
Arya tidak ingin usaha yang selama ini untuk membuktikan diri menjadi sia-sia belaka, membujuk wanitanya untuk makan bersama sebagai solusi. Membuka kotak makan siang tercium aroma masakan yang mengundang rasa lapar, tersenyum melihat masakan itu dan menyuapinya ke mulut Naura.
"Buka mulutmu!"
"Tidak, aku tidak berselera."
"Benarkah, itu membuktikan kalau kau mencintaiku. Kau lihat 'kan, di bulan terakhir kau mencintaiku dan itu artinya misiku untuk membuatmu mencintaiku berhasil." Tutur Arya tersenyum kemenangan.
Dia membuka laci, mengeluarkan kontrak kesepakatan pranikah dan menyerahkannya. "Aku tidak membutuhkan ini lagi, semua tampak jelas dimataku. Kau boleh merobeknya sekarang, tapi jangan menganggap tidak ada ikatan setelah itu."
Naura tak percaya jika Arya benar-benar melakukan sesuai perkataan. "Apa semua ini?"
"Ini pembuktianku, aku tidak memerlukan kesepakatan karena aku mencintaimu. Aku tidak mau yang lain lagi, aku memang keras kepala tapi tolong pertimbangkan perasaanmu." Ujar Arya menatap dengan mata yang sendu.
"Kau mengungkapkan perasaan?"
"Apa yang bisa aku lakukan untuk meyakinkanmu, aku memberimu waktu untuk menyadari perasaanmu padaku."
Naura terdiam tidak tahu berbicara apa, suasana kembali hening.
"Buka mulutmu!" pinta Arya yang kembali melancarcarkan aksinya, tersenyum mengembang saat wanita itu menerima suapannya.
Setelah selesai makan siang, Naura berpamitan pada Arya untuk pergi ke butik. Banyaknya pesanan dan pelanggan membuatnya sedikit sibuk dalam urusan pekerjaan, dan di satu sisi dia juga menyewa seseorang untuk mengawasi Amar yang ternyata sudah menjual aset bertahan hidup di gemerlapan dunia.
"Kau yakin tidak ingin aku antar?"
"Tidak usah, aku tak suka merepotkan orang lain."
"Aku suamimu."
"Dengar! Aku bisa berangkat sendiri, tidak baik menunda pekerjaanmu."
"Baiklah kalau itu maumu." Pasrah Arya yang menghela nafas, menatap punggung wanitanya yang terlihat samar dari pandangan. "Aku harus mengatasi wanita itu lebih dulu," batinnya.
Di butik
Lita melihat kegelisahan pada sahabatnya, berjalan mendekat untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Apa yang menganggu pikiranmu?"
"Kau mengagetkan aku saja."
__ADS_1
"Ada apa?" Lita kembali bertanya, mendudukkan diri di samping sahabatnya.
"Bukan apa-apa."
"Ayolah, aku bukanlah anak kecil yang bisa kau tipu. Katakan kenapa kau gelisah!" keukeuh Lita mendesak.
"Arya bersama wanita lain dalam satu ruangan dan mereka tampak dekat."
"Dan kau cemburu." Sela Lita yang memahami situasi dan suasana hati sahabatnya. "Apa kau tidak menyadari perasaanmu padanya, maksudku…kau mencintai suamimu." Tukasnya penuh semangat.
"Aku tidak mencintainya."
"Mulutmu berkata seperti itu tapi hatimu tidak, kau cemburu melihat kebersamaan Arya dengan wanita lain." Simpul Lita yang mendadak menjadi pakar cinta.
Naura terdiam memikirkan perkataan Lita, hatinya yang sedih melihat kebersamaan dan tak suka bila ada wanita lain dekat dengan suaminya. "Kau yakin itu namanya cinta?" tanyanya penuh hati-hati.
Lita tersenyum memegang pundak sahabatnya, mengangguk kepala penuh keyakinan. "Itu namanya cinta, kau cemburu jika dia bersama wanita lain. Kenapa kau begitu lambat menyadari perasaanmu padanya, sah-sah saja kau menyukainya. Perhatian, kasih sayang, dan sikap dari Arya membuatmu takluk."
"Dia hanya mencintai Bella, bukan aku."
"Dasar konyol, apa kau tidak lihat di matanya hanya ada cinta untukmu."
"Entahlah, aku belum yakin dan masih trauma dengan cinta."
*
*
Beberapa hari kemudian, Arya terpaku pada layar komputer yang ada di hadapannya, jemari cepat menekan keyboard menyesuaikan data dan berkas seperti biasanya. Pekerjaan yang menumpuk semakin membuatnya sibuk, kerinduan pada wanitanya kian membesar akibat dia selalu lembur dan pulang larut malam.
Seorang wanita cantik nan seksi masuk ke dalam ruangan dan tersenyum mengembang, berjalan lenggak-lenggok bak model papan atas. Dengan penuh percaya diri tanpa menghiraukan orang lain yang melarangnya.
"Kau selalu saja sibuk." Ucap wanita itu yang tersenyum menggoda, berjalan menghampiri.
Arya mendelik kesal setelah mengenali suaranya, menghentikan pekerjaannya sesaat. "Kenapa kau datang lagi?"
"Tentu saja aku harus datang, waktu itu kau tidak memberikan kesempatan padaku."
