
Naura langsung memejamkan kedua mata saat pintu terbuka, setelah mendengarkan penjelasan dari Arya membuat hatinya menjadi tidak tenang dan ingin segera bertemu. Dia mendengar samar dua orang saling berbicara di depan pintu kamar dan mengenal suaranya.
"Jadi benar, selama ini Ibu selalu menjengukku secara diam-diam?" batin Naura yang bertanya-tanya, tetap berakting sebaik mungkin.
Seorang wanita paruh baya kali ini memberanikan diri untuk berjalan masuk ke dalam kamar, melihat kondisi anaknya semakin membaik setelah dia memberikan ketegasan pada Anton untuk memberikan waktu untuk putrinya. Mengamati wajah yang terpejam tanpa beban menghilangkan sedikit kerinduan di hatinya, ingin sekali memeluk Naura tapi apalah daya wanita yang tertidur itu tak ingin menemuinya.
Ririn membelai rambut dan terharu mendengar kondisi Naura yang bisa berjalan berkat kegigihan Arya yang mendampingi, dia merasa bersyukur akan kehadiran menantunya yang selalu berada di masa senang dan juga sulit tanpa meninggalkan. "Ibu sangat senang kau sudah bisa berjalan normal, Ibu tidak akan merasa khawatir apapun lagi karena ada Arya yang menjagamu. Ibu sudah memberimu banyak waktu, kapan kau akan memberikan kesempatan?" lirihnya seraya menyeka air mata.
Naura mendengar semua perkataan ibunya dan merasa sedih, dia langsung menghamburkan pelukan erat yang membuat wanita paruh baya itu tersentak kaget. "Maaf, aku lah yang keras kepala tanpa memikirkan perasaanmu, Bu. Jujur saja, setiap waktu aku merindukanmu dan bahkan memberikan kabar bahagia ini, tapi Arya sudah memberitahu Ibu lebih dulu." Ucapnya menjelaskan keluh kesahnya.
"Apa Ibu sedang bermimpi?" Ririn tersenyum bahagia kembali mendapat kepercayaan putrinya.
"Tidak, ini nyata."
"Oh Sayang, maafkan Ibu yang tidak menceritakan masa lalu."
"Tidak masalah. Arya sudah menjelaskannya secara perlahan hingga aku mengerti dan membuka pikiranku."
"Aku sangat beruntung memiliki menantu seperti Arya," puji Ririn yang di balas dengan senyuman.
Di sisi lain, Arya yang tengah berjalan ke balkon untuk memberikan ruang pada Naura dan ibu mertuanya. Ya, dia sempat mengintip dan tahu jika istrinya itu pura-pura tidur untuk memastikan kebenaran dari ucapannya. Sekaleng minuman dingin dia teguk beberapa kali sambil menatap kesunyian malam yang hening, hembusan angin menerpa kulit semakin menusuk hingga ke tulang.
"Syukurlah hubungan mereka sudah lebih baik sekarang." Lirihnya.
Tak selang beberapa lama ponselnya berdering dan melihat nama si pemanggil, berpikir sejenak kemudian mengangkatnya.
"Ya, halo."
"Bagaimana kondisi Naura?"
"Dia baik."
__ADS_1
"Apa dia masih marah? Sudah berbulan-bulan aku tidak bertemu dengannya."
"Kemarahannya sedikit mereda, hubungan dengan ibu mertua juga lebih baik."
"Syukurlah kalau begitu."
"Hem."
"Bisa aku minta satu hal pada anda, tuan!" ucap Arya setelah merasakan suatu ancaman yang akan terjadi pada Naura.
"Ya, katakan saja."
"Tidak, sebaiknya kita bertemu untuk membicarakan ini."
"Kau benar, mari kita bertemu."
Setelah sambungan telepon berakhir, Arya segera mengambil jaket kulit berwarna hitam dan juga kunci motor. Setelah membuat temu janji dia tak ingin menundanya lagi, demi keselamatan istrinya yang masih berada dalam zona bahaya.
Dia tahu segelintir orang tak menyukai hubungan mereka, termasuk Anton. Tapi tetap memaksakan diri untuk bertemu dengan pria yang mengaku sebagai ayah biologis Naura dan Bella.
Arya menghela nafas ingin membuka suara, tapi pria paruh baya itu lebih dulu bercerita.
