Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 65


__ADS_3

Naura sangat shock melihat semua bukti yang ada, kebingungan menghiasi wajahnya. Bagaimana mungkin ibunya berselingkuh dengan pria yang mengaku sebagai ayah kandungnya, sangat mustahil rasa nya tapi nyata terjadi. 


"Apa semua ini, bukan hanya pria itu yang selingkuh tetapi ibu? Ibuku berselingkuh? Jadi aku ini anak haram?" begitulah yang ada di pikiran Naura saat ini, dia tidak bisa membayangkan konflik dan skandal dari kedua orang tuanya bahkan lebih rumit. 


"Tuan Anton ayah kandung Naura? Ya Tuhan…apa semua ini? Apakah ini baik untukku atau malah terjadi sebaliknya." Batin Arya menelan saliva seakan tersangkut di tenggorokan, dia tak menyangka begitu rumit hubungan kedua orang tua dari istrinya. 


Anton kembali memukul perut Rian membuat Diana berteriak. "Bahkan memukulmu saja belum setimpal saat kau membunuh salah satu putriku." 


"Aku tidak membunuhnya." Protes Rian yang hanya bisa pasrah menerima pukulan itu, kedua tangannya di pegang oleh dua orang pria berbadan kekar. Di dalam hatinya dia menyumpah serapah sang mantan istri yang ternyata berkhianat bermain api di belakangnya, merasa tersinggung mendapat pukulan telak. "Sial, jadi selama ini Ririn berbohong padaku." Batinnya yang tidak terima dengan pengkhianatan sang mantan istri. 


"Jadi Rian juga mandul sama sepertiku, sia-sia aku merawat Bella yang nyatanya anak orang lain." Ucap Diana di dalam hatinya. 


Anton tahu semua yang di ungkapnya sangatlah mendadak, tapi tak punya pilihan lain kalau ada orang lain yang mengakui anaknya dan membawa pergi. Puluhan tahun dia tidak tahu kebenaran itu, setelah semuanya terungkap dia tak ingin melepaskannya begitu saja. "Ini baru awalnya saja," tuturnya membuat Rian sampai menelan saliva. 


"Apa maksudmu?" 


"Kau dan istrimu itu segeralah pergi menjauh, kalau perlu ke kutub utara agar aku tidak melihat wajah kalian yang sangat menjijikkan itu." Titah Anton yang memberikan pria itu sedikit peluang untuk kabur, dan membunuhnya tanpa ada yang mengetahui jasadnya.


"Ja-jadi kau melepaskan kami?" terlihat kedua mata berbinar cerah, setidaknya dia memiliki peluang agar tidak di sakiti oleh pria itu. Tapi satu hal yang tidak diketahui, seratus meter keluar dari rumah sakit nyawanya akan melayang. Ya, Anton sudah mengerahkan satu orang penembak jitu menghabisi nyawa Rian dan Diana, senyum tipis si wajahnya tidak di ketahui selain Arya yang memahami watak ayah mertuanya. 


"Ya, aku melepaskan kalian." Dengan santainya Anton memberikan perintah lewat bahasa tangannya pada para bodyguard. 


Rian segera menarik tangan Diana dan berjalan tergesa-gesa keluar dari rumah sakit, sementara Anton menyeringai tipis setelah kedua targetnya menghilang dari pandangan. 

__ADS_1


"Kenapa tidak berterus terang saja," celetuk Arya jengah. 


"Ck, diamlah! Aku tidak memberimu hak untuk membuka suara," balas Anton yang mengambil alih untuk mendorong kursi roda dan membantu Naura kembali ke ruangan.


"Sudah cukup! Jangan berakting sebagai seorang ayah yang baik," ketus Naura yang risih pada perhatian Anton. 


Anton menatap Naura dalam, guratan kesedihan tanpa sadar membuat wanita itu menjauh darinya. "Aku Ayahmu." 


Naura tak menghiraukan pria paruh baya itu, terus celingukan mencari sosok ibunya yang tak kunjung tiba. Begitu banyak pertanyaan yang akan di lontarkan, masa lalu yang pelik hampir membuat otaknya seakan mau pecah. 


"Naura." Panggil Anton sendu. 


"Pergilah, aku tidak ingin mendengar penjelasanmu. Aku hanya ingin mendengar penjelasan dari ibu ku saja, sebaiknya tidak ikut campur!" tukas Naura menegaskan. 