"Aku sibuk, sebaiknya kau keluar dari ruanganku." Arya ingin sekali menarik tangan wanita itu dan mengusirnya dari ruangannya. Namun itu tidak mungkin, wanita cantik dan seksi yang ada di hadapannya memiliki kekuasaan. "Aku berpikir bisa terlepas darinya, dia seperti tokek saja." Umpatnya di dalam hati.
"Jangan jadikan itu alasan." Wanita itu menoel pipi Arya yang terlihat sangat menggemaskan, tidak takut akan ancaman apapun.
__ADS_1
Wanita cantik nan seksi penuh percaya diri dapat menaklukkan pria manapun terutama Arya, dia bernama Clarissa. Hubungan keduanya di sebabkan oleh orang tuanya yang membantu Arya dalam masa sulit, dulu Beno sangat membenci anak haram itu.
Arya sangat kesal karena dulu meminta bantuan pada kedua orang tua Clarissa dan sekarang dia menerima ganjarannya di dekati oleh wanita itu. Dia sangat risih tapi tak bisa menolak, selain mengancam wanita itu untuk tak melewati batasan.
"Jaga sikapmu, ini kantor. Jangan membawa masalah pribadi kesini dan pergilah dari ruanganku!" ucapnya dengan tegas, kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Clarissa mengeraskan rahangnya menahan kesal, sudah lama dia bersabar menghadapi sikap pria di hadapannya yang sangat dingin dan tidak pernah menganggapnya. "Kau sangat sombong setelah mendapatkan keinginanmu, tapi jangan lupakan bantuan dari ayahku." Kecamnya, tapi pria itu tak menggubris semakin membuat hatinya di penuhi kemarahan.
"Aku akan melapor pada ayahku mengenai sikapmu."
Hal itu menghentikan aktivitas Arya yang sedari tadi tetap bersabar, menatap tajam Clarissa yang mengancamnya. "Aku sangat menghormati ayahmu, bukan berarti kau bisa mengendalikan aku."
"Oho, kau menantangku? Jangan lupakan kalau ayahku seorang mafia, kau akan menyesal menolakku. Apa karena wanita pengantar makan siang waktu itu? Heh, seleramu sangat rendahan sekali." Ujar Clarissa sombong seraya melipat kedua tangan ke depan dadanya.
Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, dia sangat takut kalau berurusan dengan keluarga Clarissa yang notabene seorang pimpinan mafia paling di takuti. Apalagi wanita yang ada di hadapannya itu sangat nekat dan bisa saja membuat nyawa Naura terancam.
"Jangan mengancamku."
"Jadi benar, kau memiliki hubungan dengan wanita miskin itu." Cibir Clarissa.
"Dia istriku, tidak akan aku biarkan kau menyentuhnya walau seujung kuku." Tegas Arya, lambat laun Clarissa dapat dengan mudah mencari informasi mengenai Naura yang terpaksa membuatnya jujur.
Clarissa bertepuk tangan memberikan apresiasi pada keberanian Arya. "Wow, kau mengakuinya tanpa perlu aku cari tahu sendiri." Ujarnya seraya mencondongkan tubuhnya. "Kau tahukan apa kosekuensi bila kau menyinggung perasaanku." Ancamnya.
"Demi cintaku, apapun akan aku hadapi termasuk kekuasaan dari ayahmu."
"Oh ayolah, hanya demi wanita miskin itu kau rela mempertaruhkan nyawa? Apa kurangnya aku? Bahkan aku menunggu selama ini." Clarissa ingat betul saat beberapa tahun yang lalu, dia membiarkan Arya mengejar seorang wanita yang ternyata mengejar Amar. Dia tidak tahu persis wanita yang menjadi incaran dari Arya, hanya bertemu sekali saja saat sebuah pesta topeng.
"Aku mencintainya dan rela berkorban, dan kau tidak bisa memaksaku."
Clarissa meremas ujung gaunnya menahan kesal. "Aku akan menunggumu bermain-main dengan wanita miskin itu dan kembalilah padaku setelahnya."
"Kau tidak akan mendapatkan apapun dariku, dan jawabanku tetap sama seperti beberapa tahun lalu."
Clarissa tersenyum dingin mendapat perlakuan buruk dari Arya yang tidak eprnah menerima kehadirannya, padahal keluarganya sangat berpengaruh membantu pria itu di masa sulit saat di jauhi oleh keluarga Atmajaya.
"Kau akan menyesal menolakku." Clarissa keluar dari ruangan setelah melempar vas bunga, bergegas keluar sembari menghubungi seseorang.
Arya menatap kepergian Clarissa dan menghela nafas, dia sangat cemas memikirkan nasib Naura dalam bahaya. "Apa yang harus aku lakukan? Dia pasti melakukan apa yang menjadi keinginannya.
Seseorang yang bersembunyi dan mendengar segalanya, tersenyum saat mendapatkan sebuah ide untuk menghancurkan Arya. Seorang wanita yang menyamar menjadi office boy tengah tersenyum di balik masker hitam yang di kenakannya.
__ADS_1
"Wah, aku pasti memanfaatkan situasi ini sebaik mungkin." Pria itu segera mengejar Clarissa yang sudah menjauh, berharap dia bisa mengajaknya bekerja sama.