
Hanya menghindari beberapa orang Naura rela kembali masuk ke dalam Mansion Atmajaya, setidaknya di sana dia mendapatkan sedikit ketenangan batin dari skandal kedua orang tuanya yang begitu rumit. Dia menghela nafas berat seraya melihat suasana di dalam ruangan yang sudah menemaninya beberapa bulan semenjak kedatangannya di tempat itu. Melihat suaminya yang terus memberikan perhatian juga membantunya untuk kembali berjalan, kedekatan itu semakin membuat perasaan keduanya berkembang.
"Berjalan dengan perlahan, aku tidak akan membiarkanmu jatuh." Ucap Arya meyakinkan Naura untuk melangkah lebih jauh.
"Hah, aku merasa tak yakin." Sambung Naura ragu akan langkahnya untuk pertama kali setelah melakukan terapi di bantu oleh beberapa orang suster di bawah pantauan Arya dan juga dokter.
Tidak terasa jika Naura berada di dalam Mansion Atmajaya cukup lama, dan sejauh itu tidak ada yang mengganggunya terutama kedua orang tuanya, entah bagaimana kabar mereka saat ini dia juga tidak tahu. Selama pemulihan untuk kesembuhan kakinya yang lumpuh sementara, dia mengandalkan Arya yang selalu sigap menemani.
Beberapa langkah semakin dekat membuat tubuhnya lelah setelah memforsir seluruh tenaganya, beruntung Arya berada di hadapannya memeluknya agar tidak jatuh.
"Aku berhasil dan sekarang bisa berjalan." Lirih Naura yang tersenyum lebar di dalam pelukan Arya yang hangat.
"Selamat untukmu, kau berhasil." Sambut Arya tersenyum sembari memeluk tubuh wanitanya, kembali mencium aroma tubuh yang telah menjadi candu setiap kali mereka sangat dekat.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Naura yang langsung melepaskan pelukan itu, menatap dalam mata dua manik mata di hadapannya, entah mengapa membuat Arya seakan merinding menjawabnya, sebuah pertanyaan menjebak sama seperti saat di rumah sakit.
"Tanyakan saja."
"Kenapa ibuku tidak pernah datang kemari?" terlihat guratan kesedihan di mata Naura, menyesal pada ucapannya waktu itu membuatnya malah semakin jauh pada ibunya yang sama sekali tidak bersalah. Ya, dia sudah merenungi segalanya, yang bersalah adalah Anton yang melakukan aksi nekat dengan memperk*sa ibunya.
"Apa kau sudah merenungi semuanya?"
Naura menganggukkan kepala, sedih melakukan hal yang tidak adil bagi ibunya.
"Diam-diam ibumu selalu datang kesini hanya melihatmu, tapi tidak pernah masuk ke dalam kamar takut kau akan terluka dengan tindakannya." Ungkap Arya membuat Naura menatapnya lebih dalam.
__ADS_1
"Ibu selalu datang kesini?" fakta yang ternyata baru di ketahui setelah mengungkitnya.
"Benar, ibu mertua memperhatikanmu di balik sela pintu saat kau tertidur. Kau sendirilah yang ingin meminta waktu sendiri, untuk itulah tidak ada yang datang menemuimu selain aku."
Arya mendudukkan Naura yang sedang meneteskan air mata dan memberikannya tisu. Membiarkan wanita itu menuntaskan rasa sedih tanpa ingin mengganggunya, paling tidak dia bersyukur bisa menjadi tempat sandaran. Perlahan dia memahami satu hal, ketangguhan dari wanita kuat seperti Naura juga memiliki hati yang sangat rapuh.
"Apa aku seburuk itu?"
"Tidak, kau melakukan sesuai dengan keinginanmu. Bukankah kau merasa tenang sekarang?"
"Ya, terima kasih telah memberikan aku tempat tinggal sementara." Tutur Naura yang membuat hati Arya sedikit tersinggung.
"Apa maksud dari perkataanmu?" tanya Arya menyelidik, walau dia sendiri sudah tahu apa yang akan di katakan oleh wanita itu, tapi dia hanya ingin mendengar secara langsung.
