
Akhir dari kehebohan di Mansion sudah usai, kini saatnya Naura pergi ke kamar mereka. Ya, sedikit merasa aneh jika mendengar kalimat itu, dia harus bangun dari realita yang ada dimana dirinya telah menikah dengan calon adik iparnya sendiri.
"Mengapa aku merasa Arya sangat serius menjalankan peran ini?" Naura merasa aneh jika akhir-akhir ini suaminya itu sedikit menekannya dalam artian posesif, tidak mungkin pria itu menyimpan rasa untuknya atau mungkin saja itu terjadi.
"Bukankah aku meminta mu untuk beristirahat? Kenapa kau melamun?" tanya seseorang yang memecah lamunan Naura.
Naura menoleh setelah tahu dan mengenal suara siapa di ambang pintu, menyusuri pemandangannya melihat sang suami yang membawakan nampan yang berisi sepiring buah telah di kupas dan segelas susu. "Aku tidak demam, jadi untuk apa aku harus beristirahat." Jawabnya dengan enteng bersamaan kedua bahu yang terangkat.
"Untuk mengantisipasinya." Arya meletakkan buah dan susu di atas nakas yang tak jauh dari jangkauan Naura, meliriknya dan memberikan isyarat untuk memakan dan meminumnya sekarang juga.
Naura tak mengalihkan pandangannya membuat pria itu salah tingkah. "Kenapa akhir-akhir ini kau tempak peduli padaku dan juga pada kesehatanku, apa hubungan kita sudah berjalan selangkah lebih dekat?"
Arya langsung mengalihkan perhatian, pertanyaan yang dia sendiri tidak tahu jawabannya dan cukup bimbang. Apakah perhatian itu hanya karena wajah sang istri sangat mirip dengan wanita masa lalunya atau itu perasaan yang mulai berkembang. "Itu hanya perasaanmu saja, aku harus bersikap seperti suamimu di depan orang banyak agar mereka percaya kita hidup bahagia juga harmonis."
"Benarkah, aku rasa bukan itu alasannya. Kau terlihat gugup dan__."
"Kenapa kau ini sangat cerewet sekali, sebaiknya habiskan buah dan susu itu sebelum aku kembali semua isi piring harus kosong." Arya langsung menepis perkataan Naura dengan menyelah nya, berlalu pergi dari kamar itu sebelum timbul pertanyaan yang bisa menjebaknya kapan saja.
"Ck, aku bukan wanita bodoh yang baru pertama kali memiliki kekasih." Naura mendelik, ekspresi yang di tunjukkan Arya jelas sekali gugup dan mencoba untuk menghindarinya. Setelah itu dia melihat buah yang sudah di kupas dan di potong kecil, menyuapi dirinya untuk menikmati bagai seorang ratu. Dia merasa susu putih di dalam gelas sangat tidak menarik, hingga memutuskan untuk tidak meminumnya dan membuang susu putih yang terlihat menjijikkan itu ke wastafel. "Iyuhh…susu itu terlihat sangat kental dan juga sangat menjijikkan, aku akan membuangnya nanti." Dia terkekeh kemudian, melakukannya dengan cepat sebelum Arya kembali dan memaksanya minum di hadapan pria itu secara langsung.
__ADS_1
Naura sangat bosan berada di rumah, hingga ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk dari seseorang. Dengan cepat merogoh benda pipih itu di dalam saku dan melihat siapa yang menghubunginya, tertera nama Bian di sana. "Eh, ada angin apa dia menghubungiku setelah berabad-abad lamanya?" gumamnya membaca pesan singkat itu.
Tak sengaja Arya melihat senyum di wajah Naura begitu cantik dan juga hangat, namun yang membuatnya tidak suka adalah penyebab dari senyuman itu, tangan memegang daun pintu begitu erat. "Siapa yang menghubunginya hingga dia tersenyum begitu?" batinnya yang sangat penasaran.
Naura yang tersenyum dan sesekali tertawa berbalas pesan pada seorang pria yang berbeda negara darinya sangat lucu, membuatnya seperti orang gila. Senyuman yang berubah kecut saat seseorang mengambil sumber kebahagiaannya, melihat sang pelaku yang tanpa izin membaca pesannya. "Dasar tidak tahu malu, kembalikan ponselku!" tekannya seraya berjinjit untuk mendapatkan kembali sumber kebahagiaan nya itu, tapi Arya seakan tuli dengan mengangkat kedua tangan agar dia tidak bisa meraih benda kesayangan itu.
