Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 53


__ADS_3

Seorang wanita yang mengusap sebuah foto anaknya secara diam-diam, dia menciumnya dengan lembut. Rasa sakit menjadi seorang ibu belum terbayarkan, keegoisan dari suami yang lebih memilih hidup bersama dengan wanita perebut yang juga membawa salah satu putri kembarnya. 


"Bahkan sampai sekarang hatiku masih terluka, mereka sangat egois memisahkan aku dari Bella." Ririn menatap sendu pada foto anak-anaknya di sebuah album, mengambilnya secara diam-diam tanpa di ketahui oleh mantan suaminya. 


Naura yang tak sengaja melintas di sana menghentikan langkah, menoleh pada wanita paruh baya yang duduk di luar. Rasa sejuk yang begitu menusuk, angin yang berhembusan menandakan hujan akan segera turun. Dia berjalan mendekat dan memegang pundak sang ibu. 


"Di sini sangat dingin, ayo masuklah!" ucapnya yang tak tega, melirik album yang ada di tangan ibunya. "Itu foto siapa?" 


"Foto masa kecilmu dan juga Bella, diam-diam aku memotret kakakmu dan menjadikan sebuah obat untuk rasa rindu." 


"Apa aku boleh melihatnya?" 


"Tentu." 


Naura sangat penasaran bagaimana kenangan masa kecil dari kembarannya, ikut duduk bersama tanpa menghiraukan hembusan angin yang menusuk kulit. Satu persatu lembaran di buka olehnya, melihat dengan seksama dan tersenyum. "Bella sangat cantik dan juga modis, sangat berbeda denganku." Komentarnya. 


"Kau benar, dia pernah menjuarai beberapa kali kontes kecantikan." 


"Yeah, mungkin saja aku juga akan menang. Tapi sayangnya minat ku ada di desain, merancang busana adalah kegemaranku." 


"Itu juga tidak buruk." Ririn tersenyum dan menengadahkan kepala, tetesan hujan mengenai wajahnya dan segera beranjak, tak lupa menarik tangan Naura untuk masuk ke dalam rumah. "Hujannya semakin deras, ayo masuk!" 


"Baik Bu." Naura mengangguk setuju dan menyerahkan album foto itu kepada ibunya dan berpamitan untuk tidur di kamar yang sudah di siapkan. "Selamat malam." 


"Selamat malam." 


Wajah yang sama tapi kepribadian juga kegemaran tak sama, Naura memikirkan kenapa Bella saat itu sangat bodoh hanya karena seorang pria brengsek seperti Amar. Andai dia berada di sana dan menghentikan aksi konyol dari kembarannya. 


"Sial, aku pernah mencintai pria yang sama dengan Bella. Beruntung aku tidak jadi menikahi si brengsek keparat itu," monolog Naura seraya menggenggam gagang pintu dan masuk ke dalam kamarnya. 


Alangkah terkejutnya Naura mendapat sambutan yang begitu romantis bahkan kedua matanya hampir keluar dari tempatnya, melihat Arya yang menggigit setangkai bunga mawar merah berpose ala model di atas tempat tidur yang di dekorasi seperti kamar pengantin. Menyusuri pandangannya menyapu tempat itu, lilin aromaterapi yang menyala dan banyaknya bunga kelopak bunga mawar menghiasi, juga lampu-lampu indah bergantung, jangan lupakan lampu remang untuk menambah suasana romantis. 


Penampilan Arya yang hanya mengenakan celana pendek dan bertel*njang dada, sengaja memperlihatkan perutnya yang sixpack. "Halo Baby, kemarilah!" ucapnya sengaja mengeluarkan suara seksi, menepuk ranjang kosong di sebelahnya. 

__ADS_1


Naura mengucek kedua matanya menyaksikan semua itu, berharap dia salah melihat dan menganggapnya sebuah halusinasi saja. "Arya, kau kah itu?" 


"Yeah Baby, ini aku suamimu." 


Naura mengedipkan matanya beberapa kali, menyaksikan sikap Arya yang terbilang sangat konyol. "Apa semua ini?" tanyanya yang berjalan mendekat. 


"Aku tidak tahu, tapi ibu mertua yang menyiapkan ini. Dan aku? Aku hanya melanjutkannya saja." 


"Ibu? Mana mungkin Ibu melakukan ini, kau pasti membual." 


"Kau boleh menanyakannya." Arya tersenyum tipis seraya meraih pinggang ramping agar tidak ada jarak di antara mereka. 


"Si mesum ini pasti berbohong." Lirih Naura yang tak mempercayai perkataan Arya. 


"Kau bisa menanyakannya langsung pada ibu mertua, tapi sebelum itu__." Arya mendekatkan wajahnya dan menghempaskan tubuh wanita itu ke atas ranjang dan mengurungnya menggunakan kedua tangan kekar. "Kita harus memikirkan ini, kakek dan ibu mertua mempunyai keinginan yang sama." 


