Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 71


__ADS_3

Anton sangat kesal dengan semua kenyataannya, tidak ada yang ingin tinggal bersamanya, baik dua anak kandung dan juga wanita yang sangat dia cintai. Dia duduk semnari melihat keluar jendela, merenungi apakah keputusannya ini ada yang salah atau tidak. Jika mengenai logikanya tidak ada yang salah menginginkan semuanya bersatu, tapi keadaan tak memungkinkan dan terlalu cepat mengambil keputusan. 


"Apa keputusanku ini sudah tepat?" gumamnya yang masih terdengar oleh orang di sebelahnya. 


"Niat Tuan sangatlah baik, hanya caranya saja yang salah." 


Anton langsung menatap tajam ke sumber suara. "Berani sekali kau mengomentari ku." 


Pria yang selama puluhan tahun menemani Anton menjadi orang kepercayaan, tangan kanan yang selama ini diam saja. "Maaf jika aku lancang Tuan. Sedikit saran dari ku, kalau ingin menyatukan mereka hanya dengan memberikan pengertian tentang apa yang di inginkan oleh kedua belah pihak." 


"Maksudmu?" Anton sedikit tertarik tentang nasehat yang di berikan oleh asistennya itu. 


"Rebut hati mereka dengan menuruti kemauannya." 


"Bagaimana mungkin aku melakukan itu, kedua putriku saja mencintai Arya Atmajaya." 


"Itu dua hal yang berbeda, nona Clarissa selalu mengejar Arya tapi cintanya hanya sebatas obsesi. Sedangkan nona Naura dan pria itu saling mencintai, mereka juga resmi menikah walau berawal dari kesepakatan keuntungan masing-masing semata. Tuan pasti bisa membedakannya, mana cinta dan juga obsesi." Jelas sang asisten pribadi sekaligus tangan kanan Anton yang juga menyindir. 


Anton yang mulai berpikir langsung berubah dingin karena kalimat akhir seperti menyindirnya. "Jika kau orang lain sudah di pastikan hanya tinggal namanya saja." 


"Maaf Tuan, itulah kenyataannya. Bukankan anda juga mencintai istri orang lain saat masih memiliki seorang istri? Jangan biarkan hal itu terulang kembali, ambillah pelajaran jangan sampai anda kembali membuat kesalahan." 


Anton mulai berpikir keras, mengingat kesalahan di masa lalu yang membuat hubungannya semua terlepas begitu saja. Tapi dia tetaplah seorang ayah yang tak tega jika salah satu putrinya menderita karena seorang pria, namun dia harus bersikap tegas karena apa yang di katakan oleh tangan kanannya memanglah benar. 


"Bagaimana dengan pria bernama Amar, apa dia masih mengikuti Clarissa?" 


"Masih Tuan, orang-orang kita selalu mengawasinya dan berniat buruk dengan membawa nona Clarissa dalam rencana liciknya." 


"Ck, hama itu selalu saja membuatku kesal. Segera kau atasi dia!" titah Anton yang langsung beranjak dari kursi dan pergi. 


Sang asisten hanya menatap kepergian tuannya, kemudian berlalu pergi untuk melaksanakan perintah. 


Di sisi lain, Beno menunggu cucu dan cucu menantunya untuk kembali, sesekali dia melirik anak tangga berharap keduanya ikut bergabung untuk makan bersama. 


"Apa mereka tidak lapar? Sepanjang hari hanya berada di dalam kamar saja." Gerutu Beno yang mulai kesal. 

__ADS_1


Lain halnya pada dua orang yang di mabuk asmara, lebih tepatnya Arya yang tidak membiarkan istrinya pergi menjauh. 


"Sayang, sekali lagi!" bujuk Arya. 


"Aku sudah melayanimu sepanjang hari, biarkan aku pergi! Apa kau tidak lelah ataupun lapar? Dasar tidak peka." Umpatan langsung keluar dari mulut Naura yang protes akan kerja rodinya. 


"Hanya sekali lagi, please!" 


"Tidak." Setelah bersiap-siap, Naura keluar dari kamarnya meninggalkan suami yang haus akan belaian. 


Beno kembali melirik jam di tangannya dan dua orang yang berada di dekatnya. "Kalian lama sekali," keluhnya. 


"Kalau Kakek lapar kenapa tidak makan duluan saja," balas Arya. 


"Makan sendirian itu tidak enak." 


