Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 36


__ADS_3

Naura tertawa mendengar pertanyaan bodoh dari Arya, bagaimana pria itu berada mundur dua langkah darinya. Tak sulit mendapatkan informasi itu, sudah menjadi keputusannya tak akan tunduk pada keluarga Atmajaya.


"Apa kau pikir aku ini bodoh? Kau memperlakukanku baik penuh perhatian karena ingin menghidupkan obsesimu pada Bella." Naura meringis melihat Arya yang terdiam semakin membuat situasinya mudah terbaca. "Apa aku benar?" 


"Ti-tidak." 


"Berhentilah berbohong, aku sudah tahu kalau kau ingin menghidupkan karakter Bella di dalam diriku karena wajah kami sangat mirip."


Arya diam tak berkutik, dia sendiri juga tidak tahu apakah sebenarnya mencintai Bella atau Naura. Beberapa waktu lamanya mereka menghabiskan waktu, tapi bayangan sang wanita masa lalu masih saja meracuni otaknya. 


Naura mengulurkan tangannya. "Aku ingin surat perjanjian pranikah itu, berikan padaku!" pintanya dengan nada datar. 


"Untuk apa kau memintanya?" 


"Mengakhiri semuanya, aku yang memulai dan aku pula yang menyudahi nya. Baik kau ataupun aku sebaiknya hidup terpisah dan masing-masing." 


Arya tentu berpikir dua kali lipat untuk menyerahkan surat perjanjian pranikah, karena n*fsu yang tidak bisa di tahan membuatnya dalam kebimbangan yang besar. "Kita bisa membicakan ini baik-baik." 


"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, aku ingin mengakhirinya." 


"Tolong maafkan aku. Aku jatuh cinta padamu," ucap spontan Arya yang masih terselip keraguan setengahnya. 


Naura menyingkirkan rambut depan dengan menyisirnya menggunakan jemari tangan, manggut-manggut kepala. "Apa kau bisa membedakan antara cinta dan obsesi?" 


"A-aku tidak tahu, tapi ingin membuktikannya saja dan berikan aku kesempatan terakhir." 


Naura diam sejenak memikirkan solusi, di dalam kemarahan dia selalu ceroboh dengan melupakan memanfaatkan keadaan terlebih dahulu. "Bagaimana aku bisa pergi dengan tangan kosong? Aku belum memberikan pria tua dan Amar pelajaran, itu tidak adil bagi Bella. Hidup bersama musuh juga tidak etis, bagaimana aku bisa bertahan di dalam sangkar emas itu?" batinnya seraya berpikir panjang. 


Arya bertekuk lutut di hadapan Naura, menundukkan kepala memperlihatkan jika dirinya memang pecundang. Dia yang gegabah dan emosi malah membuah kerenggangan terjadi, membuat sang istri untuk bertahan sangatlah sulit bagai jalanan penuh terjal. Dia tidak bisa kehilangan wanita itu dan hati kecilnya tidak menerimanya. Apakah getaran cinta sudah ada di hatinya? Entahlah, dia juga tidak bisa membedakannya antara obsesi kepada Bella atau murni kecintaan semata. 


"Berikan aku satu kesempatan." 


"Tidak, kau pasti mengambil keuntungan dariku. Apa jaminannya?" tantang Naura. 


Arya segera berdiri dan mengambil sesuatu di dalam brangkas, meraih sesuatu yang menjadi pengikat mereka agar tetap bersama, lalu menyerahkannya kepada Naura. "Perjanjian pranikah asli dan kau boleh melakukan apapun pada berkas itu, aku tidak akan menggunakan hal itu sebagai ancaman dan justru sebaliknya aku butuh kesempatan kedua darimu." 

__ADS_1


Naura menatap netra mata tajam pria itu yang memperlihatkan kesedihan, hatinya sekeras batu tak akan menyetujui permintaan konyol dalam penjebakan dirinya. Tapi sebuah pengorbanan sangat di butuhkan Bella dalam penegakkan hukum. "Bangunlah, kau aku beri satu kesempatan lagi." Dia meraih surat perjanjian pranikah dan membakar isinya, sekarang dia terbebas dari tekanan pria itu dan menjadi pengendali setiap situasi. 


"Benarkah?" tanya Arya dengan kedua mata berbinar cerah dan bersemangat kembali. 


Naura manggut kan kepala. "Ya, kesempatan terakhir." 


Arya langsung berdiri hendak menghamburkan pelukan, tapi tubuhnya terhalang oleh dua tangan. 


