
Seorang wanita yang berjalan penuh keangkuhan dan kesombongan merasa tersinggung dengan perkataan seseorang, dia sangat marah mengetahui hal ini. Berjalan dengan tergesa-gesa sambil mengingat penolakan yang di lakukan Arya padanya, itu sama saja penghinaan untuk ayahnya.
"Aku akan melaporkan ini pada ayah." Gumam Clarissa yang menarik pintu mobil ingin segera masuk ke dalam, tapi terhalang sebuah tangan yang tiba-tiba saja menutup kembali pintu mobilnya. Dia segera menoleh seraya menatap pria tampan yang sedikit mengetahuinya. "Lancang sekali kau menghalangi aku."
Amar tersenyum tak bersalah, baginya balas dendam pada Arya adalah hal utama. "Senang bertemu denganmu."
"Maaf, aku tidak mengenalmu." Sahut Clarissa yang sombong.
"Amar, itu namaku."
"Wow, aku sedikit tersanjung bertemu dengan kakak tiri Arya." Ucap Clarissa yang mulai tertarik dengan pembahasan mereka.
"Hem, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
Clarissa tersenyum merendahkan pria di hadapannya, tidak ada yang berani meminta waktu padanya selain dirinya sendiri yang memutuskan. "Kau terlihat dari kelas terendah, berani sekali meminta waktu dari ku."
Amar dapat merasakan Clarissa memiliki kekuasaan bahkan Arya sedikit gelisah mendengar ancaman yang keluar dari mulut wanita itu. "Terserah bagaimana kau merendahkan aku, kita memiliki tujuan yang sama."
"Menarik."
"Tentu saja, kau bisa memiliki Arya sepenuhnya."
"Lalu kau, apa yang kau dapatkan?"
"Aku mendapatkan Naura, istrinya."
"Melihat dari tutur bicaramu, kau bukanlah pria sesimpel itu. Apa niatmu yang lain dan berani bertatap muka denganku?"
"Aku hanya ingin kekuasaanku di kembalikan lagi," ungkap Amar seketika membuat Clarissa tertawa.
"Baiklah, sepertinya permainan ini menarik. Ini kartu namaku dan kau bisa datang kapanpun kau inginkan." Clarissa menyerahkan kartu nama dan masuk ke dalam mobil bergaya sangat anggun dan elegan.
Amar mengambil kesempatan itu dan tak akan melepaskannya, kedua mata berbinar saat melihat kecantikan dan juga tubuh molek yang menguji iman. "Benar-benar wanita sempurna, aku akan mengambil hatinya dan bercinta denganku." Pikir nya kotor yang ingin sekali mencicipi Clarissa tanpa tahu identitas wanita itu bukanlah sembarang orang bisa di singgung, anak semata wayang dari pimpinan mafia yang paling di takuti.
*
*
"Kau terlihat sangat berbeda, apa yang kau pikirkan?" tanya Naura yang berjalan menuju balkon, menemani suaminya.
Arya meneguk minuman dingin dan menoleh, tersenyum kedatangan sang istri yang terlihat sangat cantik. "Hanya pekerjaan kantor saja," elaknya berbohong, tak ingin Naura berpikiran sama mengenai ancaman Clarissa yang tak pernah main-main mengenai ucapan yang telah di keluarkan.
"Benarkah?"
"Hem." Arya mengangguk dan kembali meneguk minuman dingin. "Apa kau susah memikirkan perkataanku tempo hari?"
"Yang mana," tanya Naura berpura-pura lupa.
"Mengakui perasaanmu, aku sudah memberikanmu waktu untuk berpikir." Arya memegang tangan Naura lembut dan menatap dalam manik mata indah yang begitu membuatnya terpesona.
Naura seakan terjebak dan tak bisa melarikan diri dari pertanyaan itu. "Aku memerlukan waktu untuk melihat jelas." Jawabnya mengalihkan muka ke samping.
__ADS_1
"Apa kau masih ragu dengan cintaku?"
