
Seseorang tersenyum melihat sepasang suami istri di hadapannya, dia mengerti mengapa rekan bisnisnya tiba-tiba membatalkan kerjasama mereka. Tapi dia bukanlah orang yang mudah tersinggung, pengalaman akan cinta yang selama ini menguasainya.
"Aku senang kau akan kembali," tutur Novan yang mempersilahkan keduanya untuk duduk.
Naura merasa segan apalagi sikap Arya yang ke kanak-kanakan membatalkan kerjasama secara tiba-tiba, tersenyum untuk menutupi rasa bersalah yang di ciptakan oleh suaminya. "Maaf, sedikit ada masalah. Aku harap kau tidak membatalkan kerjasama dan maaf soal tadi." Ucapnya seraya menyenggol lengan Arya.
"Apa?" Arya menatap Naura dan mereka berbicara kalbu lewat gerakan tangan, mata, dan kepala.
"Cepat minta maaf!" desak Naura tanpa mengeluarkan suara, hanya gerakan mata saja.
Arya mengangguk, pantang baginya untuk meminta maaf pada rekan bisnis tapi dia harus menurunkan egonya dan mengalah. "Aku harap kau tidak tersinggung dengan ucapanku." Ucapnya memelankan suara.
Novan menyeringai. "Aku pernah di posisimu, siapapun pasti tidak suka jika pasangannya di goda oleh pria lain."
"Apa itu artinya kerjasama ini terus berlanjut?" tanya Arya penuh harap, dan tersenyum saat pria di hadapannya menganggukkan kepala.
"Sekali lagi aku minta maaf mengenai sikap suamiku."
"Santai saja, dia bersikap posesif karena mencintaimu. Aku sangat bersyukur kalau kau mendapatkan suami yang benar-benar mencintaimu dengan tulus." Ujar Novan.
Arya tersenyum sambil memandang wajah istrinya, sedangkan Naura terdiam untuk beberapa saat.
"Apa Arya benar-benar mencintaiku?" batinnya yang mulai bertanya-tanya.
Momen canggung seketika berubah hangat, Arya tak lagi menatap Novan seperti rival, tapi dia tetap mewaspadai pria itu dan memastikan kalau wanitanya aman.
*
*
__ADS_1
Naura sangat kesal pada Arya, padahal dia sudah memperingatkan pria itu untuk menjaga sikap. Dia mengerti jika kesepakatan kerjasama dengan perusahaan milik Novan sangat penting, tapi sikap posesif suaminya malah membuatnya jengkel.
Dia menarik tangan Arya saat pria itu yang mengikutinya ke toilet, menatapnya kesal. "Apa kau tidak bisa mengendalikan dirimu? Sekali saja kau memahaminya." Naura memarahi pria itu.
"Novan menyentuh tanganmu dan dia sengaja melakukannya, apa kau pikir itu hnya main-main saja. Aku rasa dia tidak mencintai istrinya, buktinya saja selalu menggodamu tepat di hadapan mataku sendiri. Sangat menjengkelkan."
"Itu sudah tabiatnya dari dulu. Berapa kali aku harus mengatakannya padamu, setidaknya sampai kau dan dia bekerjasama."
"Dengan membiarkan pria itu menyentuh tanganmu, begitu?" kini Arya mulai emosi memikirkan pria lain yang menyentuh wanitanya, ingin sekali dia membogem mentah wajah rekan bisnisnya yang sudah keterlaluan.
Naura menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan, jika api di lawan dengan api maka hancurlah. "Kau marah karena tanganku ini di sentuh olehnya 'bukan?" dia menunjukkan tangannya dan berjalan ke wastafel, mencuci kedua tangannya sampai bersih. "Kau lihat! Aku sudah mencuci tanganku, apa perdebatan ini kita sudahi saja?" tidak ada hal lain lagi, berdebat dengan pria posesif dan pencemburu tak akan menemukan titik terang.
Arya menghamburkan pelukan dan merasa tenang kembali, namun momen itu kembali rusak saat seorang wanita tua masuk dan terkejut melihat mereka yang berpelukan di tempat yang salah.
"Dasar anak muda jaman sekarang, mereka berpelukan di toilet." Gumam wanita tua yang memandang keduanya sinis, cepat-cepat keluar dari sana setelah mencuci kedua tangannya.
Naura sedikit mendoring tubuh Arya agar menjauh darinya, komentar negatit dan tatapan sinis dari wanita tua. "Ini semua karenamu, keluarlah dari sini."
"Sepertinya kau merindukan lemparan dari sepatuku." Naura bertolak pinggang sambil menyipitkan kedua matanya.
