Apa Sich Yun,? mas gak lihat apapun disana," sahut Wisnu kebingungan ketika melihat adiknya tersebut menunjuk kesebuah pohon kamboja namun dia tidak melihat apapun disana.
Mbah Darmo yang ketika itu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Yuni, ia pun segera datang menghampiri Yuni dan juga Wisnu.
" Nu, lebih baik kamu lanjutkan saja pekerjaan kalian, Yuni biar mbah saja yang urus," ucap mbah Darmo kepada Wisnu kemudian segera menyuruh Wisnu untuk melanjutkan proses pembongkaran makam tersebut.
" Baiklah mbah, Wisnu titip Yuni ya mbah," sahut Wisnu seraya ia segera bergegas kembali menemui bapak dan jugs pak Wawan yang masih terus melanjutkan pembongkaran makam itu.
Wisnu pun akhirnya segera kembali ke liang kuburan ibunya tersebut, sedangkan mbah Darmo terlihat segera membawa Yuni ketempat ia bersila tadi. Setelah sampai, Yuni disuruh mbah Darmo segera menutup kedua matanya tersebut, kemudian segera merapalkan sesuatu dari mulutnya tersebut sembari salah satu tangannya itu ia usapkan ke arah wajah Yuni. Sesaat kemudian, mbah Darmo kemudian menyuruh Yuni untuk segera membukakan kedua matanya tersebut kemudian Yuni pun seketika langsung membuka kedua matanya itu.
" Gimana nduk, masih melihat mahluk tersebut,? Ucap mbah Darmo kepada Yuni, yang kemudian Yuni seketika menyorotkan kedua matanya itu ke arah dimana ia tadi melihat sosok mahluk tinggi besar tersebut
" Udah gak ada mbah, memangnya itu apaan mbah,? Tanya Yuni kepada mbah Darno dengan penuh rasa penasaran.
" Itu adalah mahluk yang dikirimkan oleh iblis yang telah mengambil ibumu untuk mengganggu tujuan kita sekarang ini Yun, mbah sudah menutup kembali mata batin mu itu agar kamu tidak diganggu kembali oleh mahluk-mahluk tersebut," sahut mbah Darmo kepada Yuni seraya ia menjelaskan mengenai mahluk yang dilihat oleh Yuni tersebut tadi.
" Nduk, kamu bisa bantu doa, dan juga membaca kalam-kalam allah sebisa kamu nduk, itu akan sangat membantu kita semua nduk," ucap mbah Darmo yang menyuruh Yuni untuk membantu mendoakan mereka semua.
" Baiklah mbah kalau begitu mbah," timpal Yuni yang segera menginyakan ucapan dari mbah nya tersebut.
Tidak berselang lama, kini terdengar sebuah teriakan dari Bambang yang seketika itu pun suasana di sekitar pekuburan menjadi kian mencekam. Sehingga mbah Darmo dan Yuni pun bergegas melangkah menghampiri suara teriakan tersebut.
" Ibuuuuu, kenapa bisa begini bu,? dimana jasadmu kini bu,? Hikkkkkssss,,, hikkkks," Bambang seketika itu pun menangis sejadi-jadinya, ketika kedua matanya itu melihat kearah jasad dari sang istri kini telah berubah menjadi sebuah gedebong pisang. Wisnu yang memang sudah tau akan hal tersebut tidak begitu terlalu terkejut, bahkan ia segera merangkul bapaknya tersebut seraya memberikan semangat.
" Wis toh pak, bapak jangan terlalu bersedih, insya allah nanti kita akan mencari jasad ibuk pak, apalagi nanti tangisan bapak takutnya terdengar oleh para penduduk kampung pak," ujar Wisnu yang mencoba untuk mengingatkan Bambang.
__ADS_1
" Bapak tau nak, namun kenapa ini bisa terjadi kepada ibumu nak,? hiiiikkkksss,,,, hikksss," timpal Bambang yang masih tidak bisa menahan air matanya tersebut.
" Sudah, sudah, sekarang kalian ambil gedebong pisang tersebut beserta kain kafannya itu, kemudian segera tutup kembali lubang kuburan tersebut," sahut mbah Darmo yang kini tengah berada diatas kepala mereka.
Setelah mendengar perintah dari mbah Darmo, mereka segera mngangkat gedebong beserta kain kafan tersebut ke atas, kemudian mereka segera menimbun kembali lubang kuburan tersebut hingga selesai seperti sedia kala.
Setelah semua selesai mereka kerjakan, mbah Darmo lantas menyuruh mereka semua untuk segera menuju rumah pak Wawan.
" Sekarang kita ke rumah pak Wawan, mbah mau mengatakan sesuatu," sahut mbah Darmo yang terlihat segera mencabut kerisnya itu seraya ia selipkan dibalik bajunya tersebut kemudian segera berjalan menuju rumah dari pak Wawan.
Setibanya didalam rumah, mbah Darmo mengatakan kepada pak Wawab sekaligus kepada anak-anaknya, agar tidak memberitahukan dulu kejadian ini hingga nanti saatnya tiba.
" Pak Wawan, mbah minta kepada kalian, agar kejadian ini untuk sementara dirahasiakan, karena takut menimbulkan fitnah dikemudian hari, apakah pak Wawan bersedia,?
ucap mbah Darmo kepada pak Wawan seraya mereka langsung menganggukan kepala mereka tanda mengerti.
" Insya allah mbah, kami akan menjaga amanat dari mbah,"
ucap Pak Wawan kepada mbah Darmo.
Setelah itu mbah Darmo, Bambang, Wisnu, dan juga Yuni pun segera berpamitan kepada pak wawan.
" Baiklah kalau begitu kami permisi untuk segera pulang, dan ini ada sedikit rejeki untuk bapak dan juga anak-anak. Mohon jangan dilihat dari isinya ya pak, hanya ala kadarnya saja," sahut Bambang ketika berpamitan seraya segera memberikan sebuah bingkisan sembako dan juga sebuah amplop kepada pak Wawan.
" Loh, loh, opo iki pak Bambang,? Kami semua ikhlas kok membantu bapak," timpal Wawan yang sedikit menolak pemberian dari bambang tersebut.
__ADS_1
" Tidak apa-apa pak, kami juga sangat ikhlas pak jadi terima saja lemberian dari saya ini," sahut Bambang kembali untuk meyakinkan pak Wawan agar menerima pemberiannya tersebut.
" Baiklah kalau begitu saya terima ya pak, mudah-mudahan masalahnya segera terselesaikan," timpal Wawan sembari ia sekarang mau menerima oemberian tersebut. Dan oada akhirya Bambang dan tiga orang lainnya pun.bergegas segera kembali kerumah.