"Menyusahkan saja," lirih Arya yang terdengar jelas di telinga Naura, sekaligus mendapatkan hadiah cubitan cinta. "Sayang, apa yang kau lakukan?" 


"Dia itu kakekmu." Bisik Naura mengajari. 


"Aku tahu." Jawab Arya santai sembari mengusap pinggang nya yang terasa panas dingin.


Naura menundukkan kepala dan menganggap dirinya bersalah atas kekacauan yang di sebabkan oleh Anton, ayah biologisnya. "Maaf, karena aku kedamaian di Mansion terganggu." 


"Bukan kesalahanmu, aku sudah tahu segalanya." Beno sudah tahu mengenai semuanya, awalnya sangat shock mengetahui kebenaran dan juga Anton adalah bukanlah orang sembarangan. 


Menatap dua orang secara bergantian mengingat situasi saat ini sangatlah menegangkan, harus serius dalam mengambil sebuah keputusan. 


"Tahu segalanya?" Arya mengerutkan dahi sedikit penasaran juga gugup, apakah niat pernikahannya juga di ketahui oleh sang kakek? Semoga saja tidak. 


"Yah, semuanya. Termasuk pernikahan simbiosis mutualisme yang sudah kalian sepakati bersama, beruntung penyakit jantungku tidak kambuh." Cetus Beno serius menanggapi permasalahan yang terjadi di belakangnya, juga niat Arya menikahi Naura. 


"Maaf Kek." Ucap Arya dan Naura kompak. 


Beno menatap keduanya tajam dan mengintimidasi, tidak terima jika dirinya di permainkan oleh cucunya sendiri. 

__ADS_1


"Awalnya memang begitu, sering berjalannya waktu benih-benih cinta itu muncul dan sekarang kami saling mencintai." Ungkap Arya. 


"Yah, terlihat jelas dengan tanda merah di leher istrimu." Terang Beno membuat dua sejoli itu gelagapan, terutama Naura yang berusaha menutupi bekas kecupan menggunakan rambutnya. 


"Kakek tidak marah?" 


"Aku memakluminya, juga aku ingin meminta maaf pada Naura atas kematian saudari kembarnya." Ucap Beno menyesal. "Selama ini aku selalu tutup mata mengenai kesalahan Amar, sekarang tidak lagi. Aku akan memberikan anak itu pelajaran, termasuk memenjarakannya." 


"Da-dari mana Kakek mengetahui segalanya?" tanya Naura yang juga merasa bersalah. 


"Selama aku tidak di Mansion, aku mencari tahu lewat tangan kananku." Jelas Beno. 


"Jadi kau menikahiku hanya untuk balas dendam pada Amar?" protes Arya memandang istrinya. 


"Kau itu pikun atau pura-pura lupa? Jangan lupakan kalau kau menikahiku memiliki tujuan yang sama, sekaligus memanfaatkan wajahku yang mirip Bella." Balas Naura ikut protes.


"Lupakan masa lalu karena kita akan menjalani masa depan bersama, aku sekarang mencintaimu." 


"Ya, itu terlihat dengan jelas." Sela Beno membuat Arya cengengesan. 


"Kakek sudah mengetahui segalanya, apa tindakan Kakek selanjutnya?" tanya Arya penasaran. 


"Aku ingin bertemu Anton dan menyelesaikan masalah ini secepatnya." 


"Itu tidak akan mudah Kek, jarang sekali dia mencabut kata-katanya." 


"Jarang bukan berarti tak mungkin, biarkan ini menjadi urusanku." Ucap Beno. 


Sementara Naura tak ingin membahas Anton, dia lebih tertarik pada makanan di atas piring yang tidak tahu tersisa sedikit akibat mengobrol. Setidaknya beban di hati sudah berkurang, melupakan balas dendam pada keluarga Atmajaya dan mulai menerima kenyataan.


Arya seakan mengerti dan menatap wanita di sebelahnya dengan penuh cinta, tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala memberikan semangat dan tujuan baru pada istrinya itu. "Kita lupakan semuanya, dan mulai hidup baru." 


"Kau benar." 


"Aku senang mendengarnya, kapan kalian akan memberiku cicit?" 

__ADS_1


Naura tersentak kaget karena tak berencana untuk hamil secepat itu, apalagi permasalahannya belum tuntas. Berusaha untuk mengkode suaminya lewat kedipan mata, tapi pria itu tetap tak mendengarkan keluhannya. 


"Secepatnya." Jawab Arya cepat yang langsung meringis kesakitan saat kakinya di injak. 


__ADS_2