"Ya, apakah cintamu ada pada Bella, aku atau orang lain. Aku membutuhkan waktu sebelum menerima resikonya, masa depanku di pertaruhkan. Kau sendiri tahu bagaimana kita memulai ikatan ini, baik kau ataupun aku seperti simbiosis mutualisme. Aku sudah mendapatkan keinginanku, dan kau pun sama. Tujuan kita sudah tercapai, dan aku masih berpikir kalau kau masih memandangku sebagai Bella." Jelas Naura panjang lebar seraya berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Andai kau menjawabnya sekarang, aku akan menjadi pria yang paling beruntung di dunia. Aku sangat mencintaimu…tapi mengapa kau tidak mengerti, seakan kau pura-pura melupakan sikap dan rasa kasih selama ini aku berikan." Guratan kesedihan karena dirinya kembali menunggu sampai wanitanya benar-benar siap.
Ingatan mengenai si wanita seksi, tak lama ponselnya berdering tanpa ada nama. Dia mengacuhkan panggilan itu, dan lebih menikmati waktu sendirinya. Namun ponsel selalu berdering, rasa muak terpaksa mengangkatnya.
"Berhentilah menggangguku." Ketusnya.
"Turunkan intonasi mu, apa kau melupakan aku? Ck, sepertinya kau tidak menyimpan nomorku di kontak mu."
Deg
Arya terdiam sambil mendengar pria di seberang sana berceloteh menyindirnya tak pernah memberikan kabar sama sekali, dia tahu jika Clarissa sudah bertindak dengan menghubungi ayahnya.
"Maaf, aku tak tahu jika itu nomor telepon anda, tuan."
"Setelah beberapa tahun tak bersua kau masih seperti yang dulu."
"Hem."
"Langsung saja kau pasti mengetahui maksudku meneleponmu."
"Hem, pasti putri anda mengeluhkan aku."
"Kau benar dan tahu betul bagaimana aku pada putriku."
"Ceraikan wanita itu dan menikahlah dengan putriku, Clarissa."
"Selama ini aku mengikuti perkataan anda, bukan berarti aku ini hewan peliharaan yang bisa kapanpun di beri perintah."
"Kau tidak punya pilihan lain, pasti kau mengerti mengenai konsekuensi menolak perkataanku."
Setelah sambungan telepon selesai, Arya melempar ponselnya ke lantai dan membiarkannya berderai, menarik rambut dengan kasar memikirkan perkataan dari ayah Clarissa yang memberikannya perintah. Seorang pemimpin mafia yang paling di takuti, bahkan dia tak memiliki cukup kekuasaan untuk memberi perlawanan.
"Arrghh…sial." Arya sangat frustasi memikirkan nasib hubungannya, Naura bahkan belum memberikan kepastian tapi dia tak ingin melepaskan wanita yang di cintainya sekali lagi, cukup sulit mendapatkan posisi itu.
Arya memutuskan untuk berbaring di sofa sambil menatap bintang-bintang, hatinya begitu gelisah dan juga sangat khawatir.
Naura sangat terkejut saat melihat apa yang baru saja terjadi, kemarahan Arya yang dia lihat di balik celah pintu yang masih terbuka. Timbul rasa penasaran di hatinya ingin mengetahui penyebab frustasi dari suami kontraknya. "Ada apa dengannya? Apa yang membuatnya marah?"
Sementara di tempat lain, seorang pria tanpa ekspresi tak peduli apa yang di alami orang lain, dia hanya ingin putrinya bahagia. Kepulan asap yang ada di sekeliling di ciptakan oleh dirinya sendiri, menengadahkan kepala merindukan seseorang yang tak terlacak sampai saat ini.
"Kenapa aku belum bisa menemukanmu? Kemana kau selama ini bersembunyi?" gumam pria paruh baya yang bersedih.
Terdengar suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, segera mengalihkan pandangan ke sumber suara.
"Maaf, saya telah mengganggu Tuan." Ucap salah satu bawahan yang menundukkan kepala karena rasa hormat pada pemimpin.
Pria paruh baya yang masih terlihat sangat tampan di usianya membalas dengan sedikit anggukan kepala. "Katakan ada kabar apa kau berani datang menemuiku."
__ADS_1
Suara bariton yang terdengar seperti sungai tenang namun menyimpan bahaya di dalamnya berhasil membuat bawahan itu ketakutan, menelan saliva untuk menutupi rasa gugup dan berharap jika dia bisa menyenangkan hati pimpinannya lewat informasi yang baru saja di dapatkan secara akurat.
"Saya datang membawa informasi penting mengenai orang yang kita cari."
Pria paruh baya yang bernama Anton langsung terpaku, sangat tidak sabar mendengar kelanjutannya. "Orang yang kita cari ada di Indonesia, Tuan."