Hati Arya memanas saat membaca pesan yang membuatnya memanas. "Bian? Siapa pria ini?"
"Ck, itu privasi ku dan kau tidak boleh tahu mengenai urusanku." Tekan Naura.
"Kau adalah tanggung jawabku dan urusanmu juga urusanku, jawab saja pertanyaanku siapa pria ini?"
"Ck, aku tidak bertanya itu. Maksudku apa hubunganmu dengannya, jangan katakan kalau kau pernah berbagi ranjang dengannya." Arya menatap Naura tajam juga menyelidik, aura yang di keluarkan tidak bisa di anggap enteng dan penuh ancaman.
Naura merasakan sesak nafas saat membagi oksigen, memundurkan langkah menjauh dari Arya yang terus berjalan maju. "Itu semua bukanlah urusanmu, lagi pula dia hanya temanku saja. Berbagi ranjang dengannya? Oh ayolah…hubungan dengan lawan jenis tak selamanya berakhir di atas ranjang dan aku tegaskan jika aku masih perawan." Ucapnya dengan tegas, terkekeh geli melihat sikap pria itu yang sepertinya cemburu. "Tunggu dulu, apa kau cemburu? Kita tidak sedekat itu dn hubungan ini murni dalam kesepakatan saja."
Arya diam tak bergeming, perkataan dari Naura kembali menyadarkan hubungan mereka tak sedekat itu, tapi dia sangat tertarik mendengar kalimat di pertengahan dan nyengir kuda. "Apa kau yakin kalau kau masih perawan?" terselip niat yang di kuasai oleh pikiran kotornya.
"Tentu saja." Jawab Naura dengan tersenyum bangga dan juga sombong.
__ADS_1
"Kalau begitu mari kita buktikan." Arya kembali menyengir licik dan meraih pinggang wanita itu menempel ke tubuhnya, sedangkan Naura sangat gugup dan juga takut dengan reaksi sang pria.
"Apa kau ini gila? Aku hanya akan menyerahkan kehormatan juga mahkota ku ini untuk suami sahku, bukan suami kontrak sepertimu." Tegasnya, Naura dapat merasakan seberapa dekatnya mereka dan sangat membenci pria itu yang berbagi oksigen dengannya. "Lepaskan aku!" pekiknya memukul dada bidang yang begitu kokoh.
Arya kembali tersadar dan menjauh, melepaskan tubuh wanita itu seraya berlalu pergi tanpa mengatakan apapun.
"Hey bedebah sialan! Kembalikan ponselku!" Pekiknya penuh penekanan, menghentakkan kedua kaki disaat keinginannya tidak terpenuhi. "Arya sialan, lancang sekali dia menyita ponselku. Memangnya dia siapa? Heh, hanya mantan calon adik ipar tapi gayanya seperti seorang pria yang cemburuan dan posesif. Eh, cemburu? Apa dia menyukaiku?" Monolognya yang hampir tak percaya, menutup mulut menggunakan kedua tangan dan seolah-olah memperlihatkan ekspresi terkejut.
"Ada apa denganku?" Arya meletakkan ponsel itu di atas meja dan mengusap wajahnya dengan kasar, tidak tahu mengapa hal ini terjadi begitu di luar kendali. "Apa aku cemburu? Bagaimana mungkin, ini pasti karena wajahnya sangat mirip dengan Bella. Astaga…aku benar-benar gila di buatnya." gumamnya yang uring-uringan.
Ponsel milik Naura berdering membuyarkan perasaan Arya dan melihat siapa yang menghubungi sang istri. "Heh, kenapa dia menghubungi istri orang? Seperti tidak ada pekerjaan lain saja." Cibirnya yang langsung menjawab telepon itu karena di liputi rasa penasaran tinggi.
"Halo, Naura. Syukurlah kau mengangkat teleponku, mengapa begitu lama membalas pesan dariku? Apa kau ada masalah?"
"Ya. Kau lah akar masalah itu." Balas Arya dingin membuat orang di seberang sana mengerutkan dahi.
"Tunggu dulu, kau siapa? Dan mengapa ponsel Naura ada padamu?"
"Sepertinya kau ketinggalan berita bung, AKU SUAMINYA!" tegas Arya yang langsung memutuskan sambungan telepon.
__ADS_1