Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 40


__ADS_3

Seorang wanita mengatur nafasnya akibat berlari cukup jauh menghindari orang-orang berbaju putih yang ingin menangkapnya, mengatur nafas dan memutuskan untuk beristirahat beberapa detik saja barulah dia kembali berlari menghindari mereka. 


Lili menyeka keringat di dahi, menoleh sekilas memastikan jika orang-orang yang mengejarnya sudah menjauh. "Huff, syukurlah mereka sudah jauh. Aku hampir gila berada di rumah sakit jiwa, tidak bisa di bayangkan kenapa aku bisa berada di tempat terkutuk itu." Monolognya yang menggelengkan kepala, duduk di bawah pohon dengan penampilan yang sangat memprihatinkan. 


Lili melirik baju yang di pakai oleh pasien rumah sakit jiwa, mendelik kesal mengetahui fakta jika dia salah satu pasien di tempat itu. Sudah mencoba banyak cara keluar dari rumah sakit jiwa tapi selalu saja gagal, kesempatan di pergunakan sebaik mungkin saat semuanya lengah. Ya, dia berhasil kabur dari rumah sakit setelah menciptakan kekacauan dan drama di rumah sakit jiwa. 


"Oh ya ampun, kakiku sakit sekali." Lili memijat kakinya yang pegal berlari. Dia melihat sekeliling tempat itu dan memutuskan untuk kembali ke apartemennya setelah meninggalkan cukup lama, kembali pada misi yang sempat tertunda. "Bagaimana aku bisa berada di tempat terkutuk itu? Siapa yang membawaku kesana akan aku cari tahu kebenarannya." 


Naura yang tengah merawat suaminya yang sangat manja mendapat sebuah telepon dari rumah sakit jiwa, dia segera mengangkatnya akibat rasa penasaran yang melanda. 


"Ya, halo." 


"Kami dari rumah sakit jiwa ingin melaporkan sesuatu." 


"Apa itu?" 


"Pasien yang bernama Lili telah melarikan diri dan masih dalam tahap pengejaran." 


"Apa? Bagaimana bisa dia melarikan diri?" 


"Kami juga tidak tahu, sepertinya pasien tidak gila." 


"Sepertinya? Hei ayolah, kalian sudah memeriksanya terlebih dahulu." 


"Dari beberapa tes dia normal dan kami membiarkannya bebas." 


"Ya, baiklah." 


Setelah memutuskan sambungan telepon, Naura mendelik kesal mengetahui kabar buruk itu. "Hah, ternyata dia sudah lepas." Umpatnya pelan yang terdengar jelas oleh Arya. 


"Siapa yang menghubungimu?" 


"Pihak rumah sakit jiwa." 


"Lalu?" 


"Lili melarikan diri dan pihak rumah sakit tidak bertanggung jawab dan membiarkan wanita itu kelayapan." 


"Sudah ku duga akhirnya akan seperti ini." 

__ADS_1


"Tidak masalah, akan aku pikirkan itu nanti. Tapi sebelum itu, bisakah aku pergi sebentar?" Bujuk Naura yang berjalan mendekati suaminya. 


Arya menatap dua manik mata indah dengan seksama penuh penyelidik. "Memangnya kau mau kemana?" 


"Aku harus ke butik, aku tidak ingin membebankan Lita dengan pekerjaanku yang belum selesai."


Arya mencoba untuk mencari kebohongan di mata wanita itu namun tak menemukannya. "Baiklah, pulanglah tepat waktu." 


Naura melompat kegirangan, refleks memeluk Arya sepersekian detik dan bergegas pergi keluar dari kamar. "Aku akan pulang tepat waktu." Ucapnya yang menoleh di daun pintu lalu berlari dengan semangat keluar dari Mansion Atmajaya. 


Arya tercengang mendapatkan pelukan sebentar dari Naura sangatlah berkesan, senyum terukir di wajah tampannya. "Apa itu artinya dia mulai menyukaiku?" gumamnya yang berharap lebih. "Hanya memar dan lengan terkilir aku cukup beruntung mendapatkan perhatiannya, ck…andai saja aku patah tulang dan mungkin dia menjadi perawatku dua puluh empat jam." Monolognya yang berkhayal sambil menatap pintu. 


Setelah memastikan wanita itu pergi, Arya masih belum bisa mempercayainya dan memerintah beberapa orang untuk mengawasi Naura. 


"Halo."


"Halo tuan, ada yang bisa saya bantu?" 


"Hem, tolong awasi wanitaku dan jangan sampai dia lecet ataupun tergores sedikit saja jika tidak ingin kehilangan pekerjaanmu!" titah Arya dengan suara lantang. 