Senyum kembali mengembang di wajah Anton, segera dia mengusir bawahannya dan menikmati kesenangan dengan meminum alkohol. "Akhirnya aku menemukanmu, semoga kau tidak berubah padaku dan mengingatku." Monolognya tersenyum memandang sebuah foto dirinya bersama seseorang yang sangat spesial.
*
*
Pekerjaan yang menumpuk dan pelanggan yang semakin ramai di butik membuat mereka tampak sibuk satu sama lain, keduanya bekerja keras untuk pencapaian luar biasa dan peningkatan customer dari tahun lalu.
"Mataku lelah menggambar desain," keluh Lita yang menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Aku juga. Bekerja bagai kuda tanpa amunisi dan vitamin sungguh menjengkelkan," sambung Naura membenarkan.
"Secangkir kopi terlihat menyenangkan."
"Akan aku belikan," tawar Naura.
"Kau yakin?"
"Ya, setidaknya mataku tak melihat pemandangan di sini saja." Naura langsung bergegas meninggalkan ruangan itu dan berjalan menuju cafe terdekat, jarak yang tidak terlalu jauh dan beberapa menit saja untuk sampai ke tujuan.
Naura tersenyum bahagia saat mengantarkan bekal makan siang seperti biasa dan memuji masakannya yang sangat lezat, jerih payah dalam perlombaan waktu yang mengejar membuahkan hasil memuaskan.
"Aku mencintainya, dia pria yang sangat menyebalkan, konyol, si mesum, dan licik." Gumamnya yang berbunga-bunga setiap kali membayangkan wajah tampan Arya.
Sesampainya di cafe, dia memesan dua cangkir kopi dan pergi setelah membayarnya. Melihat kiri dan kanan jalanan yang tampak sepi sambil memegang dua cup kopi yang menjadi penyemangat untuk beraktivitas.
Baru beberapa langkah menyeberang jalan, sebuah mobil menabraknya hingga terpental beberapa meter. Dua cup kopi tumpah ke jalanan di iringi tubuhnya yang mendarat di aspal yang panas dengan gelimangan darah segar. Pandangan Naura samar dan tidak bisa mendengar perkataan orang-orang dengan jelas, air matanya seketika menetes di saat pandangan mulai mengabur.
Semua orang yang melintasi tempat itu datang berbondong-bondong menyaksikan nasib malang korban tanpa berniat untuk menolong, salah seorang menghubungi ambulans karena kasihan dengan korban tabrak lari.
Arya merasa sangat gelisah dan juga tak bisa fokus dengan pekerjaannya, entah mengapa hati nya merasa tak tenang saat ini dan mencoba berbagai cara. "Kenapa aku gelisah?" pikirnya yang bertanya-tanya, hati yang berdebar semakin cepat.
Di lokasi kejadian, beberapa orang memotret dan menjadikan sebuah berita di sosial media, berita kecelakaan dari seorang wanita cantik menjadi korban tabrak lari dan di larikan ke rumah sakit terdekat.
"Tuan, ada berita penting untukmu." Ucap sekretaris yang langsung masuk menyelonong tanpa permisi, hal yang paling di benci oleh Arya.
"Ada apa?" cetusnya tanpa ekspresi.
Sang sekretaris langsung menunjukkan berita secara langsung di ponselnya karena mengenal siapa yang menjadi korban tabrak lari. "Nyonya Naura Atmajaya, dia mengalami kecelakaan."
Seketika itu pula Arya terkejut, merebut ponsel itu dan melihatnya dengan jelas. "Ini baju yang di kenakan Naura saat mengantarkan makan siang," lirih pelannya, dunia seakan hancur melihat orang yang dia cintai tak berdaya di aspal dan sebagian orang hanya menonton dan mem-videonya untuk meraup keuntungan.
Arya kembali menyerahkan ponsel itu dan berlari dengan sekuat tenaga tanpa peduli beberapa orang memanggilnya, ponsel yang selalu berdering juga dia abaikan dan bergegas masuk ke dalam mobil. Dia mengendarainya dengan sangat cepat, bahkan tidak menghiraukan keselamatan di jalanan yang begitu berbahaya.
Tak terasa air mata menetes saat memikirkan kondisi Naura, ada penyesalan di matanya. "Kau tidak boleh meninggalkan aku, tidak boleh." Batinnya yang menjerit merasakan hati yang terluka.
__ADS_1