Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 48


__ADS_3

Naura tak menyangka dengan kedatangan suaminya, membayangkannya saja tidak. Dia mencoba untuk melepaskan pelukan yang semakin erat, mendengus kesal sembari menatap tajam wajah tampan yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja. 


"Hey, apa yang kau lakukan?"


"Sebuah pelukan untuk membuat mood mu baik." 


"Oho, aku mengerti sekarang. Kau ingin aku jatuh cinta? Tidak semudah itu. Cepat, lepaskan aku!" 


"Tidak semudah itu Sayang, aku pastikan kau jatuh cinta padaku." 


"Siapa yang jatuh cinta pada pria sepertimu? Hanya wanita bodoh yang ingin menjadi peran pengganti." Kelakar Naura yang tertawa. 


"Bella hanya masa lalu ku dan kau adalah masa depanku. Kau menyetujui permintaanku?" 


Naura mengerutkan dahi. "Permintaan yang mana?" 


Arya menepuk keningnya dan menatap wajah cantik di hadapannya. "Kau belum setua itu, jangan berpura-pura lupa mengenai yang satu itu." 


"Baiklah, aku mengerti. Bisakah kau lepaskan pelukan ini, jujur saja aku sangat risih." Tutur Naura yang hampir pasrah, pria itu menahan tubuhnya. 


Arya menganggukkan kepala, perlahan dia melepaskan pelukan itu. Dia menatap dengan serius, meraih kedua tangan lentik. "Berikan aku satu kesempatan saja, aku membuktikan jika aku mencintaimu." Ucapnya dengan nanar. 


Naura merasa risih jika Arya memohon padanya, apalagi dia tahu Lita sedang mendengarkan pembicaraan mereka. "Ck, bisa-bisanya dia menjadi dinding dan mendengar semuanya." Gumamnya di dalam hati. 


"Kenapa kau diam saja." 


"Karena kau tidak tahu tempat." Naura mendorong tubuh Arya dan mengunci pintu, tidak peduli bagaimana pria itu menggedor pintu ingin masuk ke dalam. "Ya Tuhan, kenapa aku sangat sial terikat pada pria gila itu." Dengusnya dongkol. 


Lita segera keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Arya, dia sangat mendukung hubungan sahabatnya itu di bandingkan Amar si brengsek yang hanya bisa memanfaatkan orang lain. "Tuan tampak gusar, ada apa?" tanyanya sambil tersenyum malu-malu. 


"Bukan apa-apa." 


"Aku sahabat Naura dan sangat mengenalnya, dia memang seperti itu apalagi setelah hatinya terluka akibat gagal dalam cinta." Ujar Lita yang mulai bijak. 


Arya sedikit tertarik dan mengalihkan perhatiannya, mendapatkan peluang besar dari wanita yang ada di hadapannya. "Benarkah?" 


"Hem. Jujur saja aku lebih mendukung hubungan sahabatku, dan pasti membantu." 


Arya mulai berpikir mengenai hubungannya dengan Naura yang pasti telah di ceritakan pada wanita di hadapannya. "Naura menceritakan segalanya?" tanya nya yang ingin memastikan.

__ADS_1


"Benar. Ayo!" Lita ingin Arya mengikutinya dan mereka akan mengobrol mengenai Naura, memberikan informasi agar memudahkan pria itu mendapatkan cinta. 


Arya tersenyum lebar saat mengetahui apa saja kegemaran dan kesukaan dari wanitanya, informasi yang di berikan Lita sungguh luar biasa. Dia sudah tak sabar untuk melakukan satu persatu dan menaklukkan cinta si singa betina, wanita yang terlihat tangguh di luar tapi sangat rapuh di dalam. 


"Aku sangat senang Tuan mencintai sahabatku, dan aku juga sedih dengan apa yang menimpanya. Entah terbuat dari apa hatinya itu, terlihat tangguh tapi rapuh." Jelas Lita yang sedih mengenai sahabatnya. 


"Aku berjanji akan membuatnya bahagia. Terima kasih sudah memberiku penjelasan detail mengenalnya, kau sangat berjasa jika hubungan ini berhasil."


"Naura hanya memerlukan waktu, setelah kegagalan hatinya butuh waktu untuk sembuh." 


"Aku masih ingat poinnya." Arya beranjak dari duduknya dan berpamitan pada Lita, dia sangat beruntung dapat mengenal Naura lewat wanita itu. 


Lita menatap kepergian Arya dan memandangnya penuh harap. "Aku yakin dialah orangnya, semoga dia bisa mengembalikan keadaan Naura." 


*


*


Di pagi hari yang indah, Naura tersenyum menyapa mentari. Dia menggeliatkan tubuh dan sesekali menguap, masih berbaring di atas tempat tidur yang terasa sangat nyaman. 


"Pagi yang indah." Gumam Naura hendak turun dari ranjangnya, tapi itu tidak di lakukannya setelah pintu kamar terbuka tanpa ketukan pintu terlebih dahulu. Senyum di wajahnya luntur saat melihat Arya yang datang dengan membawakan nampan yang berisi sarapan, buah, dan juga segelas susu. 


