Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 32


__ADS_3

Perlahan Naura keluar dari permasalahan dan kembali bekerja di butik, baginya bukan masalah kecil. Tapi ingatannya masih terbayang-bayang akan perkataan dari ibu kandungnya mengenai siapa sebenarnya Bella, sedih? Tentu saja dia merasakan itu seakan takdir mempermainkannya. 


"Jadi itu sebabnya aku tidak pernah bertemu ayah kandungku, aku harus menemui wanita itu lagi untuk menanyai keberadaan pria brengsek itu." Gumam Naura di dalam hati seraya memainkan pulpen. 


"Kau tidak apa-apa?" tanya seseorang yang sedari tadi memperhatikannya. Naura tersentak kaget karena tidak tahu kapan wanita itu masuk kedalam ruangannya. 


"Kau disini?" tanya Naura menatap aneh. 


"Hentikan, jika kau belum siap bekerja sebaiknya di Mansion Atmajaya. Beberapa kali aku berusaha memanggilku tapi kau tidak menyahut, apa yang kau lamunkan?" tanya Lita meletakkan beberapa hasil desainnya dan meminta pendapat dari sahabatnya. 


"Oh maaf, aku tidak menyadari kehadiranmu." Dengan cepat Naura mengembalikan konsentrasinya sembari menatap sang sahabat. 


"Tidak masalah, sepertinya kau memiliki beban berat sampai melamun seperti itu. Kau tahu aku menyimpan rahasia yang baik, katakan ada apa?" Lita tertarik dan melupakan hasil desainnya. 


Naura memperhatikan ruangan yang tidak ada siapapun selain mereka dan menghela nafas. Dia mengambil tas kecil dan merogohnya, mengeluarkan sebuah foto memperlihatkan kepada Lita. 


"Kapan foto ini di ambil? Aku tidak tahu jika kau feminim ini dalam berpakaian." ledek Lita yang tetap mengakui jika sahabatnya itu sangat cantik.


"Itu bukan fotoku, aku lebih menyukai berpakaian sederhana bukan feminim seperti itu dan kau bahkan mengenalku luar dalam."


"Oh aku tahu, kau pasti mengeditnya. Antara suami dan mantan calon suami, sangat menyenangkan berada di tengahnya." 


"Bisakah kau tidak berkomentar sebelum aku menjelaskannya lebih dulu." Naura meninggikan intonasi, jengkel dengan sahabatnya yang mendahului. 


"Ups…maaf, katakan!" sahut Lita memelas sambil memperagakan tangan yang mengunci mulut menandakan jika dia tidak akan bersuara mendahului lagi. 


"Dia Bella dan kakak kembarku yang telah meninggal, kematiannya akibat bunuh diri karena memiliki kekasih brengsek seperti Amar dan sialnya aku hampir menikah dengan pria itu." Jelas Naura to the point, mengambil dari garis besarnya saja. 


"Demi apa?" Lita sangat terkejut dan melupakan apa yang di lakukan sebelumnya, tidak menyangka jika sahabatnya itu memiliki kembaran. "Amar dalangnya?" 


Naura mengangguk. "Ya, si brengsek casanova sudah merenggut kembaranku. Untung saja aku mengetahui seberapa bejat nya dia, dua pengkhianat itu sangatlah cocok." 


"Baiklah. Jika Amar adalah kekasih Bella, lalu Arya? Apa suamimu juga ikut terlibat?" 


"Aku hampir stres memikirkan permasalahan ini, kenapa takdir membawaku untuk mengenal keluarga yang sudah membuat saudariku tewas. Ternyata Arya juga berperan sebagai sad boy, mencintai Bella dalam diam." Jelas Naura, dia tidak tahu apa yang akan di lakukan berikutnya. 


"Aku bingung dengan permasalahan mu yang rumit itu, kenapa kau baru mengetahui setelah dua puluh tujuh tahun?" 


"Apa dayaku? Kau ingat betul bagaimana hubunganku dengan ibuku." 

__ADS_1


"Sepertinya aku mulai paham, kau dan ibumu dan Bella bersama ayah kalian." 


"Ck, dia juga tak pantas di sebut seorang ayah. Pria tak tahu malu yang pergi meninggalkan aku setelah di lahirkan dan memutuskan hidup bersama wanita pelakor."


"Jadi apa yang ingin kau lakukan? Kau sudah melangkah sejauh ini." 