"Kau tahu kan kalau hubungan kita di langsungkan demi kesepakatan simbiosis mutualisme, jadi tidak ada apapun selain pernikahan di atas kertas. Hitam dan putih sudah jelas terlihat, apalagi waktu satu tahun tidak terasa dan menyisakan dua pekan saja. Baik kau maupun aku akan menjalani kehidupan baru, tentu saja status kita akan berubah dan tidak akan sama lagi." Jelas Naura begitu menyakitkan hatinya, disaat mulai mencintai Arya tapi kontrak pranikah menjadi tembok dan juga saudari kembarnya yang telah tiada.
"Kita sama-sama tahu bagaimana awalnya, mari kita akhiri dan menjadi orang asing."
"Kau sangat egois sekali, hampir satu tahun kita bersama dan kau memutuskannya? Apa kau tidak berpikir mengenai aku yang tidak bisa hidup tanpamu? Apa kau masih meragukan cintaku ini untuk siapa? Dengarkan aku baik-baik, AKU MENCINTAI MU."
Naura terdiam dan air mata kembali menetes, dia juga tidak tahu mengenai keputusannya salah atau benar. Satu hal yang dia tahu, bahwa dia memiliki niat buruk untuk mencari keadilan bagi Bella. Cukup lama dia bertarung pada batinnya sendiri, apakah harus menceritakannya atau tidak. "Apa yang membuatmu mencintaiku? Jangan katakan kalau wajahku mirip dengan kakak kembarku."
Dengan cepat Arya menggelengkan kepala. "Bukan, kalian hanya memiliki wajah yang sama namun kepribadian yang sangatlah berbeda. Awalnya aku memang mengincar wajahmu dan merebutmu dari Amar, tapi setelah mengetahui kepribadianmu mengubah sudut pandangku. Aku mencintaimu bukan karena wajahmu melainkan hatimu, aku mencintaimu dari dalam." Jelas Arya bersungguh-sungguh meyakinkan Naura agar tidak pergi meninggalkan mereka.
"Jadi kau serius padaku?"
__ADS_1
"Aku tidak pernah seserius ini pada seorang wanita."
Naura sangat puas pada jawaban Arya dan berinisiatif memeluk pria itu sebagai apresiasi, sekarang tujuannya sudah jelas. "Ada satu hal yang harus kamu ketahui." Ungkapnya sedikit pelan takut pria itu kembali tersinggung.
"Sebenarnya aku bertahan hanya untuk mendapatkan keadilan Bella."
"Aku sudah tahu." Sela Arya santai membuat kening Naura berkerut.
"Darimana kau bisa tahu?"
"Apa kau pikir aku pria bodoh yang tidak curiga pada niatmu, aku menyelidikinya dan tahu kau menyewa seseorang. Tapi kau juga ceroboh dengan meninggalkan jejak, kartu yang aku berikan tentu saja sangat mudah ku lacak."
Naura sangat malu dan ingin rasanya menghilang dari pandangan pria itu. "Menyewa seseorang membutuhkan uang yang banyak, itu sebabnya aku menggunakan uangmu."
"Ya, jadi mari kita lupakan saja. Apakah kau tidak memiliki perasaan padaku?"
Naura terdiam beberapa saat, kembali berpikir apakah dia harus jujur atau tidak. "Aku…aku mencintaimu." Ucapnya malu dengan rona merah di wajahnya.
Arya sangat puas mendengar pernyataan cinta yang terbalaskan, memeluk tubuh Naura erat seakan tak ingin melepaskannya. Kini tujuan hidupnya semakin jelas, walau berawal dari kesepakatan saja. "Kau tahu? Aku sangat senang mendengar kalimat singkat itu keluar dari mulutmu, dan berjanji akan melawan siapapun yang hendak memisahkan kita."
"Kau sangat manis sekali," puji Naura, hatinya kian meleleh mendengar perkataan suaminya. "Jadi…bagaimana dengan kontrak perjanjian pranikah?"
"Aku bahkan sudah membakarnya, aku yakin kalau kau pasti jatuh cinta padaku. Itu hanyalah sebuah kertas yang tertulis dan aku sebagai pihak pertama bisa melakukan apapun pada perjanjian konyol itu."
"Kau berbicara penuh keyakinan." Kekeh Naura melepaskan pelukan itu.
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa menolak pesonaku." Jawab Arya penuh percaya diri membuat Naura menghela nafas jengah.
"Ya Tuhan, kenapa sifatnya yang satu itu tidak bisa di hilangkan?" batin Naura.