Naura sangat takut jika berada di posisi itu, lebih bersikap lebih waspada. "Tidak, aku melarang keras kau menyentuhku." Tegasnya. 


Arya tersenyum tipis dan mendekatkan wajahnya, melirik bibir yang ingin sekali di cicipi. Jakunnya naik turun di saat Naura memejamkan mata, menahan sebuah godaan hasrat agar tidak lepas kendali. "Tahan Arya…atau panggilanmu sebagai pria mesum membuktikannya." Batinnya. 


"Apa yang kau pikirkan? Imanku ini setebal baja dan bukanlah pria mesum yang kau tuduhkan." Arya berusaha menahan sesuatu, bayangan wanita dalam tindihannya tanpa busana. "Kau pasti berharap banyak agar aku menyentuhmu." 


Naura sangat kesal telah di permainkan oleh Arya, mencari celah agar terlepas. Perlahan kedua sudut bibirnya melengkung mendapatkan sebuah celah yang instan dan cepat. 


"Auh," ringis Arya yang terkejut mendapatkan serangan tepat mengenai rudal ultimatumnya, mengerang kesakitan sambil memegang senjata masa depan yang berguna memproduksi perkembangan biakan manusia. "Apa yang ka-kau lakukan?" lirihnya pelan saat rasa sakit yang tidak bisa di jabarkan, terlihat jelas wajah yang memerah. 


Naura mendorong tubuh pria itu sambil bertolak pinggang. "Itu peringatan untukmu, aku tidak suka cara bercandamu. Sekarang pergilah dari sini karena aku tidak ingin kau tidur satu ranjang!" ucapnya tegas. 


Arya sangat kesal dan berusaha untuk bangkit. "Masa depanku terancam," lirihnya yang masih terdengar jelas. 


"Itu hanya hal kecil saja jadi lupakan." 


"Lupakan? Kalau Bobby-ku kenapa-kenapa kau juga yang akan di rugikan." 

__ADS_1


"Aku?" 


"Aku tidak bisa memuaskanmu di ranjang." Pekik Arya melampiaskan kekesalannya, berjalan keluar dari kamar seperti kepiting. "Aku akan menuntutmu jika Bobby-ku expired." Kecamnya. 


"Pria aneh," gumam Naura tak peduli, menyingkirkan kelopak bunga mawar merah yang ada di atas tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya. 


Jangan tanya bagaimana Arya saat ini, apakah kesialan yang di alami olehnya adalah buah yang harus di tuai. Awal dia menikahi Naura sebuah tujuan dan niat terselubung, namun siapa sangka kejadian buruk yang menimpanya di cap sebagai karma untuk pria licik sepertinya. 


Beruntung ada kipas di dalam kamar tamu yang di tempatinya, terpaksa membuka celana sambil mengarahkan kipas angin ke arah sasaran yang terkena tendangan maut. 


"Wajahnya sangat polos tapi dia melebihi singa betina, bisa-bisanya alat reproduksi ku di hantam dengan tidak berperasaan. Apa dia pikir ini silikon? Kenapa aku merasa harga diriku selalu jatuh di matanya?" ucap Arya yang berbicara sendiri, mengelus kepala Bobby-nya dengan sangat lembut. 


"Aku harap kau baik-baik saja, jangan sampai aku impoten hanya karena tendangan itu." Sambung Arya yang terpaksa tidur tanpa celana, membiarkan semliwir angin dari kipas angin menyejukkan si Bobby.


Baru saja dia memejamkan kedua mata, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan yang mengganggunya adalah sang kakek. "Kakek sepertinya tidak punya pekerjaan lain selain mengganggu ku," kesalnya yang terpaksa mengangkatnya. 


"Ada apa Kek?" 


"Kenapa kau dan Naura tidak pulang ke Mansion?" 


Arya terdiam tak mungkin mengatakan semuanya lewat telepon, jadi dia mencari alasan yang lebih logis dan masuk di akal. 


"Kami membutuhkan privasi dan suasana baru Kek." 


"Wow, luar biasa." 


"Ya. Boleh aku bertanya sesuatu?" 


"Tanyakan saja."


"Apa semua wanita seperti singa betina?" keluh Arya. 


"Dasar bodoh, jangan membahas hal intim padaku." 

__ADS_1


Telepon itu langsung terputus secara sepihak membuat Arya menggaruk kepala yang tidak gatal, dia tidak memahami jawaban sang kakek yang melenceng. 


Sementara Beno mengira jika cucunya kalah pergaulan panas di ranjang, tertawa saat mengingat masa dimana dia menjadi pengantin baru.


__ADS_2