Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 41


__ADS_3

Tatapan tajam mengarah pada Naura yang baru saja mengatur nafas tidak beraturan akibat berlari masuk ke dalam butik, menunjukkan senyum tidak bersalah juga polos. 


"Sepertinya kau belum minum vitamin." Naura berusaha mengalihkan perhatian, tapi wanita di hadapannya itu malah mengacuhkan dan lebih penting melirik jam yang melingkar di lengan. 


"Kau sadar sudah terlambat hampir satu jam?" Lita menyipitkan kedua mata sambil menggerakkan sebelah kakinya, melipat kedua tangan di depan dada. 


Naura cengengesan seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menghampiri sang sahabat dan membujuknya. "Hanya kurang satu jam saja." 


"Kau hanya bikang kurang satu jam? Siapa yang akan terlambat selama itu. Pertama kau minta cuti dan aku berikan, aku bukan robot yang bekerja seperti kuda." Protes Lita. 


"Aku juga tidak ingin cuti, tapi Arya memaksaku. Mengertilah keadaanku!" bujuk Naura merayu. 


"Ini peringatan terakhir untukmu, usaha butik milik kita berdua dan menjalankannya juga berdua, jangan membebankanku dengan pekerjaanmu. Customer mu komplain karena desainnya tidak sesuai, aku harus menebalkan telingaku yang gendangnya hampir pecah." Curhat Lita. 


"Ouh, Lita-ku yang malang. Maaf, aku berjanji tidak melakukan itu lagi." Naura memeluk sahabatnya demi mendapatkan maaf. 


Lita kembali tersenyum. "Ini kesempatan terakhirmu, kembalilah bekerja!" tegasnya yang berlalu pergi. 


Naura tersenyum melihat kepergian Lita dan segera masuk ke dalam ruangannya, fokus menyelesaikan semua pekerjaan secara bertahap. 


Naura mulai fokus mengerjakan desain yang terbengkalai dan juga mengenai komplain dari custumer yang tidak puas, sangat teliti dalam penggambaran yang luar biasa, kertas yang semula kosong di isi dengan hasil desain. 


Telepon di sampingnya berdering, Naura segera mengangkatnya. 


"Iya, halo." 


"Halo. Bisa bicara dengan Naura." 


"Ya, saya sendiri." 


"Oh bagus, saya ingin minta desainnya sekarang juga." 


"Desainnya masih saya kerjakan, bagaimana jika besok?" 


"Aku tidak bisa menunggu selama itu, aku ingin desain itu sekarang!" 


"Baiklah." 


Naura menghela nafas sambil menyandarkan punggung, mendongakkan kepala hampir berputus asa. "Ini semua salah Arya, andai pria itu tidak manja." Geramnya. 


"Kau memanggilku?" ucap seseorang mengejutkan Naura. 


Kedua mata terbelalak kaget melihat siapa yang ada di ambang pintu, seorang pria yang baru saja dia salahkan. Tidak menyangka Arya berada di hadapannya, bagaimana dan kenapa pria itu datang? Dia juga tidak tahu, persis seperti hantu yang datang dengan tiba-tiba. 

__ADS_1


"Kau di sini?" 


Arya tersenyum mempunyai artian lain, melangkah masuk ke ruangan kerja sang istri dengan melihat suasana sekitar. "Kau sangat serius dalam bekerja, pertahankan itu." Ucap menyindir halus, mengambil pensil di tangan Naura dan melompat duduk di atas meja kerja. "Kau tidak membutuhkan ini, Sayang." 


"Hei…kembalikan pensil itu." 


"Tidak sebelum kau menjawab pertanyaanku." 


Naura mendelik kesal, sudut matanya melirik jam di dinding mengingat waktunya yang tinggal sedikit lagi. "Berikan pensil itu, aku tidak punya banyak waktu." Pintanya menadahkan tangan, setidaknya dia bisa beralasan dan terlambat beberapa menit. 


"Tidak semudah itu. Aku ingin kau berkata jujur." Arya kembali melompat dan mendekati Naura.


"Ck, berhentilah bersikap konyol. Customer ku komplain dan aku tidak punya banyak waktu berdebat denganmu, serahkan pensil itu!" tekannya. 


"Ini tidak adil, seolah-olah kau tidak merasa bersalah padaku." 


"Sekarang apa lagi? Kau mengacaukan segalanya dengan berada di sini. Eh, tunggu dulu! Lengan mu sudah sembuh?" sekarang tatapan tajam itu berbalik pada Arya. "Kau berpura-pura dan membodohiku? Sialan kau!" sarkasnya merebut pensil itu dengan mode pemaksaan. 


Arya yang tidak siap kehilangan keseimbangan hingga keduanya terjatuh dalam posisi Naura berada di atasnya, kedua pasang mata saling berkontak dan menatap sepersekian detik. 


Naura berhasil merebut pensil di tangan suaminya dan berdiri untuk menyelesaikan desain, dia tidak ingin berdebat karena pekerjaannya sedang di pertaruhkan saat ini. Arya terdiam dan ikut berdiri mengikuti, duduk di hadapan sang istri dan memperhatikan wanita itu tampak serius. 


