
Tatapan mematikan dari seorang pria kepada Naura, menutupi rasa terkejut melihat keberadaan salah satu anak kembarnya yang masih hidup. Tatapan kemarahan juga sesal di hati menyeruak keluar bersamaan, dimana kondisi sang istri tercinta memburuk saat bertemu dengan putrinya.
"Jika tidak memiliki kepentingan sebaiknya kau pergi dari rumahku!" tegas Rian tatapan menusuk.
Naura menyunggingkan sebelah bibirnya ke atas, entah dia harus bersikap kagum pada cinta pria itu yang sangat dalam kepada wanitanya. "Anda nampak berhati-hati sekali, begitu mencintainya dan sungguh perjalanan cinta yang ironis." Ejeknya.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" Rian menatap Naura dengan sarkas dan juga tajam.
"Aku hanya ingin berkunjung saja, ternyata karena wanita ini kau tega meninggalkan anak dan juga istri? Ck, kenapa tidak ada karma menghampiri kalian."
"Pergilah dari sini!" sentak Rian menghampiri Naura dan menyeret lengan Naura untuk menjauh dari istrinya yang sakit.
Naura menolak untuk pergi dan kembali menghampiri wanita yang menjadi perusak dalam keharmonisan keluarganya. "Aku tidak akan pergi, dan kau! Kau telah merebut kakak kembarku dan juga ayahku. Kau wanita yang tidak tahu malu, dan ternyata Tuhan masih adil dengan memberimu nasib malang seperti ini. Ck, sangat mengenaskan." Ucapnya menggelengkan kepala.
"Jaga bicaramu." Rian hendak melayangkan tamparannya tapi di tahan oleh Naura yang menatapnya tanpa rasa takut.
"Jangan mencoba mengangkat tanganmu padaku!" geram Naura tanpa ekspresi, menghempaskan tangan pria paruh baya dengan kasar.
"Berani sekali kau masuk ke dalam rumahku dan memojokkan istriku."
"Salah kalau aku mengunjungimu? Tapi ini pertama dan juga terakhir kalinya aku mengunjungimu. Ingatlah perkataanku, kau tidak memiliki siapapun untuk menjagamu di masa tua dan jangan berharap banyak padaku suatu hari nanti. Kau tidak pantas di panggil ayah maupun mendapatkan kasih sayang, karma akan menghampirimu dan sepertinya kedatanganmu akan menjadi awal kehancuranmu. Selamat untuk kalian berdua yang sudah sejauh ini bertindak, kehancuran kalian akan di hitung mundur dari sekarang." Ancam Naura membuat Rian sedikit terkejut, baru pertama kali bertemu anak kembarnya malah terjadi sebaliknya karena selama ini mantan istrinya selalu berpindah tempat membuatnya kesulitan mencari alamat.
Setelah kepergian Bella, Rian dan istri barunya sangat terpukul. Mereka hendak merebut Naura di tangan Ririn, tapi tidak pernah mendapatkan alamat pastinya. Tak lama setelah itu sang istri baru di nyatakan terkena penyakit alzheimer yang masih dalam pengawasan dan pemantauan dokter.
"Pergi dari sini sebelum aku lupa siapa kau."
"Aku tidak takut dengan ancamanmu, lagipula siapa yang ingin berlama-lama disini?"
"Ancamanku tidak pernah main-main."
Naura menyeringai seraya berlalu pergi dari tempat ini, kinilah saatnya dia akan bertindak menggunakan kekuasaan sebagai nyonya Atmajaya untuk menyewa ahli IT mengungkap segalanya. Dia mengirimkan sebuah pesan singkat kepada seseorang, kembali tersenyum karena beban di pundaknya sedikit berkurang.
__ADS_1
"Aku pasti kembali, bersiap-siaplah." Batin Naura tersenyum tipis, dia kembali mengingat bagaimana ayah kandungnya begitu mencintai wanita perebut.
Terdengar ponsel yang selalu berdering, Naura melihat siapa yang menghubunginya di saat mood sangat berantakan. "Arya? Kenapa dia selalu menjadi pengganggu?"
"Halo."
"Kau dimana?"
"Tidak perlu berbasa-basi, ada perlu apa?"
"Tidak baik untuk berbicara lewat telepon, bagaimana kalau kau datang ke kantorku."
