
Keadaan dan situasi yang tak diinginkan olehnya, dimana Arya terus mengawasi bagai satpam penjaga dan membuatnya sangat jengah dan bosan terus di pantau bagai tawanan. Tatapan sinis terlontar mengarah pada pria itu, namun hanya di balas berbanding terbalik.
"Mengapa kau masih berada di sini, pergilah ke kantor." Naura mulai membuka suara tak tahan pada situasi itu.
"Biarkan sajalah, pekerjaan itu hanya nomor sekian karena kau juga calon anak kita yang paling utama. Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan ini," jawab Arya tak ingin meninggalkan istrinya yang memberikan kebahagiaan tak terkira, memastikan semuanya aman terkendali.
"Tapi aku sangat risih jika kau di sini, lebih tepatnya tidak nyaman selalu di perhatikan begitu." Ungkap Naura.
"Mulailah terbiasa dari sekarang, aku sudah mengabari asistenku untuk menyelesaikan permasalahan kantor. Akulah bosnya disana, jadi tak masalah kalau aku bekerja di rumah saja."
"Tapi itu tidak adil, aku hamil bukan pasien rumah sakit yang membutuhkan pantauan khusus."
Arya membingkai wajahnya menggunakan kedua tangannya, menatap sang istri penuh cinta di selingi senyuman menawan yang membuat siapa saja terpikat olehnya. Dia segera membungkam kecerewetan Naura dengan ciuman yang bertahan beberapa detik.
"Kau selalu saja mencari kesempatan." Protes Naura setelah terlepas dari ciuman itu, merasa jengkel.
"Maaf, kau terlihat sangat menggemaskan apalagi bibir itu yang terus bergerak membuat n*fsu ku meningkat."
"Itu karena pikiranmu hanya tertuju pada sel*ngkangan saja." Cibir Naura kesal berbanding terbalik dengan Arya yang terkekeh.
"Bagaimana kita memberitahu kabar membahagiakan ini?"
Naura berpikir sejenak, dia sangat ingin memberikan kejutan kecil untuk orang-orang terdekatnya terutama sang ibu yang berhak tahu mengenai kehamilannya. "Aku juga tidak tahu." Ucapnya santai sambil mengangkat kedua bahu ke atas acuh.
Arya berpikir. "Langsung to the point saja, aku tak punya ide selain menjenguk calon anakku." Ungkapnya yang tersenyum sangat aneh untuk meraih niat terselubung.
__ADS_1
Ingin sekali Naura menjitak kepala suaminya yang tanpa hari selalu membayangkan hal mesum, seakan itu adalah tujuan utama untuk hidup. Namun dia teringat mengenai Anton yang sampai saat ini belum menemukan kabarnya, entah apa yang di alami oleh ayah biologisnya.
"Ayo kita ke rumah ibu!" ajak Naura bersemangat.
"Setelah kita bercinta."
"Kau mengajukan syarat padaku?" Naura mengangkat salah satu alis sembari menatap sang suami, meraih ponsel dan mencari informasi mengenai kehamilan trimester pertama. "Coba kau lihat ini!" titahnya memperlihatkan bahaya bercinta di kehamilan awal, dia sangat puas bisa melihat ekspresi dari suaminya tampak kecewa. "Kau sudah membacanya, jadi untuk berhubungan suami istri harus menggunakan jadwal khusus dan kau tak boleh menolaknya jika menyayangi calon anakmu." Jelasnya.
Arya menelan saliva, hasrat untuk bercinta seakan sirna dengan informasi di internet. Tidak mungkin dia bersikap egois yang hanya mementingkan diri sendiri, cukup sulit menanam benih membutuhkan usaha keringat ekstra. "Ya Tuhan, aku tidak mau calon anakku keguguran. Mau tidak mau Bobby harus bercuti dulu menjenguk juniorku, atau aku akan mengulangnya dari awal lagi." Keluhnya di dalam hati, mana mungkin kekuatan yang selama ini di dapatkan begitu saja, apalagi dia jarang berolahraga dan lebih memilih menumpuk lemak di tubuhnya karena menikmati masakan dari istrinya yang sangat lezat. "Semoga saja Naura tidak tahu aku mengkonsumsi kopi import dan memakai tisu magic," batinnya terkekeh.