Naura mendelik kesal, kedatangan Arya yang berujung mood buruk, tapi sialnya pria itu malah terlihat lebih tampan berkali-kali lipat dari biasanya. 


"Tadinya baik, tapi setelah kau datang malah memburuk." 


Arya tertawa mendengar perkataan Naura, di tambah lagi wajah jutek yang terlihat sangat menggemaskan. "Kau lucu sekali," sahutnya menoel dagu wanitanya. 


"Makanlah sarapanmu, aku buatkan khusus." 


"Aku tidak yakin dengan sarapan itu, apalagi sikapmu yang sangat aneh." 


"Aku aneh, kau orang ke seratus mengatakan itu. Tapi, terima kasih dan aku anggap sebagai kalimat pujian." 


Naura menghela nafas, melirik penampilan pria itu yang hanya menggunakan kimono putih dan di pastikan selesai mandi. "Seharusnya kau memakai pakaian dulu, jangan membuat orang lain salah paham." 


Arya kembali tersenyum manis. "Mau bagaimana lagi? Aku terlalu bersemangat membawakan sarapan ini." 


"Kau makan saja." 

__ADS_1


"Kenapa? Kau takut aku meracunimu?" Arya sedikit sedih karena wanita itu tak menghargai ketulusannya dan malah mencurigainya. "Akan aku buktikan." Ucapnya lagi menyuapi makanan itu ke dalam mulutnya, diam-diam melirik Naura yang menelan saliva tergoda dengan sarapan, dia sangat tahu jika wanita di sebelahnya tak tahan dengan makanan. "Kau mau?" tawarnya tanpa menoleh. 


"Sepertinya itu enak." 


"Tentu saja, kau bahkan tidak mencoba masakanku." Tanpa banyak bicara Arya langsung menyuapi Naura. "Bagaimana rasanya? Kau suka?" 


Naura sedikit terkejut tapi rasa dari sarapan yang di buat suaminya itu sama persis dengan sang ibu, sudah lama dia tidak memakan masakan ibunya semenjak konflik di antara ibu dan anak terjadi. Tak sadar air matanya menetes, tapi segera di seka karena tak mau jika Arya melihatnya sebagai wanita lemah. 


"Menangislah, aku tidak akan mengejekmu." Arya menyandarkan kepala Naura di bahunya, membiarkan bulir cairan bening membasahi bahu. 


"Masakanmu sangat luar biasa dan mengingatkanku pada seseorang." 


"Kau merindukan ibumu, apa aku benar?" 


Naura langsung memulihkan ekspresinya. "Eh, darimana kau tahu?" 


"Itu tidak penting." 


Naura mengeluarkan sisi lemahnya, hatinya terasa lega saat mengeluarkan sedikit bebannya. 


"Jangan merasa dirimu sendirian saja, masih banyak di luar sana yang lebih memprihatinkan, contohnya aku." 


"Aku tidak yakin." 


"Kita sama, kau dan aku memiliki masalah yang rumit. Aku sangat membenci diriku, apalagi sewaktu kecil aku sudah di kucilkan dan tidak di anggap. Tidak ada yang peduli padaku apalagi setelah kematian ibuku, sungguh malang 'bukan?" Arya menceritakan sisi gelapnya yang jarang sekali di ketahui. "Tidak ada ibu yang buruk di dunia ini, jernihkan pikiranmu dan lupakan semua ego. Kau masih beruntung memiliki ibu, sedangkan aku…ibuku sudah tiada." 


"Apa yang coba kau jelaskan?" 


"Maafkan aku yang lancang mencari tahu mengenai mu. Bangunlah hubunganmu kembali bersama ibumu, dia sama terlukanya denganmu." 


Naura tertegun tidak menyangka kalau Arya bisa berbicara sebijak itu, senyum di bibirnya mulai merekah memberikan apresiasi pada pria itu dengan sebuah tamparan pelan di wajah tampan. 


"Auh," ringis Arya yang berpura-pura kesakitan, sambil memegang pipinya penuh dramatis. "Apa kesalahanku kali ini?" 


"Maaf, aku hanya memastikan apakah kau Arya Atmajaya atau bukan, karena setahuku Arya Tidak pernah berbicara serius dan sebijak ini." 


"Karena kau tidak mengenalku dengan baik, tapi aku mengenalmu luar dan dalam." Arya mulai tersenyum yang terlihat sangat berbeda, sangat mesum saat mengingat di mana dia melihat tubuh indah polos dari istrinya. 


Naura sangat kesal jika pria itu kembali membayangkan tubuhnya yang polos, memukul dada pria itu agar berhenti tersenyum mesum. "Aku tahu apa yang kau bayangkan, berhentilah memikirkannya." 

__ADS_1


"Kau terlihat sangat seksi, aku bersedia jika kau membutuhkannya kapan saja. Sekaligus mengabulkan keinginan kakek," segera Arya memasang langkah seribu untuk menghindari amukan singa betina. 


"Dasar pria mesum, kemari kau!" pekik Naura mengejar Arya. 


__ADS_2