
Lili sangat patah hati dan juga kesal melihat kekasihnya begitu peduli kepada mantan sahabatnya, pembicaraan itu amatlah membosankan baginya. Dia menghela nafas jengah seraya menatap Amar yang memuji bagaimana kelihaian Arya dan Naura saat berhubungan intim, dan dia juga ingin merasakan hal yang sama.
"Apa kau hanya akan membahas hubungan mereka saja? Lalu, bagaimana dengan kita?" protes Lili.
"Tidak."
"Kalau begitu sebaiknya kita akhiri saja, aku terlambat pemotretan selanjutnya dan kau bisa menyelesaikan pekerjaanmu di kantor." Lili memberi satu kecupan di pipi kanan sang kekasih dan berlalu pergi, baru saja dia keluar dari kamarnya melihat sesosok pria tampan yang menjadi target berikutnya.
Dia berjalan menghampiri dengan semangat menggelora, menyentuh dada bidang membuat pikiran liarnya berkelana.
Arya langsung menepis nya kasar tanpa menoleh, melihat jam tangan mahal yang ada di lengannya memperhatikan dengan seksama. "Sayang…cepatlah atau suamimu ini akan terlambat ke kantor." Panggilnya dengan sedikit berteriak.
"Sebentar lagi." Jawab seseorang dari dalam kamar.
Naura menghampiri suaminya dan melakukan keromantisan tepat di hadapan Lili menyatakan jika pernikahannya sangat bahagia. "Ups maaf, aku kira tidak ada orang lain disini." Ucapnya dengan sengaja tidak menyadari keberadaan Lili.
"Apa dia menggodamu, Sayang?"
"Tadinya begitu, suami tampanmu ini hampir saja di goda."
"Aku pasti selalu mengawasimu dan semoga saja tidak ada mata jahat mengenai hubungan kita ini," dengan sengaja Naura mengecup bibir sang suami untuk memanasi Lili.
"Sial, apa dia sengaja melakukan itu untuk memanasiku? Aku sangat yakin dia melakukan itu." Batin Lili yang mendengus kesal. "Hah, aku sangat suka dengan keromantisan kalian. Tapi maaf, aku tak punya banyak waktu, jadwal pemotretan ku sebentar lagi." Ungkapnya yang langsung pergi tanpa menoleh.
Naura terkikik melihat raut wajah Lili yang menyimpan kekesalan padanya, sedangkan Arya tersenyum geli. "Kau sangat suka menggodanya."
"Dia selalu saja iri dengan apa yang aku miliki dan aku sangat yakin pasti berambisi untuk memilikimu."
"Hah, aku sudah menduga dan kau tidak akan mengerti bagaimana dia menatapku, seolah aku ini daging panggang yang begitu lezat." Sahut Arya.
"Ya, apa kau tidak tertarik padanya?" tanya Naura menatap Arya.
"Ck, kau membayarku untuk berkencan dengannya saja aku tak akan sudi." Jawab Arya dan keduanya tertawa puas. "Ayo, suami tampanmu ini harus berangkat ke kantor."
"Baik Tuan suami." Balas Naura tersenyum, mereka berjalan bergandengan mesra memperlihatkan jika hubungan itu sungguhan.
Kedekatan keduanya kian hari semakin dekat, baik Naura dan Arya perlahan mulai melupakan jika itu pernikahan kontrak belaka. Mereka sudah seperti sahabat, kala dekat sering bertengkar dan di kala jauh merindu.
Arya menjadi tidak fokus bekerja walau rapat penting sekaligus, selalu saja melihat jam yang terpanjang di dinding dan diam-diam tersenyum. Amar yang berada satu ruangan memperhatikan adik tirinya itu tampak gelisah, dia tahu apa penyebabnya.
"Aku harus cepat sebelum Naura hamil anaknya." Gumam Amar di dalam hati, berjanji pada dirinya sendiri untuk merebut kembali sang mantan calon pengantinnya di tangan adik tiri.
__ADS_1
"Apa perasaanku sudah benar? Kenapa setiap kali menjauh selalu terngiang wajahnya dan juga sikapnya yang sangat manis. Perasaan ini sama persis saat aku mencintai Bella, apa jangan-jangan aku mulai ada rasa pada istri kontrakku itu?" ucap Arya di dalam hati.
"Bagaimana Tuan, apa kita harus menandatangani kontrak kerja sama ini?" dengan sengaja Amar meminta pendapat, berharap citra Arya turun dimata orang-orang.
"Oh, eh…apa? Maksudku, bisa kau ulangi lagi?" Arya gelagapan dengan satu pertanyaan.
"Apa kita harus menandatangani kontrak kerja sama ini?" ulang Amar tersenyum dengan niat terselubung.
"Tentu saja, kesempatan hanya berjalan satu kali."
"Bagaimana Tuan begitu yakin tanpa mempertimbangkannya? Itu sangat rentan pada untung dan rugi."
Arya mulai mengerti dengan pertanyaan Amar yang ingin menjebaknya. "Aku sangat yakin dengan kemampuan para staf, jadi keputusan ini akan tepat. Mengenai untung dan rugi, percayalah jika kerjasama itu akan menguntungkan dari kedua belah pihak. Apalagi letak proyek berada di daerah strategis dan dapat di jangkau oleh semua orang."