"Baik tuan, saya akan memastikan semua berjalan sesuai dengan keinginan tuan."


"Laksanakan." 


Naura hendak ke butik untuk memeriksa pekerjaan yang terbengkalai, tapi ponselnya berdering menatap nama yang tertera di layar. "Bian?" 


Selesai menelepon, Naura terpaksa memutar arah dan bertemu janji dengan temannya si fotografer. 


"Wow, aku tidak percaya akhirnya kau menemuiku." Ucap pria tampan itu yang merentangkan kedua tangannya hendak menyambut dengan pelukan hangat. 


"Dan aku tidak akan membalas pelukanmu." Naura menarik kursi dan duduk berhadapan. "Apa yang ingin kau bicarakan? Aku tak punya banyak waktu." 


"Oh Sayang, santailah sejenak dan jangan menganggap kehidupan itu membosankan." Balas Bian yang juga duduk sambil menatap dalam mata wanita cantik di depannya. "Kau tahu? Matamu sangatlah seksi dan aku menyukainya." 


"Hentikan berbasa-basi, kenapa kau memintaku ke sini?" cetus Naura melirik jam yang ada di ponselnya, cukup terlambat dan pastinya Lita akan memberikan ceramah panjang lebar.


Bian tersenyum dan berekspresi serius, kali ini dia tidak ingin lelucon atau guyonan apapun. Dia menatap dalam mata indah di hadapannya dan menyentuh kedua tangan lentik sambil menggenggamnya erat. 


"Aku tidak bisa menahan semua ini lagi, jarak, karir, dan kehidupan yang bebas." Ungkap Bian serius. 

__ADS_1


"Apa yang ingin kau coba jelaskan?" tanya Naura waspada sambil melirik tangannya yang di genggam erat. 


"Apa kau tidak merasakan sesuatu terhadapku?" 


"Ayolah, kenapa kau seserius ini." Sela Naura yang tersenyum paksa. 


"Baik kau ataupun aku sama-sama dewasa, kedekatan kita tidak ada yang murni." 


"Kau melantur." Tukas Naura kembali mencela. 


"Tidak, biarkan aku berbicara dulu." 


"Oh oke." 


"Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu." 


Naura terdiam beberapa saat tak tahu harus seperti apa, genggaman tangan pria itu tidak bisa di lepas walau dia sudah mencoba. 


"Ku mohon…jangan hari ini. Aku mencintaimu Naura, dan ingin menikahi setelah masa kontrakmu selesai. Kita bisa hidup bersama dan aku berjanji tidak akan memaksamu ataupun menyita kebebasan yang kau inginkan." Ucap Bian sungguh-sungguh. 


"Kau tidak akan tahu apa yang aku inginkan." Jawab Naura serius. 


"Berikan aku satu kesempatan." 


"Memberikan kesempatan sangat mudah, tapi ini masalah hati. Aku tidak bisa mencintaimu, hubungan kita hanya sebatas teman biasa." 


"Jadi kau menolakku?" Bian menatap Naura dengan secercah harapan, berharap wanita yang sudah lama dia sukai membalas perasaannya. 


"Maaf, aku tidak bisa." Perlahan Naura melepaskan genggaman itu dan beranjak dari kursi, bergegas pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat terbengkalai. 


Seseorang yang sedari tadi memperhatikan diam-diam mengambil foto dan mengirimkannya pada sang atasan, berlalu pergi kembali menjalankan tugas. 


"Sial." Umpat seseorang yang melempar vas bunga di jangkauan, mengusap wajahnya dengan kasar seraya mengatur pernafasan yang terasa sesak di dada. "Berani sekali dia berbohong padaku dan diam-diam bertemu dengan pria jelek itu." 


Arya sangat kesal dengan laporan yang di berikan oleh bawahannya, hatinya sangat cemburu melihat kedekatan dua orang yang terlihat intim seperti sepasang kekasih. 


"Apa dia lupa kalau aku masih suaminya, dan menemui pria itu secara diam-diam." Arya sangat kesal dan melampiaskan kemarahannya pada benda di sekitar jangkauan. "Aku harus menemuinya!" bergegas dia mengambil kunci mobil dan menuruni tangga seperti orang normal. 


Dari kejauhan Beno mengangkat sebelah alisnya menyaksikan apa yang ada di depannya. "Eh, bukankah Arya sakit? Tapi dia berlari mengalahkan atlet lari?" ucapnya memandang heran. 

__ADS_1


__ADS_2