"Aku dengar Naura susah sembuh."
"Anda tahu darimana?" tanya Arya berpura-pura tidak tahu.
"Jangan mempertanyakan ku."
"Ya, anda meretas CCTV." Jawab Arya yang paham.
"Naura sudah sembuh dan beberapa hari kedepan dia bisa berjalan normal, tapi tetap dalam pengawasan untuk pemantauannya." Jelas Arya.
__ADS_1
"Aku senang mendengarnya. Apa yang ingin kau bicarakan padaku?"
"Mengenai putri sulung anda, pasti Tuan sudah tahu mengenai kecelakaan yang menimpa Naura."
Anton mendelik kesal mengingatnya, akar permasalahan ada di hadapannya yang menyebabkan putri sulungnya mencelakai Naura. "Aku sudah memberinya hukuman."
"Itu saja tidak cukup, Clarissa akan lebih ganas jika dia masih berada di sini."
"Kau ingin memisahkanku dari putri sulungku, begitu?" tukas Anton yang mengangkat sebelah alis masuk ke dalam tatapan tajam.
"Jangan salah paham, Clarissa mencelakai Naura karena__."
"Dirimu. Itulah yang membuatku tak suka padamu, karena kau kedua putriku menyerang salah satunya."
"Sudah aku katakan sedari dulu, jika aku tidak pernah mencintai Clarissa, tapi dia selalu saja mengejar-ngejar ku." Arya mencoba untuk tetap tenang, suasana yang terlihat tegang apalagi pria paruh baya di hadapannya tidak menyukai keberadaannya dan di anggap sebagai akar permasalahan dari kedua putri pria itu.
"Tapi aku tidak ingin kalau mereka saling melukai hanya karena merebutkan mu, aku heran apa kelebihanmu."
"Aku tidak tahu jika menyangkut masalah hati, bukankah cinta tidak bisa di paksakan. Sama seperti Tuan yang mencintai ibu mertuaku tanpa peduli pada istri dan juga anak, begitulah aku yang sangat mencintai Naura dan tak akan pernah pergi darinya." Jawab Arya berani, sudah lelah mendengar perkataan dan juga perintah dari pria paruh baya itu yang selalu mengendalikannya sesuai keinginan.
Sontak Anton mengepalkan tangan setelah menggebrak meja, dia tak percaya jika Arya telah berani melawannya. "Hey, kau mau cari mati." Ancamnya dengan kemarahan yang hampir meluap.
Arya tetap tenang sembari menarik kedua sudut bibirnya melengkung ke atas, tidak ikut terjun ke dalam emosi yang bisa saja membuatnya tak terkendali. "Aku tahu jasa Tuan yang telah banyak membantuku, dan bahkan selalu mengikuti sesuai keinginanmu. Tapi jangan minta aku untuk melepaskan Naura, aku pastikan tetap bersamanya walau kau ingin melenyapkan aku."
"Ini kedamaian untuk kedua putriku."
"Kedamaian yang mana? Naura sangat mencintaiku dan aku juga sangat mencintainya. Memisahkan kami sama saja kau berlaku tidak adil dan pastinya istriku membencimu."
"Ck, kau tidak perlu menceramahi aku. Aku tidak peduli apapun alasanmu, jauhi kedua putriku. Saat kau pulang nanti aku sudah mengirimkan surat cerai, segera tandatangani hal itu sebagai balas budimu." Anton berlalu pergi dalam kemarahan, dia hanya berpikir pada satu sisi tanpa melihat sisi lainnya.
"Harusnya dia memahami Naura juga, semoga anda mendapatkan kata maaf." Gumam Arya yang menatap kepergian Anton, terselip rasa kasihan karena pria itu tak memahami salah satu putrinya.
__ADS_1
Anton segera menghubungi orang-orangnya untuk membawa Naura pergi dari Mansion, dia yang begitu emosi tak bisa berpikir mengenai dampak yang berakibat sangat buruk. Ya, hubungannya dengan Naura dan Ririn akan semakin jauh bila memaksakan kehendak.
"Aku akan membawa putriku dan juga wanitaku pergi dari Mansion Wijaya. Sekarang aku harus bertemu dengan Amar, kenapa dua pria dari keluarga Atmajaya di sukai oleh ketiga putriku?" batinnya yang tidak mengerti.