Amar terdiam saat mendapatkan jawaban itu, bukannya penghinaan melainkan rasa hormat dari para anggota yang mengikuti rapat. Semua orang manggut-manggut kan dan bertepuk tangan, mereka sangat beruntung jika pimpinan baru lebih pintar dan bijak di bandingkan yang lama.
Sementara disisi lain, selesai pemotretan Lili memutuskan untuk merehatkan dirinya dahulu sebelum melakukan pemotretan untuk sesi selanjutnya. Masih terngiang bagaimana kedekatan Naura dan Arya, rasa iri dan dengki kembali merasukinya untuk segera merebut apa yang di miliki oleh mantan sahabatnya.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus merebut Arya dari Naura." Rasa iri dan dengki menjadikan Lili tamak dengan apa yang di miliki mantan sahabatnya, meniatkan hati untuk merebutnya. "Persetan dengan Amar, pria yang tidak berguna itu tidak ada apa-apa di bandingkan adik tirinya yang memukau."
Lili mulai merencanakan bagaimana memisahkan keduanya, dan memutuskan untuk merusak hubungan erat itu terlebih dahulu.
Arya memperhatikan ponselnya dan berharap ada panggilan masuk dari seseorang yang dia nantikan, namun semua sambungan telepon hanya dadi beberapa orang untuk membahas pekerjaan. Dia kesal dan membentak beberapa orang yang di klaim sebagai pengganggu.
"Halo."
"Oh kau, ada apa?"
"Ini sudah waktunya jam makan siang."
"Ya, aku tahu."
"Bagaimana kalau…hem aku membawamu ke restoran terdekat? Tenang saja, aku yang akan mentraktirmu."
"Maaf, sepertinya aku tidak bisa karena sudah membuat janji pada seseorang."
"Seseorang? Siapa dia?"
"Temanku. Apa kau mengenal Bian? Dialah orangnya yang mengajakku pergi. Jadi, aku minta maaf padamu."
"Batalkan janji itu!" tegas Arya lewat sambungan telepon, seketika darahnya mendidih saat mendengar nama pria lain disebutkan oleh bibir seksi dan indah dadi Naura.
__ADS_1
"Aku sudah membuat janji dan tidak akan mungkin aku batalkan."
"Aku ingin kau membatalkannya, titik."
"Tidak akan aku lakukan."
"Aku ingin kau__." Belum sempat Arya menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba sambungan telepon terputus membuatnya sangat kesal juga jengkel. "Sial, dia memutuskan teleponnya." Tanpa babibu, dia bergegas beranjak dari kursinya seraya merogoh kunci mobil dan keluar dari kantor.
Naura mengumpati Arya yang mulai mengekangnya, menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Dia tidak sanggup hidup dalam beban, dimana sang pria yang perlahan mulai mengatur kehidupan pribadinya. "Memangnya dia siapa? Pria itu menjadi besar kepala dan kelamaan berakting."
"Kau kenapa?" tanya seorang wanita yang diam-diam mengintip di balik daun pintu.
Naura mendelik kesal sambil meletakkan ponselnya di atas meja kerja. "Aku sangat kesal pada Arya."
"Kesal kenapa?" Lita masuk ke dalam ruangan dan begitu tertarik dengan pembahasan itu.
"Sikap Arya akhir-akhir ini sangat berbeda, dia mulai mengatur dn mengacau kehidupan pribadiku."
"Dia mulai posesif?" Tterka Lita yang langsung di setujui oleh Naura lewat kepala yang mengangguk.
Brak
Lita menggebrak meja di hadapannya membuat Naura terkejut dengan aksi barbarnya. "Itu tandanya dia mulai jatuh cinta padamu."
"Ck, tidak perlu memukul meja. Kau membuat aku sangat terkejut." Umpat Naura jengkel.
Lita membalasnya dengan cengengesan tanpa rasa bersalah sedikitpun, baginya itu suatu hal yang harus di gambarkan agar terlihat lebih dramatis. "Bagaimana perasaanmu padanya? Apa kau tidak memiliki rasa sedikit saja?"
"Entahlah, aku rasa tidak." Jawab Naura bingung. "Aku hanya ingin berteman saja dan tidak lebih dari itu."
"Apa itu artinya kau menyukai Bian? Pria itu juga oke dan sempurna untukmu." Goda Lita sensual, Naura pernah mengenalkan pria itu padanya dan tidak kalah tampannya dari Arya. Pria berikutnya yang menjadi salah satu haremnya, ketampanan bak dewa Yunani begitu memukau.
"Kenapa aku merasa akhir-akhir ini kau begitu tertarik dengan kehidupan pribadiku." Naura menatap Lita dengan penuh menyelidiki menyusuri pandangan dari atas hingga bawah.
"Karena pria itu sangat tampan, kau tahu 'kan bagaimana otakku jika berada di antara pria tampan? mungkin dia bisa menjadi salah satu pria haremku jika kau menolaknya."
"Kau sangat menggelikan."
"Aku tahu itu, tapi aku menyukainya. Lalu, bagaimana dengan janjimu pada Bian? Apa kau mulai melupakannya?"
Sontak kekesalan yang ada di hati Naura perlahan memudar dan berganti dengan rasa terkejut karena baru menyadari jika dirinya memiliki janji kepada Bian, bergegas secepat mungkin keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Bye, aku pergi dulu." Pekik Naura, sedangkan Lita menggelengkan kepala seraya mengeluarkan nafas tengah. "Dasar ceroboh! Dan sialnya dia adalah sahabat terbaikku." Lirihnya.