"Tidak perlu memelukku atau aku lupa dengan kesepakatan kita." Naura tersenyum tipis saat Arya berada di dalam genggamannya, sedikit memanfaatkan kekuasaan dari suaminya untuk menghancurkan ayahnya yang hidup bersama wanita perebut dan membalaskan dendam pada kakak iparnya. "Aku harus mencari keberadaan Amar, pria brengsek itu tidak akan bisa lolos dariku." Lirihnya pelan. 


Arya merutuki kebodohannya dalam bertindak, memperk*sa Naura untuk kesekian kalinya? Sungguh tidak percaya ada apa dengannya. Dia tidak tahu mengenai perasaannya, ada rasa ketidakrelaan jika wanita itu menjauh dan bahkan memutuskan hubungan mereka. 


"Ya Tuhan…apa yang aku lakukan?" umpat nya kesal merutuki kebodohannya yang hampir saja kehilangan Naura. 


Naura tak serta merta pulang ke Mansion Atmajaya dan lebih menjaga kewarasannya dengan berada di kolam yang terdapat ikan kecil di dalamnya, membuat suasana hatinya luluh dan membaik. 


Dia segera merogoh tas kecil mengeluarkan ponselnya, mencari nomor ahli peretas mencari tahu dengan kebingungan yang mendera. 


"Halo."


"Aku ingin kau bekerja dua kali lipat." 


"Tidak masalah asal bayaran yang sesuai."


"Aku ingin mencari tahu keberadaan Amar Atmajaya dan masa lalu dari Beno Atmajaya, semua yang terhubung dengan mereka. Cari semua informasi mengenai mereka!" tegas Naura memerintah. 


"Laksanakan, jangan lupa bayar uang muka sebagai ongkos pertama terjadinya kesepakatan di antara kita." 


"Aku akan mentransfernya nanti, kau tidak perlu cemas." 


"Senang berbisnis denganmu." 


"Aku juga, jangan melakukan kesalahan apapun." 


"Aku pastikan tidak ada noda dan kecatatan dalam informasi yang aku berikan, aman." 

__ADS_1


"Aku percaya itu." 


"Pasti." 


Setelah memutuskan sambungan telepon, Naura membaca pesan singkat dari Arya yang memintanya untuk pulang ke Mansion. Sekilas melihat jam di ponselnya, tidak menyadari sudah berapa lama dia berada di sana dan memutuskan untuk pergi setelah bersiap-siap. 


Naura menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, melangkahkan kakinya masuk ke dalam Mansion yang di cap sebagai sangkar emas. Perlahan dia melangkah dengan kaki kanan untuk masuk ke dalam kediaman mewah itu, di sana sudah ada Arya dan kakek tengah tersenyum ke arahnya. 


"Sayang, kau sudah pulang?" Arya berjalan menghampiri Naura dan menyambutnya. 


"Tidak perlu mengatakan memanggilku begitu," bisik Naura pada Arya. 


"Ini demi kakek, kesehatannya menurun." Balas Arya yang juga berbisik.


Jujur saja Naura kehilangan simpati mengenai keluarga Atmajaya, tapi dia bukan antagonis. Sudut matanya mengarah pada pria tua yang tersenyum tulus ke arahnya dengan sekilas kembali menatap Arya. "Hem, jaga jarak adalah hal yang utama. Aku ingin kau melakukan itu sebagai kompensasiku." 


"Apapun itu, asal kita terlihat dekat dan romantis di depan kakek." 


Naura mengangguk, dia kembali berakting untuk kondisi Beno yang tidak sehat. Jika orang lain berada di posisinya sudah pasti tidak peduli, dia bukanlah manusia tak berhati. 


"Naura, apa kau baik-baik saja?" tanya Beno tersenyum hangat. 


"Aku baik. Kakek harus beristirahat, apa yang di lakukan di sini?" 


"Aku cemas kau belum pulang." 


"Sekarang aku sudah pulang, Kakek tidak perlu khawatir lagi." Ucap Naura bersikap netral dan mengantarkan pria tua itu masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. 


Arya mengikuti kemana Naura melangkah membuat wanita itu sangat risih dengannya. 


"Kenapa kau mengikutiku terus?" bentak Naura menatap tajam Arya dan yang lebih membuatnya terkejut adalah pria itu memeluknya sangat erat. "Lepaskan aku!" 


"Terima kasih kau masih baik pada kakek." 


"Apa kau ingin aku berubah pikiran? Lepaskan pelukan ini," Naura menepis gerakan pria itu hingga terlepas, mendorong tubuh Arya menjauh darinya. "Aku memberikanmu satu kesempatan bukan berarti kau bisa semena-mena padaku, TOLONG JAGA BATASANMU, Tuan Arya Atmajaya." Tekannya mengancam dan pergi. 

__ADS_1


"Aku hanya ingin memastikan apakah hati ini sudah berpindah padanya?" gumam Arya yang sedih. 


__ADS_2