"Bagaimana bisa? Kau menculiknya?" ketus Naura, kemarahannya hampir meluap tentunya bisa berpengaruh pada kesehatannya. 


Arya yang mengerti segera menarik tangan Anton tanpa menghiraukan tatapan tajam yang mengarah padanya, penting baginya menjaga kestabilan kesehatan dari wanitanya. 


Di luar ruangan, Anton menepis tangan pemuda yang sangat kurang ajar. "Kau mengusirku?" 


"Bukan mengusir anda, Tuan. Semakin lama di dalam ruangan, Naura semakin tertekan. Sebaiknya anda pergi dan bebaskan ibu mertuaku!" Arya menyatukan kedua tangannya, tatapan memohon penuh harap kalau pria yang lebih berkuasa darinya memahami situasi tanpa ego masing-masing. 


Anton terdiam dan menganggukkan kepala. "Baiklah, aku akan melepaskan Ririn bukan berarti aku tidak datang kesini." Ucapnya dan berlalu pergi. 

__ADS_1


"Aarghhh." 


Di dalam ruangan Naura berteriak melampiaskan beban yang sangat berat di kedua pundaknya, tak terima dengan skandal yang di miliki oleh orang tuanya. Semua barang yang berada pada jangkauan di lempar ke atas lantai, menarik rambut sangat frustasi. Arya menerobos masuk ke dalam dan terkejut melihat mental wanitanya yang tidak stabil mengetahui kebenaran itu, bahkan dia sangat shock mengetahui kebenarannya. 


Arya langsung memeluk tubuh Naura dan menenangkannya. "Tenangkan dirimu, aku ada disini." Lirihnya pelan. 


"Kau lihat segalanya 'kan, selama ini aku tidak tahu wajah asli ayahku dan setelah mengetahui ternyata dia bukan ayah kandungku. Permainan takdir macam apa ini? Aku luluh dengan perjuangan ibuku, tapi apa? Dia juga berselingkuh. Aku benci pengkhianat…sangat membencinya, semua pria sama saja, termasuk kau." Amarah Naura meluap dan bahkan mendapatkan kekuatan dua kali lipat lebih besar dan bisa terlepas pelukan itu. 


"Tidak semua pria, aku sangat mencintaimu tulus jauh di lubuk hatiku." 


"Diamlah! Semuanya hanya omong kosong, kalian para pria sama saja. Kau mencintaiku karena wajahku dan Bella sangat mirip, keluar dari sini!" pekik Naura yang mengusir, kali ini dia butuh waktu sendiri.


Arya berjalan gontai dengan lesu memberikan ruangan pada Naura yang masih meragukan cintanya. "Aku pikir dia sudah menerimaku sepenuhnya, tapi aku salah. Memang niat awalku begitu, tetapi kondisi sekarang sangatlah berbeda." Lirihnya pelan. 


Plak


Tamparan keras itu melayang tepat mengenai pipi Anton saat dia hendak melepaskan Ririn, selama ini tidak ada yang berani menyentuhnya bahkan menamparnya tapi wanita itu sekali lagi menampar di bagian pipi sebelahnya. 


"Apa kau tidak bisa berpikir sebelum bertindak lebih dulu, hah?" Ririn melampiaskan amarahnya pada Anton yang mengungkap kebenarannya. "Butuh waktu lama akhirnya aku bisa menyatukan hubungan ku dan Naur yang renggang, tapi kau malah menghancurkannya dalam sekejap mata." 


"Tapi dia harus tahu." Keukeuh Anton yang tak merasa bersalah, sifat keras kepala juga cerobohnya menurun pada Naura. 


"Apa yang ingin kau buktikan? Naura sangat sedih dengan kondisinya yang lumpuh sementara, dan kau malah menambah bebannya. Jika terjadi sesuatu padanya? Maka kau tidak akan aku maafkan!" Ririn segera berlari keluar dari tempat itu, dia ingin menjelaskan agar tak berpengaruh pada kesehatan putri semata wayangnya. 

__ADS_1


Anton menatap kepergian Ririn, berat rasanya mendapat rasa marah tapi dia tak punya pilihan lain. "Aku sudah menyingkirkan mantan suamimu dan istrinya, tidak akan ada yang membuat kalian menderita lagi. Sekarang waktuku bertindak pada pria brengsek yang menjadi pemicu aksi bunuh diri Bella, Amar harus berada di penjara sesuai keinginan Naura, tapi sebelum itu aku akan menyiksanya terlebih dahulu." 


__ADS_2