Ya, Naura tidak pernah tahu kalau Arya mengkonsumsi obat kuat untuk mempertahankan kesombongan dan menganggap suaminya sangatlah gagah yang sanggup menggagahinya berulang kali dalam semalam bahkan tak melihat jam juga suasana.
"Apa sekarang kau mulai gila?" celetuk Naura yang sedari tadi memperhatikan suaminya.
"Tentu saja, aku tergila-gila padamu. I love you, baby." Ucap Arya yang terlihat narsis.
*
*
"Benar, sebentar lagi Ibu akan menjadi nenek." Ujar Naura yang langsung menghamburkan pelukan di tubuh ibunya kabar yang membahagiakan yang terucap secara tidak sengaja. "Mungkin memang ini takdirku untuk menjadi ibu rumah tangga, semoga sajalah Lita bisa mengolah butik." Batinnya.
"Selamat Sayang, kau akan menjadi seorang ibu."
"Terima kasih Bu. Oh ya, apa Ibu mendengar kabar dari pria itu?" tanya Naura setelah melepaskan pelukan, tatapannya sangat serius.
__ADS_1
Ririn tersenyum. "Beberapa hari lalu dia mengabari Ibu akan pergi ke Belanda untuk mengurus bisnisnya. Kau menanyakannya?"
Naura segera mengendalikan emosinya dengan memperlihatkan ego. "Tidak. Itu berarti dia tidak mengganggu kehidupan kita lagi."
"Lupakan semuanya, kau sekarang mengandung dan tidak baik jika hubunganmu dan ayah kandungmu terbentang jarak."
Naura terdiam. "Aku hanya memerlukan waktu, semua ini terjadi begitu cepat."
"Ibu mengerti, tapi jangan sampai kau menyesal nantinya."
"Aku akan memikirkannya lagi, Bu."
"Sudah seharusnya begitu."
Suasana kembali membaik, mereka tertawa bahagia dan membahas mengenai kehamilan pertama Naura.
"Ibu tenang saja, aku akan menjaga Naura dengan baik." Ucap Arya sambil mengelus punggung tangan istrinya, menatap sekilas penuh cinta.
"Aku percaya itu." Ririn tersenyum bahagia jika akhir semuanya berjalan dengan sangat baik, walau dia tak tahu kemana perginya Anton dan menjawab asal.
Tanpa di sadari, seseorang memperhatikan kebahagiaan itu dengan seksama dan berlalu pergi. Dia sangat kesal terlihat jelas dari raut wajahnya dan juga kedua tangan terkepal sempurna, kebersamaan Arya dan Naura membuat hatinya terbakar api cemburu.
Wanita itu segera masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya menjauh dari kediaman target, melempar topi hitam sembarang arah dan berteriak melepaskan semua beban menyakitkan. "Aarghh, semua ini tidak benar. Aku tidak rela Naura mendapatkan Arya karena Arya hanya milikku seorang, aku yang lebih dulu mencintainya sebelum Bella dan juga wanita sialan itu."
Clarissa menambah kecepatan mobilnya, ingatannya masih terbayang-bayang mengenai keharmonisan rumah tangga pria yang sangat dia cintai. Tidak terima semua itu, selama bertahun-tahun dia sudah berusaha keras menjadi nyonya Arya Atmajaya. Menggunakan kekuasaan dari ayahnya juga tak berguna jika mereka masih memiliki hubungan darah, dia sangat benci akan kehidupannya yang tidak bisa diraih.
__ADS_1
Clarissa sangat marah, kesal, sedih, juga kecewa yang bercampur menjadi satu. Dia menambah laju mobil, terus berteriak kesal dan juga marah hingga tak melihat ada lawan di depan.
"Sial, hampir saja aku tertabrak." Umpat nya kesal. Tapi sayang, kecelakaan tak terhindarkan saat mobilnya menabrak mobil yang ada di jalur lain. Pandangannya menjadi hitam setelah merasakan tabrakan yang sangat keras.