Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 49


__ADS_3

Terlihat guratan kesedihan di mata seseorang, kulit yang sudah tidak kencang lagi di tambah dengan penglihatan yang tidak terlalu jelas. Ririn menangis seorang diri, tidak ada siapapun di sisinya baik teman, suami, ataupun seorang anak yang menemai. 


Dia sangat kesepian, di usia yang sudah paruh baya ingin sekali menghabiskan waktu bersama keluarga. 


"Dan disinilah aku meratapi kesedihan, hatiku hampa dan kehidupanku berjalan sangat hambar." Lirihnya pelan dengan kesedihan yang mendalam. 


Ririn memperhatikan detakan jam di dinding berwarna putih, dapat merasakan setiap detakan bagai akhir kehidupan. Menyusuri pemandangan di sekeliling yang kosong, hanya ada alat-alat menempel di tubuh. "Aku ingin bertemu dengan putriku, Naura. Tuhan…berikan aku kesempatan untuk bertemu dengannya." Lirihnya penuh harap, wajah yang semakin pucat dan tak berdaya terbaring di atas brankar rumah sakit. 


"Ibu," ucap seseorang yang membuat Ririn langsung mengalihkan perhatian, seorang anak yang begitu dia rindukan. Mata yang mulai berkaca-kaca, sesuatu di dalam sana perlahan mencair, kerinduan yang selalu membayangi pikiran dan juga hati terobati. 


Naura sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya saat ini, seorang wanita paruh baya yang merentangkan kedua tangan menyambutnya. Kedua tungkai kaki terasa sangat berat, menyaksikan penderitaan dari wanita yang pernah melahirkan. 


"Sayang…kemarilah dan peluk ibumu ini." Lirih pelan Ririn, terus merentangkan kedua tangannya menyambut sebuah pelukan yang sangat di harapkan. 


Naura meneteskan air mata melihat kondisi ibunya yang kritis, berjalan mendekat dengan perlahan. 


"Ibu." 


"Peluk ibumu ini, Nak." 


Naura langsung menghamburkan pelukan, tapi suara yang sangat mengganggu itu dan tubuh lemah dalam pelukannya kehilangan kekuatan. Segera dia menatap sang ibu yang ternyata sudah tiada, waktu berhenti cukup lama merasakan sebuah sesak di hati. 


"IBU." Pekik Naura yang terbangun dari tidurnya, keringat yang membasahi tubuh dan mencoba untuk mengatur nafasnya agar stabil. Dengan cepat dia menyeka keringatnya sambil mengucapkan rasa syukur. "Ternyata itu cuma mimpi." 


Naura melirik jam di dinding yang menunjuk pukul dua dini hari, dia sangat takut jika mimpi itu menjadi kenyataan. Bohong rasanya kalau dia tidak menyayangi ibunya, ego yang besar terus menepis perasaan itu. "Ya Tuhan…kenapa mimpi itu begitu nyata? Apa aku harus menurunkan egoku?" monolognya sembari mengingat perkataan Arya. 


Naura tidak memiliki siapapun lagi, terpaksa menurunkan ego karena tidak ingin penyesalan dan rasa ketakutan itu di alaminya. Segera dia meraih ponsel yang berada di dalam laci, kedua tangan gemetaran terus melakukan pencarian nama kontak yang hendak di hubungi. 


"Eh, ini masih jam dua pagi." Naura kembali mengurungkan niatnya dan menunggu hari esok, dia tak ingin hidup dalam keegoisan yang akan membuatnya menyesal seumur hidup, sebuah mimpi yang sangat menakutkan mengubah pandangannya dalam sekejap. 


Di pagi hari, Naura bergegas turun dari tangga tanpa ikut bergabung sarapan bersama suami dan kakek. 


"Kau mau kemana? Ayo sarapan bersama." Ucap Arya menghentikan langkahnya. 


"Tidak, aku sarapan di luar saja." 


Arya berjalan menghampiri dan menarik tangan Naura untuk ikut bergabung. "Ayolah, kakek ingin kita makan bersama." 

__ADS_1


Naura sangat cemas memikirkan ibunya, tapi menganggukkan kepala tak ingin mematahkan hati pria tua yang menunggunya. 


Setelah selesai sarapan, Arya mengikuti Naura melangkah karena mencemaskannya, sedari tadi dia memperhatikan dan tahu kalau wanita itu tampak gusar. 


"Kau mau menemui siapa?" 


"Ibuku." Jawab Naura singkat. "Jalankan mobilnya!" titahnya pada sang supir. "Kau tidak ke kantor." 


"Aku ingin menemanimu, tak masalah datang terlambat karena akulah bosnya." 


"Ck, kau ini." 