"Aku tahu, mau mundur tapi Arya terus mencari alasan hingga hubungan kami benar-benar tampak seperti pasangan suami istri lainnya." 


"Jangan katakan kalau kau dan dia__." Lita menghentikan perkataannya, kedua tangan menutup mulutnya membayangkan hubungan suami istri di ranjang yang begitu panas membara. 


Seketika itu pula Naura menoyor kepala Lita. "Jangan berpikir macam-macam, aku bukan wanita bodoh walau dia merayuku sekalipun." 


"Aku hanya satu macam saja." Jawab Lita yang kesal mengerucutkan bibirnya.


"Aku sudah membalaskan dendam, dengan kepergian Amar dan di benci oleh kakeknya itu lebih dari cukup." 


"Bagaimana nasib Lili? Aku tidak mendengar kabarnya lagi." 


"Dia berada di rumah sakit jiwa," Naura terkekeh membayangkan bagaimana efek bubuk kecubung. 


"Jadi wanita gatal itu sudah di rumah sakit? Bagaimana bisa?" 


"Luar biasa, kapan efeknya akan menghilang?" 


"Hanya tiga sampai tujuh hari saja paling cepat, dia akan kesulitan jika keluar dari rumah sakit jiwa." 


"Kau memiliki akal bulus." Ledek Lita yang tertawa di ikuti oleh Naura. 


"Sekali dua kali aku akan diam menahan sikapnya, tapi tidak untuk ketiga kalinya." 


Obrolan terhenti saat mendengar suara telepon yang berdering, Naura menarik perhatiannya ke layar monitor dan melihat siapa yang menghubunginya. 


"Telepon itu sangat mengganggu, angkatlah! Aku akan pergi dan beberapa hasil desainku aku letakkan di atas meja kerjamu." Lita berlalu pergi dari ruangan. 


Naura membiarkan ponselnya berdering saat Arya yang menghubunginya, dia hendak mematikan ponsel namun terhenti melihat nama Bian si fotografer yang meneleponnya.


"Apa kau sibuk?" 


"Tidak terlalu sibuk." 

__ADS_1


"Ini sudah waktunya makan siang dan kebetulan aku sudah menunggumu di butik." 


"Eh, kau disini?" 


"Ya, lebih tepatnya mengajakmu makan siang bersama dan berbincang."


"Baiklah, aku akan turun." 


"Dan aku akan menunggumu." 


Naura bergegas merapikan meja kerja dan meraih tas kecil jinjingan tangan, memasukkan ponselnya ke dalam.


Segera keluar dari ruangan dengan langkah yang tergesa-gesa, membalas senyuman seorang pria yang melambai. 


"Maaf membuatmu menunggu lama." 


"Hanya terlambat dua menit dan aku rasa itu tidak bisa di sebut terlambat." Bian sangat senang bertemu dengan Naura. "Ada cafe baru yang tidak jauh dari sini, aku ingin membawamu ke sana." 


"Wah, kebetulan sekali." 


"Ayo!" Bian membuka pintu mobil dan membantu wanita cantik itu masuk ke dalam mobil sederhananya sesuai dengan penampilannya. 


"Kau manis sekali." Puji Naura tersenyum. 


Mereka sangat dekat dan bahkan perlakuan Bian sangat perhatian saat mereka bersama, orang lain yang melihat hal itu pasti akan salah paham. 


Tanpa di sadari, momen kedekatan Naura bersama pria lain jelas terekam di mata seseorang yang menunggu di dalam mobil hitam mewahnya. Mengepalkan kedua tangan dan rahang yang mengeras, mata elang seakan tak melepaskan dua objek yang terpampang jelas. 


"Dia tidak mengangkat telepon dariku dan pergi bersama pria lain? Apa dia tidak sadar sudah bersuami?" geram Arya yang langsung mengemudikan mobilnya mengikuti kemana targetnya pergi, hatinya merasa panas dan bagaimana pria itu memeluk Naura dan tampak seperti sepasang kekasih yang baru jadian. 


"Naura. Kau mencari perkara denganku," monolog Arya yang geram, kesal, marah bercampur menjadi satu. 


Uhuk


Naura tiba-tiba terbatuk dan tidak tahu apa yang terjadi dari pertanda alam itu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Bian sedikit cemas.


"Aku baik." Jawab Naura yang tersenyum. "Kenapa aku bisa tiba-tiba batuk?" batinnya yang segera menepis pikiran negatif.

__ADS_1


__ADS_2