"Lewat telepon saja, aku tidak punya banyak waktu."
"Ayolah, ini keadaan genting dan mendesak."
"Baiklah."
Dia menatap pintu di hadapannya sambil menghela nafas, masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu. Tatapan Naura langsung tertuju pada seorang pria yang berkutat di layar komputer dan berjalan mendekat.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Naura mendudukkan dirinya di kursi yang berada dekat dalam jangkauan, ekspresi datar merasa muak di permainkan.
Arya menyunggingkan senyuman langsung menghentikan aktivitasnya dan menunda pekerjaan. "Akhirnya kau datang juga."
"Hem, aku di sini. Apa yang ingin kau bicarakan padaku?"
"Sangat menarik." Gumam Arya di dalam hati, beranjak dari kursi kebanggaannya menuju pintu dan menguncinya.
"Kenapa kau mengunci pintu?" Naura mulai merasakan keringat dingin melihat aksi pria itu dan berusaha untuk bersikap tenang.
"Aku tidak ingin ada orang yang mengganggu kita, kau dan aku." Arya mengurung tubuh Naura agar tidak bisa melarikan diri, tidak ada jarak di antara mereka.
__ADS_1
"Menjauhlah dariku!" tekan Naura.
Arya tidak menjawab, jemari nya bermain dengan rambut Naura dan mencium aroma wangi. "Akhir-akhir ini hubungan kita semakin renggang, dan aku rasa ingin mengatasinya." Dia sangat menyukai raut wajah ketakutan dari Naura yang berusaha untuk menutupi darinya.
"Tidak ada yang perlu di perbaiki, baik kau dan aku sudah sama-sama tahu bagaimana hubungan terjalin."
"Di dalam perjanjian kau harus mematuhiku sebagai pihak pertama."
"Aku tidak ingin mengikuti perjanjian bodoh itu."
Arya sangat kesal melihat sikap Naura yang keras kepala dan tidak menurutinya, memeluk tubuh wanita itu dan menghempaskannya di sofa empuk. Pertama dia melonggarkan dasi yang seakan mencekiknya, dan membuka jas juga satu persatu kancing kemeja putih.
"Jangan coba-coba melakukan itu, aku tidak ingin terikat denganmu."
"Kau adalah istriku dan sudah menjadi tugasmu untuk melayaniku." Arya menindih tubuh wanita itu dan mulai menjalankan misi, dimulai mengecup bibir ranum.
"Ada apa denganmu? Menyingkirlah!" Naura berusaha keras untuk melawan, hingga dia berhasil menemukan celah dan menendang junior pria itu hingga sang empunya meringis kesakitan. Secepat mungkin berdiri dan Arya berada di bawah tatapannya. "Siapa kau yang bisa menyentuhku, sebelum bertindak sebaiknya kau berpikir berulang kali. Dengan melihatmu seperti ini aku semakin jijik padamu."
Arya mengeraskan rahangnya, terpaksa melakukan itu agar Naura selalu terikat padanya dan dengan begitu kenangan bersama wanita dari masa lalu terus hidup.
"Kenapa kau menolakku? Apa kekuranganku hingga kau keras padaku?"
Naura menyeringai merasa perkataan yang keluar dari mulut Arya seperti lelucon. "Kau pria yang sangat menjijikkan, berhentilah menjadi orang lain karena obsesimu pada Bella." Ungkapnya.
Seketika itu pula Arya tersentak kaget, dia tidak tahu bagaimana wanita itu sangat lancar mengaitkan hubungan. "Kau melantur."
"Aku sudah muak dengan sandiwara ini dan aku ingin mengakhirinya sekarang juga. Kau mencoba untuk merubahku menjadi seseorang yang kau sukai, aku bukanlah boneka juga bukan seorang pengganti."
"Tunggu dulu, apa maksudmu mengatakan itu?"
"Aku sudah tahu mengenai semuanya, kau berusaha untuk mengubahku agar terlihat seperti Bella, wanita dari masa lalu yang meninggal karena bunuh diri." Jelas Naura berterus terang, sudah jengah dengan apa yang terjadi. Dia mengejek nasibnya yang sial bertemu dengan orang-orang munafik seperti keluarga Atmajaya.
__ADS_1
"Dari mana kau tahu Bella?" tanya Arya yang begitu penasaran.