Arya terus memperhatikan Naura yang gelisah entah sebab apa, tidak tega meninggalkannya sendirian saja. 


"Kenapa kau menatapku begitu?" Naura akhirnya menyadari tindakan suaminya yang diam-diam memperhatikannya. 


"Kau sangat cantik hari ini." Goda Arya. 


"Aku tidak ingin bercanda ataupun berdebat denganmu." 


"Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh, kau sangat cantik. Rambut indahmu di cepol tinggi dan sangat sesuai dengan pakaian yang kau kenakan." 


Arya tetap tak berputus asa menghibur wanita di sebelahnya. "Baiklah, aku tidak akan memaksa." Jawabnya pasrah. "Apa aku boleh meminta sesuatu darimu? Sangat penting." 


"Apa?" 


"Salah satu pemilik perusahaan yang terkenal di Amsterdam akan datang berkunjung, aku ingin kau datang sebagai istriku dan bersikap romantis." Pinta Arya memohon. 


"Apa yang terjadi kalau aku tidak datang?" 


"Ayolah, jangan katakan begitu. Ini sangat penting agar pemilik dari perusahaan tersebut ingin bekerja sama dengan kita, sangat sulit untuk membuat temu janji dengannya. Aku akan membayarmu nanti, bagaimana?" 


"Deal." Naura meraih tangan Arya menyetujuinya, tersenyum saat mendapatkan sedikit pundi-pundi uang untuk kelangsungan hidupnya. 


"Ck, ternyata kau juga mata duitan. Kenapa waktu itu kau tidak menerima tawaranku yang ingin memberikanmu butik." Arya tak memahami pola pikir Naura, terkesan plin-plan di matanya. 


"Aku tidak sudi menerima bantuan dari orang lain, kecuali mendapatkan dengan usahaku sendiri." 

__ADS_1


"Bagaimana kalau kau menikah denganku, kau mendapatkan apapun setelah melayaniku di ranjang." 


Pletak


Naura sangat kesal, kegusaran yang dia rasakan bercampur dengan kekesalan. "Apa di otakmu itu berisi hal mesum saja? Aku sangat cemas dan kau menambah suasana semakin runyam saja. 


"Ya maaf," ucap Arya sedikit menyesal. "Bisa kau katakan kemana kita pergi?" 


"Ke rumah ibuku." 


Arya berharap cemas dengan perkataannya. "Kenapa Naura tiba-tiba ke sana?" pikirnya di dalam hati. 


Sesampainya di tempat tujuan, Naura mengetuk pintu dan menekan bel tapi tak mendengar sahutan dari dalam rumah. Kecemasan berlipat ganda yang membuatnya langsung menerobos masuk ke dalam, dengan tergesa-gesa mencari keberadaan ibunya. 


Betapa terkejutnya Naura saat melihat sang ibu yang tergeletak di atas lantai, membayangi mimpi tadi malam membuatnya sangat ketakutan. 


"Ibu…ibu," pekik Naura yang cemas, memukul pelan pipi ibunya. 


"Biar aku saja." Arya sigap menjadi pahlawan kesiangan, dan membaringkan tubuh wanita paruh baya itu ke atas tempat tidur. 


Naura sangat takut terlihat begitu jelas dan mencoba untuk menyadarkan ibunya yang pingsan. Sementara Arya menghubungi dokter untuk memeriksa ibu mertuanya. 


"Bagaimana Dok?" tanya Naura sedih. 


Dokter itu tersenyum. "Tidak ada yang perlu di cemaskan, pasien baik-baik saja. Setelah ini pastikan ibu anda makan tepat waktu," jelas sang dokter membuat Naura bisa bernafas lega. 


"Tidak ada yang serius kan Dok?" 


"Tidak ada, saya permisi dulu." 


Naura tersenyum mengangguk dan melihat kepergian Arya yang mengantarkan dokter sampai ke depan pintu utama. Menatap tubuh lemah yang belum sadarkan diri, kecemasan tak beralasan hanya karena sebuah mimpi yang amat menakutkan. 


"Kau tidak perlu cemas, ibumu baik-baik saja." Celetuk Arya. 


"Terima kasih," Naura tersenyum tulus pada suaminya yang sigap. 


"Aku masih suamimu." 

__ADS_1


Naura tak tahan sehingga dia memeluk tubuh suaminya dengan erat. "A-aku ta-tadi sangat takut, bagaimana mimpi itu menjadi kenyataan? Aku tidak ingin ibu pergi meninggalkanku untuk selamanya."


"Itu hanya mimpi bunga tidur, kau sudah dengar apa kata dokter. Tugasmu sekarang menjaga ibu mertua dan aku akan terus di sisimu." Jawab Arya dramatis, tersenyum kemenangan mendapatkan pelukan itu. 


__ADS_2