Secepat kilat Arya berlari dari tempat itu, mendengar ancaman yang tak main-main. Daripada mengambil resiko sebaiknya dia menghindar, dan itu lebih baik bagi keselamatannya. "Bisa hancur tubuhku." Lirihnya bergidik ngeri.
Naura hanya bisa mengelus dadanya dengan sabar. "Arya benar-benar menguji kesabaranku." Ucapnya.
Tanpa di sadari jika mereka di awasi oleh seseorang, setelah situasi aman dan jarak kedua target yang sudah menjauh satu sama lain memudahkannya untuk beraksi. "Ini saatnya," ucap seseorang mulai bereaksi.
Arya yang baru saja selesai membuang air kecil mencuci kedua tangannya di wastafel, sekelebat bayangan hitam membuatnya menoleh ke belakang dan tidak melihat siapapun di ruangan itu. Mengangkat kedua bahu dan menduga itu hanya perasaannya saja.
"Kau akan mati." Ucap seseorang tersenyum miring, dengan cepat menutupi wajah Naura menggunakan plastik.
__ADS_1
Naura sangat terkejut mendapat serangan mendadak, kepalanya di tutupi oleh plastik sedikit menyulitkannya untuk bernafas. Beruntung kedua tangannya belum terikat oleh sang penjahat, sengaja membuka mulut dan merobek plastik sambil menarik oksigen sedalam mungkin. Dia berbalik dan melihat pelaku ada dua orang yang mengenakan topeng hitam agar tidak di kenali wajahnya, tapi dia bukan wanita bodoh yang tak bisa mengenali salah satu dari penjahat itu.
Salah satu penjahat ingin menumbangkannya mengikat kedua tangan, dan seorang lagi memegang tubuhnya yang berusaha untuk melawan. Naura menghentakkan kedua kakinya dan menendang penjahat yang ingin mengikat tubuh, tersenyum saat berhasil mendapatkan celah. Dengan sengaja dia menghantukkan kepala kebelakang, membuat musuh melonggarkan cengkraman di tubuhnya, secapat kilat dia menendang bagian alat vital.
Naura merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, tersenyum menatap dua orang yang sial. Dia membuka paksa topeng yang di kenakan, melihat Lili dan seorang pria suruhan.
"Ternyata dugaanku benar. Apa kau tidak menyesali perbuatanmu? Ck, sia-sia aku memberimu kesempatan kedua."
"Dendam itu akan hilang saat aku berhasil membunuhmu." Kecam Lili, tatapan tajam dan menusuk menyerang target.
"Tidak semudah itu kau membunuhku, walaupun kau membawa pasukan sepeeti pria yang tidak berguna, padahal aku menendang alat vitalnya sekali saja tapi dia sudah tepar." Ejek Naura yang menahan tawa.
"Aku akan membunuhmu," ancam Lili yang mengeluarkan pisau lipatnya, hendak menikam Naura tapi aksinya di hentikan oleh tangan kekar. Dia menatap siapa yang berani menghentikan aksinya, dan ternyata dia Arya. "Lepaskan tanganku!" kecamnya.
Arya berdiri di depan Naura dan melindungi wanitanya, sorot mata dingin tak tersentuh membuat nyali lawan menciut. Saat di luar dia mendengar suara aneh di dalam dan segera menyusulnya, beruntung dia datang tepat waktu dan membuktikan dirinya mencintai istrinya.
"Segores saja kau mengenai wanitaku, sedetik kemudian kau kehilangan nyawamu." Ancam Arya memutar tangan Lili tanpa peduli waniat itu meringis kesakitan.
"Ini pertarunganku dengan Naura, kau tidak boleh ikut campur."
"Bukan aku, tapi kau sendiri yang menciptakan masalah untuk dirimu sendiri." Dengn gerakn cepat Arya berhasil merebut pisau lipat nan tajam dari tangan Lili, meraih tali di atas lantai dan mengikat tubuh wanita itu.
"Arghh." Arya meringis kesakitan saat punggungnya di pukul dengan keras, segera berdiri dan menoleh kebelakang. "Kau cari mati ya!" ancamnya membuat pria itu mundur dan bergetar ketakutan.
Arya langsung memukul wajah pria itu hingga meninggalkan bekas, menendangnya beberapa kali. "Dasar kecoa." Ucapnya pelan seraya membenarkan pakaian yang terlihat berantakan, tersenyum melihat pria itu terkaoar tak berdaya.
Sementara Naura sangat kagum dengan aksi heroik Arya yang sangat gentleman dan luar biasa, walaupun dia sendiri bisa mengatasinya tetap saja merasa tersanjung memiliki pahlawan kesiangan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Arya yang lembut.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja." Jawab Naura yang masih mengagumi aksi Arya.
Beberapa orang masuk ke dalam dan membawa dua penjahat dengan menjebloskannya ke jeruji besi.