"Kau serius sekali." 


"Diamlah, jangan memecahkan konsentrasiku." 


Naura menghentikan beberapa detik dan mengalihkan perhatian ke sumber suara. "Karena kau yang berpura-pura sakit malah aku yang terkena imbasnya, pekerjaanku sedang di pertaruhkan."


"Maaf, aku tidak bermaksud membuat pekerjaanmu terbengkalai dan mendapatkan protes dari customer."


"Tapi kau malah mempersulitku, untuk saat ini sebaiknya kau diam saja dan biarkan aku bekerja." Naura menebalkan telinga juga perasaan dongkol, menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin. 


Arya merasa bersalah karena keinginannya, menatap seberapa raut wajah serius yang di suguhkan tepat di hadapannya. "Dia sangat serius sekali. Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu pekerjaanmu." Ucapnya di dalam hati. 


Beberapa lama kemudian, akhirnya Naura dapat menyelesaikan desain yang di inginkan oleh customernya. Dengan cepat dia membereskan meja kerja hendak membawa desain itu, tatapannya teralihkan melihat kesetiaan Arya yang masih ada di hadapannya. "Eh, aku pikir kau sudah pergi." 


"Kau mau kemana?" tanya Arya yang siap siaga. 


"Aku ingin mengantarkan hasil desain ini." Jawab Naura sambil melirik jam yang sangat terlambat, berharap customernya mengerti. 


"Aku akan mengantarkanmu." Tawan Arya. 


"Tidak perlu, aku bisa mengatasinya." 

__ADS_1


"Ini karena kesalahanku, biarkan aku berlaku baik." 


Naura tersenyum. "Aku ingin kau mengebut." 


"Aku jagonya." Balas Arya tersenyum. 


Di sepanjang perjalanan, Arya fokus mengemudi dengan kecepatan tinggi dan tentunya memastikan situasi terkendali. Sementara Naura berharap cemas mengenai hasil desainnya, apalagi keterlambatan yang pasti membuat customer komplain. 


"Kau terlambat. Pergilah dari rumahku!" ucap wanita sombong di hadapan Naura. 


"Setidaknya anda melihat hasil desainnya," Bujuk Naura berharap. 


"Tidak perlu, kau sudah mengecewakanku. Aku pastikan tidak akan bekerja sama lagi di butik itu," ancam si wanita angkuh sembari melipat kedua tangan di depan dada. 


"Dia sudah berusaha menyelesaikannya, setidaknya kau melihat hasilnya dulu."


"Siapa kau yang berani mengaturku!" sergah wanita angkuh itu. 


"Bukankah dia sudah meminta maaf? Setidaknya kau melihat hasilnya dulu dan baru memutuskannya." 


"Tidak akan aku lakukan." 


Terlihat guratan kesedihan di wajah Naura, usaha kerja kerasnya tidak memuaskan customer dan merasa dirinya gagal memberikan kenyaman. Arya memperhatikan segalanya, kesalahannya malah merugikan wanitanya. 


"Terserah jika kau tidak ingin melihat hasil desain itu." 


"Tentu saja." 


"Bisa saja suamimu yang bekerja di perusahaan Atmajaya akan aku pertimbangkan." Ucap Arya yang memanfaatkan jabatan dan posisi tingginya. 


"Tidak perlu mengancamku seperti itu, memangnya kau siapa yang berani memutuskan, hah?" ketus pedas wanita angkuh.


Seorang pria yang keluar dari rumahnya saat mendengar keributan di luar, kedua bola mata hampir saja terlepas di sarangnya melihat siapa yang datang. "Tuan, kau disini? Suatu kehormatan bagiku, ayo masuk!" tawarnya tanpa memperdulikan tatapan sang istri memelotot padanya. 


Arya tersenyum tipis. "Tidak perlu, aku kesini ingin menyerahkan hasil desain dari butik istriku. Tapi sayangnya jerih payah istriku tidak di hargai disini." 


"Kau mengenalnya?" tanya wanita angkuh berbisik pada suaminya. 


"Dasar bodoh, apa kau ingin aku kehilangan pekerjaan? Dia tuan Arya Atmajaya, CEO dari temoatku bekerja."


"APA?" wanita angkuh sangat terkejut dan merubah sikapnya yang semula sangat angkuh melemah dan melembut setelah mendengar perkataan suaminya. Sementara Arya tersenyum tipis, dia tidak ingin jika Naura terkena masalah hanya karena dirinya. 


"Lihat, aku sudah menyelesaikan masalahmu." Arya tersenyum sementara Naura menganga tak percaya. Dia meraih hasil desain dan menyerahkannya pada si wanita angkuh, menarik tangan sang istri kontrak pergi meninggalkan tempat itu. 

__ADS_1


"Kau curang." Celetuk Naura membuka suara saat mereka ada di dalam mobil. 


"Mulai sekarang kau bisa menggunakan namaku, bagaimana kalau aku buatkan butik khusus untukmu? Jadi kau memiliki hak sepenuhnya dan memakai namamu." Ide Arya tersenyum menawan, mengedipkan sebelah matanya dan mengemudikan mobil. 


__ADS_2